
"Tambah 3 poin," ujar Ferdi ngos-ngosan.
Ferdi men-drible bola, menggiringnya hingga ke ring. Ia melakukan kegiatan tersebut sendirian sembari menunggu pesanan mie ayam yang sedang dibelikan Laka.
Sedangkan Zafran memejamkan matanya di dalam rumah pohon. Padahal sedari tadi Ferdi sudah mengeluarkan suara emasnya, namun cowok itu tampaknya sangat malas turun dari rumah pohon.
Alhasil Ferdi bermain sendirian.
Cowok itu melemparkan bola sampai mengenai rumah pohon. "Zafran. Woy bangun lo, Monyet!"
Zafran berdecak kesal. Dia menggulingkan tubuhnya ke arah sebaliknya. "Berisik, gue mau tidur gak tenang!" ketusnya.
Lagi-lagi Ferdi melemparkan bola dan berteriak lebih kencang. Namun tetap tak ada jawaban dari Zafran. Cowok itu bahkan menutup telinganya rapat-rapat.
"Zafran! Temenin gue main bola bekel!"
"Woy!"
"Turun lo, Monyet!"
"Ayo main,"
Ferdi berhenti sejenak. Ia mengambil pasokan udara.
"Tega lo biarin gue dalam kesepian," ucap Ferdi sok sedih seraya mengusap air mata ghoib.
Di atas sana mata Zafran melebar selebar-lebarnya. Rasa kantuknya benar-benar hilang akibat teriakan Ferdi. Jika seorang perempuan bersuara cempreng itu Martha, seorang laki-laki yang memiliki pita suara cempreng itu adalah Ferdi.
"Kalau Ferdi dan Martha adu mulut, gue yakin poli THT bakalan penuh." Zafran memijit kepalanya yang pusing.
Telinganya tak lagi mendengar kericuhan Ferdi di bawah sana. Keningnya membentuk beberapa kerutan. Walaupun penasaran setengah mati, tapi Zafran kembali memposisikan dirinya untuk rebahan.
"Syukurlah,"
Suara langkah kaki menapaki tangga. Zafran tak peduli, ia melanjutkan tidurnya yang tertunda. Matanya terpejam.
"Keren juga rumah pohonnya,"
Zafran mendengar suara Alesha. Apakah ini efek rasa pusing kepalanya sehingga ia berhalusinasi? Tapi suara itu terdengar sangat nyata ditelinga Zafran.
Zafran geleng-geleng kepala.
"Laka, kita makan di sini, kan?"
Suara ini tidak sama seperti suara sebelumnya. Lebih cempreng dan memekikkan telinga. Mirip dengan suara Ferdi versi cewek.
"Bangun woy!" Zafran merasa mengalami lucid dream. Dia bisa mengatur dan merasakan mimpinya sendiri. Bahkan tubuhnya terasa tersentuh dengan nyata.
Alesha geram karna Zafran tak menghiraukan panggilannya. Cewek itu sudah membangunkannya beberapa kali, tapi Zafran masih saja tetap tidur.
Alesha mendekati telinga Zafran. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian berteriak dengan keras.
"ZAFRAN BANGUN!!"
Mata Zafran melebar sempurna dan ia langsung terduduk. Kunang-kunang pun langsung memutari kepalanya.
Zafran menoleh ke arah Alesha. Cewek itu nyengir kuda sembari menunjukkan dua jarinya.
"Alesha!" tegur Zafran tegas. Bukannya takut, Cewek itu malah mencubit pipinya dengan gemas.
"Budeg amat sih suamiku ini. Susah dibangunin."
Zafran melepaskan tangan Alesha. "Kok bisa lo di sini?"
Alesha menoleh ke arah Laka. "Di suruh Laka,"
Laka yang mendengar namanya langsung menoleh serentak. Ia menaikkan satu alisnya pada Alesha. Bisa-bisanya dia memutar balikkan fakta.
"Gak, bukan gue. Alesha sendiri yang ngebet ikut."
"Apaan! Kalau gue gak ikut, lo ancam mau buang hp gue. Ya kan, Mar?" Alesha mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Martha menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Iya, gue saksinya."
"Lak?" Zafran memberikan tatapan intimidasi untuk Laka.
Laka mengembuskan napas panjang. "Kebalikannya."
Zafran melirik Alesha. Cewek itu membalas dengan tersenyum padanya, kemudian ia membuka dua bungkus mie ayam.
"Bukannya lo pesen satu bungkus ya, Sha?" tanya Martha.
"Iya, tapi Zafran gak mau yaudah buat gue aja." Katanya melirik Zafran.
Cowok itu berdecak pelan, lalu merebut mie ayam dari Alesha. "Gue mau!"
...***...
"Zafran!!" teriak Alesha memenuhi ruangan.
"Apa?" jawab Zafran yang sedang rebahan di kasur.
"Bocor."
"Bocor?" ulangnya. Zafran penasaran. Ia segera turun dari ranjang dan bergegas ke dapur. "Apa yang bocor?"
"Zafran!"
"Bentar." Zafran mempercepat langkahnya. Teriakan Alesha membuatnya panik.
"Kenapa sih lo teriak-teriak?"
"Bocor," Alesha berlarian kesana-kemari sambil membawa timba.
"Apa yang bo... cor?"
Zafran memelankan suaranya saat melihat begitu banyaknya jumlah kebocoran genteng rumahnya. Hampir di setiap sudut rumah terdapat genangan air turun.
Di luar hujan sedang turun deras, dan kebocoran genteng semakin merebak. Zafran termenung. Baru pertama kalinya ia melihat rumah bocor.
Memang setelah menikah, ia ingin tinggal berdua di rumah sendiri. Tapi ia tak tau jika rumah yang ia beli ternyata bocor. Zafran sedikit menyesal telah memilih rumah ini.
Alesha memberikan beberapa timba dengan cepat. "Cepetan, keburu banjir nih rumah!"
Zafran tersentak. Ia tersadar jika air sudah hampir memenuhi ruangannya. Lantas Zafran berlari dan menampungkan air di timba.
"Kenapa bisa bocor, Sha?"
"Gentengnya."
"Genteng?" Zafran refleks melihat ke atap. "Nggak kelihatan."
"Lo gak tau kalau gak naik ke genteng, besok lo perbaiki gentengnya!"
"Hah? Mana bisa gue!"
Alesha berhenti di depan Zafran. "Lo mau rumah kita tenggelam?"
Zafran menggeleng.
"Makanya besok lo harus naik genteng!"
...***...
Zafran menggeret tangga dengan wajah yang cemberut. Alesha benar-benar memaksanya naik ke atas untuk memperbaiki genteng yang rusak. Tentu saja Zafran menolak, karna hal itu bukanlah ahlinya.
Tapi apa ia bisa membantah Alesha? Tidak. Bahkan cewek itu mengancamnya dengan mengadu ke Yuni. Tentu saja Zafran tidak setuju, karna ia tak mau mendengar omelan Yuni.
"Jangan diseret Zafran! Diangkat dong!"
"Cerewet,"
"Berisik tau. Sakit kuping gue dengernya."
__ADS_1
"Pakai headset sono, dengerin musik."
Alesha manggut-manggut. Lalu ia memasang headset di kedua telinganya dan mendengarkan musik sekencang mungkin.
Zafran meletakkan tangga, ia membenarkan posisinya. Kemudian menapaki satu persatu tangga. Dia tak mengerti permasalahan genteng, tapi karna otaknya cerdas, Zafran yakin ia bisa mengatasinya.
Zafran naik ke atas. Sedangkan Alesha memegangi tangga dari bawah seraya mendengarkan musik. Setelah Zafran sudah naik ke atas, ia memperbaiki satu persatu tangga.
Alesha menghadap atas, hanya sebentar karna ia langsung bersin.
Hakciu!
Alesha menggosok hidungnya, dia mundur beberapa langkah ke belakang agar tak terkena percikan genteng yang jatuh.
Alesha sangat menikmati musiknya. Ia berbalik memunggungi Zafran.
Tak membutuhkan waktu lama, Zafran berhasil memperbaiki genteng, kini saatnya ia turun ke bawah.
"Alesha,"
Alesah tak mendengar panggilan Zafran akibat musik yang keras.
"Woy!"
"Alesha!"
"Gara-gara musik nih pasti kupingnya jadi bumpet."
Berkali-kali Zafran memanggilnya tetap tidak ada jawaban. Cowok itu mendengus pelan saat kepala Alesha naik turun mengikuti alunan lagu. Zafran pun pasrah, ia akan turun tanpa bantuan Alesha.
Zafran turun sedikit demi sedikit untuk mencapai tangga, namun nahas, saat turun cowok itu tak sengaja menyenggol tangga hingga tangga tersebut jatuh ke samping.
Zafran melebarkan matanya sempurna. "******!"
"Gimana caranya gue turun?"
Alesha yang sudah terhanyut dalam musik pun melupakan jika saat ini Zafran sedang di atas genteng. Ketika ia mendapatkan pesan dari Martha yang mengajaknya jalan-jalan, Alesha langsung menyetujui.
Dia berbalik ke belakang bersiap masuk ke dalam rumah. Wajah Zafran berbinar akhirnya Alesha datang untuk membantunya turun.
Kaki Alesha tak sengaja melihat tangga yang jatuh. Keningnya berkerut. "Kok ada tangga di sini?"
Senyum Zafran semakin mengembang. Ia memanggil nama Alesha seraya melambaikan tangannya. "Hei, lihat gue di sini!"
"Alesha cantik, kembalikan tangganya dong."
Alesha menatapnya lamat-lamat, kemudian bahunya bergedik ke atas. "Bodo amat lah,"
Bagaikan petir di siang bolong, senyum Zafran langsung memudar mendengar satu kalimat singkat yang keluar dari mulutnya.
"Sialan! Bantuin gue, Sha!"
Alesha melangkah masuk ke dalam. Zafran membola. Cewek itu benar-benar meninggalkannya sendirian di tengah teriknya matahari yang sedang menjulang tinggi. Panasnya menyengat membuat kulit Zafran mengeluarkan banyak keringat.
"Alesha!!" teriak Zafran frustasi.
"Tolongin gue, Sha!"
"Istri kurang ajar lo!"
"Woy Alesha, jangan tinggalin gue!!"
"Seenggaknya lo lempar hp gue ke sini,"
"ALESHA!!!"
Dan begitulah akhir dari kisah Zafran yang harus meratapi nasibnya. Alesha telah pergi meninggalkannya sendirian. Yang bisa Zafran lakukan sekarang hanyalah merenungkan diri sendirian di atas genteng yang tinggi tanpa adanya seorang teman.
"Gini amat nasib gue sebagai suami."
...***...
__ADS_1