
Sejak semalam Nayla tak bisa tertidur dengan pulas, ia melihat Ares yang masih tertidur pulas karena kelelahan. Nayla bangun dari kasurnya, dan pergi keluar kamar dan melihat rumah tersebut tampak sepi tak seperti dulu.
Nayla keluar rumahnya dan duduk dibawah pohon besar perkarangan rumah, ia menghirup udara pagi hari yang sangat sejuk.
Dirumah ini banyak kenangan Nayla bersama dengan sang Ayah yang tak akan pernah ia lupakan, ia menyandarkan kepalanya di pohon besar tersebut.
" Nduk ngapain disini sendiri " ucap Bu Sri yang menghampiri Nayla
" Ehh ibu udah bangun, sini bu duduk disebelah Nayla " Nayla menggeser duduknya sehingga Bu Sri bisa duduk disebelahnya
" Nay, ini Ibu mau kasih surat buat Nayla dari Bapa sebelum bapa pergi mungkin bapa udah nyiapain ini untuk Nayla " Bu Sri memberikan sebuah surat yang di masukkan kedalam amplop
" Iyah nanti Nayla baca bu "
" Ibu seneng ada Ares nduk, pilihan Bapa emang ga pernah salah ya nduk "
" Iyah Bu "
" Yaudah Ibu masuk dulu yah, kamu jangan lama lama di luar masih pagi banget nanti kamu sakit "
" Iyah Bu "
Nayla membaca surat yang ibunya berikan, ia mencoba menahan air matanya agar tak jatuh saat membaca surat tersebut.
Dear Nayla
Hallo kesayangan bapa, apa kabar cantik pasti kamu baik baik saja kan sayang
Maafin bapa yah, bapa ga bisa jagain Nayla lagi sekarang tapi Bapak yakin Ares akan selalu jagain kamu dan bahagiain kamu nduk.
Nayla...
Maaf waktu itu Bapak sempat memaksa Nayla untuk segera menikah, walaupun bapa sendiri tau Nayla belum siap untuk menikah. Menurut Bapak itu waktu yang tepat selagi Bapak masih dikasih umur dan bapa juga masih bisa menikahkan kamu nduk, dan Bapak ngerasa lega sekali akhirnya tugas Bapa selesai.
Nayla..
Sebenarnya bapa ingin sekali menceritakan ini secara langsung, tapi rasanya ga mungkin jadi mungkin bapa akan menceritakan disini saja yah nduk.
Dulu saat bapa dan ibu melepaskan kamu untuk kuliah di Jakarta rasanya berat sekali, Bapa sama Ibu takut terjadi apa apa sama kamu, hingga suatu hari Bu Amanda dan Pak Erlangga datang kerumah bersama Ares. Kamu mungkin lupa dengan mereka nduk, dulu saat kamu kecil Ares sering sekali mengajak kamu main bersama hingga kamu bilang ke Ares kalau kamu sudah besar ingin sekali menikah dengan Ares ya dulu bapa sih anggap itu hanya candaan kalian berdua.
Hingga suatu hari Bu Amanda dan Pak Erlangga bersama Ares mengatakan ingin menikahkan kamu dengan Ares, Bapak dan Ibu terkejut sekaligus senang, namun disisi lain Bapa juga belum siap karena kamu saat itu baru saja ingin melanjutkan sekolah.
Ares pun meminta kepada kedua orangtuanya dan kepada Bapa dan Ibu untuk menjaga kamu dari jauh dan ia berniat menjadi dosen, akhirnya kami semua setuju.
Hingga tiba tiba kondisi bapak yang mulai drop bapa sudah tidak yakin akan menjaga kamu lebih lama, akhirnya dengan izin ibu mu kami sepakat untuk menikahkan kamu dengan Ares dan kita semua membuat cerita sedemikian rupa agar kamu setuju.
Nayla..
__ADS_1
Bapak percaya sekali sama Ares, dia akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk kamu dan anak anak kamu nanti. Kalau memang Ares tidak menepati janjinya, salahkan bapa nduk jangan salahkan diri kamu sendiri yah.
Kamu baik baik yah, jangan sedih bapa kamu kalau kamu sedih.
Tak terasa air mata Nayla jatuh ia tak mampu menahan air matanya, ia menangis sambil memeluk surat yang ditulis oleh bapanya.
Ares yang sudah bangun melihat Nayla tak ada disebelahnya langsung pergi keluar kamar, disana ia bertemu dengan Bu Sri yang baru saja dari dapur.
" Bu.. Nayla dimana ya bu, tadi Ares bangun Nayla udah engga ada "
" Ada di luar lagi duduk, sana kamu temani nak "
" Iyah bu, yaudah Ares keluar dulu ya Bu "
Dengan segera Ares berlari keluar, dan benar saja ia melihat Nayla yang tengah duduk sendiri bersandar di pohon besar dengan segera Ares menghampiri Nayla.
" Naylaa " panggil Ares pelan agar tak mengejutkan Nayla
" Mas Ares " Nayla bangun dan langsung memeluk Ares
" Nayla kangen ya sama Bapak, Nayla mau Mas antar ke makam buat jenguk bapa..? " Nayla hanya menggelengkan kepalanya
" Nayla mau disini Mas "
Ares memperat pelukannya ia tau jika Nayla sedih karena kepergian orang tersayang.
" Kita duduk yah, nanti kaki Nayla pegel " Nayla pun mengangguk setuju
" Mas Ares.." lirih Nayla
" Iyah sayang, Mas ada disini untuk Nayla "
" Jangan tinggalin Nayla yah Mas, Nayla engga mau kehilangan Mas Ares "
" Engga.. mas engga akan ninggalin Nayla, Mas akan selalu disisi Nayla suka maupun duka "
Ares pun ikut menangis melihat orang yang ia cintai merasa hancur, ia merasa sakit melihat kondisi Nayla yang seperti sekarang.
" Nayla makan yuk, dari kemarin Nayla belum makan "
" Nayla ga laper Mas "
" Nayla maunya apa ..? "
" Nayla mau kayak gini aja dulu Mas "
" Yaudah tapi habis itu kita beli makan yah " Nayla mengangguk setuju
__ADS_1
Ares mempererat pelukannya ia mengusap punggung Nayla untuk menenangkan Nayla, ia juga sesekali mencium kepala Nayla yang berada di dadanya.
Dari keajuhan Alvian menatap kearah Nayla dan Ares, perasaannya saat ini antara senang dan sedih ia tak tau yang jelas untuknya saat ini adalah kebahagiaan Nayla.
" Serius amat liatinnya " ucap Rio yang mengejutkan
" Eh Ri, engga " Alvian mencoba menyangkal
" Yaa seperti inilah perasaan Anin saat liat lo berduaan dengan Nayla kemarin "
Alvian terkejut dan langsung menoleh kearah Rio
" Maksudnya .." tanya Alvian
" Beberapa kali gue liat Anin yang nangis setelah liat lo berdua sama Nayla, lo gatau atau pura pura engga tau kalau Anin suka sama lo "
" Gue udah anggap Anin itu adik gue sendiri, semua perhatian bantuan gue pun karena gue anggap dia adik gue ga lebih "
" Ya itu menurut lo kan, tapi untuk Anin.. dia punya perasaan lebih ke lo, selama bertahun tahun dia simpen sendiri perasaannya buat lo "
" Lebih baik lo pertahanin yang ada sekarang, daripada lo lewatin orang yang emang udah sayang sama lo " Rio menepuk pundak Alvian dan pergi meninggalkan Alvian.
Ini bukan kali pertama Alvian dengar jika Anin suka kepada dirinya, kemarin Nayla pun juga bilang jika Anin memiliki perasaan kepada dirinya.
Saat Alvian hendak masuk ia berpapasan dengan Anin, secara tak langsung keduanya pun saling bertatapan.
" Mau kemana Nin..? " tanya Alvian mencoba berbasa basi
" Mau buang sampah kak " Anin menunjukkan sampah yang ia bawa
" Yaudah sini gue buang " Alvian mengambil sampah dari tangan Anin
" Tunggu sini ada yang mau gue kasih tau " Anin pun mengangguk setuju
Setelah membuang sampah Alvian kembari menghampiri Anin.
" Kenapa kak, oo mau ngasih tau sidang gue yah gimana gimana " raut wajah Anin sangat bahagia
" Iyah, minggu besok udah ketuk palu kalau lo ga bisa hadir bisa gue wakilin ko "
" Alhamdulillah akhirnya, makasih yah kak "
" Iyah sama sama. oiya Nin ada yang mau gue-"
" Aniiinnn " panggil Naya membuat Alvian menghentikan ucapannya
" Eh Nay, kenapa " saut Anin
__ADS_1
" Ooo lagi sama Bang Vian, Bang mending lo nyapu atau apa gitu daripada berdiri aja Ayo Nin kita masak " Naya menarik tangan Anin dan Anin mengikuti Naya
Mungkin saat ini bukan waktu yang pas untuk ia mengatakan kepada Anin, ia pun akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Anin