
Senja berwarna jingga menghiasi langit sore. Rona merahnya menambah pesona keindahan alam. Pemandangan yang sungguh menakjubkan sulit untuk dilewatkan.
Langit oranye bercampur merah merekah. Semesta alam memiliki keajaiban yang sangat luar biasa. Tidak ada orang yang tidak suka senja.
Langit merah menemani dua insan yang sedang bersendau gurau di dalam mobil. Menikmati perjalanan sembari bergandeng tangan. Merasakan kehangatan satu sama lain.
"Hari ini mau makan apa, Sayang?"
Zafran menolehkan wajah. Menatap semburat rona merah yang bersemu di wajahnya. Cowok itu menarik sudut bibirnya. Hatinya berbunga. Sudah lama ia tak melihat senyuman manis dari bibir ranum wanitanya.
Alesha mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Gelanyar aneh menyetrum tubuhnya. Perutnya serasa di penuhi kupu-kupu terbang.
Pipinya terasa panas. Kedua telapak tangannya menyentuh kulit tipis wajahnya. "Apasih kok panggil sayang-sayang?"
"Kenapa? Emang nggak boleh?"
"Bukannya nggak boleh, t-tapi.., malu!!" Alesha memukul lengan kekar Zafran.
Zafran terkekeh. "Nggak perlu malu, kamu kan istriku."
Alesha menoleh ke arah Zafran dengan cepat. "K-kamu?"
Senyuman sabit terpatri di wajah tampannya. Telapak tangannya menyentuh dan mengelus surai rambut Alesha. Kemudian meraih tangan mungil itu dan menciumnya sayang.
"Cantik, ya?" Zafran menatap senja.
Lagi. Rona merah semerah tomat bersemu. Pipinya kembali memanas. "Makasih,"
"Langitnya." Sahut Zafran singkat.
Senyum Alesha memudar. Dia menyesal baper duluan. Padahal Alesha sudah senang dipuji cantik oleh Zafran. Ternyata itu ditunjukkan untuk keindahan langit sore.
Alesha menarik tangannya kembali. Alesha menghembuskan napas panjang. Dia pun memandang langit. "Hm, iya," singkatnya.
"Jadwal photoshoot sudah dibatalkan, hari ini aku mau meminta waktumu sebentar. Kita sudah lama tidak berduaan, kan?"
Gadis itu mengangguk.
"Sebagai ganti permintaan maaf, aku bawain kamu bunga." Zafran menghentikan mobilnya. Dia mengambil buket bunga mawar yang sangat cantik di kursi belakang.
Alesha menutup mulutnya tak percaya. Binar dimatanya menyentuh hati Zafran. "Zafran i-ini?"
Zafran mengelus surai rambutnya. Dia menyerahkan bunga itu pada Alesha. "Maafkan aku ya, Sayang."
Matanya berkaca-kaca. Ia menerima buket bunga dari Zafran. Kepalanya ia anggukkan beberapa kali. "Iya, maafin aku juga."
Zafran mengangguk. Dia menarik Alesha ke dalam pelukannya. Zafran menciun puncak kepalanya.
"I love you,"
"Love you more."
***
__ADS_1
Alesha tak henti-hentinya menatap Zafran yang sedang memotong daging. Melihat wajahnya yang serius, membuat dadanya bergetar.
Matanya sangat indah. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, serta alisnya yang sedikit tebal menambah pesona ketampanannya.
Beruntung sekali dia dijodohkan oleh sang ayah dengan lelaki setampan dan segagah ini. Alesha tidak menyesal menikah dengan Zafran. Alesha juga tak menyesal menerima perjodohannya dengan Zafran. Alesha tidak menyesal sudah menikah di usia muda, asalkan dia adalah Zafran.
Apapun rintangan yang akan ia hadapi di masa lalu, sekarang dan nanti, Alesha tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan berjuang mempertahankan rumah tangganya bersama Zafran.
"Alesha..?"
Zafran mengibaskan jemari di depan mata Alesha. Cewek itu masih terpaku pada ketampanannya.
"Alesha!!" sedikit penekanan. Namun berhasil membangunkan Alesha dari lamunannya.
Alesha berkedip cepat. Dia berdeham seraya duduk tegak. "Hm?"
Zafran terkekeh. Melihat istrinya salting, seru juga. "Udah aku potongin, kamu tinggal makan."
Bibirnya melengkung. Dia menganggukkan kepalanya. "Terimakasih, Zafran."
"No!"
Alesha mengerutkan keningnya.
"Jangan panggil Zafran."
"Kan namamu Zafran," sahutnya.
"Panggil Sayang."
Kini Zafran mengerti bagaimana Alesha selalu merona ketika dipanggil dengan sebutan sayang. Ternyata seperti ini rasanya. Zafran serasa ingin terbang melayang ke langit ke tujuh.
Pipinya bersemu merah. Cowok itu menunduk menyembunyikan rasa malunya.
"Salting gue anj-"
Zafran menutup wajahnya. Terasa sedikit panas. "Ah, bisa gila gue!"
Alesha tak mempedulikan apa yanh Zafran lakukan sekarang, dia menikmati daging sapi masakan chef profesional dengan hikmat. Dagingnya terasa sangat empuk. Bumbunya meresap sempurna.
Ketika sampai di mulut, Alesha seakan dibawa terbang. Rasanya benar-benar sempurna. Belum pernah ia memakan daging lezat ini.
Jika Alesha bertemu chef yang membuat makanan ini, dia ingin bertemu. Ingin meminta resep dan memasaknya.
"Zafran," panggilan Alesha menyadarkan Zafran. Zafran menetralkan ekspresi gilanya. Dia mendongak. Alesha menatapnya dengan mata yang berbinar.
Sial*n, cantik banget.
"Y-ya?"
"Lo-" Alesha menghentikan ucapannya tatkala mendapati pelototan Zafran.
"Eh, maaf. Maksudnya kamu tau siapa koki yang memasak daging ini?"
__ADS_1
Zafran menggeleng. "Nggak," bohongnya.
Nyatanya Zafran sangat mengetahui siapa orang yang ada dibalik masakan seenak ini. Dia adalah chef yang menjadi instruktur di kelas memasak yang Alesha ikuti.
Jika Zafran tau sejak awal, chef tempat Alesha memasak itu Gavin. Zafran tidak akan mengizinkannya.
Alesha mengerucutkan bibirnya. Dia mendengus. "Sayang sekali, padahal aku pengen belajar masak masakan ini,"
Zafran tidak peduli dengan wajah imut Alesha. Dia akan mendatangkan chef terkenal lainnya jika Alesha mau belajar masak makanan yang istimewa. Asalkan orang itu bukanlah Gavin.
"Kebetulan gue ada di sini."
Alesha dan Zafran menoleh serentak. Alesha dengan wajah keterkejutannya. Sedangkan Zafran dengan wajah mengamuknya. Disaat-saat romatis ini, Gavin malah memunculkan wajahnya dihadapan mereka.
Sangat tidak berperikeromantisan. Mengganggu waktu mereka berdua saja.
Zafran mengepal. Dia menatap Gavin nyalang. Namun yang ditatap mengangkat bahunya acuh.
"Lo mau belajar masakan ini?"
Alesha mengangguk antusias. "Iya, gue mau."
"Sha," Alesha menatap Zafran.
"Apa?"
"Kamu nggak boleh belajar sama dia!"
Gavin mengangkat satu alisnya. "Kamu?" dia menutup mulutnya menahan tawa. Gavin terkikik pelan.
"Kamu? Zafran menyebut kamu? Biasanya juga lo gue," gumam Gavin sangat pelan, tetapi bisa didengar oleh Zafran.
"Pergi, Vin! Lo ganggu!"
Gavin mengeluarkan sebuah kontak nama. Lalu memberikannya pada Alesha. "Kalau lo mau belajar secara pribadi, lo boleh datang."
Gavin berlalu pergi sebelum Zafran merusak tempat mahal ini. Gavin menatap Zafran dari atas ke bawah lalu ia menarik sudut bibirnya.
Hal itu mampu membuat Zafran semakin memanas. Tapi dia tidak mau merusak acara keromantisan mereka. Zafran mengambil pasoka. udara banyak-banyak.
"Tenang, tenang."
"Boleh?"
Zafran menatap Alesha dengan senyuman merekah. Dia mengelus kepalanya. Alesha senang mendapati sikap manis Zafran. Itu artinya Alesha boleh..
"NGGAK!!!"
Oh oke! Dia mengerti maksud dibalik senyuman manis Zafran. Alesha menghela napas pelan. Tapi itu tidak membuat Alesha menyerah untuk belajar masakan seenak ini.
Saat ada jadwal les, Alesha akan meminta Gavin mengajarinya secara pribadi.
Zafran sudah tidak mood makan. Dia memasukkan semua daging ke dalam mulutnya. Segera menghabiskan makanannya lalu kembali pulang ke rumah.
__ADS_1
Hawa AC di restoran mahal ini tidak membuatnya sejuk. Semakin lama dia berdiam diri, semakin panas pula suhu tubuhnya.
"Cepat habiskan, setelah itu kita pulang!"