Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
53. Ujian Praktik


__ADS_3

Alesha meneguk setengah air mineral yang baru saja dibelikan oleh Zafran secara diam-diam. Kini cowok itu duduk di belakang pojok kiri sambil merentangkan kakinya di atas meja.


Setelah meminumnya hingga tandas, Alesha menutup tutup botolnya dan meletakkan botol di laci. Kemudian menjepit rambut dengan jepitan badainya.


Martha datang dengan senyuman lebarnya. Ia melambai-lambai pada Alesha. "Aleshaa... aduh," kakinya tersandung benda besar.


Martha terjatuh. Ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya setelah di senggol oleh Gavin cukup keras. Cewek itu mendongak memerhatikan Gavin dan Nana yang melewatinya begitu saja. Walaupun Nana sempat ingin menolong, tapi Gavin mencegahnya.


"Nggak usah, Na." Kata Gavin.


"Ck," Martha hanya bisa berdecak meski dongkol. Ia tak berani memarahi Gavin. Karna ia tau bagaimana sifat Gavin. Tapi jika orang itu adalah Ferdi, mereka pasti akan beradu mulut.


Martha mengambil tasnya. Saat ia mau berdiri, ada sebuah tangan yang menjulur di depannya dan juga Alesha yang setengah berlari ke arahnya.


"Mar, lo nggak papa?" Alesha nampak khawatir.


Martha berkedip lambat. Ia tak menyangka jika tangan itu milik seseorang yang sudah ia cap sebagai musuh bebuyutan. Siapa lagi kalau bukan Ferdi?


Ferdi datang menolongnya.


Hati Martha tersentuh. Ia mengembangkan senyum. Kemudian meraih tangan Ferdi.


"Makas.. sih," senyumnya luntur.


Ferdi mengalingkan tangannya. Bibir Martha berkedut. Ia kita Ferdi mengulurkan tangan untuk menolongnya tetapi ternyata salah. Ferdi mengambil sebuah gelang hitam yang ada di samping Martha.


Ferdi menatap Martha. "Mau salim lo sama gue?"


Martha menggeleng. "Gue kira lo mau nolongin gue,"


"Lo berharap gue nolong lo?"


Martha mengangguk kaku tanpa sadar.


Ferdi tersenyum smirk. Ia mengusap rambutnya ke atas. Ia berdiri tegak. "Cih, sorry lah ya. Mana mau gue nolongin musuh!"


Alesha menahan tawanya. Ferdi terdiam di depan Alesha sambil mengedipkan sebelah matanya. Di belakang sana ada tatapan mata tajam yang melirik ke arahnya serta jari tengah yang dimunculkan khusus untuk dirinya.


"Ampun Bang jago," gumam Ferdi.


Sedangkan kepala Martha sudah siap untuk meluncurkan peluru tembak. Wajahnya memerah bukan karna malu, tapi karna emosi.


Dia melepas sepatunya dan melemparkannya di kepala Ferdi. Cowok itu melirik ke belakang. Ia merasakan aura tidak enak. Telinganya sangat tajam, sehingga ia bisa mendengar bunyi sebuah benda yang melayang terbang mendekatinya.


Ia segera berjongkok menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebuah sepatu berwarna putih melayang dari atas kepalanya. Ferdi selamat. Tapi tidak dengan Alesha.


Hidungnya mengeluarkan darah kental dan segar.


"MARTHAA!!!!" teriak Alesha.


... ***...


"Untuk praktek biologi, saya sudah meminta izin kepada kepala sekolah. Semua anak IPA akan pergi ke sawah dan melakukan penelitian tentang pertanian." Terang bu Jainab. Karna ujian kelulusan akan diadakan dalam waktu dekat ini.


"Sawah? Yang bener aja? Sekolah sebelah praktik lab, lah kita kok malah ke sawah sih?" Arva tidak mau jika sepatunya nanti kotor karna lumpur.


"Semua guru biologi telah sepakat pada rapat yang diadakan, tapi untuk pendamping hanya ada saya, bu Elok, dan juga Pak Jen,"


"Setiap kelompok akan saya acak, dan tidak menerima request. Semua pasti dapat kebagian kelompok, dan praktik ini hukumnya wajib!"


"Bu?" Arga angkat tangan.


"Ya, Arga?"


"Tempat penelitiannya di mana?"


"Di hatimu," kelakar guru biologi.


Semua orang pura-pura terkekeh walaupun sebenarnya tidak ada yang lucu.


"Saya serius, Bu."

__ADS_1


"Tempatnya di belakang rumah Ibu," jawabnya.


"Emang rumah Ibu mana?" sahur Martha.


"Bandung."


"BANDUNG?" pekik semua orang.


"Iya. Pak Jen juga punya rencana kalau misalkan praktik olahraganya di sana. Karna kebetulan di sana ada lapangan besar, jadi kalian bawa tenda ya. Kita nginep seminggu. Penelitian dilakukan selama empat hari, dan sisanya praktik olahraga."


"Kapan kita berangkat, Bu?"


"Besok pagi. Jadi kalian bisa pulang lebih awal."


"BESOK PAGI??"


Apakah masih ada pengumuman dadakan lagi?


...***...


Alesha menepuk pipi Zafran cukup keras. Zafran mengaduh kesakitan. Pipinya terasa panas, dan nampak bekas kemerahan berbentuk telapak.


"Apa sih!"


"Bangun, nanti kita ketinggalan bis!"


"Bis?"


"Iya," Alesha mencoba untuk mendudukkan Zafran tapi ia tak mampu sebab badan Zafran sangat berat.


"Emang lo mau ke mana?"


"Kok gue? Kita lah!"


"Kita? Ogah, gue males."


"Kalau lo males, lo gak bakal lulus."


"Cih," Zafran berdecih. Ia duduk dengan terpaksa. Kepalanya nyut-nyutan gara-gara dibangunkan tidur dengan cara yang menyakitkan.


"Gue gak mau berangkat!"


"Lo yakin?"


"Hm, lo aja."


Alesha menatap Zafran serius. "Tapi ini untuk kelulusan kita, Zaf."


"Lo cerewet banget sih. Gue bilang enggak ya enggak. Kalau lo mau berangkat, berangkat aja sono sendirian. Jangan paksa gue!"


Zafran berdiri. Ia beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamar mandi. Cowok itu menutup pintu dengan sangat keras. Membuat Alesha kaget sekaligus bingung dengan sikap Zafran yang berubah seratus delapan puluh derajat.


"Zafran kenapa?"


Tentu saja Alesha kaget. Tak pernah Zafran membentaknya sekalipun. Padahal selama ini cowok itu selalu memendam emosinya. Tapi kenapa sifat Zafran menjadi labil dan berubah sensitif semenjak pulang sekolah kemarin?


Beberapa jam yang lalu...


Zafran telah berencana untuk menyogok bu Jainab agar membuatnya satu kelompok dengan Alesha saat ujian praktik biologi nanti. Ia sengaja menyuruh Alesha pulang bersama Martha.


Setelah semua orang pulang dan sekolah juga lumayan sepi, barulah Zafran memunculkan wajahnya. Cowok itu berjalan santai sambil bersiul ria. Tak lupa juga tangannya yang selalu bersembunyi di balik saku celana.


Dari kejauhan, ia melihat bu Jainab yang sedang menenteng tas keluar dari ruang guru. Zafran panik, tapi ia tetap stay cool.


Hanya saja ia mempercepat jalannya dua kali lipat. Ferdi dan Laka menatap sahabatnya dengan tatapan heran. Cowok nakal seperti Zafran mendatangi guru biologi?


Padahal biasanya, cowok itu yang sering didatangi para guru-guru. Terutama bu Elok, guru bk bergincu merah yang selalu emosian.


"Tumben Zafran cari bu Jainab," gumam Ferdi.


Lama ia tak mendapati jawaban, akhirnya ia melirik teman sebelahnya, dan Ferdi mendapati Laka sedang bermain ponselnya.

__ADS_1


Ia menghempaskan napas panjang. "Lagi membucin dia."


Laka mendengarnya, tapi ia tak mau banyak komen. Laka sedang sibuk mencari keberadaan adiknya.


"Eh ada Bu Jainab," sapa Zafran di samping Jainab. Ia berakting bertemu Jainab saat pulang sekolah.


"Belum pulang kamu?"


"Belum, kebetulan ya Bu kita pulang bareng gini," serunya.


"Tumben, biasanya kamu balapan sama si Gavin. Udah tobat?"


"Libur dulu Bu, Gavin takut sama saya."


"Alesan, palingan kamu aja yang takut kalah."


"Ibu tidak salah? Padahal saya selalu menang loh," Zafran menepuk dadanya.


"Enggak, Ibu denger dari para guru-guru."


Zafran memutar bola matanya malas. "Guru tukang gosip," gumamnya sangat amat pelan.


"Mana Gavin? Nggak bareng kamu?"


"Sejak kapan saya pernah pulang sama Gavin?"


Jainab menoleh. "Lah? Bukannya setiap hari kalian pulang bareng?"


"Kok malah jadi bahas Gavin, Bu?"


"Ya karna Gavin ganteng."


Zafran memutar bola matanya malas. Ia malas membahas Gavin. Cowok itu tak menyangka jika berbincang dengan bu Jainab akan mendengar kata Gavin.


"Jangan kelompokkan saya sama Gavin."


Jainab menoleh. Alisnya mengerut. "Saya belum buat kelompoknya, tapi kalau kamu mau satu kelompok sama Gavin, saya turutin."


"Lebih baik saya nggak ikut praktik daripada harus satu kelompok sama Gavin," jawabnya.


"Yakin nggak mau lulus?"


"Yakin ibu nggak lulusin saya?"


Jainab berkedip lambat. Benar juga katanya, Jainab memang tidak punya hak untuk tidak meluluskan Zafran. Apalagi dia adalah anak yang berprestasi. Lagipula jika dia tak ikut ujian praktik pun, Zafran akan tetap lulus.


"Nggak juga, kan yang punya hak meluluskan sekolah, bukan Ibu."


Zafran hanya mengangguk.


"Terus kamu pengen satu kelompok sama siapa?"


Zafran menoleh secepat kilat. Tak menyangka ia akan mendapatkan tawaran emas dari bu Jainab.


"Alesha,"


"Alesha?" Jainab heran kenapa Zafran memilih murid baru untuk menjadi satu kelompok dengannya.


"Kenapa dia?"


"Dia anak baru, pasti nggak banyak bicara. Saya pusing kalau nanti satu kelompok sama orang-orang toxic." Alasannya.


"Oke,"


Zafran menoleh lagi. Secepat itukah Jainab menyetujui?


"Oke apa?"


"Kamu akan saya kelompokkan dengan Alesha, dan..."


"Dan? Dan siapa?" tanya Zafran penasaran.

__ADS_1


"Gavin."


...***...


__ADS_2