Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
6. Menjenguk Camer


__ADS_3

Alesha menenteng sepaket buah dalam keranjang. Cewek itu berjalan dengan riang. Sudah lama ia tak sebahagia sekarang. Mengunjungi Mama keduanya. Alesha berharap, semoga kehadirannya bisa membuat Yuni semakin membaik.


Alesha tersenyum disepanjang jalan. Dia berdeham pelan. Sesampainya di depan pintu, Alesha memperbaiki rambutnya. Tak lupa ia juga menyiapkan bunga mawar cantik untuk mempercantik ruangan inapnya.


Alesha mengetuk pintu.


"Masuk," ucap Yuni.


Alesha membuka genggaman pintu. Senyumnya mendadak pudar ketika melihat seseorang yang tak Alesha harapkan. Mood-nya tiba-tiba berubah buruk. Perasaannya menjadi tak senang.


"Kenapa di pintu saja sayang? Sini masuk, gak usah malu sama calon suami," kekeh Yuni.


Alesha memaksakan senyum. Gadis itu masuk dengan langkah berat. Napasnya terhela panjang, "Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," jawab Yuni. Sedangkan Zafran tak mempedulikan kehadirannya. Ia fokus menyuapi bubur untuk Yuni sembari bermain ponsel hingga bubur mengenai pipi Yuni.


Yuni memukul lengan Zafran. "Zafran, jangan gugup gitu ih sama calon istrinya," kekehnya.


Cowok itu hanya memutar bola matanya malas. Mamanya ini sangat suka sekali menggoda.


"Apa kabar, Mama?" Alesha meletakkan buah-buahan di atas nakas, serta bunga mawar ke dalam vas.


"Baik dong, apalagi dijenguk sama calon menantu Mama, perasaan Mama jadi tambah seneng,"


"Alesha seneng dengernya," ucapnya melirik Zafran. Alesha senang karna Mamanya bahagia bukan berarti ia senang bareng Zafran di sini.


Mengingat jika cowok itu sudah menjatuhkan buku tugas dan tidak menolongnya, membuat Alesha sebal.


"Zafran pulang, Ma. Biar dia yang ganti suapin Mama." Zafran menyerahkan bubur pada Alesha. Cewek itu menerimanya.


Zafran beranjak pulang namun dicegah oleh Yuni. "Jangan pulang, temani Mama di sini, Nak."


Permintaan Yuni tak bisa Zafran bantah. Bagaimana pun, dia sangat menyayangi ibunya. Tapi, Zafran tak suka ada Alesha di sini. Meski ia menerima perjodohan ini demi kesehatan ibunya, bukan berarti Zafran menerima kehadirannya di dalam hidup Zafran.


"Zafran ada acara," cowok itu sudah berjanji pada Ferdi dan Laka untuk bermain basket.


Yuni mengerucutkan bibirnya sebal. "Tapi Mama kangen sama Zafran,"


"Zafran setiap hari pasti datang, Ma. Hari ini Mama sama Alesha dulu, Zafran pergi."


Zafran melepaskan tangan Yuni perlahan. Dia menatap Alesha. "Gue titip Mama bentar, ada urusan mendadak."


Mau tak mau Alesha mengangguk. Lantas Zafran pergi. Yuni merasa sedikit kecewa. Secepat mungkin Alesha mendekati Yuni dan memberinya sedikit elusan ketenangan.


"Ih Mama, masak karna Zafran pergi Mama jadi sedih sih. Kan ada Alesha di sini, kita berdua bisa saling curhat tanpa ada Zafran," gumamnya seraya berkedip mata.


Alesha menyuapkan sesendok bubur. Yuni melahapnya dengan tersenyum senang. "Kamu bener Alesha," katanya.


Alesha dengan telaten menyuapkan bubur. Baru pertama kali ini Alesha merasakan bagaimana rasanya merawat seorang Ibu. Alesha berharap Yuni cepat sehat dan mereka bisa bertukar cerita satu sama lain.


"Mama boleh makan apel, kan?" tanya Alesha hati-hati. Karna biasanya orang sakit banyak rintangan makanan.


Yuni mengangguk. "Boleh, kok."


Alesha manggut-manggut. Kemudian memberikan beberapa potongan apel di atas nakas.


"Ceritain tentang sekolah kamu dong sayang, Zafran kalau disuruh cerita selalu nolak, padahal Mama pengen denger keluh kesahnya."


Alesha duduk di samping Yuni. "Alesha udah satu bulan sekolah di sana."


"Oh ya? Cepet banget ya, perasaan kemarin baru dua hari,"

__ADS_1


Alesha terkekeh. "Alesha punya temen namanya Martha, dia itu cerewet ditambah lagi suaranya cempreng buat kuping Alesha sakit, tapi dia selalu temani Alesha suka maupun duka."


Wanita baya itu mendengarkan seksama. "Katanya kamu satu kelas sama Zafran, ya?"


Alesha mengangguk.


"Zafran kalau di sekolah bandel gak?"


"Mama mau cerita jelek dulu atau cerita bagus?"


"Jelek dulu,"


"Zafran itu... anaknya bandel," kata Alesha hati-hati.


Wanita itu tertawa. Alesha pikir, Yuni akan sakit hati mendengarnya. Yuni geleng-geleng kepala. "Zafran, Zafran, dari kecil gak pernah berubah sikapnya."


Alesha membola. "Dari kecil Zafran nakal?"


Yuni mengangguk. "Banget, tapi dia selalu nurut sama orang tua, nakalnya masih diambang kewajaran, jadi Mama gak terlalu nuntut Zafran, biarkan dia dewasa dengan sendirinya," bijak Yuni.


Alesha mengangguk mengerti. Ternyata Zafran adalah anak yang penurut.


"Cerita bagusnya apa?"


"Zafran selalu saingan peringat satu dan dua sama Gavin,"


"Gavin?"


Yuni geleng-geleng kepala. "Dari dulu kok selalu siangannya sama Gavin, gak ada orang lagi apa?"


Alesha mengerutkan dahi. "Mama kenal Gavin?"


"Kenal, anak teman arisan Mama. Setiap kali arisan mereka berdua selalu berantem. Gak pernah akur. Seperti langit dan bumi yang nggak bisa bersatu."


"Pantesan di sekolah, mereka selalu aja cari masalah."


Yuni terkekeh. Bukannya sedih mendengar berita seperti itu, wanita baya itu malah tertawa terbahak-bahak.


......***......


"Hakciuh,"


Zafran menggosok-gosokkan hidungnya yang terasa gatal.


"Pilek lo?"


Zafran menggeleng. "Siapa yang gosipin gue?"


Laka mengangkat bahunya.


Zafran melempar bola ke dalam keranjang, dan masuk. Sedangkan Ferdi masih senantiasa menguap lebar. Bagaimana tidak? Zafran tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan menariknya berdiri dan memaksanya keluar.


Kepalanya pusing tujuh keliling. Sedang bermimpi indah di siang bolong, tapi Zafran dengan gampangnya merusak mimpinya.


Berbeda dengan Laka. Cowok itu sedang mendengarkan musik dengan earphone-nya di depan teras rumah seraya melukis. Saat mobil Zafran tiba di depan rumah sederhananya, Laka langsung menyimpan alat lukisnya yang kebetulan sudah selesai ke dalam ruangan khusus.


Dan di sinilah mereka. Di tempat latihan basket milik mereka yang jauh dari kota. Lebih tepatnya di tengah hutan. Di sana juga terdapat rumah pohon. Mereka bertiga telah membangun tempat ini sejak SMP.


Dekat telaga yang indah. Kadang ketika mereka stres, mereka datang ke sini untuk menyegarkan pikiran. Ketiga cowok itu memiliki kebiasaan masing-masing.


Jika sedang ada masalah. Zafran akan bermain basket dan memasukkan bola ke dalam ring sendirian dengan kasar. Ferdi memanjat rumah pohon dan tiduran di sana. Sedangkan Laka, melukis pemandangan alam, atau bahkan melukis apapun yang ia inginkan.

__ADS_1


Sebagai pelukis, Laka selalu melukis apa yang terekam dalam hatinya sembari mendengarkan musik. Jika sedang kacau, cowok itu akan melukis abstrak, dan hanya pelukislah yang tau apa makna lukisan tersebut.


Zafran memantulkan bola dengan keras. Napasnya terengah-engah. Dadanya naik turun tak menentu. Cowok itu terbaring di lantai. Matanya terpejam. Zafran merasa lelah.


Bola terbang melayang ke atas hingga mendarat di perut Ferdi. Cowok itu serentak bangun. "Atatata!!" Ferdi memukul udara seolah-olah ada musuh yang menginjak perutnya.


Sekali lagi, Ferdi bangun dengan membulatkan matanya. Kepalanya langsung pening. Banyak bayangan hitam mengelilingi kepalanya.


"Zafran, kampret lo!" umpatnya.


Zafran terkekeh mendengar umpatan Ferdi. Ia masih setia menutup mata dengan lengannya. Suasana sore hari sangat menenangkan.


Zafran terbangun. Ia berjalan menghampiri Laka. Terkadang, lukisan Laka mampu membuat hati Zafran tenang. Dia duduk di samping Laka.


"Ada masalah apa lo?"


Zafran mengangkat bahunya. Ia membuka kaleng bergambar bintang 0 persen. Kemudian cowok itu meminumnya.


Laka meliriknya. "Gavin?" tebaknya.


Zafran menggeleng. "Gak ada, gue cuma kepikiran Mama gue."


Laka berhenti melukis. Ia menatap Zafran. "Kenapa Mama lo?"


Cowok itu menarik senyumnya. "Akhir-akhir ini Mama kelihatan lebih bahagia daripada sebelumnya,"


"Seharusnya lo seneng Mama lo bisa melewati masa terpuruknya."


"Gue seneng, tapi ada satu hal yang buat pikiran gue kalut,"


"Tentang?"


"Gue gak bisa cerita sekarang,"


Laka mengangguk mengerti. Zafran bukan orang yang mudah berbagi cerita tentang hidupnya. Tapi, saat Zafran ada masalah, dia pasti akan menemui dan menceritakan semua masalahnya pada sahabatnya. Begitu pula sebaliknya.


Laka kembali melukis. Sedangkan Ferdi kembali tidur karna kepalanya sangat pusing.


"Lak?"


"Hm?"


"Kalau lo tiba-tiba disuruh nikah, gimana?"


"Gue tanya alasannya, kenapa gue harus nikah muda? Kalau alasannya logis, bisa gue terima."


"Kalau alasannya perjodohan?"


"Gak masalah, yang penting gue menikah bukan karna menghamili anak orang," jawab Laka santai.


Zafran menjitak kepala Laka. Cowok itu tertawa mendengar alasan Laka. Apa yang mudah bagi Laka belum tentu mudah bagi Zafran. Mungkin Laka bisa berkata seperti itu karna dia tidak berada di posisi Zafran.


"Kalau lo gimana?" tanya Laka balik.


Zafran mengembangkan senyumnya. "Gue gak mau, kecuali jika Mama yang minta."


Laka menepuk pundak Zafran. "Anak yang baik,"


Zafran memukul lengannya. Lalu keduanya saling tertawa melepaskan kekacauan masing-masing.


"Tapi lo gak beneran dijodohin kan, Zaf?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2