Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
45. Ziarah


__ADS_3

Zafran menyuruh Alesha untuk menunggunya di dalam mobil. Entah apa yang cowok itu rencanakan, Alesha pun tak tau.


Setelah sholat subuh berjama'ah, Zafran hanya berkata untuk bersiap-siap. Alesha pikir, mereka akan ke kantor untuk acara pembukaan serta peluncuran produk terbaru mereka.


Tapi ternyata salah, cowok itu bahkan tak mengeluarkan banyak kalimat seperti biasanya. Cowok itu lebih pendiam. Zafran mengendarai mobil, dan mampir ke toko bunga. Pasti cowok itu akan membeli bunga. Tapi untuk apa tujuannya, Alesha tak tau pasti.


"Baju serba hitam dan Zafran beli bunga?" Zafran memintanya untuk berpakaian serba hitam.


"Dia mau ziarah? Atau rapat?"


Alesha menatap ke arah luar jendela. Zafran tengah bernegosiasi dengan penjual. Di tangannya, ia menenteng sebuah keranjang yang dipenuhi bunga-bunga berwarna merah.


"Mawar?" Alesha mendekatkan wajahnya ke kaca. Ia memincingkan matanya.


"Berarti bener, Zafran mau ziarah?"


Zafran tidak pernah memberitahu apapun tentang siapa yang meninggal, dan di mana rumah orang tersebut. Jika memang niatnya berziarah, kenapa tidak bilang dari tadi pada Alesha.


Jika ia tau, Alesha akan membawa beras untuk melayat. "Mau melayat di mana? Kalau tau gitu kan sekalian bawa beras," dumel Alesha bermonolog.


Setelah cowok itu membayar bunganya, ia berjalan menuju mobil. Alesha sudah memasang tampang marah, ia akan bertanya sambil memarahinya sebentar lagi.


Mobil berbunyi. Menandakan kuncinya telah terbuka. Cowok itu membuka pintu, tapi ia masih berada di luar karna seseorang menelponnya. Padahal Alesha sudah bersiap untuk mengeluarkan kata-kata mutiara.


Lumayan lama Zafran berbincang-bincang sampai Alesha sendiri bosan mendengarnya. Cewek itu mendengus pelan. Ia bosan lama-lama di dalam mobil walaupun ber-AC.


Zafran masuk ke dalam mobil. Dia meletakkan bunganya ke kursi belakang. Alesha merubah posisinya menghadap Zafran.


"Kita mau ziarah, ya?" tanya Alesha to the point.


Zafran mengangkat satu alisnya. Ia mengangguk pelan. "Hm,"


"Siapa yang meninggal?"


Apakah Zafran harus berkata jujur jika mereka akan mengunjungi rumah ibu kandungnya? Ia hanya tak mau membuat Alesha kepikiran.


"Kita berangkat," pungkas Zafran dan melajukan mobilnya.


...***...


Alesha memasang wajah cemberut. Zafran mengabaikannya. Cowok itu melirik Alesha sebentar, ia geleng-geleng kepala.


Lalu ia menatap maps, lokasi makan ibu Alesha yang baru saja dikirim dari Delon, ayah Alesha. Zafran sengaja membiarkan Alesha.


Dalam kurang lebih 1 jam perjalanan, mereka akhirnya sampai. Mata Alesha terpejam. Ia tidur sejenak. Zafran menggoyang-goyangkan lengannya, cewek itu membuka mata.

__ADS_1


"Kita udah sampai?" tanyanya


Zafran mengangguk. "Iya, ayo turun."


Alesha mengucek matanya. Ia berkedip pelan. "Tpu jeruk purut?" gumamnya bermonolog.


TPU JERUK PURUT


Di depan mereka terdapat sebuah plang bertuliskan Tpu jeruk purut. Alesha mengerutkan keningnya bingung. Ia tak asing dengan tpu ini.


Zafran membuka pintu mobil untuk Alesha. Cewek itu mendongak. "Zafran, ini...?"


Zafran menarik senyumnya. Ia mengangguk pelan beberapa kali. Mata Alesha berbinar. Ia menutup mulutnya tak percaya. Zafran menyerahkan keranjang bunga yang ia beli tadi padanya.


Alesha menghapus air matanya yang keluar. Ia mengambil keranjang dari Zafran dan juga menggandeng tangannya.


Zafran sedikit terkejut, ia menatap Alesha tak percaya. Cewek itu menampilkan senyum bahagia, haru dan juga kesedihan yang terpancar dari wajahnya.


"Ayo, ketemu ibu Alesha."


...***...


Dia menarik napas lega. Akhirnya kerinduannya telah tersampaikan. Apalagi orang yang sudah membuatnya bertemu dengan orang yang sudah lama ia rindukan adalah sosok yang ada di depannya ini, yaitu Zafran, suaminya.


Tapi di sisi lain itu, Zafran adalah sosok yang pengertian, perhatian, dan menyayangi Alesha. Cowok itu sedang mengetikkan sesuatu pada hpnya. Alesha tau, jika Zafran mengosongkan dan menunda semua pekerjaan demi Alesha.


Zafran menghembuskan napas panjang. Ia menyandarkan tubuh di kursi. Ia memijat kepalanya yang sedikit pening. Dalam beberapa bulan lagi ujian kelulusan, meski otak cowok itu encer, tapi karna disibukkan pekerjaan, itu pasti memusingkan.


Tidak seperti Alesha, walaupun otaknya di bawah rata-rata, tapi ia cukup tenang. Tidak terburu-buru dan santai. Karna ia yakin, semua pasti lulus.


Alesha menggenggam erat jari jemari Zafran. Cowok itu membuka matanya. Kemudian menatap Alesha dengan tatapan bingung serta mengangkat satu alisnya seolah bertanya 'kenapa'.


Alesha mengembangkan senyum. Zafran ikut tersenyum. Ia menepuk punggung Alesha beberapa kali memberikan sedikit ketenangan.


"Makasih," ucapnya.


Zafran mengangguk. Ia memajukan posisi duduknya yang berhadapan dengan Alesha, kemudian ia mengelus rambutnya.


"Sama-sama. Jangan sedih lagi, kalau ada masalah apa pun cerita sama gue, jangan di pendem, gue suami lo, gue temen lo, gue juga sahabat lo. Kita harus saling terbuka satu sama lain, Sha." Nasihat Zafran membuat hati Alesha berdesir.


Dia merasa bersalah karna sudah menangis diam-diam karna merindukan ibunya.


"Iya, maaf. Lain kali gue bakalan ngomong."


Zafran manggut-manggut. Ia menyentil dahi Alesha pelan.

__ADS_1


"Awh," ringis Alesha.


Zafran terkekeh. "Udah nggak usah sedih, lo pasti laper, kan?"


Alesha mengangguk. Memang benar katanya, sedari tadi Alesha memang kelaparan.


"Bentar lagi pesanan kita sampai, tunggu sebentar," gumamnya


"Hm, oh ya..,"


Zafran mendongak. "Apa?"


"Bukannya hari ini seharusnya lo launching produk baru?"


"Gue tunda, besok kita ke acara pembukaan cabang dan launching produk serta debut lo."


Pipi Alesha memerah. Ia tersipu malu. "Gue gak mau jadi model, gue cuma mau bantu lo aja."


Zafran mengangguk mengerti. "Ini adalah awal yang bagus untuk memulai sebuah mimpi, Sha. Gue nggak tau apa cita-cita lo sebenarnya, tapi siapa gau kalau lo menekuni pekerjaan ini, masa depan lo jadi tambah cerah," ungkap Zafran disertai senyum.


Alesha mengerti maksud Zafran, dulu ia memang berkeinginan jadi model. Tapi mengingat ia tak memiliki bakat apapun dalam permodelan, Alesha menyerah.


Tapi kali ini, bahkan suaminya mendukung dan menginginkannya mengambil pekerjaan tersebut. Walaupun Alesha sangat bahagia, tapi ia malu untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya karna sudah menarik Alesha dalam dunia permodelan.


"Cita-cita lo apa, Sha?" pertanyaan Zafran membuat Alesha gugup.


"Rahasia," sahutnya cepat dan singkat.


Zafran manggut-manggut. Ia tak ingin memaksa Alesha untuk memberitahukan tentang masa depannya. Begitu juga dengan dirinya, ia juga masih belum tentang mimpinya di masa depan. Ataukah ia akan tetap meneruskan perjalanannya sebagai CEO atau mengambil kembali mimpinya yang tertunda.


"Zafran,"


Zafran yang dipanggil pun menoleh. "Hm?"


"Kalau perasaan lo berubah, tolong beritahu gue dulu, ya?"


Zafran mengerutkan keningnya. "Maksud lo?"


"Kita sebagai manusia tidak bisa memaksakan perasaan, karna perasaan manusia mudah berubah. Gue juga berharap kita terus bersama sampai maut memisahkan. Tapi, apabila salah satu perasaan dari kita berubah, kita harus saling mengungkapkan agar kita bisa menyelesaikan permasalahan bersama." Kata Alesha panjang lebar.


Zafran manggut-manggut mengerti. Ia menarik kedua telapak tangan Alesha lalu menciumnya.


"Perasaan gue nggak akan berubah, Sha."


...***...

__ADS_1


__ADS_2