Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
67. Gavin Cemburu


__ADS_3

Gavin melepas topi chef berwarna putih menjulang tinggi dari atas kepalanya. Topi yang dikenakan oleh Gavin biasanya disebut dengan toques.


Hari ini cukup melelahkan. Memberi arahan untuk puluhan orang tidak mudah seperti yang dibayangkan. Tujuh puluh lima persen dari seluruh peminat les memasak, mereka hanya mencari perhatiannya saja tanpa berniat memasak.


Gavin hanya bisa membuang napas berkali-kali. Ia menghabiskan waktunya untuk hal itu. Sebenarnya, ini memang kemauan Gavin sendiri menjadi chef di pelatihan cooking. Tapi setelah menjalani kurang lebih selama tiga bulan, Gavin sepertinya sedikit menyesal.


Dari sekian murid, hanya beberapa saja yang benar-benar melatih skill masak mereka. Yang lainnya? Hanya caper.


"Gerah,"


Gavin mengelap peluh keringat dengan handuk. Di dalam ruangan khusus, ia melepas chef jaket. Hawa udara terasa panas, dia memutuskan untuk mengguyur badan sejenak.


Gavin menyiapkan air dingin. Dia membasahi tubuhnya. Setelah hampir kurang lebih sepuluh menit, Gavin menyelesaikan mandinya.


Gavin memakai celana pendek dan baju kaos. Dia akan bergegas menuju rumah sakit. Tidak baik jika Nana hanya berdua dengan Zafran. Lagipula siapa nanti yang akan menemani mama Nana?


Gavin tidak mau jika Zafran berbuat semena-mena kepada Nana. Setelah ini, Gavin akan menyuruh Zafran saja yang menemani mama Nana.


Hidup Gavin monoton. Tidak punya teman siapapun kecuali dirinya sendiri. Bahkan dia saja jarang komunikasi dengan Nana jika tidak perlu.


Dia sangat pelit mengeluarkan suara, jadi jangan heran jika Gavin tidak berbicara sepanjang jalan.


"Belum pulang lo?"


Gavin menoleh sekilas. Martha membawa dua botol minuman dari market terdekat.


Sepertinya pertanyaan Martha sudah menjawab keadaannya. Jadi, Gavin tidak perlu susah-susah membuang suara.


Dia melangkah ke depan. Masuk ke dalam mobil, memasang seat belt dan melajukan mobil di depan Martha.


"Wah sial*n tuh orang, dia anggap gue patung apa?"


"Sombong amat jadi chef!"


Martha mendengus kesal mendapati sikap Gavin yang acuh. Dia buru-buru masuk ke dalam mobil. Aleaha sudah menunggu air dinginnya.


"Kenapa masam tuh muka?"


"Gavin ditanyain nggak jawab."


"Nanya apa emang?"


"Gue tanya 'belum pulang lo?' gitu, eh dia maen nyelonong aja."


Alesha mengerutkan keningnya. "Pantesan nggak di jawab,"


"Aneh kan?"


"Iya, lo emang aneh, Mar. Bisa-bisanya menanyakan keadaan yang sudah jelas."

__ADS_1


***


Gavin mengangguk sekali setiap ada orang yang membungkuk setengah badan padanya. Dia mempercepat langkah, malas bertemu orang-orang itu.


Gavin membuka pintu. Matanya membola melihat Zafran berada di samping Nana. Posisinya sangat dekat dengan Nana.


Gavin mempercepat jalannya. Dia segera merebut semangkok bubur dari tangan Zafran.


"Minggir!!"


Zafran hanya berdecak kesal. Bukan kesal karna dia menganggu keromantisannya dengan Nana, hanya saja Gavin membuat Zafran terjungkal ke belakang.


"Apaan sih lo, nj*ng!"


"Ini rumah sakit, bukan kebun binatang. Kalau mau nyebut nama binatang ngaca sana!"


Zafran terperangah. Dia menatap Gavin tak percaya. "Maksud lo gue mirip Anjing?"


"Lo sendiri yang bilang."


Gavin menyuapkan bubur pada Nana. Cewek itu bingung melihat situasi yang terkihat aneh. Tapi tidak apa. Memandang kemarahan Zafran ketika Gavin merebut mangkok bubur darinya, itu menandakan jika Zafran mulai menaruh hati padanya.


"Mangap, Na."


Nana menganga lebar. Dia bersiap memakan bubur. Zafran yang kesal diejek anjing pun menjitak kepala Gavin dengan keras. Membuat ia mendorong sendok ke dalam mulut Nana.


"Na, maaf." Gavin bergegas memberikan air minum. Nana meneguknya hingga tandas. Nana menepuk-nepuk dadanya.


"Maaf, Na. Ada anj*ng liar," kata Gavin.


Zafran semakin emosi. Dia menarik leher Gavin. Mencekiknya hingga wjaah Gavin memerah semerah tomat.


"Zaf... uhuk... gak.. uhuk bisa napas!!"


Nana melepaskan tangan Zafran dari Gavin. "Zafran udah!!"


Zafran melepas tangannya dari Nana. Dia menatap cewek itu sengit.


"Gue nggak papa, kok. Jangan salahin Gavin."


Zafran mengangkat satu alisnya. "Siapa yang bela lo?"


Nana berkedip cepat. "Bukannya lo cemburu ya?"


"Dih, siapa juga yang cemburu sama Gavin. Gue nggak terima aja dia jungkir balikin gue. Na, jangan lo pikir adanya gue di sini, lo bisa bebas berinteraksi dengan gue semau lo. Sebelum gue dapatin buktinya, gue masih anggap lo musuh!"


"Untuk sementara gue percaya sama omongan lo, karna dari apa yang gue lihat di cctv, itu sama seperti ucapan lo,"


"Tapi bukan berarti lo bebas melakukan apa saja!"

__ADS_1


Nana meneguk ludahnya susah payah.


"Cctv?"


Zafran menatap Gavin. Dia mengangguk sekali.


"Cctv sekolah?" pertanyaan Gavin diangguki Zafran.


Gavin manggut-manggut. Sebenarnya dia belum sepenuhnya percaya pada ucapan Nana jika Alesha yang membuatnya seperti ini.


Karna Gavin tau sendiri bagaimana sifat Alesha. Dia baik, telaten, teliti, pendengar yang baik, bahkan dia suka menolonh sesama. Ketika berada di kelasnya, Aleaha tak sungkan untuk membantu para ibu-ibu yang kesusahan.


Dan demi fakta yang harus diselesaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan bisa membalas perbuatannya pada Nana, meskipun jika benar dia adalah Alesha - istri Zafran, Gavin tidak akan melepaskannya.


***


Malam yang dingin begitu menusuk kulit putihnya. Suasana sekolah di malam hari sangat mencengkam. Persis seperti film horror pada umumnya. Namun, dia tak merasakan takut sama sekali.


Jikalau pun ada sosok hantu yang muncul di depannya, dalam sekali tendangan, dia yakin pasti hantu itu akan trauma muncul di dunia manusia.


Matanya berkeliling. Dia ingin menguji nyali dan mencari sosok yang bernama hantu, tapi tujuannya datang kesini bukan untuk hal itu.


Dia datang untuk menemukan kebenaran. Hacker yang pernah ia sewa sudah mengirimkan sebuah nama orang yang sudah memberitahukan keadaan Nana padanya.


Dan Gavin tersenyum smirk. Dia adalah orang yang sama. Orang yang pernah ia temui di rumah sakit saat Zafran dan Nana menghilang tanpa kabar.


Sekarang, Gavin akan membuktikan lagi. Jika ternyata seseorang yang telah membuat kejadian ini adalah orang yang sama. Gavin tidak akan membiarkannya bebas.


Dia sudah membuat Zafran tidak pulang. Dia sudah membuat Zafran berpihak pada Nana. Bukan berarti Gavin tidak suka dengan tindakan Zafran, hanya saja, Zafran terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.


Sampai membuat hubungannya dengan Alesha merenggang. Gavin bersyukur karna adanya permasalahan ini, mereka bertiga sedikit demi sedikit menjadi kembali akrab.


Tapi yang Gavin mau, mereka bersatu tanpa adanya campur perasaan yang rumit. Tapi bersatau karna satu kesatuan.


Maka dari itu, Gavin meyakinkan diri mencari sebuah fakta yang baru.


Dia membuka pintu ruang cctv. Pak Naji menoleh, dia sudah sembuh dari sakitnya.


"Nak Gavin? Ada apa kok sampai kemari?"


"Boleh saya lihat rekaman cctv?"


Naji mengangguk. "Boleh, Nak Gavin."


Gavin mengotak-atik komputer. Dia menatap layar dengan seksama. Matanya fokus, dia melihat kejadian beberapa hari lalu saat dirinya membopong tubuh Nana.


Gavin menyunggingkan senyum smirk. Dia menyandarkan tubuh sembari meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.


"I fine you."

__ADS_1


__ADS_2