Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
11. You Are So Beautiful


__ADS_3

"Zafran?"


Zafran menghentikan aktivitas bermain gitar saat mendengar suara mamanya memanggilnya. Cowok itu menjawabnya lalu meletakkan gitarnya ke tempat asal.


Zafran berjalan membuka pintunya. Terlihat ibunya yang sedang tersenyum padanya. Zafran merasakan ada hal yang aneh.


Cowok itu pun bertanya. "Ada apa , Ma?"


Yuni menarik Zafran untuk keluar kamar. Cowok itu pasrah mengikuti kemauan mamanya tanpa mengeluh sedikit.


Yuni membawanya ke ruang tamu. Di sana juga ada papanya yang sedang membaca koran sembari meminum kopi.


"Duduk sini," Zafran dipaksa duduk di samping Yuni.


Wanita baya itu merebut koran yang dipegang oleh ayahnya dan menunjukkan isinya kepada Zafran.


"Menurut kamu mana dekorasi mana yang bagus?"


Zafran menoleh cepat ke arah Yuni, "Dekorasi? Buat apaan?"


Yuni menjitak kepala Zafran. "Buat nikahan kamu!"


"Nikah? Kan Zafran nikahnya masih lama, Ma!"


"Siapa bilang masih lama? Papa sama Mama sepakat untuk nikahin kalian minggu depan."


Zafran mendelik. "Minggu depan!" teriaknya tepat di telinga Yuni.


Wanita itu menutupi kupingnya. "Aduh, berisik!"


"Ma, kelulusan Zafran kan masih beberapa bulan lagi,"


"Terus?"


"Ya kan nikahnya bisa setelah lulus,"


"Gak!"


"Tapi Ma-"


"Kamu berani nolak perintah Mama?"


Zafran mendengus pelan. "Bukan gitu, Ma. Tapi alangkah lebih baiknya kita mendiskusikan ini terlebih dahulu bersama keluarga yang bersangkutan?" ucap Zafran setengah tersenyum, berharap mamanya menunda pernikahan mereka.


Yuni menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri sembari geleng-geleng kepala. "Tidak!"


Zafran memudarkan senyumnya.


"Karna Alesha setuju," bohongnya.


Zafran menaikkan kedua alisnya. "Zafran gak percaya,"


Yuni mengangkat kedua bahunya. "Terserah kamu. Jadi, kamu pilih dekor yang mana?"


"Terserah Mama," jawab Zafran mengikuti kalimat Yuni barusan.


"Kalau baju pernikahan? Bagus yang mana ya?" Yuni keukeuh memperlihatkan beberapa desain baju pernikahan pada Zafran.


"Tanya aja sama Alesha." Zafran meminum teh yang sudah disediakan oleh mamanya.


Yuni menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Katanya kamu nyium Alesha di mobil, emang bener ya?" tanyanya sambil membuka lembaran.


Zafran melebarkan mataya. Ia memuncratkan teh yang baru saja diminum. Cowok itu tersedak dan terbatuk-batuk.


"Kok gugup?"


Yuni dan Gun menahan tawa.


...***...


Alesha tengah fokus mengerjakan tugas sekolah di ruang keluarga. Delon membawakan minuman serta cemilan ringan.


"Gimana pr-nya? Susah nggak?"


Alesha menggeleng. "Nggak susah tapi juga nggak mudah, Yah."


Delon melirik sedikit tugasnya. Ia sudah tua, sehingga tak mengerti apa maksud pertanyaan yang sedang Alesha kerjakan.


"Ini pelajaran apa?"


"Bahasa Indonesia,"


"Gampang dong, ngarang aja."


Alesha mendengus sekali. "Kalau Matematika disuruh mikir tapi Alesha jawabnya ngarang, tapi kalau Bahasa Indonesia, disuruh ngarang tapi Alesha malah mikir gimana jawabnya."


Delon terkekeh-kekeh. "Katanya suka halu?"

__ADS_1


"Alesha memang jago ngehaluin Jaemin, tapi Alesha gak bisa mengungkapkan lewat kata-kata," ucapnya mengerucutkan bibirnya sebal.


Alesha tidak pintar matematika, tapi ia jago mengarang rumus serta jawabannya. Namun jika itu adalah pelajaran bahasa indonesia, kebalikan dari matematika. Jika ada tugas mengarang, Alesha tidak pintar dalam merangkai karangan.


Walaupun kerjanya menghalu bias, tapi untuk sekedar mengungkap sesuatu lewat tulisan tetap saja Alesha lemah. Karna menjadi seorang pengarang tugas bukanlah keahlian Alesha. Kecuali saat ujian, ia sangat pandai menangani situasi untuk mendapat jawaban dari temannya.


"Jaemin itu siapa? Selingkuhan kamu?"


Alesha tersedak ludahnya, ia batuk. Delon segera menyerahkan air minum. Alesha meneguknya hingga tandas.


"Bukan Ayah, Jaemin itu idol K-Pop."


Delon manggut-manggut. "Oalah,"


Alesha menutup bukunya dan mencomot cemilan.


"Udah selesai?"


"Udah," angguk Alesha. Padahal ia belum menyelesaikan satu soal pun, karna besok hari minggu, ia masih bisa santai dan menunggu jawaban dari Martha. Cewek itu menghidupkan televisi, menonton drama Korea yang ada di saluran tv.


"Sha," kini ucapan Delon mengalihkan pandangannya.


"Kenapa, Yah?"


"Pernikahan kamu dengan Zafran diajukan Minggu depan."


...***...


Kedua sosok manusia yang berbeda jenis kelamin laki-laki dan perempuan itu saling diam tanpa ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai melirik pun tidak.


Cowok itu fokus menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Sedangkan yang cewek fokus menatap jalan di dekat jendela. Mereka harus merelakan liburan yang menyenangkan demi sesuatu untuk masa depan mereka.


Mereka sendiri berangkat ke butik tanpa orang tua. Tapi nanti, mereka akan menyusul setelah pekerjaan masing-masing telah diselesaikan.


Zafran menghentikan mobilnya di depan butik milik adik mamanya. Dia turun dari mobil dan langsung melangkah masuk tanpa menunggu Alesha.


Dia pikir, Zafran akan berlagak seperti pasangan laki-laki yang romantis yang akan membukakan pintu untuknya dan menggadengnya masuk. Ternyata hanya ekspetasi Alesha saja yang terlalu tinggi.


"Gak romantis!"


"Gak peka!"


"Gak punya otak!"


Alesah mengumpati Zafran yang tak akan mendengar sumpah serapahnya. Alesha pun turun dengan perasaan dongkol.


Alesha kaget. Ternyata Zafran belum masuk ke dalam butik, ia masih menunggu Alesha yang sangat lamban.


Alesha memutar bola matanya malas. Lantas ia pun berjalan di belakang Zafran.


"Zafran apa kabar?" seorang wanita setengah bayar memeluk dan mencium cowok itu bagaikan bayi mungil.


Alesha menahan tawa melihat Zafran yang memaksakan senyum. "Baik tante,"


"Udah gede ya sekarang, padahal dulu masih kecil,"


"Namanya juga hidup," balasnya.


Niyusti pun terkekeh. "Nggak nyangka kamu dah mau nikah aja,"


Zafran nyengir kuda, "kenalin, dia calon istri Zafran."


Alesha yang diakui sebagai calon istri pun meleyot mendengarnya, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan diperutnya. Ah, pipinya jadi memanas.


Niyusti mendekat, dia mengelus pipi Alesha. "Ya ampun cantik sekali calon istrimu, Fan. Dapet dari mana?"


"Jonggol," gumamnya Zafran yang hanya bisa di dengar Alesha. Cewek itu membalasnya dengan tatapan ganas.


Zafran duduk di kursi seraya bermain ponsel.


"Namanya siapa, Nak?"


"Alesha, Tante."


Niyusti mengangguk. "Langsung aja nyoba beberapa baju yang udah Tante siapin,"


Wanita itu pun mengajak Alesha pergi ke ruang ganti untuk mencoba beberapa pakaian pernikahan mereka.


Alesha tak henti-hentinya berdecak kagum melihat begitu banyaknya dress pengantin. Sampai-sampai Alesha ingin memiliki semuanya. Terlihat sangat cantik dan elegan.


Mulut Alesha menganga ketika mencoba mencari tau harga salah satu dreesnya. Harganya pun selangit, sesuai dengan kualitas bahannya. Bahkan nominalnya paling murah adalah dua digit.


Satu digit saja Alesha belum tentu mampu apalagi ini harganya ratusan juta. Niyusti mengambil tiga dress yang disiapkan untuknya. Alesha tidak boleh menolak karna ini adalah hadiah dari Mama Yuni untuknya.


"Ini sayang, kamu coba dulu,"


Alesha meneguk ludahnya. Tangannya bergetar memegangnya, ia takut melukai dress cantik itu. Alesha masuk dan menutup pintu ruang ganti. Zafran sedikit meliriknya, diam-diam ia menunggu penampilan Alesha mengenakam dress pengantin.

__ADS_1


Alesha sedikit kesusahan, tapi akhirnya ia berhasil memakainya. Setelah itu, Alesha membuka penutup ruang, Niyusti terkagum melihat penampilan Alesah yang sangat cantik mengenakan dress pilihannya.


Zafran pun sama. Ia berdecak kagum. Tapi ia tak suka dengan pakaian terbuka seperti itu. Memperlihatkan punggung Alesha.



Alesha tersenyum, ia juga menyukai dress ini. Terlihat sangat pas dan cantik.


"Gue gak suka. Ganti!" Zafran kembali memainkan ponsel.


Niyusti memberikan tatapan tak suka. Begitu juga Alesha, ia memudarkan senyumnya.


"Nih, ganti satunya."


Setelah berganti pun, Zafran masih menolaknya. Cewek itu lelah berganti baju beberapa kali. Karna sekarang tinggal satu baju saja, Alesha pun pasrah dan kembali memakainya.


"Sabar ya sayang,"


Alesha tersenyum seraya menerimanya, kemudian dia kembali ganti. Namun, ditengah-tengah memasang dress, dia sangat kesulitan karna resletingnya berada di punggung. Sedangkan tangan Alesha tak sampai, ia membuka pintu sedikit dan memanggil Niyusti.


"Tante, tolongin Alesha."


Niyusti mengangguk, ia masuk dan membantu Alesha memakai baju terakhir, pilihan Zafran.


Niyusti geleng-geleng kepala melihat betapa elegannya baju pilihan Zafran. Benar saja cowok itu menolak semua baju yang dipakai sebelumnya karna ia hanya akan menyetujui dress yang sudah dipilihnya.


Wanita itu menutup mulutnya tak percaya, pilihan Zafran tak buruk, sangat bagus dan cocok ditubuh Alesha.


"Cantik banget," Niyusti memeluk Alesha.


Alesha pun setuju dengan perkataannya. Diantara tiga pilihan, yang paling Alesha sukai adalah baju yang terakhir.



"Kalau gitu tante keluar dulu," Niyusti keluar ruangan. Tak hanya keluar ruangan, ia juga masuk ke dalam kantor menyiapkan kebutuhan lainnya meninggalkan Zafran dan Alesha di sana.


Alesha merasa jantungnya kembali berdebar. Padahal sudah dua kali ia menunjukkan diri pada Zafran dengan mengenakan dress, tapi kenapa yang terakhir ini baru merasakan adanya debaran jantung?


Alesah menggeleng cepat. Ia pun membuka pintunya perlahan hingga akhirnya menunjukkan wujudnya. Sedari tadi Zafran sudah menantinya, ia menyilangkan kedua kakinya dan memerhatikan Alesha dari bawah ke atas.


Zafran tersenyum tipis. "Cantik, gue suka."


Blush


Pipi Alesha merona. "J-jadi kita pilih yang ini?"


Zafran mengangguk. "Ya."


Alesha mengangguk. Ia masuk ke dalam lagi. Setelah mengunci ia memegangi dadanya. "Kenapa gue deg-degan?"


Dia memegangi kedua pipinya yang terasa semakin memanas. Lama ia berdiam diri mengontrol perasaan senangnya.


Alesha mengatur napasnya. Ia menjadi gerah sejak masuk ke dalam ruang ganti. Padahal di luar AC-nya menyala.


Alesha mengarahkan tangannya ke punggung mencapai resleting, tapi ia tak sampai. Mau meminta bantuan Niyusti, wanita itu pergi entah ke mana.


"Masa gue sobek?"


Alesha menggeleng beberapa kali. "Jangan, ini mahal,"


Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Zafran, karna dialah satu-satunya orang di sini selain Alesha.


"Yaudah deh, minta tolong Zafran."


Alesha membuka pintu kembali. Zafran asik memainkan ponsel.


"Zafran?"


Dia mendongak. Zafran mengerutkan keningnya. Ia kira Alesha sudah ganti baju, ternyata belum.


"Hm?"


"Bantuin gue!"


"Apaan?"


Alesha mengalingkan wajah, "b-bukain resleting."


Zafran menaikkan salah satu alisnya. Tantenya sedang ada pekerjaan mendadak. Mau tak mau ia lah orang yang bisa membantunya.


Zafran mengangguk lalu dia masuk ke dalam ruang ganti.


Alesha semakin gerah. Napasnya menjadi berat.


Zafran menatap punggung mulus Alesha. Namun cowok itu tak kunjung melepas resletingnya, membuat Alesha geram, ia pun berkata, "Zafran! Kok lam-"


Ucapan Alesha terpotong. Zafran memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"You're so beautiful."


__ADS_2