
Ares mendapat kabar dari Anin jika Nayla sedang berada disebuah Cafe, dengan segera Ares menghampiri Nayla dengan terburu buru.
" Aku akan bercerai kak " ucap Anin begitu saja
Ares yang medengar hal itu terkejut dan diam mematung untuk sejenak, ia tak mampu mendengar kelanjutan ucapan Nayla, dan ia langsung pergi meninggalkan cafe dan masuk kedalam mobil.
" Kamu serius Nay.." tanya Alvian yang terkejut mendengar ucapan Nayla
" Iyah tapi kalau misalkan suami aku nikah lagi hehehe dan kalau dia sampai berhubungan badan " Nayla kembali melanjutkan ucapannya
" Hmm " gumam Alvian sedikit kecewa
" Lagian kak kalaupun aku dan suamiku cerai aku tetap ga bisa nerima ka Alvian "
" Kenapa Nay..? ada apa..? "
" Ada wanita yang diam diam menuggu kak Alvian sejak dulu sampai sekarang dia masih mencintai kaka, tapi sayang Kak Alvian ga peka sama perempuan itu kak "
" Siapa Nay..? "
" Anin.."
" Anin..? kamu bicara apa Nay..? Anin itu sudah aku anggap adik aku sendiri Nay "
" Tapi itu faktanya kak, Anin itu suka sama kak Alvian "
Alvian terdiam mencoba memikirkan ucapan Nayla, namun ia juga menangkisnya karena Anin sudah ia anggap adiknya sendiri.
" Nay sejak kemarin kamu selalu menyebut suami dengan suami bukan nama, kalau aku boleh tau siapa nama suami kamu Nay..?" Alvian mengalihkan ucapan Nayla dan Alvian langsung memperjelas hubungan Nayla dan Ares
" Nama suami aku-"ucapannya terpotong akibat bunyi ponselnya
" Kak bentar yah Ibu telpon " ucap Nayla meminta izin dan Alvian mengangguk
Nayla : Hallo Assalamualaikum Bu,
Ibu Sri : Waalaikumsalam nduk *menangis*
Nayla : Ibu.. Ibu kenapa ? ada apa Bu
Ibu Sri : Bapak nduk, bapa masuk rumah sakit lagi dan belum sadar
Nayla : Ibu tenang ya, Nayla hari ini juga akan pulang kesana
Ibu Sri : Iyah sayang ibu tunggu yah
Setelah panggilan berakhir Alvian langsung bertanya, karena dari raut wajah Nayla yang terlihat sangat khawatir.
" Ada apa Nin..? "
" Bapak Kak ,aku harus pulang sekarang " Anin bangkit dari kursi
" Aku antar yah.. " ucap Alvian
" Engga usah kak "
Saat Nayla hendak keluar tiba tiba Ares masuk dengan wajah tak kalah panik
" Nay, bapa Nay " ucap Ares yang juga khawatir
__ADS_1
" Iyah Mas, Kak aku pulang dulu yah "
Ares dan Nayla lupa jika Alvian belum mengetahui semuanya, sedangkan Alvian hanya terdiam melihat kepergian keduanya.
" Res.. Res kenapa bisa lo kayak gini Res " gumam Alvian kesal
Nayla dan Ares langsung pergi ke Bandara, Ares meminjam pesawat pribadi miliknya agar bisa cepat sampai di kampung halaman Nayla.
" Bapa kenapa Mas, Nayla gamau kehilangan Nayla Mas " Nayla terus menangis sedangkan Ares fokus menyetir
" Kamu tenang yah, kita akan segera kesana "
Tak lama Nayla dan Ares sampai disana sudah ada temannya dan Bayu sekretarisnya.
" Jek gue pinjem dulu yah " ucap Ares menepuk pundak temannya
" Santai lo pake aja " jawab Jeki
" Untuk disana sudah ada yang siap menjemput bos, silahkan berangkat bos hati hati " ucap Bayu
Setelah berpamitan Nayla dan Ares langsung masuk kedalam pesawat pribadi milik temannya dan segera terbang ke Yogjakarta.
*****
Anin dan Rio kini sudah berada disebuah taman, sejak dicafe tadi Anin menjadi murung dan tak banyak bicara.
" Ri.." panggil Anin dengan sendu
" Ya kenapa Nin, ada apa ngomong sama gue "
Jujur Rio lebih suka Anin marah marah atau membentak dirinya daripada ia melihat Anin hanya diam tanpa ada sepatah kata.
" Lo ngomong apa sih Nin, ada apa lo liat orang yang lo suka sama cewe lain .. "
" Sakit Ri.. ternyata cinta bertepuk sebelah tangan itu ga enak yah "
" Hahaha yaelah Nin, udah ah lo jangan sedih gitu deh. Anin gue ga boleh merendeh karena laki laki, jangan sampai karena cinta lo kehilangan diri lo sebagai perempuan "
Anin terdiam sejenak mendengar ucapan Rio, selama ini memang Anin seperti mengejar Alvian sendiri dan bahkan Alvian tak pernah perduli perasaannya kepada.
" Gue salah ngomong yah nin, maaf yah " Rio merasa Anin marah karena ucapanya
" Kita pulang aja yah Ri, lagian masih jam kantor kan " Anin mengalihkan ucapannya
" Hemm yaudah kalau emang lo ngerasa udah baikan "
Anin dan Rio masuk kedalam mobil, kini Rio mengambil alih untuk menyetir mobil.
" Lo ga pake seatbelt Nin " tanya Rio melihat Anin yang masih terdiam
Anin menatap Rio dengan sendu, hal tersebut justru membuat Rio menjadi bingung sekaligus gemas
" Apasih Nin mau apa hmm "
" Gue mau cepet cerai Ri, dan... "
" Dan apa dan lo jadi janda ya hahahaha " Rio mencoba mencairkan suasana
" Ihh bukan Rio, udah ah males sama Rio "
__ADS_1
Rio mencubit kedua pipi Anin, ia merasa gemas melihat raut wajah Anin.
" Hahaha udah udah jangan nangis lo tuh jelek nin kalau nangis "
" Kampret lo " Anin mencubit lengan Rio
" Tetap jadi Anin yang gue kenal yah, jangan pernah berubah "
" Siap, lo juga yah jadi Rio yang selalu disisi gue "
" Iyah Nin, yaudah kita jalan yaah tenang gue masih ada kerjaan buat lo hahaha "
Anin kembali tersenyum karena Rio, entah mengapa semakin lama Anin semakin nyaman bersama dengan Rio
*****
Setelah sampai Nayla dan Rio langsung menuju rumah sakit, dan mereka menuju ruang ugd disana sudah ada bu Sri yang menunggu didepan ruangan.
" Ibu " Nayla berlari menghampiri Bu Sri
" Nayla.. Ares " ucap Bu Sri yang tengah menangis
" Gimana bu kondisi bapa " tanya Nayla yang juga menangis
" Bapa belum sadar Nay, ibu juga gatau kenapa tapi tiba tiba bapa udah ga sadar Nay "
" Ibu sama Nayla yang sabar dan yang kuat yah " Ares mengelus pundak Nayla namun Nayla sedikit menghindar
Tak lama dokter keluar dan memberi kabar jika Pak Agung sadar namun untuk kondisinya masih lemah, Keluarga diizinkan untuk masuk kedalam.
Dengan segera Nayla, Ibu dan Ares masuk kedalam ruangan dan terlihat wajah pak Agung yang pucat dengan tatapan kosong.
" Ares..." ucap Pak Agung pelan dan nyaris tak terdengar
" Iyah pak Ares ada disini " Ares mendekat kearah Pak Agung
" Bapak.. bapak titip Ibu sama Nayla yah..to..tolong jaga mereka " ucap Pak Agung dengan susah payah , Nayla dan Ibu yang mendengarpun menangis
" Iyah pak, Ares janji sama bapa akan jagain ibu sama Nayla " ucap Ares menahan air matanya
" Bu.. maafin bapa yah bu.. "
" Engga bapa ga ada salah sama ibu, bapa yang kuat yah "
" Nayla.. maafin bapa yah nduk, kamu .. kamu yang nurut sama suami, jangan ngelawan dan bapa berharap kamu dan Ares selalu bersama hingga maut memisahkan yah "
" Iyah pak Nayla janji sama bapa, bapa harus kuat yah pak "
Tiba tiba Pak Agung seperti orang yang sesak nafas, seketika Ares keluar dan memanggil dokter.
" Kalian keluar dulu biar saya periksa, suster bantu saya "
Ares, Nayla dan Ibu keluar dari ruangan pikiran mereka kini kacau.
Tak lama Dokter keluar dari ruangan dengan wajah sendu, dan menatap para keluarga.
" Mohon maaf kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi Pak Agung tidak dapat diselamatkan "
Duarrr...!!!!
__ADS_1
Tangisan Nayla dan Ibu kini semakin kencang, dunia mereka runtuh seketika saat mendengar ayahnya tersayang pergi untuk selama lamanya.