
"Nana?"
"Hai, Zafran. Kita ketemu lagi." Nana melambaikan tangannya pada Zafran.
Cowok itu mendatarkan ekspresinya. Kemudian melangkah mendekati Gun. Ia berdiri di samping Gun. Zafran memperbaiki jasnya, lalu menjulurkan tangan pada sosok pria di samping Nana.
"Zafran," ujarnya.
Pria itu menjabat Zafran. "Denta, wakil direktur Rum's Entertainment." Ucapnya diangguki Zafran. Keduanya melepaskan jabatannya.
Nana menjulurkan tangannya sembari tersenyum. Ia memperkenalkan diri dan menjabat tangan Zafran terlebih dahulu.
"Nana Datuwani," serunya.
Zafran mengangguk kemudian dia berkata, "Zafran," ia juga memperkenalkan diri dan menganggap mereka baru pertama kali bertemu.
Dalam dunia bisnis, Zafran harus profesional. Ia tidak boleh menganggap Nana sebagai teman atau sahabatnya. Melainkan rekan kerja yang akan bekerja sama dengan perusahannya.
Jika saja ia tau klien yang akan bekerja sama dengan perusahannya menyangkut Nana, lebih baik ia pulang ke Jakarta. Daripada harus membuang waktunya.
Zafran duduk di samping Gun. Beberapa makanan sudah terhidang di atas meja makan.
"Sebelum kita membicarakan tentang kerja sama kita, lebih baik kita makan dulu," pinta Gun.
"Baik," jawab mereka.
Mereka melahap makanan dengan hikmat dan tenang. Sesekali Nana melirik Zafran. Namun cowok itu sama sekali tidak meliriknya.
Nana mendekati Denta. "Pak Denta, tolong yakinkan Zafran untuk menjadikan saya sebagai model produk mereka," bisiknya pelan.
Denta mengangguk. Sebagai wakil direktur agensi model yang bergengsi di Bali, tentunya Denta akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendatangkan keuntungan bagi agensi.
"Pasti, karna produk keluaran mereka, kini sudah menjadi trending nomor lima di Twitter. Apalagi kalau kamu jadi modelnya, pasti akan naik jadi trending satu."
Nana mengembangkan senyum bahagia. Dia tidak sabar menjadi model produk Zafran. Dia akan memiliki kesempatan emas untuk mendekati Zafran.
Zafran menampilkan senyum smirk saat mengunyah makanan penutup. Dia tidak akan terkecoh dengan publisitas Nana yang sedang naik daun. Karna perusahaannya akan terus maju walaupun tanpa memakai kepopuleran model Nana Datuwani.
...***...
Kedua anak dan bapak itu menggeret masing-masing koper mereka menuju pesawat. Seto hanya bisa mengantar mereka sampai sini, karna ia harus mengurus urusan bisnis yang lain.
"Kamu bisa kembali, Seto. Jangan lupa pesan saya untuk kirim semua catatan pengeluaran proyek villa di email Zafran." Tutur Gun.
Seto mengangguk. "Siap, Pak."
"Kamu sudah punya alamat emailnya?"
Seto menggeleng. "Belum, Pak Zafran belum mengirimkan alamat email beliau." Kata Seto dengan sopan.
Gun menatap Zafran. Cowok itu tengah fokus pada ponselnya. Ia mengetikkan pesan menggunakan jari dengan kecepatan seperti kilat.
Pasti dia mengabari Alesha yang sudah beberapa hari ini tidak jumpa, pikir Gun sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Dasar anak muda," sindirnya.
Kemudian pria itu kembali menoleh ke arah Gun. "Nanti biar saya yang ngirim," ia menepuk pundak Seto berkali-kali.
Seto mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baik, Pak-" Seto melirik ponselnya yang bergetar. Ia segera membukanya. Satu pesan Line masuk.
Senyum Seto mengembang. "Sudah dikirim, Pak." Seto menunjukkan alamat email Zafran.
Gun mengerutkan keningnya. Ia melirik pesan tersebut. Kemudian mengalihkan wajahnya pada Zafran. Diam-diam cowok itu mendengarkan percakapan mereka berdua dan mengirimkan alamat emailnya dengan segera.
Pria baya itu tertawa melihat tingkah anaknya yang sok tidak peduli padahal peduli. Ia menepuk lengan Zafran beberapa kali. "Bagus," pujinya.
Zafran menghela napas pelan. "Zafran bukan anak kecil lagi, Pa."
Gun semakin terkikik. Seto pun menahan tawanya.
Pesawat dengan tujuan Jakarta akan segera lepas landas tiga puluh menit lagi.
Zafran dan Gun bersiap-siap.
"Kalau begitu saya permisi," pamit Seto membungkukkan badan bagian atas.
Zafran dan Gun juga membungkukkan badan bagian atas mereka sebagai bentuk terima kasih.
"Mohon bantuannya, Pak Seto." Ucap Zafran.
Akhirnya mereka berdua pun berjalan ke arah pesawat dengan hati gembira, karna mereka akan bertemu dengan istri mereka.
Teriakan seseorang membuat Zafran dan Gun membalikkan badannya. Kedua alis Zafran menyatu melihat Nana berlari ke arahnya.
Cewek itu berhenti dengan napas yang ngos-ngosan. Ia menjulurkan tangan di depan Zafran.
"Selamat jalan, semoga kita bisa bekerja sama di lain waktu," ucap Nana disertai senyuman.
Zafran senantiasa menyimpan tangannya. Ia menaikkan satu alisnya. "Bukannya lo mau ke Jakarta juga?"
Nana mengangguk. "Tangan gue capek, Zaf."
Zafran mendengus pelan. Ia menjabat tangan Nana sebentar lalu melepasnya.
"Minggu depan gue baru balik, sekarang belum. Karna gue masih harus fashion show di sini."
Zafran manggut-manggut sambil ber'oh' ria.
Nana pun menjabat tangan Gun. "Semoga selamat sampai tujuan, Om."
Gun mengangguk. "Aamiin, terima kasih. Semoga sukses acara show-nya. Sayang sekali kami masih belum bisa bekerja sama. Semoga kedepannya, kita bisa kerja sama."
"Iya, Om. Akan saya pastikan hal itu terjadi."
...***...
Alesha mendengus kesal berkali-kali. Ia sangat kelelahan mengikuti langkah Martha yang tak ada habisnya. Mulai dari pusat belanja, bermain game, melihat perhiasan, dan bahkan toilet.
__ADS_1
Meskipun sesaat menyenangkan, tapi jika mengingat Zafran akan pulang, Alesha menjadi kepikiran. Takut jika saat Zafran pulang, Alesha tidak ada di rumah.
"Mar, udah yok. Gue capek. Hari ini Zafran otw pulang."
Martha menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Alesha. Dia memegang kedua pundaknya. "Justru karna Zafran mau pulang, lo harus having fun dulu sama gue. Karna kalau si do'i lo pulang, gue yakin kita nggak bisa main bebas!"
Martha masih terngiang-ngiang sifat Zafran yang menakutkan kala itu. Hal itu mampu membuat Martha tak bisa tidur akhir-akhir ini.
Martha takut jika nantinya Zafran akan melarang Alesha main dengannya. Apalagi, dulu Zafran ditinggal di atas genteng saat Alesha bermain bersama dirinya hingga membuat cowok dengan badan kekar itu jatuh sakit.
Alesha mengerutkan keningnya. "Nggak akan, Mar. Lagian Zafran bukan orang yang akan larang gue main, asalkan gue harus izin terlebih dahulu."
Martha mengerucutkan bibirnya sebal. Andaikan Alesha tau bagaimana rasa ketakutan Martha terhadap Zafran. Martha pikir, Zafran akan baik-baik saja dan tidak akan menjadikannya korban karna ia adalah sahabat Alesha.
Tapi ternyata pikiran Martha salah. Beberapa hari yang lalu, ia tak sengaja sudah menganggu ketenangan pagi Zafran dengan menyuruh Alesha datang pagi-pagi.
Martha juga tidak kepikiran jika Alesha sudah menjadi istri seorang bad boy kelas kakap. Kalau saja ia tidak menyuruh Alesha, pasti ia tidak merasa terancam oleh Zafran.
Alesha mengelus punggung. "Udah lo tenang aja. Kita bakalan aman, kok."
Martha menghembuskan napas panjang. Ia mengangguk pelan. Ia percaya pada Alesha. Adanya Zafran tidak akan memisahkan persahabatan antara dirinya dan Alesha.
"Gue percaya sama lo, Sha."
Alesha mengangguk. "Gue pasti marah kalau nanti Zafran larang gue main sama lo."
Martha terkekeh pelan. Ia kembali menggandeng tangan Alesha.
"Zafran mau pulang kan, Sha?"
Alesha mengangguk.
"Kalau gitu, lo harus menyenangkan suami lo."
"Menyenangkan suami?" tanya Alesha. "Gimana caranya?"
"Ajak dia buat cimol."
Alesha berpikir sejenak sembari memegangi dagunya. Lantas ia menatap Martha. "Kalau gitu, kita cari bahannya."
Martha mengembang senyum. Sarannya diterima Alesha.
"Beli tudung nasi juga, Sha. Biar Zafran gak pake mantel."
"Tudung nasi buat apa?"
"Buat nutupin wajan,"
Mata Alesha berbinar. "Oh, biar ledakannya aman, kan?"
Martha manggut-manggut. Ia bangga menjadi sahabat yang berguna.
...***...
__ADS_1