Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
77. Bertemu Anarka


__ADS_3

Seulas senyum terpancar di wajah Sarah saat Laka memandangnya dari spion. Kedua tangannya menopang dagu. Menatap Laka secara terang-terangan.


"Fer, kenapa lo bawa dia?" gumam Laka pelan.


Ferdi menoleh sebentar lalu dia kembali fokus ke depan. "Dia nyelonong masuk,"


Laka menghela napas panjang. Dia menoleh ke belakang. Sarah menyambutnya dengan senyuman lebar.


"Ada apa, Kak?"


"Ngapain ikut?"


Sarah mendesah. "Kan Sarah udah bilang kalau mau bantu cari Anarka," sahut Sarah.


"Lo nggak izin sama Bu panti?"


Sarah berkedip cepat. Dia nyengir lebar sembari menggeleng pelan. "Enggak," katanya.


Laka mengambil ponselnya. Dia menelepon pengurus panti. Sarah mendelik.


"Jangan tel-"


"As-salamu'alaikum, Bu."


Sarah mengerucutkan bibirnya sebal.


"Wa'alaikumsalam, ada apa nak Laka? Oh ya kamu tau Sarah tadi keluar di mana?"


"Sarah keluar sama saya, Bu. Maaf karna baru bilang."


"Kok Sarah nggak pamit sama saya?"


Laka memberikan ponselnya kepada Sarah. Sarah menolak. Dia memundurkan punggung. Menggeleng kuat.


"Nggak mau, Kak!"


"Kalau nggak ngomong, lo turun di sini!" ancam Laka.


Sarah mendelik. Dia berdecak pelan. "Jelek ancaman lo!"


Sarah merenggut kesal. Cewek itu merebut hpnya dengan kasar. Laka mengulas senyum tipis. Sarah pun mendapat omelan dari bu panti.


Selama lima menit cewek itu hanya diam mendengarkan ceramah dari wanita setengah baya berumur empat puluhan tahun.


"Mampus," cibir Ferdi yang fokus mengemudi. "Dibilangin jangan ikut, ngeyel sih."


Laka geleng-geleng kepala. Sifat Ferdi dan Sarah sebelas dua belas. Kadang menyebalkan kadang juga meng-ibakan.


Ferdi menjalankan kendaraan menuju pameran lukisan yang ada di daerah Jakarta Selatan. Laka mencari tempat-tempat diadakannya pameran lukisan selain di sana.


"Selain di sana di mana aja, Lak?"


Laka menggeleng. "Hari ini cuma ada di sana, kalau lusa baru ada di daerah X."


Ferdi mengangguk setuju. Sarah mematikan telepon sepihak tanpa sepengetahuan Laka. Dia sudah lelah mendengar ceramah bu panti yang tidak ada habisnya.


Cewek itu bergaya menganggukkan kepalanya beberapa kali seraya berkata, "siap, Bu. Nanti akan saya bawakan buah."


Laka dan Ferdi saling pandang.


"Iya, nanti temennya Kak Laka yang paling ganteng sejagat monyet bakalan beliin, ya kan Kak Fernyet?"


Ferdi melotot. Dia menoleh cepat ke Sarah. "Eh apa lo kata?"


Sarah menjulurkan lidah. "Lihat jalannya ogeb!"


"Sarah!" tegur Laka.


Sarah menutup mulutnya. "Ups, maaf Kak, keceplosan."


Ferdi berekspresi menangis sesenggukan seperti anak kecil, telunjuk tangannya menunjuk Sarah.


"Laka, dia ngatain gue!!"


Mata Laka berkeliling. Sikap Ferdi yang tidak waras sedang kumat. Sedangkan Sarah menganga lebar. Baru kali ini dia melihat Ferdi bersikap sok manis dan sok imut.


"Lo gay?" celetuknya membuat Ferdi tersedak-sedak.


"Gak woy, gue normal."


Ferdi bergidik ngeri mendengar celetukan Sarah. Sedangkan Laka sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Dia sedikit ragu dengan Ferdi. Bisa jadi apa yang ditanyakan Sarah ada benarnya.


Selama beberapa tahun dia berteman dengan Ferdi, cowok itu sama sekali tidak pernah membicarakan seorang perempuan. Sampai Zafran dan Laka beranggapan jika Ferdi tidak memiliki nafsu.


Laka kembali merenungi pikirannya. Bukankah selama ini cowok itu juga jomblo?


"Kak Laka," panggilan Sarah menyadarkannya.

__ADS_1


"Hm?"


"Lo nggak.. gay kan?"


Laka menggeleng. "Normal."


Sarah mengelus dada pelan. "Alhamdulillah."


Ferdi menaikkan satu alisnya. "Kenapa lo yang Alhamdulillah?"


"Karna gue punya kesempatan besar buat jadi calon ayang," ungkapnya tak tau malu.


Laka mencengkram tangan Ferdi. "Berhenti, Ferdi!!"


Ferdi menghentikan mobil mendadak. Untung saja tidak ada mobil di belakangnya. Jika tidak, mereka pasti akan mengganti double biaya untuk mobil Zafran dan mobil orang lain.


"Sialan lo, Anj-"


Laka membuka pintu mobil. Dia keluar dengan tergesa-gesa. Ferdi kaget, mereka masih ada di jalan menuju pameran, tapi kenapa cowok itu buru-buru keluar?


"Ke mana, Lak?"


Sarah ikut turun. Dia menyusul Laka.


"Kok gue ditinggal sendiri?"


Ferdi tak mau sendirian. Cowok itu memarkirkan mobilnya di samping jalan. Kemudian ikut turun menyusul Laka yang berlari menjauh.


Di sisi lain, Laka melihat gadis yang sangat mirip seperti Anarka kecil. Dia tidak tau apakah dia Anarka adiknya atau bukan.


Maka dari itu dia turun dan menemuinya. Jika Laka boleh memohon, Laka akan meminta kebenaran jika gadis yang dilihatnya memanglah Anarka.


Laka tidak bertemu selama bertahun-tahun. Meski wajahnya samar, tapi hatinya mengatakan iya.


Laka mengedarkan penglihatannya. Gadis itu tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.


"****!!"


Detak jantungnya berdetak kencang. Napasnya memburu. Dia menarik rambutnya sendiri. "Gue kehilangan jejak Anarka!"


Sarah berhasil mengejar ketinggalannya. Dia memegang lutut ngos-ngosan. "Kak... huh, Laka.."


Laka menoleh ke belakang. Dia menyatukan alisnya. "Kenapa lo ikuti gue?"


Sarah berdiri tegak. Menatap tajam cowok yang ada di depannya ini. "Sarah khawatir sama Kakak, kenapa sih tiba-tiba turun mobil dan langsung lari kayak macan tutul?"


"Gue lihat Anarka."


"Di mana?"


Laka mengangkat bahunya. "Dia menghilang."


Saat Sarah masih kecil, dia selalu bermain bersama Anarka, tapi setelah dia di bawa keluarga baru, Sarah kesepian.


Inilah alasan Sarah ingin ikut mencari Anarka, dia merindukan teman kecilnya.


"Sarah?"


Seseorang memanggilnya. Dia berada di belakang seorang lelaki bertubuh jangkung bernama Laka. Sarah mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenali siapa wanita yang memanggilnya.


"Gue?" dia menunjuk diri sendiri.


"Sarah, lo apa kabar?"


Gadis itu berlari memeluk Sarah yang masih terbengong. Dia tidak mengenal siapa perempuan ini, kenapa tiba-tiba memeluknya tanpa izin?


Sarah melepaskan pelukannya. "Maaf, lo siapa ya? Gue gak kenal."


Hidung mancung, alis tebal serta wajah yang menawan terlihat sangat sempurna. Lekuk tubuhnya yang ideal membuat Sarah meneguk ludahnya susah payah.


Melihat tubuhnya dan tubuh perempuan itu membuat hati kecilnya tersentil.


Insecure gue, batin Sarah.


"Lo gak kenal gue? Sar gue ini teman masa kecil lo!!"


Ferdi baru tiba dia menatap nyalang Laka, cowok itu langsung mencengkram pundak Laka dan menggoyangkannya cepat.


"Sialaan lo ninggalin gue lagi!!"


Laka berdecak. "Ya maaf, gue refleks."


Ferdi berdecih. "Cih alasan, kalau udah bicara masalah hati, gak bakal mikir apa yang lo lakuin tadi berbahaya."


Laka menghela napas pelan. "Gue tau gue salah,"


Ferdi memutar bola matanya malas. Sudah seperti kekasih yang merengek saja.

__ADS_1


"Temen masa kecil? Gue.."


Sarah menyipitkan mata. Dia menajamkan penglihatannya. "Eh tunggu, lo siapa sih? Kok kayak gak asing?"


Gadis itu terkekeh. Dia memegang kedua pergelangan tangan Sarah.


"Sarah, ini gue."


"Iya lo tuh siapa?"


"Gue Anarka."


Tak hanya Sarah, Laka dan Ferdi pun terkejut mendengarnya. Laka hanya melihat punggungnya tanpa tau wajahnya, dia pun tak mengenali suara gadis itu.


Tapi setelah gadis itu menyebutkan nama, dunia Laka seakan berhenti. Laka terdiam terpaku. Dia tidak bisa berkata-kata apa-apa. Lidahnya kelu hanya untuk memanggil namanya.


Sarah mendelik. Dia memegang kedua pundaknya. "L-lo beneran Anarka?"


Anarka mengangguk yakin. Sarah menutup mulutnya tak percaya, dia memeluk Anarka erat.


"Anarka, gue kangen sama lo."


Anarka membalas pelukannya. "Gue juga kangen, Sar. Gue datang ke sini karna gue pikir gue bisa ketemu sama Kakak."


Apa? Ternyata bukan Laka. Anarka pun melakukan hal yang sama seperti dirinya.


Sarah melepaskan pelukannya. Dia mengusap air mata Laka. "Lo berjalan ke arah yang tepat," Sarah memutar tubuh Anarka, menghadapnya pada Laka yang tak bergerak.


Anarka membulatkan matanya sempurna. Dia menutup mulutnya tak percaya.


"K-kak Laka?"


Air matanya jatuh. Dia seperti mimpi. Mimpi bertemu kakaknya yang selama ini dia cari-cari.


Laka tak bisa menahan air matanya. Dia menarik sudut bibirnya. Mengusap air mata yang mengalir di pipi.


"Anarka," Laka merentangkan kedua tangannya. Anarka langsung berlari menghamburkan pelukannya.


"Kak Laka!!!"


Keduanya saling berpelukan erat. Melepas kerinduan yang telah bersarang selama bertahun-tahun.


"Maafkan Kakak, Anarka."


Anarka menggeleng pelan. "Nggak, Kak. Seharusnya Anarka yang minta maaf karna tidak berpamitan sama Kakak."


Laka mengelus surai panjang Anarka. Mencium kening adiknya dengan sayang.


Ferdi terharu melihat kebahagiaan sahabatnya yang sudah menemukan adiknya yang selama ini ia cari. Setelah beberapa lama berusaha, akhirnya usahanya tak mengkhianati hasil.


Ferdi ikut bahagia melihat Laka menemukan kebahagiaan dengan menyatukan keluarga yang terpisah. Meski hanya sementara.


Ferdi mengode mata Sarah. "Ayo pergi, biarkan mereka menghabiskan waktu."


Sarah mengerti keadaan ini, dia pun mengikuti langkah Ferdi kembali ke dalam mobil sembari menghapus air mata.


"Kak Laka,"


"Iya?"


"Tahun depan, Anarka akan sekolah di sekolahan Kak Laka. Tapi Anarka baru sadar, kalau tahun depan, Kak Laka sudah lulus." Ucapnya tersenyum tipis menahan tangis.


Laka melepaskan pelukannya. Dia mencium kening adiknya.


"Setelah Kakak sukses, ayo kita tinggal bersama?"


Anarka terkejut. Dia sudah menjadi anak angkat dari keluarga lain, dia ingin walaupun tak bisa. Anarka menggeleng.


"Kak, Anarka sudah jadi bagian keluarga-"


Laka menghentikan ucapan Anarka dengan menutup mulutnya.


"Apa lo baik-baik saja di keluarga baru?"


Anarka terhenyak sejenak. Lalu ia mengangguk kaku. "I-iya. Tapi kita tidak bisa tinggal bersama Kak,"


"Siapa yang bilang hanya kita berdua? Kita akan menyatukan dua keluarga. Kamu tinggal di rumah depan rumah Kakak nantinya."


Mata Anarka berbinar. "Benarkah?"


Laka mengangguk. "Jangan khawatir, Kakak pasti akan berusaha untuk selalu bersamamu."


"Jadi gadis baik, Anarka. Meski Kakak tidak pernah berada disisimu, tapi Kakak berjanji akan terus melindungimu."


"Kakak tidak akan memaafkan siapapun yang menyakitimu, bahkan jika itu ibu angkatmu sendiri."


*Kak, bawa aku pulang. Kumohon, bawa aku pulang secepatnya. Ambil hak kuasa atas diriku, Kak.

__ADS_1


Aku..


Tersiksa*.


__ADS_2