Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
34. Sekertaris Cantik?


__ADS_3

Zafran membuka pintu kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi. Sedangkan Alesha baru saja selesai mengkriting gantung rambutnya. Malam ini, Zafran mengadakan pertemuan keluarga besar dan akan mengumumkan hal penting.


Cowok itu mendekati istrinya yang sedang mencabut colokan. Ia hanya memakai handuk di bagian bawah saja.


"Zafran!" Alesha kaget melihat tubuh Zafran yang telanjang dada.


"Apa?"


"Pakai baju!"


"Bentar lagi,"


Alesha mengalihkan wajahnya yang memerah.


"Kenapa malu? Padahal tadi malam kita-"


Alesha menutup mulut Zafran. "Udah gak usah di bahas!"


Zafran terkekeh pelan. "Iya-iya," gumamnya melepas tangan Alesha. "Belum pakai make-up?"


Alesha menatap wajahnya di depan kaca. "Sudah, tinggal pakai lipstik,"


"Gue ada hadiah buat lo,"


"Apa?" tanya Alesha antusias.


"Jangan pakai lipstik dulu, gue ambil barangnya."


"Eh tunggu!" Alesha menahan tangan Zafran. Cowok itu menaikkan satu alisnya seolah bertanya 'kenapa'.


"Pakai baju lo dulu!"


Zafran tersenyum. Lantas ia mengangguk dan berjalan menuju ke almari. Ia memakai baju formal. Sekalipun ini acara keluarga, tapi ia harus tetap memakai pakaian formal untuk menambah kesan elegan.


Zafran mengambil sebuah kotak berwarna merah. Setelah itu memberikannya pada Alesha.


"Apa ini?"


"Buka!" perintahnya.


Alesha sedikit ragu dengan hadiahnya. Ia takut jika isinya kosong. Cewek itu membuka pita secara perlahan. Lalu ia membuka kotaknya.


"Lipstik?" kerutan muncul di dahi Alesha.


Tak menyangka jika seorang Zafran memberikannya hadiah lipstik cantik dengan packaging yang berwarna pink. Matanya berbinar. Ia menahan senyumnya.


Ia memutar lipstik cantik itu. Sebelum memakainya, ia melirik Zafran meminta persetujuannya. Setelah cowok itu mengangguk setuju, Alesha mengoleskan lipstik ke bibirnya.


Zafran memperhatikan setiap gerakan istrinya dengan cermat dari cermin. Cowok itu mengembangkan senyum. Kepalanya mengangguk beberapa kali.


"Cantik," puji Zafran.


Warna lipstik tersebut pink sedikit kemerahan. Zafran pikir wajah Alesha akan menor, tapi ternyata cewek itu meng-ombre lipstiknya. Sehingga warna bibirnya terlihat sangat natural.


"Terima kasih," sahut Alesha.


Zafran memberikan dasinya pada Alesha. Cewek itu mengerutkan keningnya.


"Tolong pakaikan,"


Alesha terkekeh. "Manja."


Zafran hanya mengedikkan bahunya.

__ADS_1


"Waktu di Bali. Apa lo minta bokap lo pasangin dasi?"


Zafran menggeleng. "Bukan Papa,"


"Terus?"


"Sekertaris gue,"


Kedua alis Alesha menyatu. Ia menghentikan ikatan dasi. "Sekertaris lo?"


Zafran mengangguk.


"Apa... dia cantik?" tanya Alesha memastikan secara hati-hati.


Zafran diam sesaat. Setelah dipikir-pikir, wajah Seto yang berumur 27 tahunan terlihat tampan sekaligus cantik.


"Lumayan cantik," seru Zafran.


Alesha melebarkan matanya. Dia mengembangkan hidungnya. Mengatupkan bibirnya. Lalu menarik dasi hingga mencekik Zafran.


Uhuk Uhuk!!


Zafran terbatuk-batuk. Alesha tak peduli. Ia segera mengambil sepatu hak tinggi lalu keluar kamar dengan langkah yang besar.


"Apa salah gue? Emang bener wajah Pak Seto lumayan cantik."


...***...


Zafran membukakan pintu belakang, tempat di mana Alesha duduk di sana. Sejak kejadian dasi tadi, cewek itu menolak untuk duduk di depan. Saat Zafran menjelaskan pun, cewek itu mendengarkan musik sekencang mungkin dengan earphone.


"Lo masih marah sama gue?"


Alesha memutar bola matanya malas. Ia berjalan terlebih dahulu.


"Gak," ketusnya. Cewek itu tetap berjalan. "Ntar juga bakalan ketemu Ayah," katanya.


Zafran membiarkan Alesha jalan lebih dulu, lagipula kedua orang tuanya berada di tempat khusus. Cowok itu meraih ponsel di dashboard kemudian menelepon sekertarisnya yang bernama Seto.


Beberapa saat kemudian, Seto mengangkat teleponnya.


"Lima menit lagi, datang ke lokasi restoran yang saya share!"


Hanya satu kalimat, setelah itu Zafran memutuskannya secara sepihak. Sedangkan Seto yang baru saja bangun dari tidurnya dan nyawanya belum berkumpul sepenuhnya langsung terbuka lebar.


"Salah apa saya ini? Baru juga tiba dari Bali satu jam yang lalu."


Seto merenggangkan ototnya. Mengingat jika bosnya memiliki sikap otoritas dan kedisplinan yang tinggi, Seto segera membasuh mukanya dan meraih kunci mobilnya tanpa ganti baju terlebih dahulu. Pria itu akan berganti di dalam mobil.


Alesha menghentikan langkahnya. Ia salah telah meninggalkan Zafran di belakang. Hari ini sangat ramai, dan Alesha sulit menemukan Ayah dan kedua mertuanya.


"Sebelah sini," Zafran menggandeng tangan Alesha. Cewek itu kaget, tapi tak melepaskan genggamannya sebab ia pun takut nyasar karna restoran ini cukup besar.


"Naik?"


"Hm, kita pesan ruangan VVIP," kata Zafran.


Alesha manggut-manggut. Ia menautkan jarinya. Seakan lupa permasalahan sekertarisnya yang cantik. Zafran lega jika Alesha segera melupakan hal itu. Tapi Zafran akan membuat kesalahpahaman ini menjadi lebih terang.


Ia mengundang Seto dan memperkenalkan dirinya di depan keluarganya dan Alesha. Agar Alesha tidak salah paham. Apalagi jika mamanya tahu pasti dia akan terkena masalah.


Zafran menarik Alesha sambil menaiki satu persatu tangga. Cowok itu melepaskan tautan jari mereka. Kemudian ia melambaikan tangannya ke arah Delon, Gun, dan Yuni.


Mata Alesha berkaca-kaca. Ia sangat rindu pada ayahnya. Cewek itu segera berlari memeluk Delon.

__ADS_1


"Ayah,"


Delon memeluk tak kalah erat. Ia berkali-kali mencium kepala anaknya dengan sayang.


"Putri Ayah,"


"Alesha kangen Ayah,"


"Ayah juga kangen, Nak." Delon melepas pelukannya. Ia mengelus kedua pipinya. Menghapus air matanya yang menetes.


"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang," seru Delon.


Alesha mengangguk. Ia tersenyum dan menghapus air matanya. Setelah Delon melepaskan pelukan Alesha, Zafran datang memeluknya ala pria. Delon menepuk punggung Zafran beberapa kali.


"Kapan orang tua ini dapat cucu?" bisik Delon membuat pipi Zafran memerah.


"Do'akan saja," jawabnya.


Keduanya terkekeh.


Setelah acara peluk kangen, mereka menunggu pesanan makanan. Zafran mengirim pesan pada Seto tempat mereka. Alesha meliriknya diam-diam karna curiga.


Zafran menahan senyum gemas ingin menggigit pipi Alesha yang begitu menggemaskan. Apalagi saat-saat ia curiga dan mencuri pandang.


Cowok itu menyimpan ponselnya di saku. Beberapa menit kemudian, Seto tiba di depan mereka sembari membawa bunga mawar merah.


Zafran berdiri. Alesha mengerutkan keningnya. Ia menutup mulutnya tak percaya.


"Dia demen sama suami gue?" cengonya.


"Pak Zafran, ini pesanan Anda."


Zafran mengambil bucket bunga tersebut. Ia merangkul pundak Seto. "Ayah, Mama, kenalin, dia Pak Seto. Sekertaris Zafran di perusahaan."


Seto membungkukkan badannya sedikit ke bawah. "Salam kenal, saya Seto. Mantan sekretaris Pak Gun."


Delon, Gun, dan Yuni menyalami Seto. Yuni sudah tau tentang itu, ia hanya menyalami Seto dan menyuruhnya bergabung.


"Sekertaris?" gumam Alesha.


Zafran mengalihkan pandangannya ke arah Alesha. Cowok itu memberikan bucket bunga pada istrinya.


"Dan ini adalah istri yang paling sayang cintai. Namanya Alesha Bulan Delona. Sayang, tolong terima permintaan maaf suamimu ini karna sudah membuatmu salah paham,"


Alesha menutup mulutnya tak percaya. Zafran bisa bersikap seromantis ini. Cewek itu menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia sedikit malu. Pipinya memerah seperti kepiting rebus.


Alesha berdiri menerima pemberian bunga dari Zafran. Ia menarik sudut bibirnya lebar.


Zafran merentangkan kedua tangannya. Alesha menatapnya malu-malu. Bisa-bisanya Zafran ingin memeluknya di depan semua orang.


"Zafran! Gue malu," lirihnya.


Zafran tak peduli, ia tetap merentangkan tangannya. Ia menatap Yuni, wanita setengah baya itu mengangguk memberikan kepercayaan diri untuknya.


Alesha mengangguk kecil. Kemudian ia memeluk Zafran. Keduanya berpelukan sangat erat.


"Maaf, gue udah cekik lo,"


Zafran terkekeh mendengarnya. "I love you too," jawabnya membuat Alesha semakin mengencangkan pelukannya.


"I love you more," sahutnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2