Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
33. Melepas Kerinduan


__ADS_3

"Setelah menumis bumbu, masukkan sedikit air ke dalam teflon."


"Kemudian tunggu air hingga mendidih lalu masukkan daging ayam yang sudah dibumbui,"


Alesha senantiasa mendengarkan cara memasak olahan ayam dari youtube. Ia selalu melakukannya sesuai perintah.


Sudah ada dua makanan lezat yang tersaji dan itu semua ia pelajari dari youtube. Jika ia mengikuti sesuai instruksi pasti tidak akan gagal.


Tapi beberapa jam yang lalu, ia mencoba memasak cimol dengan cara yang lain, agar minyak tidak meledak. Namun itu semua sia-sia, karna menutup wajan menggunakan tudung saji adalah kesalahan besar.


Ia pikir dengan mendengarkan instruksi Martha akan membuahkan hasil dan membuat cimol tidak meledak. Tapi nyatanya, tudung saji berlubang dan minyaknya tetap saja muncrat keluar. Dari situlah Alesha trauma untuk menuruti Martha.


"Tau gini dari kemarin gue masak lewat youtube. Minta ajarin buat cimol tanpa ledakan, tetap aja salah kaprah,"


"Gue baru inget, Martha kan gak bisa masak," Alesha memukul jidatnya.


Cewek itu baru ingat, jika beberapa hari yang lalu, Martha telah memintanya untuk membuatkan bekal untuk Gavin secara rahasia. Tapi sekarang, Martha tak pernah lagi menyuruhnya. Namun ia berniat untuk memasakkan Gavin dengan tangannya sendiri. Hal yang sangat-sangat tidak masuk aneh.


"Gue belum pernah lihat Martha masak, dan hari ini adalah hari pertamanya memasak untuk bekal Gavin,"


"Gue penasaran, gimana ekspresi Gavin saat merasakan masakan Martha, ya?"


Alesha mengedikkan bahu. Dia tak bisa membayangkan bagaimana rasa dari masakan tersebut, mengingat cewek manja itu yang tak pernah memegang alat masak sama sekali.


Alesha mengecek ponselnya beberapa kali. Ia menunggu seseorang meneleponnya.


"Kenapa Zafran belum nelpon gue?"


"Katanya dua jam lagi sampai rumah," Alesha melirik jam.


"Tapi ini udah hampir dua jam setengah."


Perasaan Alesha sedikit gelisah. Karna seharusnya sekarang Zafran sudah tiba di rumah.


Cewek itu melangkahkan kaki keluar rumah setelah mendengar suara bel. Ia menatap sekeliling rumahnya. Napasnya terhela pelan. Tidak ada siapapun di sana. Alesha pikir itu Zafran. Tapi ternyata bukan. Padahal ia menunggu kedatangan Zafran sudah sangat lama.


"Cepet pulang, Zafran."


Alesha berbalik, namun ekor matanya melirik sebuah paket di depan pintu. Kedua alisnya menyatu.


"Paket?"


Alesha mengambilnya kemudian membukanya. Betapa terkejutnya Alesha isinya ternyata kosong.


"Jangan bergerak!!"


Alesha menjatuhkan paket kosong itu. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Ampun!"


......***......


Martha memberikan bekal pada Gavin di dekat pagar sekolah. Mereka berdua bertemu secara diam-diam.


"Lo sendiri yang masak?"


Martha mengangguk pelan. "Lo kan yang minta gue masak sendiri?"


"Ada racun tikus?"


"Enggak ada, adanya sianida," ucap Martha santai.


Gavin terkejut, ia mendelik. Ia mengembalikan bekalnya. "Lo aja yang makan."

__ADS_1


Martha nyengir lebar. Lalu ia mengembalikannya pada Gavin. "Gue bercanda. Baperan amat sih lo!"


Gavin merubah ekspresinya datar.


"Bisa nggak sih lo senyum dikit, datar mulu tuh ekspresi," gumamnya pelan.


Gavin tak menjawab. Ia membuka bekal.


"Apa lo cicip masakan lo?"


Gavin menyendokkan bekal setelah mendapatkan anggukan Martha.


"Rasa?"


"Enak lah, gue masak selalu enak," ucapnya dengan suara cempreng khas miliknya.


Beberapa kerutan muncul di dahi Gavin. Ia tak yakin dengan ucapan Martha yang penuh percaya diri ini. Karna Gavin tau, jika Martha tidak pernah memasak.


Cowok itu mengarahkan sendok di depan mulut Martha. Martha menaikkan kedua alisnya. Ia heran kenapa Gavin malah mau menyuapinya?


Jantung Martha bergetar sedikit lebih kencang. Matanya berkedip cepat, dan tenggorokannya tiba-tiba terasa sangat kering.


Kenapa udara di sini semakin menipis? teriak Martha.


"Mangap!" perintah Gavin.


"H-ha?" cengo Martha menahan gugup.


"Lo budek?"


Martha menggeleng pelan.


"Ma-ngap!" ucap Gavin sekali lagi dengan penuh penekanan.


Cewek itu mengunyah makanan dengan hikmat. "Enak,"


Gavin menyatukan alisnya. Ia penasaran, dari reaksi yang diberikan Martha, sepertinya masakan ini memang benar-benar enak.


Cowok itu manggut-manggut. Lalu ia menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Martha menggigit bibir bawahnya. Setelah itu ia berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan Gavin.


Sedangkan Gavin sudah membulatkan matanya sempurna lalu menyemburkan semua makanannya ke tanah.


"ASIN!!!"


"Maaf, Vin. Gue pikir semakin banyak garam semakin enak. Jadi gue masukin satu bungkus garam ke wajan," teriak Martha sembari berlari.


Gavin buru-buru membuang bekal ke dalam tong sampah dengan keras. Ia mengepalkan tangannya.


"Kurang ajar!"


"Beraninya dia ngerjain gue!"


"AWAS LO MARTHA!!!"


...***...


Seorang pria berpakaian santai itu menurunkan koper dari bagasi taksi. Setelah melunasi bayaran, ia menggeretnya ke dalam. Sejenak ia berhenti.


Dia memegang jantungnya yang berdegup tak karuan. Pintu yang terbuka dan aroma harum membuatnya tak sabar ingin segera masuk ke dalam rumah tersebut.


Sengaja ia tak menelpon kekasih sekaligus istrinya itu. Pasti cewek itu akan meronta-ronta ingin membunuhnya sebab telah membuatnya khawatir.


"Gue pulang, Alesha."

__ADS_1


Dia memantapkan diri untuk datang. Cowok itu mengangkat koper agar tak menghasilkan suara gesekan dan memberikan surprise padanya.


Dia juga sudah menyiapkan sesuatu yang ingin ia berikan padanya. Cowok itu berjalan selangkah demi selangkah. Perlahan tapi pasti akhirnya cowok itu tiba di ambang pintu.


Senyumnya mengembang tatkala melihat gadis itu mengelap keringat dengan tangan disertai senyuman yang terpancar di wajah cantiknya.


"Cantik," gumamnya.


Setelah memastikan ia sibuk. Zafran meninggalkan koper di balik tembok dan memberikan sebuah paket di depan pintu.


Lalu ia menyembunyikan diri. Zafran memencet bel. Ia menunggu Alesha datang. Tak berapa lama, cewek itu akhirnya tiba.


"Ambil paketnya,"


Alesha termenung sebentar. Zafran geram karna cewek itu tak kunjung mengambil paket darinya.


"Lama banget sih, Sha. Tinggal ambil doang," cerocosnya.


Zafran bernapas lega. Akhirnya Alesha membuka paket itu. Zafran pun keluar dari persembunyiannya lantas ia berteriak, "Jangan bergerak!!"


Alesha menjatuhkan paket, kedua tangannya pun ia angka ke atas. "Ampun!"


Zafran gemas mendengar suaranya yang sedikit bergetar. Setelah melihat Zafran, cewek itu kembali menurunkan tangannya. Tapi Zafran segera menunjukkan ekspresi wajah garang.


"Jangan bergerak!!"


Alesha terjingkat. Ia kembali mengangkat tangannya. Zafran mendekatinya. Alesha sedikit waspada, takut jika orang tersebut bukanlah Zafran yang ia kenali.


Cowok itu berdiri di depan tubuh Alesha. Dia menampilkan senyumnya. Di saat Alesha masih dengan posisinya, Zafran memeluknya erat.


"Gue kangen sama lo."


Tubuh Alesha menegang. Ia benar-benar tak percaya jika orang yang sedang memeluknya ternyata adalah Zafran.


"Z-zafran?"


"Iya, ini gue. Maaf buat lo kaget."


Alesha menurunkan tangannya. Ia memeluk Zafran tak kalah erat. Cewek itu menangis secara tiba-tiba.


"Zafran! Kenapa lo tinggalin gue lama banget sih!!"


Alesha memukul punggung Zafran beberapa kali.


"Maafin gue,"


Alesha menangis sesenggukan. Ia membasahinya baju Zafran. Cowok itu mengelus rambut Alesha. Kedua pasangan suami istri itu akhirnya melepaskan kerinduan yang sudah lama tertanam di dada mereka.


Zafran melepas pelukannya. Ia menatap wajah istrinya lamat-lamat. Kemudian mencium keningnya cukup lama.


Alesha memejamkan mata menikmatinya. Tubuhnya berdesir. Kupu-kupu seakan-akan terbang di perutnya.


Kemudian Zafran kembali menatap Alesha. Ia menempelkan kedua hidung mereka.


"Gue sayang sama lo, Alesha."


Alesha tersenyum simpul. "Gue juga sayang sama lo, Zafran."


Tanpa mereka sadari, seseorang telah memperhatikan mereka berdua cukup lama. Tangannya terkepal kuat dengan rahang yang tegas. Orang itu menampilkan senyum smirk.


"Gue pasti buat lo hancur, Alesha. Karna sudah berani rebut Zafran dari gue!"


...***...

__ADS_1


__ADS_2