
Hari yang ditunggu-tunggu kini telah tiba. Di mana kedua pasang pengantin yang tidak saling mencintai dipersatukan dalam satu ikatan pernikahan. Tak pernah terlintas sekalipun oleh Alesha jika dirinya akan menjadi seorang istri dari Zafran.
Kalimat akad yang diucapkan Zafran dalam satu tarikan napas membuat Alesha tersentuh. Suaranya terdengar begitu indah hingga membuatnya meneteskan air mata.
Ia tak menyangka jika dia akan menjadi istri dalam usia yang masih belia karna perjodohan. Namun, apapun keputusan kedua orang tua mereka, pasti itu adalah yang terbaik.
Tatapan semua orang tertuju pada Alesha. Mereka kagum sekaligus tercengang. Apalagi Delon, ia tak pernah membayangkan jika putrinya sudan menjadi tanggung jawab sahabatnya.
Putri tunggalnya terlihat sangat cantik dan mempesona. Make up yang natural semakin manambah aura kecantikannya. Delon tak membayangkan jika Alesha akan secantik ini.
"Putriku sangat cantik,"
Gun menepuk pundaknya. "Pangling ya?"
Delon mengangguk.
"Mantu pilihanku memang terbaik." Kata Yuni. "Semoga mereka berdua saling mencintai satu sama lain,"
"Aamiin," sahut keduanya.
Menyalami beberapa tamu sampai dua jam, membuat kaki Alesha terasa kaku. Hanya beberapa kali saja dia sempat duduk. Ia harus tetap memasang wajah bahagia walaupun lelah. Begitu juga dengan Zafran, sedari tadi cowok itu berceloteh ria.
"Gue capek," ujar Alesha.
"Duduk aja."
"Tapi tamunya masih banyak,"
Zafran melirik Alesha. Wajahnya sangat kelelahan. Ia baru saja akan meminta Ibunya untuk membawa Alesha ke dalam, tetapi rombongan sahabat mereka naik ke panggung.
Alesha yang tadinya lesu kembali segar saat melihat Martha datang. Cewek itu menyalami Zafran, "Selamat," ucapnya.
"Hm," jawabnya singkat.
"Alesha,"
"Martha,"
Kedua berteriak heboh. Lalu mereka saling berpelukan dengan erat.
"Ya ampun lo cantik banget," kata Martha menangkup pipi Alesha.
"Makasih,"
"Pasti Zafran klepek-klepek lihat lo," gumamnya melirik Zafran. Cowok itu membalas lirikannya tak kalah tajam.
Zafran pun berpelukan dengan Ferdi dan Laka. Mereka berdua memberikan ucapan selamat padanya. Di belakang keduanya ada Gavin dan seorang wanita cantik.
Zafran sedikit terkejut Ternyata dia benar-benar datang ke-pernikahannya.
"Zafran, selamat ya." Nana memeluk Zafran sebentar.
"Makasih sudah datang, Na."
Nana mengangguk. Ia menggandeng tangan Gavin. "Gue harap lo bahagia dengan pilihan lo,"
Zafran mengangguk singkat. "Lo juga,"
Nana tersenyum miris. Cinta pertamanya telah pergi. Kini ia harus mengikhlaskan Zafran sepenuhnya meski selama ini cowok itu tak pernah menganggapnya ada.
Gavin menyalami tangan Zafran tanpa senyuman. Jika bukan karna paksaan Nana, ia tak akan datang ke acara tersebut.
__ADS_1
"Selamat!"
"Thanks,"
Setelah Gavin dan Nana mengucapkan selamat pada Alesha, mereka berlalu pergi tanpa berfoto dahulu. Sebab, sahabat Alesha dan sahabat Zafran masih berbincang-bincang.
Martha memberikan kado spesial untuk Alesha. "Gue kasih kado istimewa yang harus lo pakai malam ini," bisiknya.
Alesha mengerutkan keningnya. "Apa isinya?"
"Rahasia wanita," Martha mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan aneh-aneh lo!"
"Enggak, tenang aja."
Zafran mendengar bisikan Martha yang keras. Matanya memutar malas. Ia tau apa isinya hanya dari luar kadonya yang berwarna merah maroon.
"Lo pada pulang gih, gue mau istirahat!" usir Zafran.
Ferdi dan Laka menahan tawanya. Sedangkan Martha menyenggol lengan Alesha dengan genit.
"Yang udah gak sabar, yaudah gue pulang dulu," ucap Martha tak tau malu.
"Zafran, jangan sakiti sahabat gue!"
Zafran mengangguk. Ia mendorong Martha menjauh. Takut telinga Alesha mendengar bisikan setan lainnya.
"Kita pamit, semoga langgeng," pesan Laka untuk terakhir kalinya sebelum turun panggung.
Zafran menggandeng tangan Alesha. "Ke mana, Zaf?"
Alesha mengangguk. "Tapi kan acaranya belum selesai."
"Lo mau jalan atau gue gendong?"
...***...
Sembari menunggu Zafran selesai mandi, Alesha membersihkan make up yang sudah membuat wajahnya terlihat sangat cantik dan mempesona. Awalnya Alesha tak mau menghapusnya tapi karna sudah malam dan ia harus tidur, jadi Alesha terpaksa menghapus make up.
"Sayang sekali, padahal gue suka sama make up-nya."
Alesha mengusap kapas yang berisi *m*iceral water ke seluruh wajahnya. Meski riasan wajahnya membuatnya cantik tapi wajah natural Alesha jauh lebih cantik.
Setelah beberapa menit menghapus riasan, Zafran keluar dari kamar mandi. Alesha menatapnya dari cermin. Salivanya terteguk. Zafran memiliki badan atletis dan juga perut kotak-kotak.
Terbukti saat ia keluar tanpa mengenakan atasan. Ketika Zafran menggosok rambutnya, Alesha tak mengalihkan pandangannya sama sekali. Sangat disayangkan jika ia harus membuang pemandangan indah tersebut.
"Tahu kotak," gumam Alesha menahan senyum.
"Apa lo bilang?"
Ekspresi wajah Alesha menegang. Ia memejamkan matanya erat. Lalu berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam kamar mandi.
"Gu-gue mau mandi!" Alesha menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Zafran geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istrinya. Matanya tak sengaja menangkap handuk yang terpasang di gantungan baju.
"Tanpa bawa handuk? berani juga dia."
Zafran melanjutkan aksinya mengeringkan rambut dengan hairdryer. Pintu kamar mandi sedikit terbuka, ia meliriknya. Yang muncul pertama kalinya, adalah kepala Alesha.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Bantuin gue,"
"Bantu mandiin?" kelakar Zafran.
Alesha melotot. "Zafran!" teriaknya.
"Bantu apaan? Resleting?" tebaknya.
Alesha mengangguk malu. "Iya,"
Padahal dia sudah lima belas menit cewek itu di kamar mandi, tapi ternyata Alesha masih sibuk bergelut dengan dress-nya.
Zafran menghembuskan napas pendek. Ia berjalan ke arah Alesha.
"Sini,"
Perlahan Alesha membuka pintu kamar mandi, ia membelakangi Zafran. Jantungnya berdetak cepat, badannya panas dingin. Saat tangan Zafran tak sengaja menyentuh kulitnya, tubuh Alesha seakan disengat listrik tegangan tinggi.
Zafran melepaskan resleting secara perlahan. Punggung Alesha sangat putih dan mulus. Zafran menarik napasnya panjang. Saat ditengah-tengah kegiatan, ia berhenti sejenak.
Alesha merasakan jika Zafran berhenti pun menutupi tubuhnya. "K-kenapa?"
"Lo udah jadi istri gue kan?"
Alesha mengangguk. Zafran membalikkan tubuh Alesha. Cewek itu menatap Zafran, kedua alisnya terangkat seolah bertanya 'kenapa'.
Zafran menatap Alesha lekat. Mulai dari dahinya, hidungnya, pipinya hingga berakhir ke bibir ranum berwarna pink-nya.
Jantung Alesha semakin tak karuan. Ia bahkan sulit bernapas sekarang.
Zafran memajukan wajahnya. Alesha menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya tergenggam erat menahan sesak napas.
Cowok itu semakin mendekat. Alesha tak tau harus bagaimana. Jarak keduanya hanya tinggal sejengkal. Semakin lama Zafran semakin dekat, akhirnya Alesha menutup keduanya matanya.
Tubuh Alesha berdesir ketika benda kenyal yang basah menempel sempurna di keningnya. Zafran menciumnya. Bahkan ciuman itu sangat hangat tanpa nafsu. Ciuman yang sangat tulus.
Zafran mencium kening Alesha begitu lama sampai Alesha ikut terhanyut. Cowok itu melepaskan ciumannya. Alesha membuka matanya perlahan, Zafran mengembangkan senyum padanya.
Alesha mengalihkan wajahnya. Pipinya merah seperti kepiting rebus. Zafran memberikan sebuah handuk padanya. Tanpa mengatakan apapun ia kembali ke kasurnya. Alesha masih berdiam diri. Pikirannya masih kosong.
Cowok itu bermain ponsel di atas kasur. Wajahnya berubah sangat serius. Dia pasti sedang fokus mengerjakan pekerjaan kantor Ayahnya. Sebab mulai sekarang, dia mulai belajar tentang bisnis perusahaan.
"Zafran," gumam Alesha pelan.
Alesha mengembangkan senyum. "Ralat, suami gue,"
"Ganteng."
Alesha salah tingkah sendiri, lalu ia menutup pintu kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandinya.
Zafran sedikit meliriknya, ia pun menarik sudut bibirnya.
"Malam ini lo cantik."
Satu kalimat yang sedari tadi ingin Zafran sampaikan pun akhirnya terucap. Ia terlalu malas untuk mengeluarkan kalimat pujian, karna Zafran lebih suka melakukannya secara langsung dan terlihat. Tidak hanya sekedar dari ucapan saja.
......***......
Jangan lupa bersyukur hari ini ✨
__ADS_1