
Nana mendapat kabar bahwa Alesha berada di dalam UKS sekolah. Gavin sedang berada di toilet, jadi Nana bisa memiliki sedikit waktu untuk kabur.
Entah apa yang membuat Gavin tidak mengizinkan Nana bertemu Alesha, padahal kan niat Nana itu baik.
Nana sedikit berlari. Sesampainya di UKS, Nana mengintip di jendela. Hanya ada Alesha di dalam sana.
Nana membuka pintu. Dia masuk ke dalam. "Permisi," ucapnya.
Alesha mendongak. Kedua alisnya menyatu. "Kenapa?"
"Boleh gue bicara sama lo?"
Alesha mengerutkan keningnya. Terakhir kali mereka bertemu, Nana telah membuat masalah besar, dan sekarang Zafran dan Alesha sedang tidak baik-baik saja, lalu apa yang akan di lakukan cewek itu?
"Gue tau lo pasti marah sama gue," Alesha belum memberikan izin, tapi Nana sudah mengatakannya.
"Gue minta maaf udah buat lo kecewa sama Zafran. Sebenarnya Zafran sama gue nggak ada apa-apa. Gue sengaja berbuat seperti ini karna suatu alasan."
"Alasan apa?"
Alesha mendengarkan alasan Nana. Dia juga penasaran apa yang membuat Nana berbuat sampai seperti itu.
Nana menatap Alesha lekat. Dia mengambil ponsel dari dalam saku. Kemudian memberikannya pada Alesha.
"Lo baca sendiri semua pesan yang ada di dalam hp gue. Lo akan tau."
Alesha ragu menerimanya, tetapi jika dia tidak mengeceknya, Alesha tidak akan tau apa yang terjadi, kan? Maka dari itu, Alesha mengambilnya.
Matanya terbuka lebar. Begitu banyak pesan-pesan spam. Dia menatap Nana. Nana mengedikkan bahu.
Alesha membaca satu persatu pesan. Salah satu pesan di dalam sana, membuat hati Alesha hancur.
Hancurkan hubungan Alesha dan Zafran!
Alesha menggeleng tak percaya. Dia menatap Nana. Nana terdiam. Dia ingin Alesha memahami situasinya sendiri.
Jauhkan Zafran dari Alesha, kalau tidak. Ibumu akan mati. Nasib keluargamu ada ditanganku.
Alesha menutup mulutnya. "Na, ini...?"
Nana mengangguk. Dia duduk disamping Alesha. "Maaf, Na. Gue lakuin itu karna gue sayang keluarga. Gue nggak mau kehilangan mereka. Perusahaan gue udah bangkrut." Nana menunduk, dia menutup wajahnya.
Alesha meneguk salivanya. Dia mengerti bagaimana kesulitan Nana menghadapi cobaan yang sangat berat ini.
"Kalau lo bilang dari awal, lo nggak akan berbuat seperti ini, Na."
Nana mengusap air matanya. Dia memandang Alesha dengan wajah sedih. "Lo nggak ada diposisi gue, Sha. Kalau lo jadi gue, apa yang akan lo lakukan? Gue yakin, lo akan melakukan hal yang sama, karna lo nggak mau kehilangan keluarga lo, kan?"
Nana benar. Jika Alesha ada di posisinya, pasti dia akan melakukan hal yang sama. Dia mengelus punggung Nana yang bergetar. Nana menangis.
"Maafin gue, Sha. Sebenarnya gue nggak tega lakuin ini ke Zafran. Ya, dulu emang gue punya perasaan ke Zafran dan buat persahabatan kita hancur. Tapi gue sadar, Zafran tetaplah Zafran. Dia tidak bisa gue miliki."
"Zafran buat gue sadar, kalau perasaan gue sendirilah yang membuat persahabatan kita hancur. Awalnya gue mau memperbaiki persahabatan kita bertiga, tapi ternyata niat baik gue dirusak seseorang."
__ADS_1
Nana mengusap air matanya. "Dan sekarang, gue malah hancurin hubungan kalian."
Alesha menggeleng. Dia mengelus lengan Nana. "Semua bisa diperbaiki, Na. Lo akan terbebas dalam benang merahnya asalkan kita tau siapa pelaku di balik semua ini. Apa lo sudah tau siapa pelakunya?"
"Gue udah tau."
"Siapa?"
Nana mendongakkan kepala. Menatap Alesha dengam tatapan bingung. "Lo nggak tau?"
Alesha mengerutkan keningnya. "Nggak," sahutnya.
"Gue pikir Zafran udah ngasih tau lo."
"Zafran?"
Nana mengangguk. "Beberapa hari yang lalu, Gavin bawa video bukti pelaku yang udah buat gue hampir mati. Ternyata dia adalah orang yang sama yang menyuruh gue melakukan perbuatan buruk ini, Sha."
Alesha melotot. Bagaimana bisa Zafran tidak memberitahukan kepadanya hal sepenting ini. Ini adalah akar dari permasalahan mereka.
Alesha menggenggam kedua tangan Nana. Dia menatap Nana lekat. "Na, kasih tau gue siapa orangnya?"
"Lo siap denger nama pelakunya?"
Alesha menjadi bimbang. Ucapan Nana seolah-olah mengatakan jika pelakunya berada di dekatnya.
Alesha menghembuskan napas panjang. Dia mengangguk yakin. "Gue siap!"
Nana mengangguk. Jika Zafran belum memberigahukan yang sebenarnya, maka Nana lah yang akan menyampaikan kebenarannya.
"Dia adalah..."
"NANA!!!" Pintu di dorong keras oleh seseorang. Alesha dan Nana terkejut. Mereka menoleh ke arah pintu.
"Martha?" sahut Alesha.
Napas Martha tersengal-sengal. Dia membungkuk menyentuh lutut. Mengelap keringatnya yang menetes.
"G-gavin..."
Mendengar kata Gavin, Nana berdiri. "Ada apa dengan Gavin?"
"Gavin nyari lo, Na." Martha menatap Nana dengan tatapan tajam.
Nana meneguk salivanya. "G-gavin kenapa?"
"Kata Gavin.. huh.." Nana mengambil napas panjang. "Mama lo sekarat."
Nana membulatkan matanya sempurna. Dia tidak melanjutkan kalimatnya, Nana bergegas berlari. Ini tidak boleh terjadi. Mamanya harus sembuh. Nana tidak mau kehilangan Mamanya.
Nana menyenggol bahu Martha dengan keras. Melewatinya begitu saja.
"Nana, siapa pelakunya? Lo belum ngasih tau gue!!" teriak Alesha. Dia berlari mengejar Nana, namun dicegah oleh Martha.
__ADS_1
Martha memegangi punggungnya. "Sha, tolong gue.." Martha membungkuk lemah. Dia memegangi pundak Alesha.
Alesha khawatir dengan keadaan Mama Nana. Tapi melihat sahabatnya yang kesakitan, dia juga tak bisa meninggalkannya.
"Bawa gue ke rumah sakit, Sha."
Alesha mengangguk tanpa pikir panjang. Jika Alesha membawa Martha ke rumah sakit yang sama dengan Mama Nana, dia akan lebih tenang.
"Iya, ayo kita ke rumah sakit."
Nana berlari tergesa-gesa. Dia tidak peduli berapa banyak bahu yang disenggol. Matanya tak berhenti mengeluarkan air mata. Napasnya sesak, dadanya bergetar hebat mendengar berita ini.
Tubuh Nana ditahan seseorang. Nana membola, dia menggeret orang itu untuk pergi bersamanya. "Gavin, ayo cepat kita ke Mama."
Di belakang Gavin, ada Zafran, Laka, dan juga Ferdi yang kebetulan lewat.
Kedua alis Gavin menyatu. "Kenapa Mama lo?" kekhawatiran merasuki Gavin.
Nana berkedip cepat. "Kenapa pake nanya sih, kan lo sendiri yang bilang Mama gue sekarat!!" suara Nana terdengar naik satu oktaf. Nana ingin pergi, tapi Gavin menariknya lagi.
"Apa maksud lo? Kapan gue bilang gitu?"
Nana menghentikan tangisannya. Dia menatap Gavin tak percaya. "G-gue denger dari Mar... tha.." suara Nana semakin pelan. Dia mendelikkan mata mencerna kejadian ini.
"Vin..?" Martha menatap Gavin kosong.
"Martha kata lo?"
Nana mengangguk. Dia menoleh ke arah sumber suara. Dia Zafran. Cowok itu menerobos ke tengah-tengah Nana dan Gavin.
"Di mana Alesha?" Zafran bertanya. Cowok itu memegang pundak Nana kuat.
"D-dia di.."
"Di mana? Jawab gue, Nana!"
Jantung Nana berdetak dua kali lebih cepat.
"JAWAB!!"
Nana tersentak. Dia menunjuk koridor yang searah di UKS.
"Dia di UKS sama Martha."
Zafran tak bicara banyak. Dia segera berlari ke UKS. Begitu juga dengan Laka, Ferdi dan juga Gavin. Nana terdiam seperti patung.
Dia meresapi kejadian beberapa menit lalu. Nana menjambak rambutnya sendiri.
"A-apa yang gue lakukan!!"
Nana beralih menatap punggung mereka. Dia segera pergi menyusul Zafran.
Rahang Zafran mengeras. Tangannya terkepal kuat.
__ADS_1
"Kalau Alesha dalam bahaya, gue nggak akan maafin lo!" gumamnya.