
Zafran melepas jasnya sambil berjalan. Setelah menjawab semua pertanyaan di konferensi pers sampai sore, dan karna sibuk mengurus berkas-berkas, Zafran baru sempat menjenguk Alesha pada malam hari.
Zafran terburu-buru melangkah. Dia tidak peduli dengan tatapan kesal orang-orang yang tak suka jika pundak mereka tersenggol.
Di luar kamar inap Alesha, ada Laka dan juga Ferdi yang senantiasa menjadi pengawal. Ferdi sudah tidur di kursi tunggu sembari mengemut jempolnya. Sedangkan Laka masih berjaga di sandaran tembok seraya memejamkan mata.
"Laka," panggilan Zafran membangunkannya. Laka tidak tidur, dia hanya sedikit imsonia.
Laka menegakkan tubuh. Dia bernapas lega. Zafran telah sampai dengan wajah panik.
"Alesha tidur." Sahut Laka. Dia mengerti maksud Zafran memanggilnya. Meski belum bertanya, Laka sudah berinisiatif untuk mengatakannya.
Zafran menganggukkan kepalanya. Laka sedikit bergeser, memberikan tempat untuk Zafran
Cowok itu menarik ganggang, membukanya secara perlahan.
Sebelum masuk di menarik napas panjangnya. Delon menatap Zafran datar. Zafran terkejut mendapati pria baya itu sudah tiba di sana.
"Ayah mertua.."
Delon beranjak berdiri. Meletakkan tangan anak gadisnya perlahan. "Zafran.. Ayah tau kalian telah melalui hal yang sulit."
Detak jantung Zafran berirama cepat. Didekati Ayah mertua nyatanya jauh lebih mendebarkan. Cowok itu menunduk setelah mendapat tepukan beberapa kali dari tangan Delon.
Rasanya berbeda saat dia menghadapi Gavin. Mata Delon tidak setajam Gavin ataupun Papanya, bahkan mata Delon sangat menenangkan. Tapi apa yang dirasakan Zafran pasti dirasakan Delon.
Melihat Alesha disakiti dan disiksa, jangankan Zafran, Delon pasti merasakan kecewa serta sakit hati yang sangat luar biasa.
"Maaf, Ayah," sesal Zafran.
"Terima kasih," ucap Delon sembari tersenyum.
Zafran mendongak cepat. Dia menatapnya tak percaya.
"Ayah tau kamu pasti sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi Alesha. Jika bukan karna tindakan cepat kamu.." Delon menggeleng pelan. "Ayah tidak tau bagaimana keadaan Alesha sekarang."
Zafran memegang kedua pundak Delon. "Ayah," Zafran menatapnya lekat.
"Zafran akan terus melindungi Alesha bahkan jika nyawa Zafran sendiri sebagai taruhannya."
Delon tersenyum mendengarnya.
"Alesha istri Zafran, sudah seharusnya Zafran bertanggung jawab atas semua hidup Alesha. Ayah jangan khawatir, Zafran akan memperketat pengawasan serta penjagaan untuk Alesha."
Delon hampir menitikkan air mata. Lelaki pilihan istrinya memang tidak salah. Dia benar-benar sangat baik kepada anak gadisnya.
"Ayah percaya sama kamu." Delon tersenyum tipis. Dia mengusap lengan Zafran. "Kamu sudah di sini, Ayah pamit pulang."
Zafran menghentikan pergerakan Delon. "Kalau Ayah mau, Ayah bisa tidur di rumah Zafran, Zafran akan tidur di sini menemani Alesha."
Tawaran Zafran sepertinya cukup baik. Apalagi jarak rumah Zafran ke rumah sakit membutuhkannya waktu lebih sedikit.
__ADS_1
"Sudah malam, lebih baik Ayah cepat istirahat dulu di rumah kita," suruhnya.
Delon akhirnya mengangguk seteju setelah berpikir cukup lama. Pria baya itu berlalu keluar bersama Zafran.
"Laka, tolong antar Ayah mertua gue pulang ke rumah." Zafran menyerahkan kunci rumah serta kunci mobilnya.
Laka mengangguk. Dia menatap Delon. "Mari saya antarkan."
"Ayah pulang dulu, jaga Alesha baik-baik."
***
Zafran menggenggam tangan mungil Alesha. Menyematkan jemari di sela jari-jarinya. Menggenggam erat seolah tak ingin melepasnya.
Menatap kelopak mata yang terpejam. Menyapu halus pipinya yang ungu kebiruan. Tatapannya sayu, dia merasa gagal menjadi pelindung.
"Maafkan aku, Sayang," air matanya turun membasahi pipi.
Gadis itu masih terlelap. Zafran memeluk tangan mungil itu, menempelkannya di pipinya. Lalu menciumnya dengan sayang.
"Aku lengah menjagamu."
"Maaf,"
"Maaf,"
Hanya kata maaf yang bisa Zafran ucapkan. Ia tau jika kata maaf tidak akan pernah bisa menguranginya rasa sakit. Kata maaf tidak akan bisa menyembuhkan kecewa.
Zafran memeluk perut ramping Alesha. Menyembunyikan wajah brengseknya. Dia malu menunjukkan ketidaksadarannya. Dia malu menujukkan ketidakmampuannya.
Zafran terus menangis. Percayalah, seorang lelaki akan menangis jika dia merasa gagal melindungi wanitanya. Dia akan menangis jika wanitanya kecewa terhadapnya.
Sama seperti kertas yang dilipat hingga kusut, rasa kecewa itu tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Lelaki itu memeluk erat. Menangis tanoa mengeluarkan suara. Membasahi baju biru muda milik istrinya. Zafran sangat mencintainya. Zafran tidak ingin berpisah dengannya.
"Gue gagal."
Kesadaran Zafran mulai menghilang. Dia merasakan adanya pergerakan halus mengelus rambutnya. Mimpi itu terasa nyata. Andaikan saja Alesha yang mengelusnya, Zafran pasti akan bahagia.
Lelaki itu menikmatinya. Membuat tidurnya semakin terlelap. Namun dia merasa aneh. Mimpi di dalam mimpi, rasanya tidak mempercayai itu.
"Kamu tidak gagal."
Dengarlah, bahkan suara Alesha muncul di dalam mimpinya. Itu artinya sebentar lagi dia akan bertemu wujud Alesha yang sesungguhnya. Zafran tidak sabar ingin segera bermimpi bertemu wujud Alesha.
"Zafran.."
Kenapa Zafran belum juga memimpikan istrinya? Kenapa..
"Buka matamu, lihat aku!"
__ADS_1
Mata Zafran terbuka lebar. Dia segera mendongak. Betapa terkejutnya dia saat melihat wanita cantiknya tersenyum ke arahnya. Tangannya mengelus pipi Zafran perlahan.
"A-alesha?" ketidakpercayaan membuat Zafran bengong.
Alesha, gadis cantik itu akhirnya membuka mata. Alesha sudah bangun dari tidurnya. Wanita itu mengangguk sekali.
Zafran mengucek matanya. Dia tidak mempercayai ini. "K-kamu?"
Alesha melepas tangan yang masih tergenggam oleh Zafran. Dia berusaha untuk duduk. Zafran membantunya.
"Makasih ya karna sudah menyelamatkanku dan mengakuiku sebagai istri di depan semua orang," gumamnya.
Bibir Zafran melengkung sempurna. Air matanya kembali merembes. Ini benar-benar Alesha. Dia tidak bermimpi.
Zafran langsung memeluknya erat. Menenggelamkan wajah diceruk leher Alesha.
"Maafin aku.."
Alesha menggeleng pelan. Dia melepas pelukannya. Menangkup wajah cowok itu. Lalu menatapnya lekat-lekat.
Alesha menutup mulut Zafran dengan telunjuknya. "Sudah, jangan di bahas. Bukankah kita sepakat untuk memperbaiki semuanya?"
Zafran mengangguk. Dia menurunkan tangan Alesha. Dia mengelus pipi Alesha. Kemudian menurunkan jemarinya dan berhenti tepat di bibirnya.
Alesha berkedip cepat. Sentuhan Zafran di bibirnya menggetarkan hatinya. Entah mengapa desiran aneh bergelanyar di tubuhnya.
Alesha sulit meneguk salivannya. Dia menahan napas ketika tatapan Zafran menguncinya. Tenggorokannya mengering. Cowok itu mendekat.
Alesha memundurkan tubuhnya, tapi Zafran, cowok itu malah menariknya mendekat hingga Alesha menabrak dada bidangnya.
Zafran tersenyum smirk. Dia kembali mengelus bibir ranum Alesha. Cewek itu menggigit bibir bawahnya. Zafran terkekeh. Dia beralih menatap mata istrinya.
Alesha juga menatapnya. Keduanya saling menatap satu sama lain cukup lama. Zafran semakin mendekat. Mengikis jarak antara keduanya.
Alesha tau apa maksud Zafran. Dia memejamkan matanya. Mengalungkan kedua tangannya di leher Zafran.
Cowok itu semakin tertantang. Dia menatap kelopak mata Alesha yang tertutup. Sepertinya dia mendapatkan izin.
Zafran memeluk tubuh rampingnya. Kemudian mencium bibir ranum Alesha dengan lembut. Sedikit **********. Alesha tidak membalas. Dia hanya diam dan membiarkan Zafran yang menciumnya.
Semakin lama ******* Zafran semakin dalam. Dia berdecak karna Alesha tak membuka mulutnya. Zafran menggigit bibir bawah Alesha. Cewek itu mengerang kesakitan, dan akhirnya membuka bibirnya.
Zafran melengkung semyum. Dia mengabsen seluruh gigi yang ada di mulut Alesha. Alesha perlahan mengikut permainan Zafran.
Keduanya terbuai dalam ciuman itu. Hingga Alesha mendorong Zafran menjauh. Dia kehabisan napas. Mereka berdua menghirup udara sebanyak mungkin.
Zafran kembali menatap Alesha. Dia menempelkan keningnya pada kening Alesha.
"I love you."
"Love you more."
__ADS_1