Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
42. Masih Backstreet


__ADS_3

Proses pemotretan membutuhkan waktu sedikit lama. Itu dikarenakan, Alesha membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan hal baru. Meski begitu, cewek itu berhasil menyelesaikan tugasnya. Walaupun sedikit banyaknya kecanggungan.


"Kerja bagus, Alesha." Puji Rodi setelah puas mendapatkan hasil yang sangat luar biasa.


Alesha tersenyum. Ia mengangguk sekali. "Terima kasih, Kak."


"Walaupun masih baru, tapi udah oke,"


"Alesha akan berusaha lebih giat lagi," ujarnya.


"Mau lihat hasilnya?" tawar Rodi.


Mata Alesha berbinar, lalu ia mengangguk. Cowok itu menunjukkan foto dari kameranya. Alesha memperhatikan seksama.


Alesha tercengang, ia terkesima melihat potret dirinya yang sangat cantik. Cewek itu melihat foto tersebut seperti bukan dirinya, melainkan orang lain.


Alesha menutup mulutnya tak percaya. Ia benar-benar terpesona dengan hasilnya.


"Kak? I-ini beneran Alesha?"


Rodi mengangguk, ia menggeser beberapa foto dan menunjukkan video ketika ia memakai lipstik produksi perusahaan Zafran.


"Ini kamu, Sha. Gimana? Bagus, kan?"


Alesha mengangguk. Ia tak bisa berkata apa-apa. Baru pertama kalinya ia melihat sesuatu yang seperti ini.


"Kamu di sini kelihatan benar-benar cantik, Sha. Pasti nanti produknya bakalan booming, dan diminati banyak orang."


"Iya, Kak. Semoga saja."


...***...


Alesha menghapus riasan wajahnya karna ia tak suka wajahnya penuh dengan riasan. Ia tak mau menjadi pusat perhatian orang-orang.


Karna ini masih berada dekat dengan perusahaan Zafran, Alesha tidak ingin mereka terlalu menunjukkan sebuah hubungan, maka dari itu, Alesha meminta izin untuk naik taksi.


Jika saja Zafran tidak ada rapat, mereka bisa pulang bersama. Tapi, Alesha tidak mau menunggu lama.


Cewek itu menunggu di samping jalan raya sembari menoleh kesana-kemari menunggu taksi pesanannya sampai.


Ia melirik jam tangan, sejak lima menit yang lalu ia keluar ruangan pemotretan, dan sudah hampir dua jam ia belum makan. Ia lupa untuk memakan makanan prasmanan yang sudah disiapkan karna ia buru-buru ingin cepat pulang.


Dari arah kanannya, ada sebuah mobil yang melaju kencang dan oleng. Alesha mengerutkan keningnya. Cewek itu panik, karna mobil tersebut melaju ke arahnya.


"Loh!"


"Awas! Hati-hati, Mas, Mbak!" peringat Alesha.


Sepertinya sang pengendara tidak mendengar perkataan Alesha. Mobil itu masih melaju, bahkan melaju sangat kencang.


Alesha melotot, ia benar-benar menjadi sasaran kelajuannya. Entah sengaja atau tidak, tapi yang jelas, nyawanya berada dalam bahaya.


Alesha buru-buru menghindar ke arah yang tak bisa dijangkau mobil dengan cepat. Saat ia menghindar, mobil tersebut gagal menabrak Alesha. Tapi anehnya, setelah kejadian ini, mobil tersebut melaju dengan normal.


Tidak oleng atau tidak dalam keadaan yang membahayakan. Untung saja Alesha tidak tersandung dan terjatuh, jika tidak, kakinya pasti akan terlindas.


Cewek itu memegangi jantungnya. "Woy! Gila lo ya!" teriak Alesha.


"Gak lihat ada orang di sini tadi?"

__ADS_1


Napas Alesha ngos-ngosan. Meski ia tidak sedang olahraga, tapi dadanya bergetar, tubuhnya lemas, dan oksigen di bumi ini terkuras hingga membuat napasnya sesak.


Bagaimana bisa, orang itu mengendalikan mobil dengan tidak bijak.


"Bisa-bisanya dia oleng?"


"Apa emang sengaja mau nabrak gue?"


Beberapa kerutan muncul di dahi Alesha. Tidak mungkin sebuah mobil jika sudah dalam keadaan tidak stabil akan sulit terhindar dari kecelakaan tunggal, dan anehnya mobil tersebut stabil setelah gagal menabraknya.


Alesha mengeratkan genggamannya. Ia menarik napas dalam. Ia tidak mau berprasangka buruk pada siapapun. Tapi ia harus lebih meningkatkan kewaspadaan.


"Masih backstreet aja nyawa gue di incer, apalagi kalau dipublikasikan?" monolognya.


Alesha menarik sudut bibirnya. "Seru kali ya lihat orang-orang pada iri," gumamnya.


...***...


Matanya berkeliling mencari seseorang. Di malam hari ini, ia memiliki janji dengan sahabatnya untuk bertemu. Karna orang itu sedikit takut jika harus berkunjung ke rumahnya pada malam hati.


Tidak enak dengan suaminya, katanya. Maka dari itu, cewek itu pergi ke kafe dekat rumah. Asalkan syaratnya, harus diantar sang suami.


Namun, saat ia meminta suaminya untuk ikut masuk, Zafran menolak. Dia lebih memilih menikmati udara sekitar.


Sebab itu, ia berencana akan berbincang sebentar. Sebuah lambaikan tangan mengalihkan perhatiannya. Cewek itu tersenyum sumringah.


"Alesha, sini!!"


Alesha mengangguk. Lantas ia segera pergi ke kursi yang sudah disiapkan Martha untuknya.


"Udah selesai?"


Kedua cewek itu saling memberitahu dan saling mengetahui kegiatan masing-masing. Karna mereka selalu curhat di manapun kapanpun.


"Gimana hasilnya?"


"Bagus, Mar. Gue aja kaget, gak nyangka gue udah kayak model profesional."


Mata Martha berbinar. Ia memukul meja beberapa. "Yang bener lo?"


Alesha mengangguk beberapa kali. Martha geleng-geleng kepala. "Ah gue gak sabar pengen lihat wajah lo yang nahan nangis," kekehnya, "kira-kira kelihatan nggak, Sha?"


Alesha mendelik. Ia menutup mulut embernya. "Ish, lo diem deh. Gue malu kalau ketahuan nahan nangis di kamar mandi!"


Martha tertawa pelan. Ia sangat gemas melihat wajah Alesha yang memerah menahan malu.


"Martha!" tegurnya.


Martha menutup mulutnya dengan tangan. "Oke gue diem."


Cewek itu mengerucutkan bibirnya sebal. Tapi setelah itu ia ikut tertawa lepas. Martha pun tak bisa menahan tawa, cewek itu tertawa terbahak-bahak karna tawa Alesha.


"Udah Mar, jangan ketawa!"


Martha memegangi perutnya. "Gue mau berhenti, tapi lo ketawa gue juga ikut ketawa, Sha!"


Alesha menarik napas. Ia meredakan tawanya. "Udah-udah! Lo mau ngomong apaan?"


Martha berdeham. "Gue mau minta tolong,"

__ADS_1


"Ngomong aja kali,"


"Sebenernya Sha, kemarin itu gue udah usaha masak sendiri,"


"Terus?"


"Tapi keasinan," Martha menggigit bibir bawahnya.


"Lo gak rasain masakannya?"


"Udah, tapi waktu itu gue lagi pilek, jadi susah mau ngerasain enak." Katanya sambil menghembuskan napas panjang.


"Lo emang kasih garam berapa sendok makan?"


"Satu centong nasi,"


Mata Alesha melebar sempurna. "Nggak salah?"


Martha menggeleng. "Nasi dua centong, jadi gue kira bakalan lebih enak kalau garamnya sedikit banyak," ucapnya nyengir kuda.


"Pantesan!" Alesha menepuk jidatnya. "Lo gak masak sesuai arahan?"


"Kelamaan,"


"Terus sekarang, mau lo gimana?"


"Kasih gue resep, dan cara masak." Martha menyerahkan kertas dan pen pada Alesha. Cewek itu mengangguk lalu menerimanya. Dia menuliskan tata cara masak mulai dari bahkan hingga urutan memasak.


"Nih," Alesha menyerahkan tulisannya.


Cewek itu menunjuk kertas bagian pojok kanan bawah. "Tolong tanda tangan di sini, Sha. Biar semua orang percaya kalau gue itu berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memasak."


Alesha mengangguk mengerti. Lantas ia melakukan apa yang diperintahkan Martha.


"Gue mau nyoba setelah lo masak resep gue," pintanya


Martha mengangkat jempolnya, ia berkedip sekali. "Besok lo masuk, kan?"


"Masuk,"


"Oke, kalau gitu gue buat dua masakan."


"Buat Gavin lagi?"


Martha menggeleng. "Enggak, tuh cowok udah trauma makan masakan gue,"


Alesha terkekeh. Sudah ia duga, pasti cowok itu akan berhenti meminta Martha melakukan apapun demi kesenangannya.


"Mending buat satu aja deh, Mar."


"Gitu ya?" sahutnya.


"Iya, jadi biar gak mubadzir, apalagi ini masih percobaan."


Martha mengangguk setuju.


"Iya, Sha. Ini masih permulaan."


...***...

__ADS_1


__ADS_2