
"Lo cuma masak ini doang?" Zafran menatap makanan yang tersaji di atas meja sembari menggeret kursi.
Alesha mengangguk. Ia melepas celemeknya dan meletakkannya ke samping kursi yang kosong.
"Iya, soalnya nanti gue bekal."
"Tumben lo bawa bekal."
"Hm,"
Alesha mencentongkan nasi ke dalam piringnya dengan beberapa lauk yang ada. Kemudian ia langsung makan dengan nyaman tanpa menghiraukan Zafran yang memberikan piringnya untuk diambilkan makanan. Namun cewek itu malah asik makan sendiri.
Zafran berkedip lambat. Tangannya senantiasa menengadah. "Sha?" sindirnya dengan wajah sok sedih.
Alesha menikmati makannya sampai ia lupa mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Sha?"
"Hm?" Alesha mendongak. Ia menatap bengong piring Zafran sembari mengunyah makanannya pelan.
"Nasi gue?"
"Nih," Alesha menggeser bakul nasi. "Ambil aja, gak usah malu-malu," gumamnya.
Zafran menarik sudut bibirnya. Bibirnya berkedut. "Gue ambil sendiri?"
"Hm," Alesha telah menghabiskan makanannya. Cewek itu kemudian membawa piring serta sendoknya ke dapur.
Zafran tersenyum miris. Sepertinya cewek itu lupa jika ia memiliki suami. Setelah mencuci piring, cewek itu lalu mengambil tasnya dan berlalu pergi. Karna terlalu bahagia, cewek itu buru-buru berangkat tanpa pamit.
Mata Zafran terus mengikuti jejak Alesha. Wajahnya menatap tingkah istrinya dengan tatapan cengo.
"Gue diabaikan?"
...***...
"Hai Mar? Udah lama nunggu?"
Martha menggeleng, ia membukakan pintu untuk Alesha. "Baru sampai."
"Thanks," ucapnya diangguki Martha.
"Suami lo gak papa kan kalau lo berangkat bareng gue?" Martha menatap kediaman Zafran was-was. Takut jika ia akan diamuk cowok itu seperti dulu.
"Nggak papa, kemarin malam gue udah izin."
Martha bernapas lega. Ia mengelus dadanya. "Syukurlah," lalu ia masuk ke dalam mobil dan menutupnya dengan keras.
"Lo udah coba resep masakan gue?"
Martha mengangguk antusias. Ia menatap Alesha dengan tatapan berbinar. "Gue yakin lo gak bakal percaya kalau ini gue yang masak, Sha."
Alesha merubah duduknya sedikit ke samping menatap Martha. "Dari cara bicara lo, pasti berhasil?"
__ADS_1
Martha menahan senyumnya. Ia mengangguk malu. Alesha bertepuk tangan ria. Ia ikut tersenyum bahagia. Cewek itu menunjukkan bekal pada Alesha.
Dia membuka penutupnya. Dari aromanya, Alesha bisa memastikan jika itu adalah aroma makanan yang sangat enak.
"Dari aroma aja enak, pasti rasanya enak."
Martha menutup penutup bekalnya. "Iya dong, dari resep siapa dulu?"
"Dari Alesha," ucapnya dengan nada irama.
Martha dan Alesha terkekeh geli.
......***......
Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang. Biasanya Alesha akan turun di halte, tapi saat ini, ia turun di depan gerbang.
Martha membuka pintu, pertama ia turun terlebih dahulu setelah itu barulah Alesha. Cewek itu beralih ke depan. Tempat di mana supir yang mengendalikan mobil Martha.
"Terima kasih ya, Pak." Ucap Alesha sopan santun.
Pria setengah baya itu mengangguk saja. Beliau tidak mengeluarkan suaranya. Meski begitu, Alesha tetap berterima kasih. Setelah keduanya turun, pria itu melajukan mobilnya menjauhi pekarangan sekolah.
Martha dan Alesha masuk ke dalam gerbang. Mereka menoleh saat mendengar deru motor yang tak asing di telinga mereka.
Cowok itu meng-gas motornya beberapa kali layaknya anak jalanan. Dia menatap tajam kedua orang ini, mereka berdua mundur beberapa langkah memberikan jalan untuk cowok itu yang terlihat menyombongkan motornya.
"Bisa-bisanya sama istri sendiri sok gak kenal," dumel Martha memeluk bekalnya.
Alesha mengedikkan bahunya. Ia tau maksud Zafran seperti itu karna ia tak mau mereka tau jika Zafran dan Alesha memiliki sebuah hubungan khusus.
"Sha, jangan gitu. Lo udah kayak bawa peliharaan tau gak!" tegur Martha mengerucutkan bibirnya sebal.
Alesha terkekeh kecil. Ia menghentikan kegiatannya, lalu berjalan berdampingan di samping Martha. Alesha merangkul pundak Martha.
"Kenapa sih lo bawa bekalnya di depan dada. Kan bisa ditaruh di tas," seru Alesha.
"Nggak. Gue gak mau tas gue bau."
"Tadi lo taruh tas kan?"
"Iya, cuma sebentar. Karna gue sembunyikan dari nyokap. Kalau mereka tau gue bawa bekal hasil masak sendiri, gue pasti di ketawain."
"Kok bisa?" tanya Alesha penasaran.
"Bisalah, gue kan anak mami. Keras kepala, manja, gak pernah pegang alat dapur, eh tau-tau bawa bekal hasil masakan sendiri. Ntar dikira gue punya pacar lagi." Cerocosnya dengan suara khas.
"Emang lo gak punya?"
Martha melirik tajam Alesha. "Cewek mahal kayak gue harus pilih-pilih sebelum dapet pacar," katanya.
"Tipe lo kayak gimana?"
"Yang penting gak kayak Ferdi. Setiap hari kuping gue bisa sakit kalau punya pacar kayak dia!"
__ADS_1
Bibir Alesha berkedut. Ia memegang pundak Martha. Cewek itu menoleh sambil mengangkat satu alisnya. "Kenapa?"
"Apa yang tidak lo harapkan, itu terjadi sama gue, Mar."
"Zafran cerewet?"
Alesha menggeleng. "Bukan Zafran, tapi lo." Ungkap Alesha dengan wajah tersenyum.
Martha terkekeh. Ia memukul lengan Alesha. "Nggak mungkin! Orang gue punya suara merdu."
Cewek itu mendengus pasrah. Jika ia terus menjawab, Martha akan terus ngomel tanpa henti karna tidak terima jika dia di cap sebagai pemilik suara ter-cempreng.
"Terserah," sahut Alesha.
Mereka berdua refleks berhenti saat bertemu dengan Gavin dan juga seorang gadis yang bersama dengannya. Melihat cewek itu, Alesha teringat kejadian waktu di rumah sakit. Di mana Martha juga menyaksikan ungkapan perasaan gadis itu untuk Zafran.
"Sha?" bisik Martha.
"Santai, kalau dia masih bisa dikendalikan, gue gak bakal macem-macem." Gumamnya pelan.
Gavin maju beberapa langkah menuju Martha. Cowok itu menarik seringaian smirk padanya. Martha mengerutkan keningnya. Dadanya kembang kempis mendapati tatapan tajam seorang Gavin.
Sudah lama ia tak pernah berkomunikasi dengannya semenjak kejadian nasi goreng asin waktu itu, dan kini mereka bertemu kembali ditambah dengan gadis baru.
Ralat.
Bukan gadis baru, tapi sahabat lama Gavin. Cowok itu menatap Martha mulai dari bawah ke atas. Tatapannya tertuju pada bekal miliknya.
Gavin terkekeh. Ia memandang rendah Martha. "Jangan memaksakan diri untuk hal yang gak akan pernah bisa lo gapai!"
Gavin merebut bekal milik Martha. Alesha termenung. Tak mengerti apa maksud Gavin mengambil bekal Martha.
"Terserah lo mau ngomong apa, apapun yang gue inginkan harus gue capai. Termasuk bisa membuat makanan lezat." Dengan beraninya Martha membalas ucapan Gavin.
Cewek itu merebut bekalnya kembali. Namun Gavin mengangkat bekal itu tinggi-tinggi. Martha berdecak kesal. Tak biasanya Gavin jahil seperti ini. Apalagi di depan gadis itu, yang mereka tau namanya adalah Nana.
Murid baru yang untungnya tidak sekelas dengan mereka. Cewek itu hanya berdiam diri melihat aksi Gavin. Seakan tak peduli dengan aktivitas Gavin. Sesekali ia melirik Alesha yang juga meliriknya.
Hanya sebentar, karna Alesha mengalihkan wajahnya. Martha terus berusaha mengambil bekalnya. Cewek itu menghentakkan kakinya kesal.
"Gavin! Lo apa-apaan sih, sini balikin bekal gue!" Martha melompat-lompat, tapi tetap saja tingginya tak setara dengan dengan tinggi badan Gavin.
"Balikin?"
Gavin mendorong tubuh Martha dengan keras. Beruntung Alesha menjaga tubuh Martha agar tidak jatuh. Cewek itu menatap tajam Gavin.
"Gavin!" sergah Alesha.
Gavin menampilkan senyum smirk. Ia membuka bekal Martha, dan membuang seluruh isi bekalnya ke lantai. Martha dan Alesha melebarkan matanya sempurna. Martha yang memasak dengan susah payah demi menunjukkan rasa masakannya pada Alesha agar ia bisa belajar lebih baik lagi harus musnah seketika.
Martha menutup mulutnya tak percaya. Seluruh tubuhnya lemas seketika. Bahkan Gavin melempar wadah bekalnya ke sembarang arah. Lalu cowok itu pergi bersama Nana tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"B-bekal gue??"
__ADS_1
...***...