
Cewek dengan setelan seragam SMA berwarna abu-abu putih itu bersembunyi di balik tembok besar warna putih. Degupan dalam jantungnya berdegup tak biasa. Tubuhnya bergetar menahan rasa ketakutan.
"Mau lari ke mana kamu?"
Suara langkah kaki dan omelan serta celotehan dari wanita gemuk bergincu merah memekikkan telinganya. Dia menaiki tangga dan terus berlari secepat yang dia bisa. Buliran keringat meleber ke wajah dan pipinya.
Telapak tangannya mengusap butiran yang menetes di dagunya. Kepalanya berbalik mencari seseorang, apakah orang itu masih mengejarnya atau sudah menghilang.
Yang tersemat di pikirannya saat ini adalah terhindar dari hukuman yang akan diberikan untuknya gara-gara ia terlambat bangun tidur. Ia tak tau harus berlari ke mana lagi selain ke atas gedung.
Yang terpenting adalah bagaimana caranya ia bisa menghilang dari pandangan guru Bk ter-ngeselin. Apapun alasan keterlambatannya, entah itu karna ban bocor, karna macet, telat bagun tidur, atau ha lainnya, wanita itu tidak peduli. Dia bahkan tak menerima negoisasi dalam bentuk dan jenis apapun.
Prinsipnya, jika terlambat ya terlambat. Kalau tidak mau terlambat ya jangan terlambat.
Hembusan napasnya terdengar ngos-ngosan. Dia membungkuk sedikit sembari memegangi lutut untuk mengambil pasokan udara sejenak.
"Mau masuk kelas aja susah," eluhnya.
Dadanya terasa sedikit sakit. Tenggorokannya terasa kering. Dehidrasi menyerangnya tubuhnya yang kelelahan. Sayang sekali ia tidak sempat membeli kebutuhan air untuk metabolisme tubuh.
Dia mendekatkan telinga ke tembok pagar tangga lantai atas. Dia tak mendengar suara langkah kaki serta dumelan dari wanita itu. Dia tersenyum lega, akhirnya ia berhasil kabur. Untuk saat ini ia aman, tapi jika saja Elok hafal dan ingat siapa dia serta nama panjangnya, riwayatnya akan habis.
"Mau si guru ter-disiplin mau hukum gue, hukum aja lain waktu. Karna sekarang gue mau bolos jam kelas," gumamnya mendongak ke atas.
Alesha melangkahkan kakinya atau persatu ke anak tangga. Baru pertama kalinya ia melihat begitu banyaknya coretan dinding tak senonoh. Di dinding sekolah, semua coretan itu sudah terhapus, digantikan dengan warna cat yang lebih cerah nan cantik, dan itu semua adalah hasil karya dari Zafran dan Gavin beberapa waktu lalu.
"Gue kayak kenal tulisan ini," ia mengelus coretan yang menghina tentang dirinya.
Cewek murahan.
Alay, gue benci sama lo.
Ayo ke club, kita happy-happy.
Berbagai macam umpatan tertulis elok di sana. Alesha geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka yang sangat-sangat tidak mencerminkan kepribadian baik. Entah tulisan tangan siapa, Alesha juga gak tau, tapi yang ada tulisan yang sangat membuat kepala mendidih seketika, dan dia bisa menebak, milik siapa tulisan tersebut.
Gue cinta sama Zafran.
...***...
__ADS_1
Cewek itu berjalan sambil menoleh kesana-kemari. Menatap sekelilingnya dengan pandangan was-was. Takut jika orang itu tiba-tiba muncul di depannya. Sambil menunggu teman-temannya ganti baju di kamar mandi, ia masuk ke dalam kelas.
Para cowok sangat cepat berganti bajunya sehingga Alehsa tak perlu menunggu terlalu lama di depan kelas. Karna kebiasaan kelas mereka, siapa yang menang dalam pertandingan olahraga antara cowok dan cewek, mereka yang berhasil bisa menempati kelas sebagai ruang ganti.
Biasanya para cewek menang, tapi sepertinya para cowok lah yang menang.
"Darimana aja lo, Sha?" sapa Roni yang bingung melihat kepala Alesha yang tak bisa diam bergerak ke kanan dan kiri.
Alesha menatap Roni dari atas ke bawah. Ia berdeham pelan, lalu bersikap biasa saja seperti tak ada kejadian apapun yang membuatnya waspada.
"Dari perpustakaan," sahutnya tanpa berpikir.
"Buku paket udah datang?"
Alesha berkedip lambat. Ia berniat berbohong untuk segera pergi dan tidak dicurigai, tapi Roni malah membuatnya semakin runyam.
"Belum," terpaksa Alesha berbohong dua kali.
Alesha berjalan ke depan, ia mendorong tubuh Roni agar cowok itu memberikannya jalan menuju kursi kesayangannya. Cewek itu tambah semangat ketika melihat sahabatnya sudah ganti baju dan kini ia mendengarkan musik lewat inpond-nya.
Alesha segera duduk di depan cewek itu. "Hai, Mar?" Sapanya.
"Sha, kok telat?"
"Biasalah," sahutnya sembari mengedikkan bahunya.
"Suami lo tadi dateng lima menit sebelum masuk, kenapa lo ga bareng?"
Alesha menggeleng. "Gue tidur di rumah mertua," serunya.
"Oh ya? Tumben kalian pisah ranjang, eh salah," ia meralat ucapannya. "Maksudnya pisah rumah?"
"Mama mint temenin gue karena Papa lagi ke luar kota. Kira-kira gue nginep dua harian."
Martha manggut-manggut. Ia menatap ke depan, tapi matanya langsung teralihkan ke arah lain. Ia tak mau menatap mata cowok itu secara langsung. Siapa lagi kalau bukan suami dari sahabatnya ini yang selalu ngamuk padanya karna hal yang kurang penting.
Alesha yang mendengar suara jejak langkah langsung berbalik, ia terkejut mendapati Zafran yang datang dengan wajah datar.
Cowok itu berlalu seakan tak kenal dan tak peduli pada istrinya. Tapi secara diam-diam tangannya menyelinap dan memberikan sebuah formulir untuk Alesha.
__ADS_1
Alesha mengangkat alisnya. Beberapa kerutan muncul di dahinya. Zafran tak mengatakan apapun, ia hanya memberikan isyarat mata. Untungnya Alesha paham, ia segera membuka isi amplop yang diberikan Zafran.
Zafran segera menjauh, dan Alesha membacanya dalam hati dalam keadaan serius.
"Les memasak?"
Martha yang mendengar ucapan Alesha pun ikut penasaran. Ia mendekati wajah Alesha.
"Sha, pinjem dong," lirihnya takut didengar oleh Zafran.
"ini?" Alisa menunjukkan brosur tersebut pada Marta secara diam-diam sambil berbisik.
Martha mengangguk, ia sepertinya antusias dengan isi brosur yang ia cari cari selama ini. Yaitu les memasak. Dia telah lama mencari di mana pun tempat yang ada les memasak tapi tidak menemukan yang cocok untuk Martha.
Alesha memberikan brosur tersebut dari bawah meja, karena ia sekarang masih meminjam kursi harga yang ada di depannya Martha, karena jika ia duduk di samping Zafran ia pasti akan terus mendapatkan lirikan tajam darinya sebab ia tak berangkat tepat waktu dari rumah mamanya.
Martha menerima brosur dengan hati-hati supaya tidak jatuh. Kulitnya menyentuh telapak tangan Alesha. Martha menunjukkan cengiran lebar tanpa rasa bersalah.
"Les masak?" sahutnya berbinar.
"Ikut yuk, Sha," ajak Martha ke Alesha yang terlihat tidak minat sama sekali.
"Gue pengen sih, tapi males, Mar."
"Udah ikut aja, kalau ada gue pasti seru, Kok," Martha mencoba meyakinkan.
Alesha berpikir sejenak. Jika orang awan seperti Martha sangat cocok untuknya, tapi karna Alesha lumayan bisa memasak, ia akan mempertimbangkannya kembali.
"Lo duluan aja, gue bisa nyusul, kok."
"Iya juga, lo pasti sibuk. Kalau gitu gue mau izin dulu sama Mama."
Alesha mengangguk. "Semoga ini jalan lo untuk sukses dalam bidang makanan, Mar."
"Iya, Sha. Gue jadi pengen pinter masak kayak lo."
"Gue juga masih belajar, banyak yang harus gue lakukan sebelum ikut les."
...****...
__ADS_1