
Kelompok yang di dapat Alesha, mendapatkan penelitian tentang sayuran. Diantara lainnya, ada penelitian cabai, tomat, dan juga timun. Untuk mempercepat penelitian, Gavin memiliki sebuah ide, dan keputusan yang ia ambil sendiri tanpa diskusi terlebih dahulu.
Tapi, karna mereka setuju dengan keputusan Gavin akhirnya masing-masing mendapatkan jatah kelompok. Gavin dan Alesha meneliti cabai, Zafran, Martha dan Ferdi meneliti tomat, Laka dan Nana meneliti timun.
Awalnya Zafran menentang karna Alesha satu kelompok dengan Gavin, tapi karna Gavin memberitahukan padanya jika ini adalah jalan satu-satunya agar mereka tak mengira Zafran dan Alesha dekat, Zafran pun setuju.
Apalagi Gavin bukan orang yang kompor dan Zafran yakin jika mereka berdua akan jarang komunikasi. Karna Gavin yang selalu menyelesaikan tugas sendiri.
"Yaudah gue setuju, lagian pasti lo bakal ngerjain sendiri."
"Hm,"
"Tapi awas aja lo kalau macem-macem sama istri gue," ucap Zafran menekankan kata istri. Nana memutar bola matanya malas mendengar kalimat tersebut.
"Terserah gue, gue yang satu kelompok bareng istri lo," Gavin mencekal pergelangan Alesha. Ia membawa gadis itu pergi.
Zafran mendelik melihat Gavin menggandeng tangan Alesha. "Woy, lepasin. Jangan lo sentuh dia!!" teriak Zafran kalut. Ia ingin menghajar Gavin namun dicegah Ferdi.
"Lo jangan buat keributan, Zaf. Ntar malah kalian ketahuan."
Zafran menghempaskan tangan Ferdi. "Gavin!!" cowok itu mengepalkan tangannya.
Matanya melirik kedua orang yang seperti berpacaran. "Awas aja lo nanti. Gue bakal buat perhitungan!"
Zafran berjalan lebih dulu meninggalkan Martha dan Ferdi yang satu kelompok dengannya.
"Bakalan repot ngurusin bayi gede yang posesif," kelakar Martha. Kali ini Ferdi setuju dengannya.
"Udah ayo, kita kerja." Ajak Ferdi. Martha mengangguk. Ketika mereka berdua melangkah, Nana terburu-buru berlari ke depan mereka.
"Biar gue aja yang satu kelompok sama Zafran, kebetulan gue lumayan pengalaman di penanaman tomat."
Ferdi mengangkat kedua alisnya lalu ia mengangguk begitu saja. Berbeda dengan Martha yang menggeleng keras.
"Nggak-" belum selesai Martha menjawab sudah dipotong oleh Ferdi.
"Oke, nggak masalah. Karna lo udah pengalaman, penelitian pasti bakalan lebih cepat. Biar gue sama Martha gantiin lo ikut Laka," gumam Ferdi dengan entengnya.
Nana menampilkan senyum lebar. Ia menjabat telapak Ferdi dengan cepat. "Makasih."
Pipi Ferdi merah merona. "Lembutnya," serunya.
Plak!!
Satu pukulan keras mendarat di lengannya. "Bego lo!"
"Ngapa sih, Nyet?"
"Bisa-bisanya lo izinin Nana sama Zafran?"
"Lah emang kenapa? Kan dia pengalaman di bidang per-tomat-an."
Martha mengepalkan tangan greget. Andaikan tangannya kuat seperti hulk, pasti ia bisa meninju Ferdi dan menghilangkannya di dalam perut bumi.
"Lo tau nggak sih, si Nana itu pernah deket sama Zafran!!"
"Terus?"
"Pasti si Nana bakalan ada niatan jahat buat rebut dia dari Alesha."
Laka hanya diam saja. Ia melukis pemandangan indah di sawah ini dengan tenang seraya menunggu perdebatan antara mereka berdua selesai.
Ferdi menyentil dahi Martha. "Kebanyakan lihat sinetron lo, Mar."
__ADS_1
"Yok, Lak. Biarin si Martha kerja sendiri." Ferdi merangkul pundak Laka dan menggeretnya paksa.
Laka melirik tangan Ferdi dengan tajam. Cowok itu berkedip lambat lalu melepasnya tangannya perlahan. Kemudian ia menampilkan cengiran lebar.
"Maaf-maaf."
Martha menatap punggung Nana yang masih bernegosiasi kepada Zafran agar bisa satu kelompok bersama.
"Gue harap lo nggak jatuh ke lubang buaya betina, Zaf."
...***...
Semua orang berpencar bersama kelompok masing-masing. Seperti yang kita tahu bahwa jalanan sawah yang curam layaknya jembatan shirothol mustaqim, jika salah melangkah saja, kalian akan jatuh terperosok ke sawah.
Alesha fokus memperhatikan jalan sampai ia tak sadar jika Gavin sudah berhenti. Alhasil kepalanya menyundul punggung Gavin. Untung saja Alesha bisa menyeimbangkan tubuhnya, sehingga ia tak jatuh terperosok.
"Ck, punya mata buat apa?"
Alesha mencebikkan bibirnya sembari mengelus keningnya. Cewek itu mengumpati Gavin yang tak berkata apapun saat berhenti. Tapi Alesha hanya beran mengumpat dalam batin.
"Permisi, Pak." Sapa Gavin pada petani.
"Iya kenapa, Nak?"
Di saat Gavin menjelaskan maksudnya datang kemari untung penelitian, Alesha hanya diam saja. Cowok itu tak mengajaknya kerja sama. Gavin mengerjakan dan bertanya secara pribadi.
"Apa langkah pertama yang harus dilakukan dalam proses penanaman cabai?" tanya Gavin layaknya reporter.
"Langkah pertama sebelum memanem cabai adalah menanam bibit cabai. Biasanya, saya tanam di polibag terlebih dahulu."
Gavin mengangguk. Ia merekam suaranya seraya memotret proses penanaman cabai.
"Gunakan benda yang runcing dan jangan menggunakan jari tangan untuk melubangi." Petani tersebut mempraktikkannya.
"Kira-kira berapa lama bibit akan tumbuh?"
"Benih akan berkecambah dalam waktu sekitar 1 minggu. Kadang 5-6 minggu muncul helai daun sebanyak enam sampai delapan helai."
"Biasanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memanem cabai?"
"Tergantung, paling cepat 3 bulan, paling lambat bisa sampai 5 bulan."
Sambil menanti Gavin menyelesaikan tanya jawabnya, Alesha melihat ke area sekitar. Cewek itu memincingkan matanya saat melihat Ferdi adu mulut dengan Martha di samping Laka.
Laka hanya menatap datar ke depan sambil menghembuskan napas berkali-kali.
Alesha terkekeh. "Kebiasaan si duo cempreng. Di mana pun dan kapan pun sekalu cekcok. Tiada hari tanpa debat." Dia geleng-geleng kepala.
"Tunggu!"
Sedetik kemudian ia tersadar jika ada yang salah. "Ferdi, Martha, Laka?"
Alesha memfokuskan perhatiannya kembali. "Kok mereka bertiga satu kelompok? Bukannya harusnya sama Zafran, ya?"
"Terus Zafran satu kelompok sama siapa?" dia mencari keberadaan Zafran.
Cewek itu menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak!!"
"Nggak mungkin sama Nana!"
Di kotak sawah yang letaknya tak jauh dari Gavin dan Alesha, seorang wanita tengah melambaikan tangannya padanya. Cewek itu pun menciumnya dari jauh seraya bergumam tak jelas.
Kening Alesha berkerut. Ia mencoba membaca apa yang diucapkannya.
__ADS_1
"Su..a..mi lo.. sa.. ma.. gue?"
"Suami lo sama gue?" pekik Alesha tanpa sadar.
Gavin dan beberapa petani sawah mengalihkan pusat perhatian pada Alesha. Gavin menatapnya sebentar, kemudian ia mengikuti arah pandang cewek itu. Dia melihat Nana sedang tersenyum manis di samping Zafran.
Cewek itu melambaikan tangan pada Gavin seraya berkata terima kasih. Gavin melebarkan matanya sempurna. Tak menyangka jika Nana akan mengambil resiko besar.
Gavin kembali menoleh ke Alesha. Namun sayang, cewek itu sudah tidak ada di tempat. Gavin menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Alesha.
"Cari cewek tadi, Mas?" tanya salah satu petani.
"Iya, Pak."
"Dia pergi ke sana," petani itu menunjuk ke tanaman tomat, alias mendatangi Zafran dan Nana.
Gavin semakin terkejut. Ia sudah berjanji untuk tidak menyatukan Nana dan Zafran pada Alesha, tapi ternyata Nana sendiri lah yang beraksi.
"Mohon maaf, Pak. Untuk pertanyaan selanjutnya kita lanjutkan nanti. Saya juga sudah mendapatkan foto penanamannya."
Petani itu mengangguk. "Oh iya nggak papa."
"Kalau begitu saya permisi." Gavin pamit undur diri.
Di sisi lain, Alesha berjalan dengan langkah besar. Ia menggulung bajunya ke atas lengan.
"Ambil kesempatan dalam kesempitan, ya?"
"Gak akan gue biarin!"
"Lihat aja, sebentar lagi babak belur wajah lo ditangan gue."
"Nana licik!" umpatnya.
Nana tak menyangka jika Alesha akan mendatanginya. Cewek itu panik. Sebelum Zafran mengetahui jika istrinya sedang menuju ke arahnya, ia buru-buru menggandeng tangan Zafran dan membawanya lari sejauh mungkin.
"Apaan sih! Lepas!"
"Maaf, Pak. Kita lanjut nanti ya. Kita buru-buru soalnya saudara saya kecelakaan."
"Oh iya, Nak. Keselamatan saudara kalian lebih penting."
*Baik, Pak. Kita pamit undur diri."
Zafran tak tau apa yang telah terjadi. Tapi mendengar perkataan Nana tentang kecelakaan, ia pun jadi panik.
"Saudara lo? Siapa, Na?" tanya Zafran khawatir.
"Nanti gue jelasin, yang penting kita harus pergi dulu dari sawah ini."
"Oke, lewat sini." Karna Zafran mengira pernyataan Nana benar adanya, ia pun percaya dan segera mungkin ia menolong saudara cewek itu.
Bagaimana pun juga, saudara Nana sudah ia anggap sebagai saudaranya.
Alesha semakin terkejut melihat Zafran berlari sembari menggandeng tangan Nana. Seolah-olah mereka tau jika dirinya mengejar mereka, dan Zafran nampak ketakutan.
Tiba-tiba saja, Alesha berhenti di tengah-tengah sawah. Hatinya mencelos begitu saja. Suaminya berlari bersama wanita lain di depannya.
Tanpa sadar, satu bulir air mata jatuh ke pipinya.
"Zafran..."
...***...
__ADS_1