Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
46. Acara Puncak


__ADS_3

Tertundanya sebuah acara besar tak membuat Zafran kehilangan martabatnya sebagai CEO perusahaan di usia muda. Meskipun acara sempat tertunda beberapa waktu, tamu-tamu penting yang diundang di acara tersebut, tak ada satu pun dari mereka yang tidak hadir.


Bahkan beberapa tamu tak diundang pun datang. Salah duanya adalah Nana dan Gavin. Zafran tak pernah meminta pada siapa pun untuk mengundang mereka berdua.


Cowok itu memandang wajah Seto dengan tatapan datar. Ia sangat malas melihat kehadiran mereka berdua. Tapi ia harus tetap profesional.


"Pak Seto yang udang mereka?"


Seto menoleh. Ia mendekat. Suara Zafran tak begitu terdengar akibat kebisingan. "Gimana, Pak?"


Zafran menunjuk kehadiran Nana dan Gavin menggunakan dagunya. Seto mengikuti arah pandang yang dituju Zafran.


"Mereka berdua?"


Zafran mengangguk.


Seto manggut-manggut. Kemudian ia menggeleng pelan. "Mereka tidak ada di undangan tamu acara, Pak. Tapi sepertinya mereka datang menggantikan dua tamu yang tak bisa datang."


"Dua tamu?"


"Ayah Gavin dan juga Rodi, fotografer kita," ungkapnya.


Zafran menarik napas. Pantas saja ia begitu penasaran bagaimana bisa mereka berdua datang ke sini tanpa undangan darinya, ternyata mereka hanyalah sebagai pengganti saja.


Di sisi lain Zafran senang karna ia bisa menunjukkan kehebatannya di depan mantan sahabatnya, tapi di sisi lain ia marah, mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Tidak hanya pada Nana, tapi Gavin pun sama.


Acara utama akan segera dimulai. Seto menggiring Zafran untuk bersembunyi di backstage. "Ayo kita siap-siap," katanya.


Di belakang panggung, mereka telah menyiapkan pidato pembukaan khusus acara yang akan disampaikan Zafran nantinya.


...***...


Matanya tak ingin teralihkan dari hal apapun selain seorang pria tampan yang berdiri gagah di depan sana. Ya, dia Zafran, suaminya.


Bibirnya mengembang membentuk senyuman manis yang terpancar dari wajahnya. Ia tersenyum bangga melihat seseorang yang ia sayangi berbicara dengan tegas dan lantang.


Dia juga bangga atas pencapaian pertama sebagai model iklan yang beberapa saat yang lalu ditayangkan, sekaligus pengenalan dirinya.


Alesha menolak maju ke depan karna ia tak bisa public speaking. Sebagai gantinya, Zafran hanya menunjuk posisi tubuh Alesha yang sedikit jauh darinya. Hanya disoroti lampu saja membuatnya gugup setengah mati, apalagi saat ia maju ke depan?

__ADS_1


Bisa-bisa ia mati mendadak karna tidak bisa berpidato dan malah menambah masalah jika ia salah bicara.


"Cari aman lebih baik," gumamnya bermonolog.


"Selamat atas debutnya," seseorang menjulurkan tangan di samping tubuh Alesha.


Cewek itu menoleh, ia sedikit terkejut melihat kehadiran Nana Datuwani di tengah-tengah acara berlangsung.


Ia tak menyangka, Zafran akan mengundang cewek itu bersama dengan seorang cowok yang tak jauh berada di belakang mereka.


Alesha terkejut, tapi dengan segera ia menjabat tangan Nana. "Makasih, Nana." Ucapnya.


"Gue nggak nyangka, ternyata Zafran bakalan pilih lo sebagai modelnya. Padahal jelas-jelas ada model yang lebih bagus dan profesional," sindirnya tanpa melirik Alesha, melainkan menatap Zafran.


"Tapi lo harus bersyukur, karna kalau bukan karna Kak Rodi, mungkin hasilnya nggak akan sebagus itu. Gue akui, sebagai pemula lo pandai memainkan ekspresi dan pose yang pas. Tapi, kalau dibandingkan gue, jauh beda." Nana menyilangkan tangan di depan dadanya.


"Terima kasih pujiannya," sahut Alesha singkat.


Nana menoleh ke arah Alesha. Ia mengembangkan senyum tipis. "Gue akan menyusul lo, Alesha."


Alesha menoleh cepat. Ia mengerutkan keningnya. "Nyusul gue? Lo kan ada di samping gue sekarang," tidak salah dengan pernyataan Alesha. Memang benar sekarang Nana berada di dekatnya.


"Otak gue dari daging, bukan magnet," jawabnya.


Nana berhembus perlahan. Ia tidak boleh terpancing emosi dengan wanita yang ada di sampingnya ini. Dia hanya memancingnya.


"Terserah, yang jelas gue akan nyusul lo menjadi salah satu model iklan perusahaan Zafran."


"Kalau lo nggak malu ditolak dua kali ya silahkan," Alesha menarik sudut bibirnya, lalu menampilkan wajah merendahkan.


Nana mengepalkan tangannya kuat. Ternyata Alesha pandai memainkan ucapan untuk membuat emosinya meledak.


Cewek itu menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ia menenangkan pikirannya agar tidak berakhir buruk.


"Gue harap lo lebih waspada dan berhati-hati tentang Zafran. Jangan sampai seseorang merebutnya dari lo," saran Nana secara tiba-tiba.


"Seseorang itu lo, kan?"


Nana terkekeh. "Bisa jadi," ucapnya.

__ADS_1


"Kalau Zafran mau, gue akan nyerah, tapi kalau Zafran menolak lo, kita yang akan terus berjuang bersama," teguh Alesha.


Nana memegang pundak Alesha. "Bisa jadi, belum tentu iya. Siapapun orangnya, jangan pernah percaya pada siapapun kecuali suami lo. Kalau suami lo gak tergoda, gue bakal applaus perjuangan lo," kata Nana.


"Selamat berjuang, Alesha." Nana menepuk bahunya beberapa kali. Kemudian ia berbalik dan berlalu pergi mendekati Gavin.


Setelah itu Nana menggandeng tangan Gavin, dan mereka pun pergi dari acara yang belum selesai. Sebelum benar-benar menghilang, Nana menatap Alesha dengan tenang. Cewek itu tersenyum simpul, lalu melambaikan tangannya berpamitan.


Dari jauh Alesha melihat dengan jelas bahwa Nana berkata, "Selamat tinggal, model baru."


Alesha menghentakkan kakinya sekali. Ingin sekali ia membasuh wajah Nana dengan air comberan atau selokan. Tapi ia ingat di mana dirinya berada saat ini. Jika ia melakukan hal yang tidak-tidak, itu akan merugikan Zafran, membuat acaranya rusak, dan hubungan mereka akan terbongkar.


Ia tak mau gegabah dan membuat kehidupan mereka yang adem ayem menjadi runyam. Tapi jika Alesha diberikan waktu dan tempat yang pas untuk menggarukkan wajahnya dengan garpu rumput, ia pasti akan melakukannya dengan senang hati.


Supaya wanita itu tidak menjadi wanita penggoda dan membucinkan Gavin yang terlalu bodoh menilai cinta.


"Najis!" umpatnya.


"Bisa-bisanya Gavin nempel sama di Nana. Lebih baik sama Martha, meskipun suaranya cempreng tapi dia bukan penggoda seperti Nana."


Alesha mengelus perutnya dan memukul kepalanya beberapa kali. "Amit-amit gue dapat sahabat kayak gitu. Untung gue punya sahabat yang cocok. Ya, walaupun sikapnya agak ngeselin sih, tapi setidaknya dia gak murahan kayak dia!"


Alesha mengungkapkan perasaannya yang kesal. Ingin sekali memaki-maki orang itu, tapi mengalah adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


Jika dia tidak membuat Alesha mengeluarkan kemarahannya, maka Alesha juga tidak akan mencari masalah dengannya.


"Gue sumpahin lo tobat, Na."


"Model profesional?" Alesha memutar bola matanya malas. "Gue juga bisa!"


Cewek itu mengambil segelas air mineral dari pelayan yang berkeliling dan meneguknya hingga kandas tanpa tau jika minuman itu adalah minuman haram yang bernama bir.


Alesha menatap gelas itu dengan tatapan buram. "Rasanya aneh, perut gue panas."


"Tapi enak,"


Alesha melirik pelayan yang tadi lewat. Pelayan itu masih berada di dekatnya. Lantas ia memanggilnya.


"Mbak, saya mau itu lagi."

__ADS_1


...***...


__ADS_2