Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
39. Kesengajaan


__ADS_3

Alesha memejamkan matanya di samping ranjang sambil memegangi tangan Zafran dengan erat. Gun, Yuni, dan Delon langsung datang ke rumah sakit setelah mengetahui keadaan Zafran. Namun, saat ini mereka pulang membersihkan diri.


Zafran membuka matanya perlahan. Cowok itu telah lama bangun dari pingsan. Hanya saja sulit untuk membuka mata, tapi ia bisa mendengar suara di luar.


Zafran juga mendengar dan mengetahui apa yang dilakukan seseorang pada waktu ia belum sadar. Ia menggenggam telapak tangan Alesha dengan erat.


Setelah puas menggenggam tangan Alesha, cowok itu melepasnya secara perlahan. Dia bangun dari ranjang dengan hati-hati agar tak mengganggu tidurnya. Cowok itu melepas infus yang tertancap.


Ia beralih mendekati tubuh Alesha. Kemudian mengangkat dan memindahkan tubuh Alesha di atas ranjang agar tidur lebih nyaman.


Cowok itu menaikkan selimut sampai ke leher Alesha lalu mencium keningnya. Dia melepas baju pasien. Kemudian menggantinya dengan baju yang dibawa Alesha.


Setelah itu, dia mengelus kepala Alesha.


"Gue pergi dulu, ada masalah yang perlu gue selesaikan."


...***...


Tanpa mengetuk pintu, cowok itu segera masuk ke dalam ruangan inap yang lain. Seseorang yang tiduran di atas kasur membuka matanya lebar. Lantas ia segera duduk.


"Zafran?"


Zafran melangkah dengan kaki besarnya. Tatapannya tajam dan sinis. Tak ada ekspresi ramah yang ditunjukkan. Otot-ototnya nampak muncul di permukaan tangan.


Zafran melangkah besar menuju ranjang tempatnya di rawat. Cewek itu menjadi was-was. Ia panik ketika Zafran datang padanya dengan raut wajah yang serius.


"Zafran? L-lo ngapain?"


Zafran menyeringai. "Lo tanya gue ngapain?"


Cowok itu menyangga tubuhnya dan sedikit membungkukkan badannya kepadanya. Cewek itu menggeser duduknya hingga ke pinggir ranjang.


"Gue mau bunuh lo, Nana!"


Zafran menarik kerah Nana dengan kuat. Cewek itu melebarkan matanya yang memerah akibat tercekik. Ia memukul lengan Zafran berkali-kali.


"Z-zafran lepasin!"


"Jangan berharap gue lepasin lo."


Nana berusaha sekuat tenaga untuk melepas tangan Zafran. Cowok itu merasa sedikit iba. Ia mengendorkan genggamnya. Cewek itu terbatuk-batuk.


Zafran memutar bola matanya malas. Ia mengalihkan wajahnya. Ia menyilangkan tangan di depan dada. "Lo sengaja kan?"

__ADS_1


"Sengaja?"


Nana mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti maksud Zafran. "Maksud lo, sengaja apa?"


Zafran kembali menatap Nana. Ia menarik pipinya dengan kasar. "Gak usah sok lupa ingatan. Gue tau lo sengaja menabrakkan diri lo ke motor gue, kan?"


Nana membulatkan matanya. Ia menatap Zafran lamat-lamat. Dia terdiam setelah mendengarkan alasan Zafran tiba-tiba marah padanya. Nana termenung. Ia tak percaya, seseorang yang membuatnya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit adalah seseorang yang memang menjadi tujuannya pulang ke Jakarta.


"Lo memang jago bikin skenario."


Tubuhnya seketika menegang. Ia tak menyangka jika Zafran bisa berkata seperti itu padanya, itu artinya Zafran berfikir jika Nana memang sengaja membuat Zafran menabrak dirinya. Padahal, Nana saja tak ingat apa yang terjadi padanya dan ia pun tak tau bagaimana ia bisa berakhir di sini.


"Jadi lo nabrak gue?"


Zafran menghempaskan wajah Nana. Ia tertawa keras mendengar pertanyaan Nana. Cowok itu menyentuh jidat Nana, lalu mendorongnya kuat.


"Gue bukan orang bodoh, Na. Gue tau, lo masih suka kan sama gue?"


"Gue denger semua kata-kata lo saat gue pura-pura tidur. Lo sok-sokan nangis, mau rebut gue dari Alesha, kan?"


"Gue juga tau alasan lo kembali. Alasan lo mau jadi model produk perusahaan. Itu semua karna lo mau deketin gue kembali, kan?"


Nana menarik senyumnya. Ia merubah posisi duduknya. Seakan-akan kemarahan Zafran tak lagi mengangetkannya. Zafran menaikkan satu alisnya, ia sedikit kaget melihat perubahan ekspresi Nana yang berubah santai.


"Kalau emang iya, kenapa?"


Zafran menyeringai. Ia menghempaskan Nana. Ia mendorong Nana hingga terjatuh ke tempat tidur.


"Gue gak akan tergoda sama ****** kayak lo, Na."


"Oh ya? Tapi sayangnya gue gak akan nyerah buat deketin lo, Zafran."


Zafran mengepalkan tangannya kuat. Jika saja Nana itu adalah seorang lelaki, dia pasti sudah babak belur dan mungkin tidak akan bangun dari tidurnya yang sangat panjang.


"Kalau lo mau rebut Zafran, lo harus hadapi gue!"


Zafran dan Nana menoleh serentak. Alesha berdiri dengan tatapan nyalang di ambang pintu. Zafran sedikit terkejut, bagaimana bisa cewek itu tau jika dirinya sedang melabrak seseorang yang ingin menghancurkan pernikahan mereka berdua?


"Sha?" lirih Zafran.


Cewek itu melangkah dengan pelan. Tatapannya sama. sekali tak lepas dari Nana. Cewek itu tetap dalam posisinya, yaitu duduk di kursi ranjang akibat dorongan Zafran. Infus yang tertancap di tangannya mengeluarkan darah.


Cewek itu melewati Zafran begitu saja. Melihat Alesha yang serius seperti ini membuat jantung Zafran berdetak kencang. Ia semakin waspada. Zafran gelisah, ia takut jika Alesha akan berbuat hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Sha?"


Singa yang berubah menjadi kucing. Begitulah Zafran sekarang. Sebelum Alesha datang, cowok itu berani membentak Nana bahkan otot-ototnya muncul. Tapi setelah istrinya datang, jangankan ototnya, nyalinya saja berubah menciut.


Berkali-kali ia mencekal lengan Alesha. Tapi cewek itu menghempaskan tangan Zafran. Alesha mendekati Nana. Cewek itu meneguk ludahnya. Ia mundur sedikit demi sedikit.


"Kenapa lo mundur?"


Alesha menjambak rambut Nana kuat. Cewek itu meringis kesakitan merasakan kepalanya panas dan berdenyut.


"Apa-apaan lo jambak rambut gue?" sahut Nana.


"Apa-apaan kata lo? Lo yang jebak suami gue!!"


Jika ia selalu menasehati Martha untuk tidak mengeluarkan suara cempreng, kini cewek itu yang mengikuti Martha dan mengeluarkan suara cempreng, bahkan lebih cempreng dari Martha.


Jika saja Martha tidak ikut mencari Zafran ketika menjenguk Zafran dan tidak melihat perdebatan kecil mereka berdua, pasti ia tak akan bisa ikut melabrak Nana yang sudah membuat suaminya celaka hanya karna ingin merusak pernikahan mereka.


Nana berusaha melepas tangan Alesha dari rambutnya. "Kalau lo gak ngerti apa-apa jangan sok-sokan ikut campur!"


"Masalahnya gue tau masalah lo, dan itu lo sendiri yang ngomong mau deketin Zafran, suami gue!"


"Ya, gue emang mau deketin Zafran. Tapi gue punya tujuan lain."


"Tujuan untuk menghancurkan kebahagiaannya? Kenapa kurang ajar lo jadi sahabat?"


"Udah gue bilang, kalau lo gak tau tujuan gue sebenernya, jangan ikut campur!"


"Gak ikut campur gimana? Orang lo ngelunjak!"


"Ngelunjak?"


"Lo sengaja menabrakkan diri ke motor Zafran!"


"Mana buktinya?"


Alesha terkekeh. Ia melepas jambakkannya. Ia menepuk tangan memberikan apresiasi pada Nana. Setelah itu ia merubah ekspresi serius dan menampar Nana dengan kuat. Ia menarik dagu Nana.


"Sekali lagi lo berani macem-macem sama suami gue, lo akan tau akibatnya!"


Alesha berbalik. Cewek itu menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum pada Zafran yang menegang. Alesha mendekati wajah Zafran, kemudian mencium bibir cowok itu singkat. Zafran melebarkan matanya sempurna. Alesha mengedipkan mata genit pada Zafran.


"Ku tunggu kau di rumah, sayang."

__ADS_1


......***......


__ADS_2