
Zafran memijat pelipisnya. Rapat kali ini membuat kepalanya hampir meledak. Rapat sebagai CEO perusahaan sangatlah tidak mudah. Ia harus mengambil keputusan yang bijak.
Apalagi ini adalah pertama kalinya Zafran dinobatkan sebagai CEO utama setelah papanya mempromosikannya beberapa jam yang lalu.
Di usianya yang sangat muda, ia harus peka terhadap permasalahan bisnis. Walaupun ia masih SMA dan belum memiliki surat keterangan lulus, tapi karna kejeniusan Zafran, para karyawan perusahaannya menaruh hormat padanya.
"Jadi seperti inilah strategi marketing yang yang akan kita lakukan." Ucap sekertaris Zafran, namanya Seto, umurnya jauh di atas Zafran.
Tentu saja sebagai CEO perusahaan, Zafran tidak perlu mengeluarkan banyak kata-kata. Ia hanya perlu menyampaikan kepada sekertaris yang akan melakukan perintahnya.
Salah satu anggota mengangkat tangan. Mereka memperhatikannya. "Siapa model yang akan membintangi produk kita?"
Seto melirik Zafran, cowok itu duduk tegak seraya berdeham. "Model produk menyusul," katanya dengan tegas.
"Kalau saya boleh saran, saya sarankan modelnya adalah Nana Datuwani. Dia memiliki pengaruh besar di publik," katanya.
Zafran menaikkan satu alisnya. Kenapa orang itu harus menyarankan seseorang yang ingin Zafran hindari?
Seto kembali melirik Zafran. Ia menunggu persetujuannya.
"Terima kasih sarannya, tapi saya sudah memiliki kandidat untuk calon model produk kita."
"Apa itu Nana Datuwani, Pak Zafran?" tanya Harjo.
"Tentu saja tidak."
...***...
Cowok itu memejamkan matanya dan berbaring di kursi kerjanya yang empuk. Ia mengatur napasnya yang sedikit sesak. Rapat pertama berhasil. Tinggal melaksanakan strategi marketing-nya.
Suara dorongan pintu terbuka. Zafran tetap memejamkan matanya. Sebab dia sudah tau siapa yang masuk tanpa harus meminta izin darinya.
"Gimana rapat tadi, Nak?"
"Baik, Pa."
Gun berdiri di samping Zafran. Cowok itu tak membuka matanya. Ia masih setia menenangkan pikirannya. Gun mengambil dokumen hasil rapat siang ini. Dia membukanya. Senyumnya mengembang mengetahui potensi anaknya yang sangat baik untuk masa depan perusahaan mereka.
Gun menutup dokumen. Ia memukul pundak Zafran beberapa kali. "Kerja bagus."
Zafran menarik sudut bibirnya.
"Kamu istirahat dulu, nanti siang kita akan bertemu klien penting. Jangan lupa pikirkan baik-baik siapa model produk kita, lusa kita pulang ke Jakarta."
"Kenapa nggak nanti aja pulangnya, Pa?" tanya Zafran membuka matanya.
"Nggak bisa. Karna kita masih ada kepentingan."
Zafran menghembuskan napas panjang. Baru dua hari saja, ia sudah sangat merindukan Alesha. Sayang sekali ponselnya di sita oleh Gun agar Zafran bisa fokus pada pekerjaan pertamanya sebagai seorang CEO.
"Kamu kangen ya sama Alesha?"
Zafran duduk tegak. Ia meneguk air hingga setengah. "Pastilah. Memang Papa nggak kangen sama Mama?"
Gun mengangguk. "Kangen lah,"
"Yaudah ayo pulang,"
__ADS_1
"Nggak bisa dong, Zafran."
"Kenapa? Bukannya Papa kangen sama Mama?" protes Zafran.
Gun menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Iya, tapi Papa baru saja video call-an sama Mama."
Zafran mendelik. Ia menatap papanya tak terima. "Kenapa Papa boleh sedangkan Zafran nggak?"
"Kamu harus fokus bekerja."
"Tapi, Pa.."
"Sudah, jangan ada tapi-tapian. Kalau kamu pulang, kamu akan merasakan kebahagiaan berjumpa istrimu. Karna kalau kita jauhan dan jarang mengabari, pasti rasa rindu itu akan semakin kuat dan kalian akan tambah saling mencintai."
"Zafran gak setuju. Mana ada prinsip kayak gitu, Pa. Setidaknya biarin Zafran kabari Alesha."
Gun menggelengkan kepala. "Ti-dak. Kamu tenang aja, Papa sudah memberitahu menantu Papa tentang kabar kamu."
Zafran berdecak pelan. Percuma ia berdebat dengan papanya. Tidak akan ada habisnya. Apalagi jika itu menyangkut tentang pekerjaan.
...***...
Saat Alesha membereskan kamarnya, ia tak sengaja menemukan kertas lusuh yang tersimpan di sampah kering. Kertas tersebut jatuh di lantai dan saat Alesha memungutnya ia mengingat memori pertama kali Zafran mengajaknya keluar rumah sakit pada kala itu.
"Gue emang nerima perjodohan ini, tapi bukan berarti lo harus tau semua tentang gue. Setelah nikah, gue punya persyaratan buat lo,"
Kedua alis Alesha menyatu. "Syarat? Apa?"
Cewek itu mengembangkan senyum membaca syarat yang belum pernah Zafran tunjukkan padanya. Di kertas tersebut tertulis bahwa Alesha harus menjadi satu-satunya istri untuk Zafran.
**Syarat Pernikahan.
Menjadi Istri Terakhir
Menjadi Istri Satu-satunya
Menjadi Ibu Dari Anak-anak Zafran.
Pernikahan yang terjadi hanya satu kali**
Cewek itu terkekeh geli. Bisa-bisanya dari kelima syarat, semua isinya seperti itu. Bukankah lebih simple jika menulisnya hanya dengan tulisan menjadi istri dan ibu untuk anakku selamanya ?
"Zafran -zafran, gak nyangka bad boy kayak lo bisa nulis kayak gini." Tawa Alesha.
Cewek itu melipatnya dan menyimpannya di kotak kenangan miliknya. Lipstik pemberian Martha pun sama. Ia hanya memakai sekali lalu menyimpannya sebagai kenangan.
Setelah beres-beres rumah. Alesha beranjak pergi ke taman belakang. Menyiram bunga-bunga yang baru di tanam bersama Yuni. Wanita baya itu sudah pulang karna ada acara arisan dirumahnya.
Tadinya Yuni mengajak Alesha untuk ikut, tapi ia menolak karna ingin membersihkan rumah sebelum Zafran pulang. Awalnya Yuni sedikit kecewa, tapi akhirnya ia pun menerimanya.
Alesha memasang selang pada kran. Lalu menghidupkan sanyo dan menyiramnya sembari menikmati musik. Melihat bunga melati ia jadi teringat bunga tulip yang tidak jadi ia dapatkan.
Alesha menghembuskan napasnya pelan. "Gimana ya nasib bunga tulip gue?"
__ADS_1
...***...
Seto membuka pintu untuk Gun dan Zafran di bagian penumpang. Kemudian ia duduk di samping kemudi.
"Apakah klien sudah datang, Set?" tanya Gun.
Seto menggeleng pelan. "Belum, beliau masih berada dalam perjalanan."
Gun manggut-manggut. Ia menoleh ke arah Zafran yang memejamkan matanya. Cowok itu terlihat sangat lelah. Bagaimana tidak, sampai jam 3 pagi dia belum juga tidur karna memikirkan bagaimana caranya ia mengambil ponselnya.
Seto yang ia suruh untuk membeli hp baru uangnya diambil oleh Gun. Karna Seto ketahuan pergi ke konter hp.
Sebenarnya niat Gun hanya menjahilinya saja, dan harap jika saat anaknya pulang ke rumah akan tau bagaimana rasanya ketika mengobati rindu bersama pasangan.
Gun hanya menuruti perintah Yuni. Wanita itu ingin jika Zafran akan bermesraan bersama Alesha jika mereka lama tidak bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
Walupun sedikit menyiksa batin, tapi ini adalah cara terbaik untuk masa depan mereka.
Sepanjang perjalanan, Zafran tidur. Napasnya teratur. Perjalanan dari hotel sampai tempat tujuan memakan waktu satu jam. Cukup untuk Zafran mengistirahatkan tubuhnya.
Selang beberapa waktu, akhirnya mereka pun sampai. Gun membangunkan Zafran.
"Zafran, bangun. Kita sudah sampai."
Zafran merenggangkan ototnya. Matanya terbuka sipit. Ia mengucek matanya.
"Ayo," ajak Gun.
"Kalian duluan. Zafran mau ke toilet."
Gun mengangguk. Lalu ia pergi terlebih dahulu bersama Seto, sekertarisnya yang kini juga menjadi sekertaris Zafran.
Sedikit lama Zafran berdiam diri di dalam mobil. Sampai akhirnya ia pun keluar dan langsung bergegas ke dalam toilet. Ia mencuci wajahnya.
Zafran melihat ketampanannya yang sempurna di depan cermin. Ia berkali-kali mengeluarkan napas kasar.
"Gimana caranya biar dia mau?" monolognya.
"Gue belum tanya sama dia. Mau atau nggak jadi model produk perusahaan gue."
"Gue harus cepet pikirin caranya, besok adalah batas waktunya."
Zafran mengusap wajahnya gusar. Untuk menghindari seorang perempuan yang bernama Nana Datuwani menjadi model, ia akan meminta orang lain yang akan menjadi modelnya.
Tapi Zafran tidak tau bagaimana cara membujuknya. Pasalnya ia tak pernah memohon kepada orang siapa pun itu.
"Pikirin nanti aja, sekarang gue harus bertemu klien penting dulu."
Zafran membenarkan dasinya. Setelah rapi, ia keluar toilet dan menyusul Gun. Gun sudah terlihat di depan sana, dan Zafran pastikan kedua pasang suami istri yang membelakanginya itu adalah klien-nya.
Zafran menghembuskan napas kasar. Ia meredakan rasa gugupnya. Zafran mengembangkan senyum.
"Zafran, sini!"
Zafran mengangguk. Kedua klien-nya ikut menoleh ke belakang. Zafran berhenti berjalan. Cowok itu terkejut dan tercengang melihat siapa klien-nya. Senyumnya pudar seketika. Tatapannya berubah tajam dan serius.
"Nana?"
__ADS_1
"Hai, Zafran. Kita ketemu lagi."
Tbc...