Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
25. Salah Memilih Petugas


__ADS_3

"Besok lo masak ini lagi, ya?" Zafran mengunyah cireng yang kenyal dengan semangat. Sesekali ia mencocol ke dalam saus pedas manis.


Alesha mengembangkan senyum. Ia senang jika Zafran selalu menikmati makanan apapun yang dibuat olehnya.


"Lo suka cireng?"


Zafran mengangguk beberapa kali. "Suka."


"Kapan-kapan gue buatin lagi. Tapi besok gue pengen buat cimol."


Zafran menoleh cepat. Dia tercengang. "Cimol?"


Alesha menganggukkan kepalanya beberapa kali. Zafran mengambil botol dan meneguk air mineral hingga tandas. Kemudian ia menatap Alesha tak percaya.


"Lo gak takut kecipratan minyak goreng?"


"Zafran, gue ahlinya masak cemilan. Jadi, lo gak perlu khawatir."


Tentu saja Zafran cemas, ia melihat video trending yang ada di ponselnya kemarin. Seseorang menggoreng cimol sampai menggunakan mantel dan helm untuk pelindung karna cimol tersebut meledak-ledak.


"Terserah, gue gak ikut-ikutan buat cimol," Zafran kembali memakan cireng.


"Kecuali besok, lo harus ikut andil dalam pembuatan cimol!" ucap Alesha tak bisa dibantah.


Zafran melotot. Ia dengan cepat memegang bahu Alesha. Zafran menunjukkan wajah sedih.


"Sha, gue masih sayang nyawa gue."


...***...


"Nanti pulang sekolah, kita mampir ke supermarket." Gumam Alesha memasukkan beberapa buku ke dalam tas.


"Bukannya kemarin lo udah belanja?"


Alesha mengangguk meski Zafran tak melihatnya dan hanya fokus menata rambutnya.


"Kemarin gue belanja bulanan, tapi nanti gue mau belanja bahan untuk buat cimol."


Zafran menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Alesha dengan tatapan nanar. "L-lo jadi buat cimol?"


"Jadi dong, gue juga mau ajak Martha. Boleh ya?" izinnya.


Zafran berkedip lambat. Kalau Alesha ajak Martha, gue juga gak mau jadi korban. Oke, gue juga bakal ajak duo pasukan monyet gue.


Zafran menyeringai. Ia mengangguk pelan. "Lo boleh ajak Martha, dan gue bakal ajak Ferdi sama Laka."


Mata Alesha berbinar. "Boleh-boleh. Semakin banyak anggota semakin menyenangkan dan prosesnya gak akan lama. Kalau gitu kita harus beli banyak bahan,"


"Gak perlu, gue suruh Ferdi sama Laka yang beli bahannya."


Alesha manggut-manggut. "Baiklah kalau gitu,"


"Oh ya Zafran," panggil Alesha.


"Kenapa, hm?"


"Ayo di sekolah kita pura-pura nggak kenal?" ajaknya.


Zafran menaikkan alisnya. Dia berpikir sejenak. "Oke, gue setuju. P**rivate in public spesial in home, ya kan?" cowok itu mengedipkan satu matanya.


Alesha tersipu malu. Ia mengalihkan wajahnya yang memerah.


...***...


"Vin, tas lo berat!" eluh Martha mengerucutkan bibirnya.


Gavin mengedikkan bahunya. Ia menjemput Martha hanya untuk membawakan tasnya. Gavin sengaja memasukkan banyak buku paket sekaligus laptop di dalam sana. Meski sebenarnya, dia tak akan menggunakan semua buku tersebut.


"Jangan sampai jatuh!" peringat Gavin.


"Tapi gue cewek!"

__ADS_1


"Gue cowok." Sahut Gavin singkat.


Martha memutar bola matanya. "Seharusnya lo bawa tas lo sendiri,"


"Berisik, cepet naik!" Gavin membukakan pintu mobil untuk Martha. Cewek itu mendengus kesal. Sepertinya Gavin memiliki dendam pribadi padanya.


Martha masuk ke dalam mobil, ia tak hati-hati sampai kepalanya hampir saja kejedot pintu mobil bagian atas. Untung saja Gavin sigap menutupinya dengan tangan, sehingga jidat Martha baik-baik saja.


Martha menoleh ke arah Gavin. Cowok itu hanya menatapnya datar. "M-makasih." Ucapnya.


Gavin tak sabar, jika Martha tak cepat masuk, mereka akan terlambat. Cowok itu mendorong Martha dengan kasar. "Lemot," ketusnya.


Martha terjungkal. Ia membalikkan wajahnya dan mengerutkan keningnya marah. "Dasar tokek!" ejeknya sangat amat pelan.


Setelah masuk ke dalam, Gavin segera mengendarai mobil menuju sekolah. Tidak ada yang membuka suara sama sekali.


Sedari tadi ekspresi Martha tidak sedap di pandang. Punggungnya harus mengangkat berat tas miliknya, tapi di bagian depan, dia juga harus mengangkat beban tas Gavin yang beratnya tiga kali lipat dari miliknya.


Tak selang berapa lama, Gavin menghentikan mobil di belakang motor Zafran yang berhenti. Martha memincingkan matanya, Alesha baru saja turun dari motor cowok tersebut.


Hahaha, itulah akibatnya karna ngerjain gue. Lo diturunkan di halte. Rasain lo, Alesha. Batin Martha, cewek itu mengambangkan senyum bahagia. Alesha terkena karma karna sudah berani menipu Martha.


"Turun!"


Senyum Martha memudar. Ia menoleh cepat ke arah Gavin.


"Apa? Lo suruh gue turun di sini?"


"Ya."


"Yang bener aja lo, Vin. Tas lo ini berat, dan jarak halte ke sekolah itu jauh. Lo gak kasian sama cewek cantik kayak gue?"


Gavin menutup telinganya. Suara cempreng Martha benar-benar mengganggunya. "Gak," sahutnya.


"Vin, gue tau lo punya dendam pribadi sama gue. Tapi se-enggaknya lo kasih gue keringanan. Jangan berat-berat kayak gini. Ntar kalau tubuh gue yang seksi berubah kurus gimana? Lo mau tanggung jawab?"


Gavin memerhatikan Martha dari bawah ke atas. Bagi Gavin, tubuh Martha itu sangat kurus, tapi dengan percaya dirinya, cewek itu mengatakan jika ia seksi? Sungguh kepercayaan diri yang sangat luar biasa.


Gavin menatap tajam Martha. Dia menampilkan senyum smirk. "Jadi, lo gak mau turun?"


"Kalau lo gak turun, gue akan beri hukuman yang lebih berat dari ini. Mau?"


Martha berkedip lambat seraya meneguk ludahnya susah payah. Dia menggeleng cepat, kemudian membuka pintu mobil tanpa paksaan. Akhirnya Martha pun turun.


Gavin segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dan menyenggol motor Zafran.


Zafran terkejut, untung saja dia bisa menyeimbangkan motor dan tidak terjatuh. "Gavin, sini lo!!" teriaknya.


Mereka berdua berakhir saling memutari lingkungan sekolah. Mengejar satu sama lain dan membuat beberapa siswa yang berlalu lalang menghentikan jalannya.


"Kejar gue kalau bisa!!" gumam Gavin.


Zafran melajukan kecepatan penuh. "Siaalan!"


Zafran berhasil menghalang di depan mobil. Gavin tidak panik, ia mempertahankan lengkungan senyum. Lantas cowok itu pergi ke luar sekolah, memancing Zafran untuk ikut bersamanya.


"Alesha cantik," sapa Martha.


Alesha menoleh. Mulutnya menganga lebar. Matanya membola, ia terkejut melihat Martha membawa dua tas sekaligus.


"Tolongin gue dong, bawain tas Gavin." Pinta Martha dengan senyuman paling manis yang ia punya.


Alesha yang ingin menjawab sapaannya pun mengurungkan niat. "M-maaf, saya duluan. Takut terlambat."


Alesha berjalan cepat. Ia melebarkan langkah kakinya dan meninggalkan Martha.


Martha mendelik. "Woy Alesha!!"


"Bantuin gue,"


"Jangan pura-pura gak kenal lo!"

__ADS_1


"Lo yang udah buat gue sengara kayak gini!"


"ALESHA!!!!"


Alesha menjadi pusat perhatian semua orang ketika ia sudah berada di depan gerbang. Napasnya ngos-ngosan. Suara Martha benar-benar menggema bahkan sampai terdengar di seluruh penjuru sekolah.


Cewek itu melambaikan tangan kepada Martha sembari tersenyum. "Martha semangat empat lima!!"


Martha mengepalkan tangannya di udara. Hidungnya kembang kempis. "Awas aja lo, Alesha!"


...***...


Tepung tapioka 1kg


Tepung terigu 1kg


Bawang putih ½kg


Kaldu ayam bubuk 2 bungkus


Garam 1 bungkus


Daun bawang 1 ons


Alesha melebihkan bahan untuk stok. Ferdi membaca dengan seksama bahan-bahan yang perlu ia beli untuk membuat cimol. Cowok itu menggaruk tengkuknya lehernya yang tidak gatal sama sekali.


Sembari menunggu Laka datang dari parkiran, ia berkeliling mencari bahan-bahan supaya nanti tidak memakan banyak waktu.


Tapi ternyata ini semua diluar dugaan Ferdi. Ia saja tak mengetahui sama sekali bagaimana bentuk dari semua bahan.


"Tepung tapioka? tepung terigu?" Ferdi memandang semua jenis tepung dengan bingung. Dari dua bahan yang diperlukan, di dalam rak ini terdapat bermacam-macam tepung yang ada.


"Ini kenapa banyak jenis tepung? Gue harus pilih yang mana?"


Ferdi mengusap wajahnya gusar. "Sedangkan gue bodoh dalam hal per-tepungan,"


"Gimana? Lo udah dapet bahannya?"


Dewi Fortuna berpihak padanya. Akhirnya Laka si jago pelukis datang untuk membantunya.


"Belum, nih bagian lo. Gue mana tau jenis-jenis tepung!"


Ferdi membersikan kertas resep. Beberapa kerutan muncul di kening Laka.


"Gue?"


Ferdi mengangguk.


"Kalau lo tanya tentang kuas dan jenis-jenis kertas lukis, gue ahlinya. Tapi kalau ini, lo aja." Laka mengembalikan kertas bahan ke Ferdi.


"Gue juga nggak bisa, Lak!"


"Terus, kenapa lo mau disuruh Zafran?"


"Nggak tau. Kalau lo kenapa mau disuruh Zafran?"


Laka mengedikkan bahunya. "Ya karna ada lo. Gue pikir lo paham tentang bahan masakan."


Ferdi menepuk jidatnya. "Gue juga berpikir sebaliknya,"


Laka mendengus pelan. Terlalu sehati ternyata tidak baik.


"Gimana kalau kita beli semua?" saran Ferdi.


Laka melebarkan matanya sempurna. Dia menjentikkan jari tangannya. "Ide bagus."


Ferdi mendengus lega. Cowok itu membeli satu persatu semua jenis ke dalam troli.


Asal mereka tau, Zafran menyuruh mereka berdua belanja sebab tidak mau menghambur-hamburkan banyak uang. Karna jika ia belanja dengan Alesha, cewek itu pasti akan membeli hal yang berbeda dan semakin menambah pengeluaran mereka.


Tapi tak disangka-sangka, dua orang itu malah menghabiskan lebih banyak uang dengan membeli semua bahan makanan.

__ADS_1


"Pasti Zafran bangga sama kita ya kan, Lak?"


Laka mengangguk. "Pastinya."


__ADS_2