
Mendung menutup awan. Hanya terdapat kegelapan di malam hari ini tanpa bulan dan bintang yang bersinar. Alesha memandang ke langit dengan tatapan sendu. Haruskah ia datang bersama Ayah untuk memenuhi permintaan Ibunya?
Alesha tak berpikir jika ia akan menjadi calon tunangan Zafran yang notabennya adalah most wanted boy di sekolah. Umurnya masih belia, namun mau tak mau ia harus melakukannya.
Seperti malam yang gelap, hati Alesha pun menjadi gelap. Pikirannya tak bisa berpikir dengan jernih. Gadis itu segera menutup jendela saat mendengar panggilan Delon.
"Iya, Ayah."
Alesha mengambil dan memakai sling bag-nya. Dia keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Delon tersenyum melihat kecantikan putrinya yang alami. Matanya tak bisa bohong, meski ia bahagia Delon merasa setengah rela membiarkan putrinya bertunangan. Tapi Delon yakin, Zafran bisa melindungi Alesha dengan baik.
Alesha mengembangkan senyum. Ia menggandeng tangan Delon. "Anak Ayah cantik,"
"Siapa dulu dong Ayahnya,"
"Tapi kenapa rambut yang bawah jadi keriting?"
Alesha memegang rambutnya. "Ini namanya keriting gantung. Gimana bagus nggak?"
"Bagus, jadi tambah cantik. Pasti Zafran klepek-klepek,"
"Ah Ayah," Alesha melepas pelukannya. Ia mengerucutkan bibirnya sebal.
Delon terkekeh-kekeh. Ia mau mengacak rambut Alesha tapi gadis itu menghindar dan berlari meninggalkannya. Seolah-olah ia sudah tak sabar menanti pertemuan keluarga mereka. Ralat, bukan pertemuan, tetapi pertunangan.
"Sudah nggak sabar ketemu Zafran ya?"
Alesha menutup telinganya erat. Delon semakin tertawa terbahak-bahak. Kemudian ia pun menyusul Alesha. Akhirnya mereka berdua bergegas pergi menuju tempat pertemuan tersebut.
Di sisi lain, Zafran sedang berbaring santai di kamarnya. Bahkan cowok itu seakan tak berniat beranjak dari kasur. Sudah berkali-kali mamanya menelpon, Zafran hanya mengatakan dia sudah di jalan. Padahal, ia sedang menonton bola di televisi kamar seraya menghidupkan kipas angin untuk menimbulkan suara seperti suara jalan saat di telepon.
Lagipula masih ada waktu lima belas menit acara pertunangan di mulai. Meskipun Alesha tak jatuh cinta pada Zafran, tapi gadis itu tetap saja gugup. Beda dengan cowok satu ini. Dia bahkan tak merasakan debaran jantung yang kencang.
Zafran memakan cemilan coklat buatannya sendiri. Dengan adanya bakat memasak, Zafran bisa makan apa saja yang ia inginkan.
Zafran terduduk. Bola yang diiringi pemain sepakbola yang bernama Algaleo itu berada di kotak penalti.
"Ayo goal! Goal!" Zafran mengepalkan tangannya dan memukul udara. Ia memberikan semangat pada club sepakbola kesayangannya.
Wajah Zafran bersinar. Algaleo terus menggiring bola dan melewati lawan dengan cepat.
"Kelamaan si Algaleo! Cepet masukin anjir!"
"Oper ke Hugo!"
"Mantap!" Zafran semakin menajamkan matanya. Sepertinya Algaleo mendengar perintah Zafran.
"Oper lagi ke Al."
"HUGO!!!"
"Goal! Goal!" senyum Zafran pudar, bola disundul lawan hingga ke tengah lapangan.
"Anjingg!"
"Kenapa gak ditendang ke gawang, argh!"
Zafran ingin mematikan tv-nya karna sudah tak ada harapan lagi untuk menang. Skor 2 sama, tapi mereka tak bisa mengejar kemenangan. Namun, Zafran kembali menajamkan mata saat Algaleo berlari sekencang mungkin dan berhasil merebut bola. Cowok itu menggiring dengan cepat san akhirnya berhasil memasukkan bola di saat-saat terakhir.
"GOAL!!!" Zafran berteriak sambil melompat kegirangan.
Karna terlalu asik melihat bola, Zafran tak sadar jika waktu tunangan sebentar lagi di mulai. Bahkan mamanya sudah tujuh kali melakukan panggilan. Tapi telinga Zafran tak mendengarnya. Di panggilan ke delapan ini jika Zafran mengangkatnya, otomatis Yuni akan berceloteh ria.
Jadi, Zafran langsung bergegas tanpa menerima telpon mamanya.
Setelah beberapa menit. Zafran akhirnya datang dengan pakaian rapi berjas. Tentunya tidak ia pakai saat dari rumah, tapi saat sampai diparkiran.
Semua pandang mata beralih pada Zafran kecuali Alesha. Cewek itu terus saja menunduk dan saling menautkan tangannya satu sama lain. Zafran melirik Alesha, ia sedikit tertegun melihat kecantikan alaminya. Cowok itu mengembangkan senyum tipis.
Yuni berjalan menghampiri, ia menekan lengan Zafran. "Darimana aja kamu?" tanyanya penuh penekanan.
__ADS_1
"Kamar,"
Jawaban Zafran membuat Yuni mendengus kesal. Lalu ia menampilkan senyum pada semua tamunya. "Maaf ya, Delon. Zafran baru datang,"
"Ayo duduk di samping Alesha,"
Alesha yang merasa namanya dipanggil pun mendongak. Saat ia mendongak, mereka berdua bertatapan cukup lama hingga Yuni berdeham.
"Alesha cantik ya, Zafran?"
Zafran mengangguk. Lalu ia duduk.
"Karna semua udah kumpul, lebih baik kita makan dulu,"
Zafran menyenggol kaki Alesha. Cewek itu mengerutkan keningnya. Zafran menyenggol lagi, membuat cewek itu merasa kesal. Alesha memindahkan posisi kakinya. Tapi Zafran tetap saja menyenggolnya tanpa melirik Alesha.
Cewek itu merapatkan giginya. Ia sengaja menjatuhkan sendoknya untuk membalas perbuatan Zafran. Alesha menunduk ke bawah. Ia mengambil sendok sambil mencubit paha Zafran. Cowok itu meringis, ia memegang tangan Alesha dan melepaskan cubitannya. Ia tak berteriak sebab tak ingin mereka tau kejahilan Zafran.
Salah satu tangan Zafran menutup pucuk meja yang tajam agar tak mengenai kepala Alesha. Setelah puas mencubit paha Zafran, Alesha mengangkat tubuhnya, kepalanya terjedot sesuatu, cewek itu memegangi kepalanya, tapi saat tau benda yang mengganjal adalah tangan Zafran yang melindungi kepalanya dari pucuk meja, ia langsung menatap Zafran.
Cowok itu tak mengalihkan pandangannya. Dia tengah berbincang bersama Delon. Jantung Alesha berdebar-debar saat melihat senyum Zafran yang sangat indah. Ternyata cowok nakal seperti dia memiliki wajah tampan yang tersembunyi.
"Kenapa sayang?" ucapan Yuni menyadarkan Alesha. Cewek itu menggeleng dan membenarkan duduknya. Zafran pun menarik tangannya kembali.
Saat Alesha mau menyendokkan makanan, Zafran merebut sendoknya dan mengganti sendok yang baru. Hal itu tak luput dari pandangan kedua orang tua mereka. Mereka menahan senyum.
Pipi Alesha panas sampai berubah warna merah. "Ma-makasih,"
Alesha menghabiskan makanannya dengan pelan. Ia masih tak percaya jika seseorang yang di sampingnya ini adalah Zafran. Bahkan di sekolah saja ia tak bisa bersikap manis pada Alesha.
Acara makan pun selesai. Kini mereka melanjutkan acara utama. Yaitu bertukar cincin. Yuni sudah menyiapkan cincin tunangan untuk keduanya, dan khusus Zafran, setelah Alesha memasangkan cincin pada jari manisnya, Yuni menyarankan agar ia melepasnya dan menjadikan cincinnya sebagai bandul kalung.
Karna takut ada gosip yang tidak-tidak mengenai mereka berdua. Zafran memasangkan cincin ke jari Alesha dengan santai. Tidak seperti Alesha yang menahan kegugupannya setengah mati.
Zafran menatap mata Alesha lekat berharap cewek itu tak menjatuhkan cincinnya.
"Lo ga pernah liat cowok tampan ya?" bisiknya.
"Gue baru pertama kali liat cowok yang tampannya melebihi monyet,"
"Gini-gini sekarang gue resmi jadi calon suami lo,"
Keduanya saling melemparkan bisikan tanpa didengar kedua orang tua mereka.
"Masih calon,"
"Liat aja, bentar lagi lo bakalan jadi istri gue,"
"Terus? Gue harus nuruti omongan lo gitu?"
"Jelas. Karna tugas istri melayani suami." Zafran mengedipkan matanya beberapa kali.
Alesha bergidik ngeri. Lalu ia berlalu ke Yuni. Delon, Yuni, dan Gun sedang asik berbincang. Mereka membahas tanggal pernikahan. Tak ada yang menyela antara Zafran dan Alesha. Karna mereka tau, dalam waktu dekat. Keduanya akan melangsungkan pernikahan.
Dan itu adalah ide Delon. Ia tak ingin Zafran kebablasan sebelum sah. Meski Zafran tidak akan macam-macam tapi hal ini berguna untuk pencegahan hal yang tidak diinginkan.
"Berarti deal ya?" tanya Delon.
"Fix," jawan Yuni.
"Zafran, Alesha, pernikahan kalian akan diadakan dua bulan ke depan."
"Dua bulan?" pekik mereka berdua.
"Ma, apa nggak kecepetan, kan kita masih belum lulus sekolah. Lagipula nanti kalau temen-temen kita tau gimana?" risau Alesha.
Yuni menggeleng pelan. "Upacara pernikahan kalian itu diadakan secara rahasia, hanya sama keluarga saja. Jadi nggak perlu khawatir."
"Jadi kita nikah diam-diam?"
__ADS_1
"Iya,"
"Zafran? Apa ada pendapat?"
Zafran menggeleng.
Yuni menggandeng suaminya. "Kalau gitu kita bertiga pergi dulu,ada sesuatu yang ingin kita persiapkan."
Yuni menarik Gun dan Delon pergi tanpa menunggu persetujuan mereka.
"Tapi gimana acara ini? Kan belum selesai, Ma?" protes Gun.
"Stt, acara selesai. Kita tinggalkan mereka berdua."
"Ayah, tunggu," seru Alesha.
Yuni menghadangnya. "Eitss, kamu pulang sama Zafran!"
"Kita itu ada acara penting."
Zafran memutar bola matanya malas. "Alasan,"
Yuni terkekeh saat Zafran sudah mengetahui kebusukannya. "Udah ah, Mama tinggal dulu, dada..." Yuni melambaikan tangan. Mereka bertiga akhirnya pun pergi.
"Ma, apa nggak papa kita tinggal mereka?"
"Nggak papa, jangan khawatir,"
"Kalau Zafran macem-macem gimana?"
"Papa harus percaya sama Zafran, dia anak baik meskipun kelakuannya kayak gitu,"
Gun menghela napas. Delon memukul pundaknya. "Biarkan mereka berkenalan dulu,"
"Delon aja paham sama maksud Mama, masak Papa nggak paham sih?"
"Iya-iya Papa paham,"
Alesha memandang kepergian Ayahnya sendu. Zafran menyentil dahinya.
"Awhh, sakit Zafran!"
Zafran menggandeng tangan Alesha. Cewek itu menahannya.
Zafran menatap Alesha. Ia menaikkan kedua alisnya. "Lo mau nginep di sini?"
Alesha geleng-geleng kepala. Zafran kembali menggandeng Alesha dan berlalu pergi.
"Makanya ayo pulang."
"Lo naik motor?"
"Hm," sahut Zafran.
"Bawa mantel?"
"Gak,"
"Terus kalau kehujanan gimana?"
"Nginep di hotel berdua."
"Apa?" pekik Alesha membuat telinga Zafran kesakitan.
"Berisik!"
Dia melepaskan cekalan tangan Zafran. "Gue gak mau!"
"Sayangnya gue gak suka penolakan!"
__ADS_1
......***......