
Mama Nana mulai membaik. Matanya perlahan terbuka. Meski selama ini wanita baya itu terlelap, dia masih bisa mendengarkan dengan jelas semua pembicaraan antara Zafran dan Gavin bersama anak gadisnya malam itu.
Tentang perbuatan seseorang yang membuat anaknya sengsara, dan terpaksa selalu mengikuti perintah untuk melakukan hal-hal buruk.
Ingin marah, tapi ia tidak berdaya.
Tangan halusnya mengelus surai panjang Nana. Nana menggeliat merasakan sapuan halus itu. Lantas ia pun segera mendongak.
Betapa terkejutnya Nana saat melihat senyuman lebar mamanya.
"Mama," Nana memeluk sang mama sangat erat.
"Maafkan Mama, Nak."
Nana menggeleng. Dia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah mamanya. "Mama nggak salah, kenapa Mama minta maaf sama Nana?"
"Nana yang harus berterima kasih pada Mama karna sudah bertahan."
Wanita baya itu menyunggingkan senyum. "Hanya karna Mama, kamu sampai melakukan perbuatan tidak terpuji. Gara-gara Mama kamu mau menghancurkan hubungan Zafran dengan istrinya."
Nana membola. Pupilnya membesar. "B-bagaimana Mama bisa tau?"
"Mama bisa mendengar pembicaraan kalian. Mama mohon hentikan ini semua, ya? Zafran sahabat Nana, jadi Nana harus menjadi sahabat yang baik. Zafran berhak bahagia dengan pilihannya."
"Nana tidak perlu berbuat buruk demi kesehatan Mama. Mama yakin, kita pasti bisa melewati cobaan ini sama-sama. Percaya sama Tuhan. Tuhan itu tidak tidur."
Nana mendengarkan dengan seksama.
"Nana juga berhak bahagia dengan hidup pilihan Nana sendiri. Meski keuangan kita menyusut, kita harus selalu bersyukur. Kalau bisa jangan mencampuri urusan orang lain, pasti akan ada perasaan bahagia tersendiri, Nak."
Nana menggigit bibir bawahnya. Dia menunduk malu. Setelah bangun dari tidur panjangnya, Nana mendengar nasihat yang menusuk relung hatinya.
"Jangan khawatirkan Mama."
Nana tak sanggup melihat senyuman ibunya. Dia pun memeluk wanita rapuh itu. "Maafkan Nana, Mama. Nana akan memperbaiki semuanya."
"Memang sudah seharusnya. Dukung Zafran dan Gavin bela kebenaran."
Nana melepas pelukannya. Dia melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah tujuh. "Mama, hari ini Zafran akan menyelesaikan urusannya, Nana mau bantu sahabat Nana dulu, ya?"
Wanita baya itu tersenyum lantas mengangguk. Nana mencium keningnya sekilas.
"Nana berangkat."
...****************...
Zafran berpisah dengan Alesha saat tiba di parkiran. Cewek itu buru-buru berlari menyusul Martha yang masih berdebat dengan Ferdi.
"Lo yang injek kaki gue!" teriak Martha.
Ferdi melotot. "Lo aja yang nggak bisa ngajari kaki lo bagaimana caranya berjalan dengan baik!"
"Bego lo? Kaki mana bisa belajar?"
"Ya lo sendiri yang harus belajar, udah gede tapi masih nggak becus jalan kaki!"
__ADS_1
Martha membola. Dia menjambak rambut Ferdi kuat. Laka hanya menatap tingkah keduanya datar, tak mau ikut campur urusan burung gagak betina dan burung gagak jantan.
Laka terpaksa mengikuti Zafran yang menarik tasnya dari belakang. "Daripada kuping lo budek, ikut gue."
Alesha terkekeh melihat wajah Laka yang hanya pasrah saja. Dia pun mendekat di tengah-tengah Ferdi dan Martha.
"Stop jangan berteng-"
"Arghh!!"
Tanpa sengaja, Alesha terkena tamparan Martha yang begitu kuatnya. Membuat Zafran berhenti menarik tas Laka dan langsung mendorong Martha menjauh.
"Gila lo?!!" Martha terhempas.
"Awh," Alesha meringis kesakitan. Dia memegangi pipinya yang memerah.
Martha menabrak dinding tembok sekolah. Cewek itu bahkan lebih sakit dua kali lipat daripada Alesha. Tulang punggungnya seakan remuk. Dorongan Zafran benar-benar bisa membuat dinding sekolah retak. Martha mengaduh kesakitan. Matanya mengeluarkan air mata.
"Awh, punggung gue.."
Ferdi membulatkan matanya sempurna tatkala melihat dua kejadian dalam satu menit secara bersamaan. Baru kali ini Ferdi melihat Zafran kalang kabut bahkan sampai mendorong Martha yang notabenenya seorang cewek.
Mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Teriakan Zafran menggelegar, mengundang rasa penasaran.
Alesha terkejut melihat Martha yang terduduk lesu di pinggir tembok. Dia menghempaskan tangan Zafran.
"Zafran! Kamu yang gila!"
Zafran mengerutkan keningnya. "Aku? Dia nampar kamu, Sha?!"
"Nggak, Sha. Aku lihat sendiri, dia nunggu kamu datang biar bisa nampar kamu!!"
Ucapan Zafran membuat Alesha geleng-geleng kepala tak percaya. "Kita baru aja baikan, tapi kamu malah nuduh sahabat aku sembarangan," gumamnya pelan.
Tanpa mereka sadar, panggilan aku-kamu yang terlontar membuat sebagian orang bertanya-tanya tentang hubungan keduanya.
"Astaga Alesha," Zafran mengusap wajahnya gusar.
Ferdi tak tau harus bersikap bagaimana, apakah ini karna kesalahannya? Oh tidak, Ferdi tidak mau mengakuinya, karna ini salah Martha. Siapa suruh dia mau menampar Ferdi, jadi kena karma, kan.
Zafran memegang kedua pundak Alesha. Dia mendekatkan wajahnya. "Martha itu nggak baik, Sha. Lo harus jauhi dia!" gumamnya pelan.
Kerutan kecil muncul di dahi Alesha. Dia menghentakkan tangan Zafran. "CUKUP ZAFRAN! JANGAN PERNAH MENJELEKKAN MARTHA DIDEPANKU!!"
Martha menyunggingkan senyum saat melihat sahabatnya membela dirinya. Dia meringis memegangi punggung.
"A-alesha," Martha memanggilnya dengan suara lemah.
Alesha menoleh, dia segera berlari menghampiri Martha. Dia membantunya berdiri, "Mar, maafin Zafran ya."
Martha tersenyum seraya mengangguk sekali.
"Alesha, jangan tolong dia!!" tegur Zafran.
Alesha memberikan tatapan tajam. Dia membawa Martha yang tertatih untuk pergi dari sana. Melewati Gavin yang menampilkan ekspresi datar. Martha melirik sekilas. Keduanya beradu pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Kita ke uks, ya?"
Martha beralih pada Alesha. Dia lantas mengangguk. "Iya, Sha. Makasih udah nolongin gue. Gue minta maaf karna nggak sengaja nampar lo," ucapnya.
Senyuman manis terpatri di wajah cantiknya. "Nggak papa, Mar. Gue tau lo mau nampar Ferdi tapi keduluan gue datang."
Martha mengangguk. "Maaf karna gue buat lo sama Zafran marahan." Martha menundukkan kepalanya.
Alesha menggeleng. "Nggak, Mar. Lo nggak salah kok."
Gadis itu menyunggingkan senyum.
Zafran menendang angin. Ferdi garuk-garuk kepala. Dia bingung harus ngapain, karna situasinya sulit untuk dijelaskan.
Laka menepuk pundak Zafran. "Ada hal yang ingin lo sampaikan?"
Zafran menatap Laka. Cowok itu sangat mengerti keadaan Zafran yang menahan amarah. Zafran menghembuskan napas pendek. Dia mengangguk.
"Lo berdua ikut gue, ada yang mau gue perlihatkan."
Ferdia dan Laka mengangguk. Ferdi mengelus dadanya. Hah! Selamat dari amukan Zafran.
Gavin ingin mengikuti Zafran diam-diam, tapi setelah melihat Nana yang baru saja datang di sekolah, dia mengurungkan niat dan bergegas menjemput gadis itu.
"Gavin," Nana melambaikan tangan. Gavin tersenyum lalu mengangguk.
Nana berlari mendekat. Dia memegang telapak Gavin. "Vin, Mama udah sadar," Nana sumringah. Matanya berbinar menandakan kebahagiaan.
Gavin sedikit terkejut. Dia menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum. Dia mengelus rambut Nana. "Syukurlah," ucapnya.
Nana mengangguk. "Anterin gue ke Alesha, ya?"
Kedua alisnya menyatu. "Ngapain?"
"Gue mau minta maaf."
"Untuk?"
"Maaf karna gue udah buat hubungan mereka sempat memburuk."
Gavin menggeleng. "Tidak untuk sekarang, Na."
Nana mengernyit. "Kenapa?"
Gavin mengangkat bahunya. "Nanti, setelah keadaan sedikit membaik."
Dia menggenggam tangan Nana. "Ayo masuk kelas."
Gavin tidak memberitahukan alasannya.
Hembusan napas pelan terdengar dari hidung Nana. Dia ingin segera meminta maaf kepada Alesha karna membuatnya tertekan akhir-akhir ini. Dia juga sempat berbohong tentang hubungan inti antara dia dan Zafran.
Nana merasa bersalah. Setelah Mamanya memberikan arahan, Nana sadar jika selama ini apa yang dilakukannya adalah sebuah dosa besar.
Nana tidak mau disebut sebagai seorang pelakor.
__ADS_1