
" Mas Ares bangun Mas "
Ares terbangun dengan air mata yang disudut matanya.
" BI ini jam berapa yah "
" Sudah jam 10 mas Ares, maaf dari tadi saya sudah bangunin tapi mas Ares terus saja memanggil nama mba Nayla "
" Makasih Bi, saya ga apa apa ko "
" Kalau gitu bibi lanjut ke belakang yah mas Ares, permisi "
Ares mengusap kasar wajahnya, mimpi itu terasa nyata bagi Ares.
" Naylaa aku haru kesana "
Dengan segera Ares bangun dari sofa dan bergegas mandi dan bersiap.
***
Pagi ini belum ada perkembangan dari Nayla, tak henti hentinya doa dipanjatkan untuk Nayla.
Noval laki laki itu masih setia menunggu Nayla, sedangkan ketiga teman Nayla harus pergi ke kampus karena seminggu kemarin mereka sudah izin.
" Lo istirahat aja, gue bisa jaga Nayla dulu ko " ucap Anin yang baru saja tiba, ia pulang sejenak untuk membersihkan tubuhnya dan juga mengantar kedua orangtuanya
" Kenapa belum ada tanda kalau Nayla sadar yah " ucap Noval dengan sendu
" Lo berdoa aja, semoga hari ini ada kabar baik dari Nayla "
" Selalu.. Gue selalu berdoa buat dia "
Anin sendiri ikut menatap Nayla dari kaca, membayangkan nya saja Anin sakit bagaimana dengan Nayla yang merasakan.
" Nin, aku izin pergi sebentar yah aku harus ketemu klien ga apa apa kan..?" tanya Alvian sambil mengelus rambut Anin
" Engga apa apa kak, Kaka makan dulu yah jangan sampai drop "
" Iyah sayang, kamu juga yah " Alvian mengecup kening Anin kemudian pergi.
Rio juga sudah pamit sejak pagi karena ia harus meeting pagi ini, Rio juga belum membahas lagi masalah kemarin.
" Jadi Lo adenya Pak Ares..?" tanya Noval
" Iyaah gue adiknya Bang Ares "
" Terus Lo kira kira tau ga siapa wanita yang ada di foto itu..? Mantannya mungkin..?"
"Hmm sepertinya sih, Lo sendiri sejak kapan suka sama Nayla dan setelah Lo tau Nayla punya suami apa yang Lo lakuin..?'
" Dari semester satu gue udah suka sama Nayla, dan untuk selanjutnya gue belum mikirin yang penting Nayla sadar itu yang gue harap sekarang"
Saat mereka tengah berbincang, Dokter datang untuk memeriksa kondisi Nayla.
" Apa separah itu yah sampai Nayla belum sadar ..?"
__ADS_1
" Yaa, karena saksi mata bilang jaraknya cukup jauh dari tempat terakhir Nayla "
Anin duduk di kursi karena merasa lemah, ia tak tau bagaimana akan menjelaskan kepada ibu Nayla.
" Nin.." panggil seorang laki laki yang Anin hafal suaranya
" Ngapain kesini..?" tanya Anin tanpa menoleh
" Please kasih gue kesempatan buat jelasin ke Lo Nin, semua salah paham " ucap Ares yang duduk disebelah Anin
" Bang cukup..!! Gue udah banyak bantu Lo, dan untuk kali ini gue minta maaf ga bisa bantu "
" Tapi Nin gue—" belum selesai Ares menjawab dokter dan perawat keluar dari ruangan Nayla.
" Gimana dok kondisi istri saya..?"
" Belum ada perkembangan, masih sama seperti kemarin. " Ucap Sang dokter
" Tapi bisa sembuh kan dok, Nayla akan segera sadar kan ..?" timpal Noval yang panik
" Kita lihat perkembangan selanjutnya yah, saya permisi "
Ares menatap Nayla dari kejauhan, ingin sekali Area masuk dan memeluknya namun hal itu tidak mungkin.
" Noval lebih baik kamu kuliah saja, biar saya yang menjaga Nayla " ucap Ares dengan tegas
" Nayla sadar aja bapa ga bisa menjaga, gimana Nayla terbaring lemah seperti sekarang " jawab Noval
" Kali ini gue setuju sama Bang Ares Val, lebih baik Lo kuliah setelah itu baru Lo kesini. Gue akan kasih kabar ke Lo begitu Nayla sadar " ucap Anin
" Lo gamau kan Nayla jadi ngerasa bersalah karena demi dia Lo jadi ninggalin kuliah Lo " ucap Anin
" Iyah, yaudah tapi Lo janji akan selalu ngabarin gue yah "
" Iyaah sana Lo kuliah "
Dengan berat hati Noval pergi ke kampus, walaupun rasanya ia enggan untuk meninggalkan Nayla saat ini.
" Lo juga Bang mending ke kantor, gue bisa jaga Anin sendiri disini "
" Engga gue mau jagain istri gue "
" Lo tau bang, Lo nyakitin Nayla sama halnya Lo nyakitin gue bang " ucap Anin dengan sendu
" Nin dengerin gue Nin, gue ga pernah mau nyakitin Nayla. Dia itu separuh hidup gue Nin, nyakitin Nayla sama halnya gue nyakitin diri gue sendiri "
" Terus foto itu..? Dan kenapa Lo pergi sama Laras..? "
Ares menarik nafas setelah cukup lega Ares menjelaskan semuanya kepada Anin.
" Lo bodoh bang Lo bodoh " ucap Anin setelah mendengar cerita Ares
" Itu tuh akal akalan dia buat ngancurin rumah tangga Lo Bang, semua mah bisa di palsuin "
" Gue nyesel banget Nin gue nyesel "
__ADS_1
" Terlambat bang penyesalan Lo ga bisa bikin balikin semuanya kayak awal "
" Iyah Nin gue sadar ko, semua salah gue. Gue bodoh Nin gue bener bener bodoh " Ares memukul kepalanya dengan keras
" Bang stop bang stop " Anin menggenggam tangan Ares
" Gue bodoh Nin, gue gampang percaya Nin " ucap Ares dengan suaranya yang bergetar
" Yaudah iya Lo bodoh, udah stop Bang Lo harus kuat. "
" Kalau bisa gantiin Nayla lebih baik gue yang disana Nin, gue gamau Nayla ngerasa kesakitan kayak sekarang "
" Bang.." Anin menggenggam jari jari Ares
" Kalau gue bisa minta gue ga mau ada yang kayak gini Bang, Lo dan Nayla sama sama pentingnya gue. "
" Lo harus kuat bang, yang paling penting Lo harus belajar dari kejadian ini ya "
" Iyah Nin "
Anin memeluk tubuh Ares, ia tau saat ini Ares pasti juga terpuruk karena sang istri yang melawan hidup dan mati.
Anin dan Ares kembali menatap Nayla dari kaca luar ruangan Nayla, air mata kini tak dapat lagi Ares tahan ia biarkan mengalir begitu saja.
Tiba tiba mereka melihat jari jari Nayla bergerak.
" Bang bukan gue doang kan bang " ucap Anin dengan semangat
" Gue panggil dokter dulu ya Nin "
Ares langsung berlari mencari perawat atau dokter, Anin yang menunggu tiba tiba melihat mesin yang menunjukkan Nayla melemah.
Dokter dan perawat datang dan mereka langsung masuk kedalam ruangan, Ares yang tadi merasa lega melihat gerakan jari Nayla menjadi khawatir karena kondisinya yang menurun.
" Bang.. Nayla bang.." Anin memeluk Ares dengan erat
" Kita berdoa ya Nin kita berdoa, Nayla kuat Nin "
Ares terus berdoa tak henti hentinya, ia berharap Nayla bisa bertahan dan kembali seperti dulu.
Dokter mulai menggunakan pacemaker, Anin maupun Ares tak dapat menahan tangisannya.
Niiittttttttt
Dari dalam sang dokter menggelengkan kepalanya seolah menjadi kode kepada perawat.
Ares dan Anin yang sejak tadi memperhatikan melemas, Ares membawa Anin kedalam pelukannya dengan erat Ares memeluk tubuh Anin.
" Nayla bang Nayla ..." Anin memukul dada Ares
Ares hanya diam dunia hancur, orang yang paling ia cintai pergi meninggalkannya.
" Mas sayang sama kamu Nay.. Sayang sekali, jangan tinggalkan Mas Nay " gumam Ares
__ADS_1