
Alesha berjalan memimpin. Sedangkan Martha melirik-lirik suasana dalam kelas sambil berjinjit, ia ingin memastikan apakah kelas sudah di mulai apa belum.
Alesha melangkahkan secara perlahan. Telinganya ia buka dengan lebar sambil mendengarkan suara-suara yang muncul dari dalam. Ia sama seperti Martha, takut terlambat sekaligus takut ketinggalan resep dari les memasak pertama.
Selangkah demi langkah mereka pijak hingga akhirnya kaki mereka mendekati pintu yang tertutup. Asha berhenti, begitu juga dengan Martha, dahi cewek itu menubruk punggung Alesha.
Martha mengelus dahinya, "Aduh sakit, Sha!" dumelnya.
Alesha melirik ke belakang. Dia berdecak pelan. Suara Martha sangat menyiksa kepalanya. Martha merasa itu adalah suara ter-pelan yang ia punya, tapi bagi Alesha, itu adalah suara ter-menyakitkan karna harus terdengar sangat dekat dari telinga.
Gadis itu menutup telinganya dengan kedua tangan. Alisnya menyatu. Tatapannya tertuju pada Martha. "Lo bisa gak sih pelanin suara dikit?"
"Ini udah pelan!"
"Jangan cempreng-cempreng!"
Alesha memutar bola matanya. Ia mengintip pintu yang setengah terbuka secara perlahan.
"Ada gurunya?"
"Chef Mar," peringat Alesha.
Martha manggut-manggut. "Iya itu maksud gue."
"Belom, tapi banyak ibu-ibu."
"Mak-emak? Ngapain di sini?"
"Latihan dance."
"Dance? Kok ke sini? Seharusnya ke sanggar dong."
Alesha kembali berbalik ke belakang. "Emang gak boleh?"
"Nggak lah, kan ini tempat les memasak," kata Martha.
"Nah itu lo tau, ya kali ibu-ibu ke sini mau nari."
"Iya juga ya. Alah palingan mereka ke sini cuma buat ngerumpi."
"Sok tau!"
"Siapa tau Chef yang demokan aksinya ganteng," harap Martha.
"Jangan berekspektasi tinggi lo, Mar."
......***......
Alesha dan Martha bagaikan bocah dalam perkumpulan pengajian ibu-ibu. Mereka terkadang bingung, apakah benar ini kelas memasak atau kelas perkumpulan ibu-ibu?
__ADS_1
Dari pojok kanan sampai pojok kiri semua merumpi. Sedangkan Alesha dan Martha hanya bisa saling pandang berada di tengah-tengah ibu-ibu. Mereka sudah ada di kelas sejak sepuluh menit yang lalu. Sekarang mereka tinggal menunggu kedatangan chef yang katanya terlambat.
"Lelet amat chefnya," dumel Martha menggerakkan kakinya.
Mereka berdua duduk di kursi belakang di depan loker tas. Di depan mereka ada meja dapur kecil yang telah dipersiapkan untuk latihan memasak layaknya MasterChef. Di samping ada bahan dan alat yang akan digunakan les hari ini.
"Sabar, lo pikir dia gak punya kesibukan lain apa?"
"Ya kalau udah tau jadwal jam hari ini mengajari memasak seharusnya harus tepat waktu dong. Gak profesional banget!"
Martha mendengus kesal. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia tidak suka menunggu lama-lama. Kakinya gatal jika tidak bergerak sedikit pun. Rasanya gelisah, tapi tak tau apa penyebabnya.
"Chef datang!" teriak salah satu ibu.
Alesha dan Martha memperbaiki duduknya. Lalu mereka segera menyimpan tas di dalam loker masing-masing setelah melihat para ibu terburu-buru mengunci loker dan berlari cepat menuju ke meja dapur mereka masing-masing.
Dada mereka langsung bergetar. Tiba-tiba saja mereka merasa takut. Apalagi saat mendengar suara langkah kaki besar yang mulai mendekati pintu.
Alesha berhenti dan menoleh ke belakang saat Martha mencekal tangannya. "Apa?" tanya Alesha.
Telapak Martha berkeringat. Alesha juga merasakan basah di lengan yang dicekal Martha.
Cewek itu memegang dadanya. "Kok perasaan gue gak enak ya, Sha?"
"Kenapa? Lo sakit?"
"Terus?"
"Gue juga gak tau kena... pa.."
Alesha mengerutkan keningnya. Wajah Martha mendadak pucat pasi. Matanya juga melebar sempurna. Ia mendelik seperti melihat sosok hantu yang berada di belakang Alesha.
Cewek itu melambaikan tangannya beberapa kali di depan mata Martha. Tapi tetap saja cewek itu tidak berkedip sama sekali. Alesha bingung dengan perubahan sikap Martha yang secara tiba-tiba.
Ia takut jika cewek itu kerasukan setan dan jadi kerusupan sampai membuat Alesha menjadi penyiksaan setan.
Alesha memukul lengan Martha. "Mar, sadar!"
"A.. a.. a," Alesha tak mengerti apa yang dimaksud Martha jika cewek itu berbicara gagap padanya.
"Lo ngomong apa? Yang jelas dong!"
"A.. ada.."
"Ada apa? Ada hantu?"
Martha menggeleng kaku.
"Mar, lo jangan nakut-nakutin gue!" Alesha menggoyangkan tubuh Martha berkali-kali.
__ADS_1
Martha hanya memberikan ekspresi wajah terkejutnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Lalu ia menatap Alesha dengan mata melotot.
"Sha, lo harus liat siapa dia!"
Alesha menyatukan alisnya menjadi satu. "Dia? Dia siapa?"
Martha tak menjawab. Ia memegang pundak Alesha kemudian memutar tubuh Alesha seratus delapan puluh derajat.
Alesha berbalik badan. Ia menatap ke depan. Di sana seorang lelaki berjubah putih dan di bajunya ada bedge lambang topi chef dan nama.
Sama seperti Martha. Alesha juga terkejut melihat siapa sosok yang ada di depan sana yang notabennya adalah chef untuk mereka memasak selama tiga bulan ke depan.
Mulutnya menganga lebar. Cewek itu juga tidak berkedip sama sekali. Ia lalu mengucek matanya untuk mengecek apakah yang ia lihat sekarang ini benar atau tidak, nyata atau kw alias palsu.
Sudah berkali-kali mengucek mata tapi tatapan tajam khas darinya membuat Alesha sadar jika dia benar-benar nyata.
"D-dia..."
"G-gavin??"
Martha maju selangkah menyandingkan tubuhnya dengan Alesha. Ia mengangguk kecil. "Dia Gavin, Sha."
"Chef kita?"
Martha mengangguk. "Sejak kapan dia jadi chef?" tanya Martha.
Alesha mengangkat kedua pundaknya. "Gue juga gak tau, lo pikir gue emaknya apa?" sewot Alesha.
Martha nyengir kuda. Lantas suara Gavin menyadarkan mereka.
"Kalian berdua silahkan ambil celemek dan ambil meja dapur kalian. Setelah itu bersiap untuk mengikuti instruksi saya."
Berbeda dengan biasanya, cowok itu terlihat sangat tegas dan serius. Apalagi saat melihat tatapan ibu-ibu yang menatap tajam mereka memberikan isyarat untuk segera, Alesha dan Martha mendadak gugup.
Mereka langsung mengambil celemek, dan berlari ke tempat mereka.
Gavin sebagai kulkas di sekolah berbeda dengan Gavin sebagai chef di sini. Dia terlihat lebih tampan menggunakan baju putih dan topi putih. Wajahnya nampak bersinar lebih terang. Sifatnya juga berubah, seperti lebih peduli sekitar.
Mungkin karna peserta yang mengikuti kelas kebanyakan dari kalangan ibu-ibu, hati Gavin berubah menjadi lembut.
Beberapa saat kemudian, Alesha dan Martha sudah berada di meja masing-masing. Gavin pun memulai melakukan demo secara perlahan sambil mengarahkan langkah-langkah memasak dengan sangat tenang dan tertata.
Alesha sempat berpikir jika dia bukanlah Gavin, melainkan seseorang yang lain. Meski begitu, Alesha sedikit gugup sebab ini baru pertama kalinya ia mengikuti kelas memasak.
Apalagi yang memberikan instruksi adalah Gavin. Musuh suaminya.
"Semoga aja gue gak buat kesalahan."
***
__ADS_1