Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
16. Keberanian Martha


__ADS_3

Buku tipis itu menutup wajah tampan Gavin. Kedua kakinya nangkring di atas meja. Matanya terpejam erat, dengkurannya terdengar halus. Ia baru saja tertidur.


Alesha menyerahkan kotak bekal pada Martha dengan paksa.


"Sha, sumpah lo ya. Gue gak mau!"


Alesha mendorong Martha masuk ke dalam kelas. "Cepetan, keburu Gavin bangun,"


"Kan harusnya lo yang kasih ke Gavin,"


"Kemarin lo bilang, lo mau tanggung jawab. Yaudah sekarang lo yang kasih bekal ke Gavin dan suapin dia."


Martha mengerucutkan bibirnya sebal. Kini ia menyesali pertanggung jawabannya.


"Lo yakin Gavin beneran hukum lo gitu?" tanya Martha tak yakin.


"Beneran."


"Tapi kan dia nyuruh lo, ntar kalau gue kena marah gimana?"


"Bilang aja kemarin lo yang nyuruh gue lempar keranjangnya,"


Martha melototkan matanya. "Gila lo! Pasti dia tambah marah sama gue."


Alesha memegang kedua bahu Martha, ia menarik napasnya dalam. "Gue yakin lo pasti bisa." Ucap Alesha menyemangati Martha.


Dia memutar tubuh Martha, "Gavin!" teriak Alesha membuat cowok yang bernama Gavin itu membuka mata lebar.


Tidurnya yang nyenyak terganggu. Ia membuang buku di atas wajahnya. "Penganggu!"


"Sha, lo-"


Alesha mendorong Martha masuk ke dalam kelas. Martha tersentak. Tatapan Gavin yang tajam ke arahnya membuat jantungnya berhenti seketika.


Martha meneguk ludahnya susah payah. Dia menoleh ke belakang, namun nahas, Alesha telah berlari menjauh. Gavin melirik saat Alesha berlari, ia tau tujuan cewek itu meneriaki namanya.


Gavin merubah posisi duduknya. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Martha menggigit bibir bawahnya. Ia memejamkan matanya erat. Setelah ini Martha akan memukul Alesha sampai babak belur. Bisa-bisanya dia mengorbankan nyawa Martha setelah membangunkan Singa yang tidur.


"Hukuman?"


Martha mendongak. Ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Gavin.


"I-iya, ma-maaf sebelumnya kemarin itu sebenarnya kesalahan gue."


Gavin mengangguk. Ia menggerakkan telunjuk tangannya memerintahkan Martha untuk datang mendekat. Martha sekali lagi meneguk salivanya. Dengan penuh keberanian, dia berjalan perlahan menuju Gavin.


"Apa lo tau, apa hukumnya?"


Martha berdiri kokoh di depan Gavin. Lalu ia mengangguk, "suapin lo sarapan," jawab Martha dengan polosnya.


Gavin menaikkan salah satu alisnya. Sepertinya dia tidak pernah mengatakan itu. Dia hanya mengatakan pada Alesha untuk membawakannya bekal makanan saja. Tapi sepertinya sekarang Gavin berubah pikiran.


Cowok itu manggut-manggut. Dia menyeringai. "Hukuman selama satu bulan!"


Mata Martha melebar sempurna. "Sebulan?" pekiknya. Padahal tadi ia sangat gagap, tapi sekarang ia bahkan meneriaki Gavin.


"Ada masalah?"


Martha berkedip cepat. Kemudian ia menggeleng kaku.


"Kerjakan!"


Martha meremas bekal dengan keras. Ia benar-benar mengutuk Alesha. Gue sumpahin lo kena balasan, Alesha!


Dibalik sana, seorang Alesha sedang menahan tawanya.


...***...


"Sha," Alesha yang sedang memakai masker sheet mask menoleh ke arah Zafran.


"Apa?"


"Liat ini," Zafran melemparkan ponselnya. Alesha terkejut, ia berusaha menangkap ponsel. Masker yang ia pasang cukup lama akhirnya pun berantakan.


"Lo bisa gak sih ngasih hpnya pelan-pelan!" teriak Alesha.

__ADS_1


"Gak."


Zafran beralih memutar televisi.


"Lo jadi suami jangan seenaknya!"


"Suka-suka gue,"


Alesha semakin menahan amarah. "Gue tinggal sama lo bisa mati mendadak!"


"Lebih pilih mana? Mati mendadak? Atau hamil mendadak?"


Alesha melotot mendengar pilihan Zafran. Cowok itu melemparkan botol skincare yang kosong tepat ke kening Zafran.


"Heh? Berani lo lempar suami? Kualat lo!"


"Lo ngeselin!"


"Apanya yang ngeselin? Gue cuma ngasih pilihan!"


Alesha tak menjawab. Ia membaca artikel yang terdapat foto Martha sedang menyuapi Gavin.


"Hah?" pekiknya. "Kok bisa?"


Zafran menutup telinganya. "Berisik!"


"Diam, lo yang berisik!"


Zafran ingin membalas ucapan Alesha tapi tiba-tiba telepon Alesha berdering. Alesha melebarkan matanya sempurna saat tau Martha meneleponnya.


"Zafran!"


Zafran menoleh. Ia melotot saat ponsel Alesha melayang terbang ke arahnya.


"Bilang gue udah tidur, cepet!"


Zafran yang masih belum mengerti pun masih cengo. Ia tak tau apa maksud Alesha. "Apaan?"


"Teleponnya. Itu dari Martha!"


Zafran melirik ponsel Alesha. Kemudian ia mengangkat telepon dan mengatakan kebohongan Alesha.


"Sialan lo ngerjain gue!"


...***...


Alesha berjalan dengan hati-hati dibelakang Martha. Sedari tadi, cewek itu bersembunyi darinya. Ia selalu mempunyai cara untuk tidak berpapasan secara langsung dengan Martha.


Martha berjalan lemas sembari menunduk ke bawah melewati lorong sekolah. Ia benar-benar ingin menghilang dari bumi. Gara-gara ulahnya, gara-gara Alesha dan gara-gara Gavin, dia menjadi bahan gosip semua orang.


Ketenaran Gavin membuat namanya melambung tinggi. Namun, bukan gosip akan prestasi, tapi gosip buruk mengenai tentangnya.


Apa itu gosipnya?


Gosipnya adalah, Martha memakai segala cara untuk menarik hati Gavin, sampai-sampai dia menyuapi Gavin sarapan.


Entah bagaimana berita itu tersebar dengan cepat hanya dalam satu malam.


Tentunya Alesha tau gosip itu dari Zafran. Aneh kan? Seharusnya Alesha yang mengetahui gosip itu terlebih dahulu, tapi malam itu Zafran lah yang memberitahukan kepadanya. Alesha menjadi tak enak pada Martha.


"Tapi gue takut kena amuk," cicit Alesha pelan.


"Gimana dong?"


"Salah gue juga sih, padahal Gavin nggak minta suapin,"


"Dia cuma minta bawain bekal doang."


Martha berhenti tatkala mendengar suara yang tak asing di telinganya. Cewek itu berbalik dengan cepat. Alesha tersentak kaget, ia melebarkan senyum.


Martha menyeringai. Ia berkacak pinggang seraya memberikan tatapan mengerikan.


"H-hai Martha?" Alesha melambaikan tangan sembari nyengir kuda. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gue denger loh, Sha."


Martha maju ke arah Alesha. Tapi Alesha mundur.

__ADS_1


"D-denger apaan ya?"


Martha menggenggam dan memukul telapak tangannya sendiri beberapa kali. "Denger kebohongan lo,"


"Bohong? Kapan gue pernah bohongi lo, Mar?" semakin lama Alesha semakin mundur dengan langkah besar.


"Sini lo Alesha!!" Martha berlari mengejar Alesha. Alesha mendelik. Ia pun menghindari pengejaran Martha.


"Ampun Mar, tapi itu karma akibat lo lempar si Tante cabe-cabean pake cabai." Teriak Alesha menggema di seluruh penjuru sekolah.


"Lo itu cabe!"


"Lo pedagang cabe!"


"Kurang ajar lo Alesha!"


Gavin menghentikan langkahnya saat melihat kedua manusia tak sehat berlari sembari mengejek satu sama lain. Ia jadi teringat kejadian na'as yang membuat matanya kepedasan.


Gavin tak habis pikir dengan tingkah kedua sahabat itu, tadinya ia hanya bercanda, tapi ternyata mereka menganggapnya serius.


Cowok itu menarik sudut bibirnya. "Lumayan, hemat uang."


Dia berlalu pergi dan masuk ke dalam kelas sambil memasukkan tangan di saku tanpa memedulikan teriakan heboh para gadis yang haus akan ketampanannya.


Beberapa teman-temannya sudah berada di bangku kelas, begitu juga dengan Zafran. Cowok itu menelungkupkan kepalanya di dalam tas.


Gavin mengambil tempat duduk, lalu meletakkan kedua kakinya di atas meja dan menutup wajahnya dengan buku. Baru saja ia memejamkan mata, seseorang membuka bukunya.


Kedua alisnya menyatu melihat Zafran yang menatapnya penuh pertanyaan.


"Lo jadian sama Martha?"


"Gak," Gavin menutup wajahnya kembali. Zafran membukanya.


"Lo suka sama Martha?"


"Gak,"


Gavin menutup wajahnya tapi Zafran kembali mengambil bukunya.


Gavin berdecak. "Apa sih, bangsat!"


"Jangan permainkan Martha kalau lo gak mau dia baper!" peringat Zafran yang tau betul sifat Gavin.


Gavin menurunkan kakinya. "Bukan urusan lo!"


Zafran mendekat. "Martha sahabat istri gue, apapun yang berkaitan dengan Alesha juga jadi urusan gue."


Gavin tersenyum smirk. "Awalnya sih gue cuma bercanda, tapi setelah denger saran dari lo, kayaknya dia akan jadi salah satu boneka permainan gue,"


Zafran mengerutkan keningnya. Ia mengepalkan tangannya kuat. "Siapa maksud lo?"


"Menurut lo siapa? Martha atau Alesha?"


Zafran menarik kerah Gavin dengan kuat. "GAVIN!" teriaknya.


"Masih terlalu pagi untuk membuat keributan," sahut Gavin.


"Kalau lo berani sentuh Alesha, gue bunuh lo!"


Gavin terkekeh. Ia melepaskan tangan Zafran. "Kalau gitu, gue pilih Martha."


"Jadi gini cara lo melampiaskan kebencian?"


Gavin terdiam.


"Jangan buat siapapun menanggung sakit hati lo, Vin. Kemarin dia datang, seharusnya lo ungkapin perasaan ke Nana, bukannya mempermainkan perasaan seseorang dan buat dia sakit hati sama seperti yang lo rasain," bijak Zafran.


"Mungkin sekarang Martha masih belum jatuh cinta sama lo, tapi semakin lama dia akan terbawa perasaan. Lo bisa bayangin, gimana sakitnya Martha kalau dia tau yang sebenarnya,"


"Selama ini Gavin hanya memanfaatkan dirinya untuk melampiaskan rasa sakit,"


"Sebelum terlambat, mending lo batalin hukuman buat dia." Zafran tau, gosip tentang Martha dan Gavin pasti berawal dari candaan mental yang Gavin lakukan.


Gavin memutar bola matanya malas. Meskipun sudah lama bermusuhan, Zafran tetap saja memperingatkan dirinya seperti layaknya seorang kakak. Mungkin karna mereka adalah teman sejak kecil.


"Larangan adalah perintah!"

__ADS_1


...***...


Jangan lupa bersyukur hari ini ✨


__ADS_2