
"Sejak kapan Mama Nana kecelakaan?" tanya Alesha memecahkan keheningan. Mereka berdua berkendara menuju rumah sakit.
"Sejak mereka pergi dari perkemahan,"
"Lo sudah tau sejak kapan?"
"Sejak awal."
Alesha mendelik. Emosinya meledak begitu saja. "Sejak awal? Kenapa lo nggak bilang sama gue, Vin?"
"Karna gue gak percaya Nana."
Ekspresi cewek itu berubah datar. "Why?"
Gavin melirik Alesha sembari menaikkan satu alisnya.
"Kenapa lo gak percaya sama sahabat lo sendiri?"
Gavin mengangkat bahunya.
"Bukti?" tanya Alesha memastikan.
Gavin mengangguk.
"Boleh gue tanya lagi?"
"Hm,"
"Kenapa Zafran gak hubungi gue sama sekali?"
...***...
Nana memandang tubuh seorang wanita yang tengah tertidur lemas dengan mata yang tertutup rapat. Cewek itu merasa sangat bersalah akan ucapannya pada Zafran kala itu.
Niatnya ingin membuat Zafran pergi dari Alesha dengan alasan keluarganya kecelakaan, tapi ucapannya malah menjadi boomerang baginya.
Setelah menjauh dari sawah waktu itu, Nana mendapatkan telepon dari sang papa yang mengatakan bahwa mamanya telah kecelakaan.
Seketika hal itu membuatnya kalut dan menangis sekencang-kencangnya layaknya orang gila. Di sisi lain, Zafran juga ikut panik. Ia segera memanggil taksi dan pergi bersama Nana tanpa membawa barang apapun dan kembali ke Jakarta.
Tepat saat itu pula, ponselnya menghilang.
Ia bingung bagaimana caranya menghubungi Alesha. Saat sampai di rumah sakit, ia meminjam telepon tanpa kabel di rumah sakit. Namun, tak dapat terhubung pada Alesha. Mungkin karna sinyal.
Setelah Nana tenang, Zafran memintanya untuk menghubungi Alesha lewat Gavin.
Jarak rumah sakit dari rumahnya lumayan jauh. Membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah. Karna papa Nana cukup sibuk, ia mempercayakan Zafran untuk menjaga Nana dan istrinya.
Pria paruh baya itu membelikan segudang baju serta keperluan untuk Zafran, dan cowok itu tak bisa menolak untuk tetap menemaninya di sini. Beberapa penjaga pun menjaga pintu depan untuk menghindari hal yang tidak-tidak. Termasuk Zafran yang kabur dari tanggung jawab atas Nana.
Sinar matahari pagi menyeruak masuk ke dalam menusuk retina mata cowok itu. Dia membuka matanya perlahan. Kemudian ia duduk di atas sofa. Ia merenggangkan otot-ototnya.
"Gue buatin teh," Nana meletakkan nampan di samping meja Zafran.
"Lo udah kabari Alesha?"
Nana mengangguk. "Nggak usah khawatir, udah gue kabari."
"Gimana katanya?"
"Dia mau selesaiin penelitian."
Zafran mengerutkan keningnya. "Lo gak suruh Gavin ke sini bawa Alesha?"
"Udah dari kemarin, tapi Alesha nolak. Katanya dia lebih penting penelitian daripada Mama gue."
__ADS_1
Cowok itu mengangkat satu alisnya. "Lo yakin?"
Nana berdecak. "Ck, lo gak percayaan banget sama gue."
"Emang iya." Sahutnya meminum teh buatan Nana.
Cewek itu berbalik kembali ke ranjang sang mama, namun ekor matanya melirik Zafran. Maaf, gue sengaja kabarin Gavin baru hari ini. Biar gue punya waktu berdua sama lo. Kesempatan tidak datang dua kali, Fan.
"Na," panggil Zafran.
Nana segera berbalik dengan wajah sumringah. "Iya, Zafran?"
"Hp baru gue, mana?" cowok itu sibuk mencari ponsel yang baru ia beli untuk menghubungi Nana.
"Bukannya selalu lo pegang?"
"Hm, kemarin gue masukin kartu baru, tapi..." Zafran mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Tapi apa?"
"Tapi gue ketiduran," ia baru ingat, setelah minum teh hangat, ia jadi cepat mengantuk dan akhirnya tertidur sebelum ponselnya menyala.
Cowok itu memandang Nana curiga.
"Gak lo curi, kan?"
...***...
Alesha langsung menyuruh Gavin untuk segera datang ke rumah sakit. Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di parkiran rumah sakit.
Alesha turun. Ia menatap pemandangan yang membuatnya cukup terkejut. Rumah sakit yang sangat megah layaknya istana.
"Besar banget rumah sakitnya," gumamnya.
"Milik keluarga Nana."
Alesha menatap Gavin tak percaya. "Punyanya Nana?"
"Hm," sahut Gavin singkat.
Gavin berjalan terlebih dahulu. Alesha mengekorinya dari belakang. Matanya senantiasa menatap bangunan tersebut.
"Jalan lihat pake mata. Mata kaki lo gak bisa buat liat jalan."
Alesha mendengus kesal. Ia berceloteh sembari mengabsen beberapa hewan kebun binatang dengan sangat amat pelan agar tak terdengar oleh Gavin.
Alesha bersidekap dada sambil melototi punggung Gavin yang terlihat sangat-sangat menyebalkan. Meski begitu, ia tak sabar ingin bertemu Zafran dan memarahinya habis-habisan.
"Gue harus buat skrip buat marahin Zafran."
"Bisa-bisanya nggak ngasih tau gue sama sekali?"
"Ini bukan jaman dulu yang apa-apa pakai surat, sekarang teknologi canggih. Hp ada di mana-mana, uang juga banyak. Apa susahnya buat nelpon gue?" dumel Alesha terus-menerus.
Cewek itu memukul telapak tangan dengan kepalan tangannya sendiri. Dia membayangkan bahwa itu adalah Zafran yang ia pukul.
"Awas aja lo macem-macem sama suami gue!" kini ia kesal dengan Nana yang seenaknya bawa suami orang.
Gavin hanya diam. Ia pun sama seperti Alesha. Marah kepada Nana yang hanya diam saja ketika mamanya kecelakaan tanpa menghubunginya langsung pada hari itu juga.
Sehari setelah kepergian, Nana memberikan kabar bahwa ia telah selamat sampai rumah, dan menyembunyikan fakta bahwa ibunya telah kecelakaan.
Jika Gavin tau dari awal, ia tak akan peduli dengan tugasnya dan langsung menyusul ke sini. Tapi Nana memiliki niat lain. Yaitu menghabiskan waktu bersama Zafran.
Di sisi lain, Alesha terlalu sibuk memikirkan ucapan apa yang cocok untuk kemarahannya nanti, sampai ia tak tersadar jika Gavin sudah menghentikan langkahnya di depan kamar mana Nana.
__ADS_1
Alesha menubruk punggung Gavin cukup keras. "Aduh," rintihnya.
"Lo kalau berhenti ngobrol dulu!!"
Gavin menarik napas. Ia melirik Alesha. "Lo jalan pakai mata apa pakai dengkul?"
"Kaki lah!"
Gavin memutar bola matanya malas. "Serah lo,"
Ia mengusap dahinya yang terasa nyut-nyutan.
"Dasar manusia kaku."
...***...
Zafran duduk di dekat jendela menjauhi Nana yang terus memandangnya tanpa henti. Tapi cowok itu tak pernah sekalipun melihatnya sebagai seorang wanita, melainkan seperti musuh. Nana beralih menatap wajah mamanya. Ia menarik napas dalam.
"Maaf," gumam Nana.
Zafran hanya meliriknya.
"Gara-gara gue lo jadi terjebak di sini."
"Kalau aja Papa nggak minta lo buat temenin gue dan lo pasti udah bisa temui Alesha. Tapi sayangnya, Papa sewa bodyguard jaga pintu di depan kamar yang buat lo nggak bisa kemana-mana."
Zafran hanya mendengar. Ia menatap mobil Gavin yang letaknya tak jauh dari sini.
Nana menatap Zafran. "Tapi lo tenang aja, gue bakal ngomong sama Papa kalau gue baik-baik aja jaga Mama gue sendirian."
"Kenapa gak dari awal lo bilang?" sahut Zafran tanpa melirik Nana.
Nana berkedip cepat. Ia menunduk ke bawah dengan senyuman tipis. "Karna gue takut,"
"Lo punya banyak pembantu."
"Mereka bertugas di rumah. Papa gak izinin mereka ke sini."
Zafran berdecih. "Cih, alasan."
Nana mengepalkan tangannya kuat.
"Gue tau niat busuk lo, Na. Tapi jangan pikir hati gue bakal goyah berduaan sama lo di sini."
"Kenapa sih, lo gak bisa jatuh cinta sama gue?" akhirnya Nana mengungkapkan niatnya.
Zafran menarik sudut bibirnya. Ia mendengar suara pintu terbuka. Cowok itu berjalan mendekati Nana. Dia menatap seseorang yang sedang dalam kondisi marah padanya. Dia adalah Alesha. Namun Zafran hanya menampilkan senyum lebar.
Kemudian berjalan mendekati pintu seraya mengambil ponsel yang ada di bawah bantal mama Nana.
"Karna istri gue jauh lebih sempurna daripada lo." Ucap Zafran dengan keras.
Alesha yang bersiap untuk marah ia urungkan karna terkejut mendengarnya. Di sisi lain, ia bingung dan tak tau harus bersikap bagaimana.
Emosinya luntur seketika saat Zafran berkata demikian. Zafran berjalan kearahnya. Ia merain tangan Alesha. Dia sedikit melirik Gavin.
"Makasih, lo udah bawa istri gue ke sini."
Gavin hanya mengangguk. Kemudian Zafran membawa Alesha pergi dari sana. Nana menatap Zafran penuh kekesalan. Sedangkan Gavin menatap Nana tajam.
"Vin, kenapa lo gak cegah Zafran pergi?" ia menunjuk Zafran dengan jari telunjuknya.
"Zafran layak pergi dari perusak kayak lo."
...***...
__ADS_1