
Sejak kejadian semalam Ares mendadak bersikap dingin kepada Nayla, ya walaupun sebenarnya Ares tak marah kepada Nayla namun Nayla tetap merasa ada yang berbeda dengan Ares.
Seperti kemarin Ares dan Nayla berangkat bersama, sepanjang jalan Ares sibuk menghubungi seseorang dengan earphone nya.
Hingga tak terasa ia sampai di halte biasa ia turun, dengan segera Ares menghentikan mobilnya.
" Yakin gamau sampai kampus..?" tanya Ares sebelum membuka pintu mobil
" Iyah Mas Deket juga ko lagian "
" Yaudah hati hati yah "
Setelah Nayla berpamitan, Nayla turun dari mobil Ares dan Ares melanjutkan perjalanannya menuju kampus.
Nayla berjalan sambil mendengarkan musik agar tak jenuh, tiba tiba ada sebuah motor berjalan pelan mengikuti dirinya.
" Siapa lagi nih orang masih pagi, gatau orang lagi bt apa ya " gumamnya sendiri
Tin..Tin..Tin si pengendara membunyikan klaksonnya, karena si pengendara tersebut memakai helm full face maka Nayla tak tau siapa orang yang dibalik helm tersebut.
" Woy sendirian aja sini bareng sama gue " ucap orang tersebut yang kini sudah membuka kaca helmnya
" Noval, ngapain si Lo udah sana jalan "
" Ayo naik, Lo mau terlambat "
Nayla melihat jam di ponselnya, dan benar saja ia tak punya waktu banyak untuk sampai ke kelas
" Ayo gimana..?' Noval kembali memberikan tawaran
" Yaudah Iyah gue nebeng"
Dengan terpaksa Nayla naik keatas motor besar Noval, dan dengan segera Noval melajukan motornya menuju kampus.
Sesampainya di parkiran Nayla segera turun dari motor, dan diikuti oleh Noval.
Dari tempat yang sama Ares juga baru saja hendak turun dari mobil, tanpa sengaja ia melihat Nayla yang turun dari motor Noval.
" Bareng kenapa sih buru buru amat " ucap Noval
" Ssstt masih pagi gausah bawel dan berisik "
" Yeee nenek nenek sewot terus "
" Lo aki aki "
" Eehh berarti kita sampai tua dong kalau gitu "
" Ogaah Najis "
Ares sengaja berjalan di belakang keduanya, tanpa mereka sadari Ares mendengarkan semua apa yang mereka ucapkan.
" Ko Lo semalem ga bales chat gue lagi sih Nay, pasti Lo terpesona denger suara gue kan"
__ADS_1
" Idih ge'er banget sih Lo, sakit perut gue yang ada "
" Ya ampun, terus terus gue harus apa biar sakitnya sembuh "
" Lo diem aja atau gue tabok "
" Mau dong gue di tabok "
Nayla yang malas meladeni Noval berjalan lebih cepat, hingga kini keduanya menunggu didepan lift.
Saat Nayla menoleh kearah belakang, ia terkejut dengan kehadiran Ares .
" Pagi Pak " sapa Nayla
Noval yang ikut menyadari pun ikut memberikan salam
" Pagi Pak Ares makin ganteng aja " ucap Noval
" Hmm pagi " jawab Area datar dan dingin
Setelah pintu lift terbuka, dengan segera mereka masuk kedalam dan diikuti beberapa mahasiswa lainnya.
Ares berdiri disebelah Nayla, karena merasa ada kesempatan Ares menggenggam tangan Nayla selama berada di lift.
" Nay muka Lo tegang banget kayak orang mules " ucap Noval memperhatikan raut wajah Nayla
" Ya mules liat muka Lo " jawab Nayla dengan ketus
" Maaf pak " jawab Nayla sedangkan Noval hanya diam
Setelah pintu lift terbuka dengan cepat Nayla melepaskan genggaman tangan Ares, ia takut jika ada orang yang melihatnya.
Karena Ares dan Nayla berada di lantai yang sama, mereka pun keluar bersamaan.
Namun sesampainya di depan kelas Nayla, Ares dan Nayla pun berpisah.
" Kenapa tuh muka di tekuk aja " ucap Naya kepada Nayla yang baru saja tiba di kelas
" lagi bt gue sama si bapa bapa " ucap Nayla memberikan sebutan Ares dengan bapa bapa
" Biasanya ketawa ketawa aja setiap pagi, tumben pagi ini kusut " tanya Ana
" Ya sepanjang jalan tadi gue di cuekin di sibuk telpon, biasanya ga pernah kayak gitu " Nayla mengerucutkan bibirnya
" Ulululu tayang tayang, yaudah Lo bales aja Nay nanti pulang Lo cuekin " Naya memberikan ide kepada Nayla
" Nah iyaah, nanti kalau dia minta jatah yaudah jangan Lo kasih " timpal Ana
" Ga boleh itu dosa pinter " jawab Ayu
" Aaa gatau gatau pusing, bt banget " Nayla meletakkan pipinya diatas meja
Jam pelajaran pertama pun dimulai, Nayla dan yang lain mulai fokus mengikuti pelajaran
__ADS_1
***
Sejak semalam Anin merasakan ada yang aneh pada dirinya, ia juga menolak untuk diantar oleh Alvian.
Anin sengaja memilih naik taksi online, ia tak mau Alvian merasa curiga kepada dirinya atau nantinya Alvian berfikir yang macam macam.
Sesampainya di kantor Anin merasa sangat malas untuk naik, ia pun memutuskan pergi ke kantin membeli kopi untuk menghilangkan rasa mumet pikirannya.
Saat Anin tengah mengantri, disebelahnya berdiri sosok perempuan yang tengah bertelepon namun dari ucapannya seperti berbicara dengan sang kekasih.
" Iyaah ini aku udah sampai sayang, kamu jangan khawatir yah. Ini aku juga lagi beli susu dulu habis itu aku langsung naik ko, udah kamu kerja aja yah daah love you " ucap kalimat terakhir yang Nayla dengar dengan jelas
Setelah minuman wanita itu selesai, ia langsung pergi meninggalkan kantin.
Anin berfikir selama ia pacaran dengan Alvian, belum sekalipun ia mengatakan i love you bahkan bisa terhitung berapa kali mereka memanggil sebutan sayang.
Karena tak ingin semakin pusing Anin mencoba menepis pikirannya, setelah pesanannya jadi Anin memilih untuk membawanya ke meja kerjanya.
" Oiya gue lupa jam 9, Ares ada meeting sama bagian keuangan " ucap Anin sendiri
Dengan segera mungkin Anin pergi keruangan, untungnya saat itu ia bisa menaiki lift yang akan naik saat itu.
Setelah sampai di lantai kerja, Anim mengambil dokumen dan membawa nya ke ruangan Ares.
" Hahaha enggalah " ucap dua orang yang berada diruangan
" Maaf Pak saya ga ketuk pintu " ucap Anin
" Eh Iyah Nin ga apa apa, kenapa Nin..?" tanya Rio yang menghentikan obrolannya bersama dengan wanita yang ada di ruangannya
Wanita itu.. wanita yang Anin temui di kantin tadi, wanita yang berbicara dengan romantis kepada pasangannya via telpon.
Jadi wanita itu adalah kekasih Rio, atau bahkan calon istri Rio.
" Nin ko diem .." panggil Rio kembali
" oo eeh ini Pak jam 9 nanti bapa ada meeting dengan bagian keuangan, ini berkasnya sudah saya siapkan. Saya permisi ya pak " dengan segera Anin keluar dari ruangan Rio
Setelah keluar dari ruangan Rio, Anin tak dapat menahan air matanya.
Karena takut ada yang melihat dengan segera Anin berlari menuju toilet, ia juga takut Rio ada kekasihnya melihat Anin yang menangis.
Setelah Anin pergi, Rio melihat ada yang beda dari Anin.
" Bentar yah aku keluar dulu "ucap Rio berpamitan
Rio keluar dari ruangannya dan mencari Anin, namun Anin tak berada di meja kerjanya.
Rio merasa gelisah tapi ia sendiri bingung apa yang membuatnya gelisah, ia pun kembali masuk kedalamnya ruangan dan memutuskan untuk kembali bertanya kepada Anin.
Di kamar mandi Anin mengeluarkan semua airmata, saat ini ia merasa sakit hati namun apa yang membuatnya sakit hati pun Anin tak paham.
Karena takut Rio mencarinya, Anin memtuskan untuk kembali ke ruangannya namun tiba tiba Anin merasa kepalanya sakit ia melihat pemandangannya yang memudar dan setelah itu ia tak tau apa yang terjadi.
__ADS_1