Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
65. Tidak Masuk Sekolah


__ADS_3

Semalam Zafran tidak pulang. Alesha semakin memiliki pikiran negatif yang seharusnya tidak bermanfaat. Tapi itu semua karna ulah cowok itu yang tidak menjawab pertanyaan terakhirnya.


Sikapnya yang keterlaluan membuat Alesha menangis semalaman. Mata bengkak serta hidungnya memerah seperti tomat.


Dia menatap wajahnya di depan cermin. Dia mengusap matanya yang masih mengeluarkan air. Alesha menarik napasnya dalam. Terus menerus ia hembuskan pelan. Sebisa mungkin ia harus tenang.


Alesha tidak mungkin berangkat sekolah dengan keadaan yang seperti ini. Dia pun melangkah ke dapur. Mengambil es kotak dari dalam kulkas.


Membungkus dengan kain lalu mengompres area yang bengkak. Memang tidak begitu cepat menghilang, tapi setidaknya wajah Alesha tidak sebengkak tadi.


"Poor Alesha," dia terkekeh meratapi nasibnya. Semenjak kedatangan Nana, hubungannya dengan Zafran bukannya semakin dekat, mereka semakin jauh.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, dan sekarang Alesha berubah pikiran untuk tidak pergi ke sekolah. Lagipula hari ini dia ada jadwal les memasak. Ya meskipun nanti siang sih.


"Gue izin sakit aja, deh."


Alesha meraih ponselnya. Kemudian menghubungi Martha. Tanpa menunggu lama, cewek itu mengangkatnya telponnya.


"ALESHA!! LO KEMANA AJA SIH? DARI KEMARIN NGGAK ADA KABAR TIBA-TIBA NINGGALIN GUE GITU AJA DI KANTIN SENDIRIAN. SOPAN KAH ANDA BEGITU?!"


Alesha menjauhkan ponselnya dari telinga. Matanya membola. Suara Martha membekas di telinga. Alesha menepuk jidat mengingat kejadian kemarin.


"Ya ampun Mar. Gue lupa kalau lo lagi beli es."


"Wahh dasar anak cantik!" ingin mengumpat, tapi Martha menahannya. Ingat siapa suami Alesha.


"Tega banget lo lupain sahabat terbaik sepanjang masa ini!"


Alesha meringis. Dia membayangkan bagaimana wajah Martha yang minta dipukul sandal. Pasti dia berekspresi layaknya wanita yang tersakiti sambil memegangi dadanya.


Kini Alesha harus mencari alasan yang tepat supaya Martha bisa memahami keadaannya.


"Em.. kemarin gue sakit perut. Jadi keburu ke toilet dan nggak sempet bilang ke lo."


Terdengar dari seberang sana, Martha menghembuskan napas panjang. "Pasti gara-gara makan sambel dibakso-in!" tebaknya.


Alesha manggut-manggut. "Iya mungkin, Mar."


"Makanya jangan sok-sok makan sambel pedes! Oh gue tau.."


Alesha mengerutkan kening. "Tau apa?"


"Lo itu kena karma, Sha."


"Karma?"


"Karma karna sudah menyiksa penjual lombok yang cantik jelita!"


Seketika Alesha tertawa terbahak-bahak mendengar kelakar Martha. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Perutnya kaku. Jokes Martha benar-benar membuatnya menangis terharu. Martha mengembalikan mood-nya.


"Bisa jadi sih,"


"Minta maaf nggak lo?"


"Iya-iya gue minta maaf."


"Pinter banget, betewe lo udah siap-siap belum? Gue jemput, ya? Kita berangkat bareng."


Alesha menggeleng meskipun Martha tidak akan mengetahuinya. "Gue nggak masuk sekolah, Mar."

__ADS_1


"Lah? Why?"


"Kan lo udah gue bilangin, gue bermasalah sama perut gue," sebisa mungkin Alesha menyembunyikan suara serak basahnya agar tidak terdengar seperti orang yang sudah menangis berjam-jam.


"Oh jadi lo hari ini izin dong?"


"Iya, tolong ya."


"Yah gue sendirian dong, nanti juga ada les masak, Sha."


"Nanti gue ikut les."


"Yaudah kalau gitu, lekas sembuh ya, Alesha."


***


Martha menopang dagunya. Dia sangat bosan di dalam kelas tanpa Alesha. Sudah dua jam pelajaran, tapi dia tak memperhatikan pelajaran.


Diam-diam Martha mengirim pesan pada Alesha. Memberitahukan kepada dirinya bahwa tiga orang di kelas yang sama telah absen.


Alesha menghentikan drakor yang ditonton. Dia mulai tertarik dengan pembahasan kali ini.


To : Alesha Bukan Delona


| Siapa aja Mar yang nggak masuk?


From : Martha Cabe Rawit


| Gavin sama suami lo


Alesha membulatkan matanya. "Gavin? Zafran?"


| Mereka izin kenapa?


From : Martha Cabe Rawit


| Sakit.


Ini bumi yang gempa atau jantung Alesha yang berdetak tak karuan? Pesan Martha membuat pikiran Alesha tertuju pada sosok Nana.


Entah mengapa, Alesha jadi benci Nana. Dia tak peduli jika Nana adalah sahabat Zafran. Ups! Maaf sudah mantan sahabat.


Tapi Alesha jadi penasaran, sebenarnya pelet apa yang membuat Zafran berpihak dan membela Nana tanpa tau kejadian yang sebenarnya.


Jika keadaannya seperti ini, Zafran tidak akan percaya begitu saja pada ucapan Alesha. Mengenai pernyataan Nana kala itu, Alesha semakin gencar untuk mencari pembuktian.


Bukti jika Nana dan Zafran tidak berbuat seperti. Tapi bagaimana caranya? Dia akan membuktikan jika semua ucapan Nana itu bohong!


Alesha tidak punya banyak uang untuk menyewa orang. Namun, dia masih memiliki seseorang yang bisa ia percaya.


Siapakah mereka? Mereka adalah Ferdi dan Laka. Sahabat Zafran itu tau betul tentang masa lalu Zafran dan sifat Zafran yang sebenarnya. Jika Alesha memberitahukan kepada mereka apa yang terjadi. Mereka pasti mau membela dan membantu Alehsa.


Martha menunggu balasan Alesha. Setengah jam lamanya cewek itu tidak membalas.


"Sha! Kok lo nggak bales chat gue lagi?!"


Martha kesal. Niatnya untuk mencari teman dikala sepi, sekarang malah jadi tambah kesepian.


Istirahat di kantin? Ah tidak. Pasti dia sudah kehabisan tempat duduk.

__ADS_1


"ZAFRAN!!" teriakan Ferdi memekikkan.


Martha menutup telinga. Dia melempar penghapus papan tulis tepat diwajahnya. Daerah pipi dan mata Ferdi tercetak kotak hitam kecil.


"Berisik!"


Ferdi menganga lebar. "Lo lagi, lo lagi, suka banget sih lo cari masalah sama gue!"


Martha membola. "Lo yang cari gara-gara! Main teriak-teriakan di kelas orang. Kalau mau teriak tuh di hutan sono, banyak temennya lagi." Saran Martha yang sempurna.


Laka terkikik. Ferdi menatap tajam Laka. "Lak, gue jotos kalau lo ketawa."


Laka refleks menutup mulutnya. "Mana Zafran?" Laka masuk ke dalam kelas. Bertanya pada Adinda.


Adinda menjawab. "Nggak masuk."


Mendengar suara Adinda, Ferdi mengalihkan perhatiannya. "Apa? Nggak masuk? Ada apa gerangan?" ucap Ferdi sok kaget.


"Kenapa?" tanya Laka.


"Izin sakit katanya."


"Sakit? Sakit apaan?" Ferdi memegang pundak Laka. Dia membisikkan sesuatu. "Apa jangan-jangan sakit karna malam pertama ya?"


"Hust! diem!" peringat Laka. Dia sama seperti Ferdi. Tidak tau apa dibalik alasan sakitnya Zafran.


Ferdi menutup mulutnya karna tak bisa menahan tawa. "Si Zafran..."


"Udah bukan perjaka," Ferdi memukul pahanya sendiri. Antara lucu dan sedih. Lucu karna Zafran bisa sejantan itu dan sedih karna meratapi nasibnya yang ingin menikah tapi masih SMA.


Laka geleng-geleng kepala. "Bisa-bisanya pikiran lo menuju kesana,"


"Lah emang gue salah?"


"Bukan lo yang salah, tapi pikiran lo yang kotor!"


Ferdi memukul dadanya. "Sakit hati adek, Bwang!"


"Sok dramatis!"


Ferdi menatap sengit Martha. "Syirik amat lo sama gue? Suka lo sama gue? Ngomong aja!"


Martha membulatkan matanya. "Gue? Suka sama lo?" cewek itu tertawa sumbang. "Sorry lah yaw, nggak level suka sama kembaran monyet."


"Wah minta dikasih pelajaran lo?"


"Nggak perlu, setiap hari gue ada pelajaran. Terjadwal lagi," Martha menunjukkan jadwal pelajaran kelas.


"Pelajaran hidup? Belum kan? Sini gue ajari biar mulut lo nggak cempreng," Ferdi menggulung lengan baju ke atas.


"Idih, nggak sadar diri."


"Emang sengaja lo bikin gue naik darah!!"


Ferdi melangkah mendekati Martha yang menjulurkan lidah. Namun sebelum hal itu terjadi, Laka merangkul leher Ferdi dan membawanya keluar.


"Woy, Lak, gue belum-"


"Berisik! Ikut gue ke rumah Zafran!"

__ADS_1


***


__ADS_2