Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
55. Kesalahpahaman Pasutri


__ADS_3

Cewek itu menyeduhkan air panas ke dalam gelas kaca. Warna air yang putih berubah menjadi sedikit coklat kemerahan. Minuman tersebut biasa disebut teh. Teh kotak yang kebetulan di bawa oleh Laka.


Malam hari yang dingin membuat teh Laka begitu laris. Entah mengapa cowok itu membawa banyak kotak, tapi ia juga tidak protes karna tehnya hampir ludes tanpa dibayar.


Gara-gara pemandangan yang tidak menyenangkan tadi pagi, dahi Ferdi menjadi korbannya. Korban dari palu kayu yang lepas dari tangan Alesha.


Alesha tidak mau menjadi seorang pembunuh karna itu. Maka dari itu, ia dengan kebaikan hatinya mau merawatnya. Tidak peduli jika sejak tadi ia mendapatkan lirikan tajam dari sang suami.


Tapi, karna ia takut berdosa, jadi ia membuatkan teh juga untuknya dan juga beberapa temannya.


Total ada 5 teh.


"Mar, tolong bantuin bawain teh Laka sama Ferdi."


Dengan meminta bantuan Martha, Alesha bisa membawakan teh dengan cepat dan mudah.


"Oke," Martha membuang bekas teh ke tempat sampah lalu meraih nampan yang Alesha siapkan.


Alesha menatap datar Zafran. Cowok itu selalu memperhatikan aktifitas Alesha tanpa berkedip. Kadang Alesha sedikit risih.


Alesha berdeham. Kemudian ia mendekati meja dan meletakkan nampan di depan Zafran.


"Sini Mar, biar gue aja yang ngasih ke Ferdi sekalian ngompres jidatnya pakai es."


Zafran mencekal lengan Alesha. Tapi matanya menusuk ke arah Martha. "Bisa lo yang lakuin itu?"


Martha tau itu akan menjadi tugasnya. "Hm," jawabnya tak ikhlas.


"Kenapa? Kan gue yang salah."


"Gue gak suka,"


"Lo pernah bilang ke gue kalau kita harus bertanggung jawab atas perbuatan yang kita buat?"


Zafran mengangguk.


"Itu artinya gue yang harus rawat Ferdi karna keningnya gak mungkin benjol kalau bukan karna palu kayu gue," desak Alesha.


Padahal saat mengobati kepala Ferdi, cewek itu semakin melampiaskan kemarahannya dan malah membuat Ferdi semakin sengsara.


"Sudah lo lakukan, kan?"


"Dia masih-"


"Bisa lo nurut suami?"


Alesha bungkam. Sepenting apapun kebaikan yang harus ia lakukan untuk orang lain, jauh lebih penting untuk menuruti perkataan suami.


Cewek itu memutar bola matanya malas, kemudian ia menuangkan teh ke lepek. Setelah itu ia menyeruput teh sedikit demi sedikit.


Di sisi lain, Ferdi menolak pertolongan Martha yang sedikit memaksa. Ralat, bukan sedikit, tapi sangat amat memaksa.


"Gue kompres, Fer."


"Nggak mau," Ferdi bersembunyi di balik tubuh Laka. Cowok itu berdecak kesal tapi masih sabar.


"Mau aja lah, biar gue gak di hajar sama si Japran."


"Lebih baik lo di hajar daripada gue ya lo hajar,"


"Heh, gue mau obatin benjolan lo doang." Martha berusaha meraih tubuh Ferdi. Tapi Ferdi malah mengarahkan kepala Laka padanya, sehingga rambut Lakalah yang tertarik Martha.


Martha segera melepasnya. Ia nyengir lebar. "Eh, maaf, Ka. Lo salahin Ferdi aja,"


Laka hanya memutar bola matanya malas. Ia jadi tak tenang membaca novel.

__ADS_1


"Sini lo!"


"Gak, keluar lo!"


"Gak, gue bakalan tetep di dalam sini sampai gue berhasil selesaikan misi."


Di lihat dari luar, tenda mereka bergoyang-goyang. Banyak arah perhatian orang-orang yang sedang berkumpul di api unggun tertuju ke arah tenda mereka.


Ditambah lagi suara cempreng Ferdi dan suara Martha yang jadi satu di dalam tenda membuat beberapa orang yang tidur di petang ini terbangun. Termasuk Bu Jainab dan Pak Jen.


Alesha saja tidak kuat berada di dekat tenda mereka. Ia dan Zafran sedikit menjauh dari sana. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana nasib Laka yang ada di dalam bersama mereka. Pasti telinganya akan tuli beberapa hari kedepan.


"Gara-gara lo mereka berisik. Mana suaranya mirip kembang api."


"Gue yang salah?" Zafran menunjuk dirinya sendiri.


"Iyalah."


"Cowok selalu salah."


"Kemarin lo bilang nggak mau ikut, tapi kenapa tiba-tiba muncul di depan gue? Ngobrol sama si Nana lagi," dumel Alesha.


"Gabut," sahutnya singkat.


"Ditanya apa jawabnya sembarangan."


Zafran menoleh cepat ke Alesha. "Terserah gue lah, gue yang jawab."


"Gue gak terima jawabannya."


"Yaudah itu urusan lo,"


"Ada apa ini rame-rame?"


Semua orang menoleh melihat Pak Jen keluar dari tendanya. Mereka semua minggir ke pinggir dan memberikan Pak Jen pemandangan tenda Ferdi yang super berisik.


Pertanyaan Pak Jen diangguki mereka semua.


"Iya, Pak. Martha sama Ferdi yang gaduh di dalam tenda," jawab Lestari.


Tanpa aba-aba, Pak Jen langsung melangkah pergi ke tenda mereka.


"Ngapain mereka di dalam tenda berduaan, ya?" tanya Vina yang penasaran.


"Mana gue tau," jawab Lestari.


"Gue lempar es batu tau rasa lo,"


"Lempar aja."


"Nggak takut kepala lo tambah benjol?"


"Gak, kan ada kepala Laka," Laka meliriknya tajam , Ferdi nyengir kuda.


Laka menarik napas. Ia menjulurkan tangan di depan Martha.


"Serahin ke gue, lo keluar."


Martha terdiam sejenak. Ia meletakkan es batu besar ke dalam wadah.


"Tapi Zafran nyuruh gue, Ka."


"Lo tenang aja, gue yang bakal urus."


Martha bernapas lega. Ia pun menyetujuinya. Kemudian menyerahkan alat p3k pada Laka.

__ADS_1


"Oke, gue serahin si monyet ke lo. Karna besok dia ada pertunjukan di desa sebelah."


"Sialan lo, Mar."


Martha menjulurkan lidahnya. Tepat saat ia membuka tenda, wajah Pak Jen muncul dari luar. Pak Jen dan juga Martha saling pandang. Mereka saling berkedip cepat.


"Ada apa, Pak?"


Laka dan Ferdi menoleh. Mereka menatap Pak Jen keheranan. Pak Jen mendadak lupa apa tujuannya kemari. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Enggak ada, lanjutkan."


...***...


Setelah mencuci gelas bekas teh, ia menata gelas seperti sedia kala. Kemudian kembali ke tenda. Suasana perkemahan sunyi, hanya ada beberapa orang saja yang masih bertahan di dekat api unggun sambil bernyanyi.


Di saat ia melangkahkan kaki menuju tenda, seseorang menarik dan menutup mulutnya agar ta berteriak. Alesha terkejut, tapi sayang kekuatannya tak sebanding. Ia hanya bisa mengikuti langkahnya saja.


Alesha tak tai siapa dia, tapi Alesha berharap seseorang merasakan jika ia sedang diculik.


Siapapun tolong gue, teriaknya dalam batin.


Gadis itu di bawa di dekat pohon. Lalu ia ditahan oleh kedua tangan yang tadi membisukannya.


Alesha terkejut saat melihat siapa orang itu. Dia menutup bibirnya dengan jari telunjuk. Alesha refleks mengangguk.


"Diem,"


Cowok itu menatap sekelilingnya. Tidak ada siapapun di sekitar mereka.


"Kenapa lo culik gue?" bisiknya.


"Sengaja," sahutnya.


"Padahal lo bisa kan temui gue di depan tenda."


"Lo mau kita ketahuan? Hm?"


Alesha meleleh. Bagaimana tidak, tatapan Zafran sangat lembut. Ditambah lagi ia mengelus pipi Alesha dengan sayang.


Saat Zafran mengusap bibirnya, ia merasa tersengat listrik. Ia seakan di bawa terbang melayang oleh kupu-kupu.


Zafran menatap mata Alesha lekat. Begitu juga dengan Alesha. Cewek itu mendadak gugup setengah mati.


"Gue tau, lo marah kan karna gue bilang batal ikut tapi malah ngobrol sama Nana?"


Alesha mengalihkan wajahnya yang merah. Zafran terkekeh, ia menarik dagu Alesha untuk menatapnya.


"Jawab gue, Alesha."


Pipi Alesha semakin memerah.


"Hm," sahutnya singkat.


"Maaf, gue salah."


Zafran menarik sudut bibirnya, dan tanpa aba-aba, cowok itu mencium bibir Alesha. Cewek itu tak menolak. Ia menerima ciuman Zafran dan membalasnya.


Di malam yang dingin ini, kedua pasutri muda itu menghabiskan waktu bersama dibalik pohon di belakang perkemahan. Mereka berbincang-bincang dan bercanda setelah kesalahpahaman terjadi.


Hal itu membuat seseorang terbangun dari tidurnya. Ia memandang pemandangan yang membuatnya tak bisa menyendiri. Niatnya menjauh dari area kemah supaya ia bisa tenang, tapi Gavin malah mendapati hal yang tidak menyenangkan.


"Sok romantis," umpatnya. Kemudian ia berdiri dan pergi seraya memasukkan tangannya ke dalam saku.


Bibirnya tertarik membentuk senyuman. "Semoga langgeng."

__ADS_1


...***...


Jangan lupa bersyukur hari ini ✨


__ADS_2