
Gavin melepas tali yang mengikat tubuh Nana. Kaitan talinya sangat kuat. Membuat Gavin harus mengeluarkan kekuatan ekstra untuk melepasnya.
Zafran menggeleng cepat. Ia segera mengambil ponselnya dan mengarahkan senter membantu Gavin. Setelah berkutat cukup lama, akhirnya cowok itu berhasil melepas talinya.
Gavin membuka lakban di mulut Nana perlahan. Takut membuat lapisan bibir Nana sobek. Nana membuka matanya sedikit demi sedikit saat merasakan adanya pergerakan.
Dia terkejut menatap seseorang yang ada di depannya. "G-gavin?"
Gavin mendongak. Dia langsung memeluk Nana dengan erat.
"Na, lo gak papa?"
"S-sakit, Vin," rintihnya. Gavin melepas pelukan.
"Maaf," ungkapnya.
Zafran memutar bola matanya malas melihat kejadian tersebut.
Gavin memegang lutut Nana. Dia menatap cewek itu lekat. Nana membalas tatapan Gavin, dia tersenyum sembari menahan sakit akibat sobekan di sudut bibirnya.
"Na, bicara sama gue siapa yang udah buat lo kayak gini?"
"D-dia..."
Nana merasa jika pusing kembali menyerang. Nana memegang kedua pundak Gavin. Cowok itu terkejut saat Nana tiba-tiba limbung di pundaknya.
"NANA!!"
Zafran berdecak kesal. "Udah tau lagi sekarat masih aja diajak ngobrol," dumelnya.
"Diem, bacot!"
"Diim, bicit," ejeknya mengikuti ucapan Gavin dengan bibir dimajukan.
Gavin mengangkat tubuh Nana. Dia segera pergi dari sana.
"Bawain tas gue!" matanya melirik Zafran lalu beralih melirik tasnya yang ada di lantai.
"Kenapa gue jadi pembantu?"
Aneh sekali. Niatnya membantu Gavin menerangi ruangan, tapi sekarang dia malah disuruh untuk membawakan tas cowok itu?
Memang tidak tau diri si Gavin ini. Berani-beraninya dia menyuruh musuh bebuyutan. Tidak takutkah dia nanti akan dihajar Zafran?
"Woy, cepetan!" teriakan Gavin menggema. Lagi-lagi Zafran berdecak sebal. Seenak jidatnya menyuruh Zafran.
"Tau gini gue pulang!" ocehnya sembari mengambil tas Gavin. Menggendongnya di bahu kanan.
Zafran mengekori kemana pun Gavin pergi. Menyusuri jalan sekolah, menuju pagar.
"Cepetan telpon taksi!"
Zafran menjatuhkan tas Gavin. "B*bi lo! Kenapa lo jadi seenaknya nyuruh-nyuruh gue?!"
"Lo gak liat gue lagi ngapain?" Gavin berbalik sebentar. "Gue lagi gendong Nana," katanya tersulut emosi.
__ADS_1
"Lo cari aja taksi sendiri!" Zafran tidak suka di perintah. Dia juga tidak mau membantu. Apalagi membantu seseorang yang mau menghancurkan hubungannya dengan Alesha.
Zafran melewati Gavin yang berdiam diri seperti patung. Hatinya sedikit sakit melihat keadaan Nana. Ditambah lagi, Zafran pergi meninggalkannya.
Iya Gavin tau, dia adalah musuhnya. Tapi, bisakah dia meminta tolong? Gavin akui, saat ini dia membutuhkan bantuan Zafran.
"Gue minta tolong sama lo. Sehari ini saja," ucapan Gavin memelan. Dia mengatakannya dari hati. Gavin tidak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi jika bukan pada Zafran.
Dia sangat khawatir pada Nana. Jika ponselnya tidak mati, dia tidak akan meminta bantuan Zafran.
Karna di hari yang semakin gelap ini, hanya ada mereka bertiga. Jika Zafran pergi dan Gavin terlambat ke rumah sakit, apa yang akan terjadi?
Gavin tidak ingin ada penyesalan, dan hubungan persahabatan mereka semakin hancur.
Zafran menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik, dia pun berkata, "baru kali ini lo minta tolong sama gue. Oke gue tolong, tapi itu artinya lo ngaku kalah."
Gavin menggerem. Ini bukan waktunya menentukan siapa yang kalah dan menang. Tapi ini menentukan hidup dan mati.
"Nggak!" sergah Gavin. "Ini nggak ada hubungannya!"
"Jelas ada," Zafran menyilangkan dada. Dia menunjukkan pesanan taksi yang tinggal ditombol oke.
"Ogah, cepetan pesen taksi, Zafran!"
"Yaudah kalau lo gak mau ngaku kalah, gue pulang." Zafran hendak pergi, Gavin mencegah.
"ZAFRAN!!"
Zafran mengangkat bahu acuh. Dia tak peduli jika Gavin berteriak kencang.
Gavin menatap nyalang. Tapi akhirnya dia menghela napas panjang. "Demi Nana, gue ngaku kalah."
Zafran menarik sudut bibirnya. "Pengakuan kalah diterima!"
***
Gavin berjalan bolak-balik tanpa henti sejak lima menit yang lalu. Pintu kamar inap di tutup rapat. Di dalam sana beberapa perawat disibukkan untuk mengobati luka-luka ditubuh Nana.
Nana sudah sadar. Hanya saja karna ini perawatan dari dalam, tidak ada yang diperbolehkan masuk termasuk dokter lawan jenis.
"Bisa diem nggak lo?" Zafran risih melihat cowok sok cool ini mengganggu mata.
Gavin hanya melirik sekilas. Kemudian kembali berjalan.
Zafran mendengus. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi. Sebenarnya dia ingin pulang dari tadi, tapi mengingat Mama Nana juga dirawat di sini, dan hanya ada Gavin dan Zafran yang dikenal keluarga Nana, maka mereka berdua diperintahkan untuk menjaga mereka.
Perintah langsung dari papa Nana. Zafran tak bisa menolak.
Sebenarnya Zafran ingin menolak karna tidak mau membuat istrinya khawatir. Tapi saat Gavin kembali memintanya untuk menunggu perawatan Nana selesai, akhirnya Zafran pun menyetujui.
Meskipun begitu, Zafran mengirim pesan pada Alesha jika dia pulang terlambat. Tidak mendapat balasan meski sudah berharap lebih.
Dia tau perasaan Alesha. Tapi dia tidak bisa memaksa keadaan yang genting.
Zafran mengambil botol mineral. "Vin," dia melemparkannya pada Gavin.
__ADS_1
Cowok itu sigap menangkap. Kemudian meneguk air hingga setengah. Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya pintu pun terbuka. Menampilkan seorang perawat berbaju biru yang keluar seraya membawa beberapa alat pengobatan.
"Saya boleh masuk?" Gavin tak sabar.
Perawat wanita itu pun mengangguk. "Boleh, tapi jangan terlalu lama, karna dia butuh istirahat lebih."
Gavin mengangguk. Dia masuk ke dalam. Zafran bertatapan dengan perawat tersebut, kemudian menganggukkan kepalanya sekali.
"Terimakasih," ungkap Zafran.
"Sama-sama."
Selangkah demi selangkah Zafran pijak. Nana membuka mata sempurna. Dia terkejut melihat kedatangan Zafran.
"Z-zafran?"
Zafran tidak menoleh. Dia memilih untuk duduk di kursi.
"Nana," panggilan Gavin mengalikan perhatian Nana.
"Ya, Vin?" tatapannya masih fokus pada Zafran.
"Jelaskan!"
Nana menoleh cepat. Dia menghembuskan napas panjang. Sebelum melanjutkan ucapannya, Nana melirik Zafran. Cowok itu fokus pada ponsel.
"Awaknya, gue ketemuan sama Alesha di gudang."
Zafran mendongak. Dia mengerutkan keningnya. "Mau lo apain Alesha gue?" sarkas Zafran.
Nana menggeleng. "Gue cuma minta maaf sudah buat Alesha khawatir. Gue minta dia maafin lo dan baikan lagi sama lo kok, Zaf. Gue sadar gue salah, makanya gue minta maaf ke Alesha. Tapi.."
Zafran mendengarkan dengan seksama. "Tapi apa?" tanyanya sedikit mendesak.
"Tapi, Alesha malah buat gue kayak gini." Nana menunduk menghapus air matanya.
Zafran berdiri. Dia menatap nyalang Nana. "Apa maksud lo? Jangan bawa nama Alesha ke dalam permasalahan lo, Na!" Zafran mulai emosi.
Nana mendongak, dia memberanikan diri menatap Zafran. "Gue bener, Zaf. Gue nggak bohong!"
"Alesha nyentrum gue pake stun gun!!" bajunya terkesiap. Dia menunjukkan bekas luka akibat tersetrum.
Zafran dan Gavin mengalihkan pandangan mereka. Gavin meraih baju dan menurunkannya. "Tutup!"
"Gue inget, Vin. Yang nyerang gue Alesha!"
"Lo emang gak suka sama Alesha," sahut Zafran.
"Iya, gue emang nggak suka karna seenaknya dia rebut lo dari gue, tapi gue juga nggak nyangka kalau Alesha bakalan serang gue diam-diam!!"
Zafran berdecih. "Cih, gue gak percaya sama omongan busuk lo!"
"Gue nggak bohong, Zafran!!"
Zafran meraih tasnya. Daripada mendengarkan hal yang membuat Zafran ingin menghajar cewek itu, lebih baik dia pergi.
__ADS_1
"Gue akan cari buktinya!"