
Laka membereskan semua alat lukisnya. Ia meletakkan kuas ke dalam bambu yang ia buat sendiri untuk tempat khusus kuas. Semua kain kanvas yang sudah ia coret dengan cat air ia tutupi dengan kain.
Lalu ia mengambil beberapa lukisan yang sudah kering. Ia akan membagikan lukisannya pada anak-anak panti asuhan.
"Lak, lo bawa lima lukisan?"
Laka menoleh. Ia hampir lupa jika Ferdi kini sedang membantunya.
"Hm, lo simpen di mobil."
Ferdi mengangguk. Ia menenteng lima lukisan kecil dan memasukkannya ke dalam mobil Zafran tanpa adanya Zafran.
Ya, Ferdi meminjam mobil Zafran tanpa izin. Ia meninggalkan Zafran yang tengah asik tidur di dalam kamarnya. Awalnya mereka berdua berniat menonton film horror bersama Laka. Tapi ternyata Laka sedang sibuk.
Akhirnya Ferdi dan Zafran berenang di rumah Ferdi. Karna kelelahan, Zafran akhirnya tidur pulas. Tepat saat Ferdi makan siang, Laka menelponnya. Ia meminta bantuan Ferdi untuk mengantarkannya ke panti asuhan.
Laka menyusul Ferdi di belakang sambil membawa kamera. Setelah menutup bagasi, Ferdi masuk ke dalam mobil. Ia melirik Laka sedang memperbaiki kameranya.
"Langsung ke panti?"
"Kita mampir ke Indomaret."
Ferdi mengangguk. Lalu ia melajukan mobil ke tempat tujuan.
...***...
Sesampainya di Indomaret, Laka mengambil troli. Ferdi hanya mengikuti Laka sambil mencomot beberapa camilan.
"Lo beli snack banyak banget," gumam Ferdi bingung.
"Hm." Jawab Laka singkat.
"Buat anak-anak?"
"Hm," sahutnya.
Troli Laka hampir dipenuhi berbagai cemilan. Begitu juga dengan Ferdi, cowok itu tak mau kalah dengan Laka. Tapi bedanya Ferdi membeli untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.
Ia meletakkan cemilan itu dalam bersama troli Laka. Cowok itu melirik Ferdi yang baru saja memasukkan minuman kaleng dingin. Ferdi mengembangkan cengiran lebar.
"Sekalian," ujarnya seraya berkedip beberapa kali.
Laka memutar bola matanya malas. Alhasil semua cemilan Ferdi, ia yang bayar. Tidak apa, Laka tidak marah. Ia justru senang karna Ferdi sudah mau membantunya dengan ikhlas.
Tapi, apakah ini bisa disebut ikhlas?
Laka merasa jika satu troli masih kurang. "Sepertinya butuh dua troli," matanya tak henti-hentinya memandang cemilan yang menumpuk.
Ingin ia meminta bantuan Ferdi lagi, tapi sepertinya cowok itu fokus memilih cemilan yang lebih banyak lagi. Buktinya di genggaman tangannya terdapat snack.
Laka menghembuskan napas panjang. Ia pun geleng-geleng kepala melihat tingkah Ferdi yang mirip seperti anak kecil.
Cowok itu berbalik. Namun tiba-tiba ia membentur sesuatu dengan keras. Bahkan sampai tubuhnya terjungkal ke bawah dan semua barangnya berserakan di lantai.
"Awh," ringis Laka. Bokongnya sakit akibat terbentur lantai.
"Maaf-maaf, gue gak sengaja."
Laka mengernyitkan keningnya. Ia menatapnya penuh kekesalan. Bukankah sudah jelas jika Laka mau lewat? Tapi kenapa cewek itu malah berlari menabraknya?
Cewek itu mengambil beberapa barang Laka seraya menoleh ke belakang beberapa kali. Laka semakin kesal. Sebenarnya cewek itu niat membantu atau tidak?
"Kalau gak lo niat bantu, mending pergi!" dumelnya.
Cewek itu tak mendengarnya. Ia memasukkan beberapa cemilan dengan tidak sabaran. Setelah beberapa dari barang tersebut tidak ada di lantai, cewek itu langsung berlari tanpa aba-aba.
"Woy!!" teriak Ferdi yang tak dihiraukan olehnya.
"Dasar cewek!"
"Udah salah gak minta maaf!"
Ferdi hanya menatap punggungnya dengan tatapan penuh amarah tanpa melepaskan makanan yang ada ditangannya. Cowok itu bahkan lebih peduli pada snacknya daripada membantu Laka memungut barangnya.
__ADS_1
Laka menghembuskan napas panjang. "Mending lo bantuin gue daripada teriak-teriak gak jelas."
...***...
Zafran bangun dari tidur. Ia mencari-cari ponselnya di atas kasur.
"Kayak bukan kasur gue?"
Zafran duduk di ranjang. Ia memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pening. Pandangannya hitam karna baru bangun tidur langsung terduduk.
Nyawanya belum terkumpul sempurna. Cowok itu mengedipkan matanya beberapa kali seraya mencerna suasana ini.
"Ini bukan kamar gue!"
Zafran segera berdiri. Matanya berkeliling mencari pemilik rumah, yaitu Ferdi.
"Di mana si monyet?"
"Gue telpon aja."
Zafran mencari nomor telepon Ferdi. Beberapa saat kemudian, Ferdi mengangkatnya.
"Di mana lo?"
"Panti Asuhan As-Sofyan. Gue bawa mob-"
Zafran mematikan telepon sepihak tanpa mendengarkan kalimat Ferdi selanjutnya. Lalu ia mencari kunci mobilnya di kamar Ferdi hingga kamar cowok itu berantakan.
Meski sudah membuang sprei, bantal, guling dan beberapa barang pribadi milik Ferdi hampir sepenuhnya, tapi tetap saja Zafran tidak menemukan adanya kunci mobil di dalam kamarnya.
"Bang*sat. Kunci mobil gue di mana?"
Zafran mengacak rambutnya. Badannya terasa panas, bulir keringat menetes di dadanya. Padahal ac rumah Ferdi menyala.
Zafran mengecek ponselnya sekali lagi. Di sana ada pesan yang belum di baca.
**Ferdiam berisik!
Zafran meremas ponselnya. Jika ia tau dari awal, Zafran sudah pulang dari tadi naik taksi.
"Awas aja lo habisin bensin gue!"
...***...
Ferdi menutup pintu mobil dengan keras. Ia menatap bangunan yang ada di depannya cukup lama. Lalu ia menatap punggung Laka dengan tatapan penuh haru. Ia tau apa yang dirasakan Laka saat kakinya melangkah masuk ke dalam.
"Lo pasti rindu sama mereka," dengan senyum yang mengembang, Ferdi pun akhirnya ikut masuk ke dalam.
Cemilan yang dibayarkan oleh Laka, ia bawa ke dalam. Memang awalnya Ferdi ingin memakan itu semua sendiri, tapi setelag melihat tawa anak-anak panti asuhan yang sangat gembira karna kedatangan Laka, hatinya terketuk.
Ia pun ingin merasakan kebahagiaan saat ia memberikan semua makanannya kepada mereka.
"Halo anak-anak semua," semua menoleh mendengar suara cempreng miliknya. Suasana yang tadinya ramai mendadak diam seketika. Mereka menatap Ferdi datar.
"Siapa Kakak itu?"
"Nggak kenal,"
"Tapi dia bawa makanan,"
"Ingat kata Kak Laka, jangan mau terima hadiah dari orang lain."
Laka terkekeh mendengar bisikan mereka yang menggosipi Ferdi. Sedangkan Ferdi menunjukkan ekspresi cemberut.
"Perkenalkan, dia-" ucapan Laka terpotong.
"Perkenalkan, nama gue Ferdi, gue sahabat karibnya Laka yang sangat baik hati dan paling ganteng." Ucap Ferdi dengan senyuman manis.
"Gantengan Kak Laka," sewot Sarah yang menikmati cemilan Laka.
Senyum Ferdi memudar. Bisa-bisanya ana remaja yang begitu cantik itu mengatai dirinya lebih jelek dari Laka? Sedangkan Laka menaikkan alisnya beberapa kali.
"Sialaan!" gumam Ferdi pelan.
__ADS_1
"Ekhem, Kak Ferdi bawain kalian cemilan juga loh,"
Mereka kembali menatap Ferdi tanpa berniat menerima hadiahnya.
"Kata Bu Panti nggak boleh terima hadiah dari orang yang nggak di kenal," kata Agar.
"Tapi kan kita baru kenalan," kata Ferdi.
"Kita? Perasaan dia sendiri yang memperkenalkan diri," ketus Sarah.
Sialaan nih anak, beraninya dia bicara kayak gitu ke gue dengus Ferdi dalam batin.
Laka menepuk pundak Sarah. Anak itu meliriknya. "Minta maaf," tegasnya.
Sarah mendengus pelan. Kemudian ia membungkukkan badan sekali. "Sarah minta maaf."
Ferdi terenyuh melihatnya. Anak remaja berumur 13 tahunan begitu penurut. Kemudian Ferdi pun mengangguk kecil.
"It's oke."
"Dia Ferdi, sahabat Kak Laka. Niatnya baik memberikan kalian makanan ringan, dia bukan orang lain. Kalian boleh menerimanya." Ucap Laka dengan sangat lembut. Ini pertama kalinya Ferdi mendengar kalimat bijak yang terucap dari mulutnya.
"Boleh, Kak?"
Laka mengangguk. Setelah itu mereka menerima pemberian Ferdi dengan riang gembira. Mereka pun sedikit demi sedikit menerima kehadiran Ferdi. Ditambah lagi, mereka semakin bahagia dengan adanya jiwa pelawak Ferdi. Kecuali satu orang, yaitu Sarah.
Entah mengapa Sarah terlihat sangat tidak suka padanya.
"Sok ganteng!"
"Emang gue ganteng," sahut Ferdi tak mau kalah.
Laka geleng-geleng kepala. Ia sangat hafal bagaimana sifat Sarah. Jika Sarah disandingkan dengan Ferdi, pasti dunia tidak baik-baik saja. Karna mereka akan selalu beradu mulut.
"Bad girl vs cempreng boy." Kelakar Laka.
Cowok itu masuk ke dalam kantor ibu panti. Dia mengetuk pintu. Ibu panti mempersilakannya masuk.
"Lama tak jumpa, Laka." Mina memeluk Laka dengan sangat erat.
"Iya, Bu Mina."
"Silahkan duduk."
Laka mengangguk. Ia duduk di kursi tamu.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Bu."
"Masih suka melukis?"
"Iya, kebetulan saya bawa sebagian lukisan saya. Saya memberikan lukisan ini untuk hiasan dinding ruang belajar anak-anak panti."
Mina tersenyum haru. Mina menerima lukisan karya Laka dengan senang hati.
"Terimakasih, Nak Laka."
"Sama-sama, Bu. Ngomong-ngomong, saya mau tanya kabar tentang adik saya. Apa ibu sudah tahu? Keluarga mana yang mengadopsi adik saya?"
Mina memudarkan senyumnya. Mina menggeleng pelan. "Maaf, Nak Laka. Ibu belum tau. Jika saja waktu itu Ibu tidak jatuh sakit, pasti Ibu tidak akan menyerahkan Anarka pada orang lain," kata Mina penuh penyesalan.
"Ibu merasa bersalah."
Laka tersenyum. Ia mengangguk kecil. "Jangan merasa bersalah, Bu. Ini bukan kesalahan Bu Mina. Ini kesalahan Laka yang tidak bisa menjaga adik Laka."
"Bu Mina jangan khawatir, insyaallah Laka akan mencari Anarka sampai ketemu."
"Apa kamu bisa? Kalian berpisah sejak berumur 5 tahun."
"Bisa. Kita Adik Kakak. Laka pasti akan menyadari jika kita bertemu nanti."
...***...
__ADS_1