Mas Dosen Dan CEO

Mas Dosen Dan CEO
BAB 44


__ADS_3

Anin terdiam mendengar ucapan Rio yang sambil menatap Alvian.


" Udah dijawab kan ayo puter lagi puter lagi " ucap Nayla memecahkan keheningan


Permainan pun terus berlanjut, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat.


Didalam kamar Nayla dan Ares mencoba membahas masalah Anin kembali.


" Menurut kamu apa aku menjadi Kaka yang gagal untuk Anin..?" ucap Ares sambil menatap langit langit kamar


" Engga Mas, mungkin Anin dan keluarga gamau nambahin beban kamu. Dan dari cerita yang aku denger, kamu ga suka juga kan sama suami Anin..? "


" Iyaah engga tau kenapa feeling mas kalau cowo Anin itu ga baik dan ternyata yang mas takut beneran "


" Mas sendiri aja kemarin gagal kan milih pasangan akhirnya mas diselingkuhi "


Ares tiba tiba teringat ucapan Laras yang mengatakan jika ia disuruh oleh orangtua Ares, namun Ares tak ingin langsung percaya .


" Mas ko diem " ucap Nayla yang sejak tadi melihat Ares melamun


" Waktu mas dan Laras di ruangan dia cerita kalau Mamah nyuruh Laras jauhin Mas dengan mamah kasih uang ke Laras, terus katanya Laras sedih sampai akhirnya ngelakuin kayak gitu "


" Hahaha terus Mas percaya gitu..?"


" Tapi Laras ada bukti kalau Mamah ngirim uang ke Laras "


" Ya tapi Mas, Coba kamu dengerin dari dua cerita dari dua orang yang berbeda "


" Ya justru Mas mau nanya Mamah kalau Mamah nanti pulang "


" Yaa Aku berharap Laras yang bohong Mas "


" Iyaah, yaudah tidur udah malem "


" Iyah Mas "


Ares menarik Nayla kedalam pelukannya, dan mereka pun tertidur.


Didalam kamar Rio dan Alvian saling diam, sejak permainan tadi tak ada pembahasan keduanya.


Tiba Tiba Alvian keluar kamar dan Rio pun bertanya.


" Mau kemana..?" tanya Rio


" Mau duduk aja di luar belum ngantuk" jawab Alvian dan ia pun pergi


Saat Alvian hendak pergi keluar, ia melihat Anin yang tengah duduk di ruang tengah.


Alvian merasa ini waktu yang pas, dengan segera Alvian menghampiri Anin.


" Nin ngapain disini " ucap Alvian yang kini sudah berada disebelah Anin


" Ehh engga kak ini lagi iseng aja nonton YouTube ga bisa tidur "


" Nin ada yang mau gue bicarain "


" Kenapa kak..? Tentang kasus cerai gue yah..? Gimana gimana..?"


" Bukan, tapi tentang Lo dan gue "


Anin terkejut saat Alvian mengatakan itu, iapun meletakkan ponselnya dan mulai memperbaiki posisi duduknya.


" Emang kita kenapa kak..?" tanya Anin yang pura pura tidak tau

__ADS_1


" Sejak kapan Lo suka sama gue..?"


" Engga tau kak, perasaan itu udah lama banget gue Pendem. "


" Kenapa Lo ga pernah bilang ke gue..? Kenapa Lo ga pernah ada tunjukin kalau Lo ada rasa sama gue..?"


" Kata siapa gue ga pernah tunjukin kak..? Gue sering kak, tapi Lo aja yang ga peka "


Alvian meraih tangan Anin, dan Anin menatap wajah Alvian.


" Izinin gue Nin buat jadi pasangan Lo, ya mungkin gue juga bodoh harusnya gue sadar ada orang yang sayang sama gue tapi gue malah ngejar orang lain "


Anin terdiam mendengar ucapan Alvian, ia tak percaya jika hari ini Alvian mengungkapkan perasaannya.


" Nin.." panggil Alvian karena Anin belum menjawab


" Tapi gimana dengan status gue..? Dan gue juga belum resmi cerai"


" Ga apa apa gue ga masalah, lagian Minggu depan Lo resmi cerai kan "


Anin tersenyum namun entah rasanya tak sebahagia yang ia bayangkan.


" Kamu mau kan Nin..?"


" Iyah kak "


Alvian langsung memeluk Anin, entah kenapa rasanya tak biasa saja ia tak merasakan debaran jantung seperti dulu.


Rio melihat dan mendengar semuanya dari jarak yang tak terlihat oleh Anin dan Rio, sakit itulah yang Rio rasakan.


" Gue kehilangan Lo kedua kalinya Nin " gumam Rio sendiri kemudian ia pun masuk kedalam kamar kembali.


*****


" Ayo makan " ucap Bu Sri memanggil para tiga lelaki yang sibuk dengan membersihkan halaman


" Engga usah Bu mereka mah ga pernah laper " timpal Anin yang membawa piring


" Apalagi Rio Bu, Rio mah makan kambing aja " Anin meledek Rio


" Boong Bu padahal Anin yang Diem diem suka makanin rumput " jawab Rio


Nayla dan yang lain keluar dan menghampiri yang lainnya.


" Cuci tangan dulu nih sabunnya " Nayla memberikan sabun kepada Ares


Setelah selesai mencuci tangan dan lainnya, mereka pun mulai sarapan bersama.


Anin duduk diantara Alvian dan Rio, belum ada satupun dari mereka yang tau mengenai hubungan Anin dan Alvian.


" Kalian beneran mau pulang Minggu..?" tanya Bu Sri


" Iyah Bu, tuh katanya pada mau jalan jalan dulu " jawab Nayla


" Yasudah kalian puas puasin dulu disini " jawab Bu Sri kembali


" Iyah Bu sekalian katanya ada yang mau honeymoon " timpal Ana


" Siapa..?" tanya Ayu


" Itulah Si Nayla dan Pak Ares " jawab Ana menunjuk keduanya


" Dih mereka mah gausah honeymoon, dirumah Bang Ares juga bisa " jawab Rio

__ADS_1


" Apaan sih ko jadi bahas gue sama Mas Ares, yaudah kalian dong ada yang nyusul nikah " ucap Nayla


" tau tuh Naya masih sayang tapi putus " ucap Ana


" Diih ko jadi gue sih, ayu juga Lo aja gatau diem diem ayu suka masih ketemu " jawab Naya


" Udah udah gausah berantem, atau mungkin kalian mau di kenalin sama temennya Mas Ares " jawab Nayla sambil menyenggol lengan Ares


" Hmm mau jadi istri kedua atau mau jadi istri pertama..?" ucap Ares yang sedari tadi hanya mendengarkan


" Pertama dan satu satunya lah Pak, ada ga pak yang ganteng terus kaya " Jawab Ana


" Ada, tapi ya mungkin usianya 30 keatas " jawab Ares


" Ga apa apa pak, biasanya yang tua tua banyak pengalaman " jawab Ana


" Apaan Bang Ares aja mau pertama harus liat di YouTube " timpal Rio


" Sembarang udah pro gue Ri " jawab Ares tak terima


" Ehh gausah jauh jauh ini Bang Vian kapan nikah..?" tanya Naya


" Ya tergantung " jawabnya Alvian singkat


" Tergantung apa .? Tergantung dikasih jodoh..? Gimana mau nikah pacar aja ga punya " sindir Naya


" Kata siapa...? Punya ko, nih pacar bang Vian " Alvian merangkul Anin dan Anin hanya tersenyum


" Ooo jadi ada yang baru jadian bisa kali ih traktir " ucap Rio yang pura pura tak tau, sejujurnya hatinya sakit saat semalam ia mendengar hal itu


" Makan Mulu Lo mah " Anin memukul pelan Rio


" Lah iya dong iya ga..? Nanti gaji pertama juga makan makan lagi " jawab Rio


" Lo kerja dimana Nin..?' tanya Ares karena berkali kali Anin menolak bekerja di perusahaan nya


" Tuh jadi Sekretaris nya Rio bang, abis gue bosen nganggur " jawab Anin


" Berapa Rio gaji Lo..? " tanya Ares kembali


" Yaa cukuplah buat gue nyicil rumah subsidi hahaha "


" Hahahah " jawaban Anin diikuti tawa yang lainnya


Setelah selesai makan dan bersih bersih, Rio duduk diluar sendiri sambil memainkan ponselnya.


" Weh ngapain Lo " ucap Ares mengejutkan


" Eh Bang, engga ini biasa mau main game aja " jawab Rio lesu


" Gausah pura pura bahagia depan gue, gue tau apa yang Lo rasain "


" Gue telat lagi yah Bang, dua kali gue kehilangan "


" Kalau Jodoh pasti ada jalannya RI ".


" Tapi Anin sayangnya sama Alvian bang, bukan sama gue dan ga pernah ada gue dihatinya Anin "


" Hmm semoga Lo nemuin kebahagiaan Lo ya RI "


" Iyah Bang "


Anin berdiri tepat dibelakang keduanya, entah mengapa ia merasa sedih mendengar ucapan Rio

__ADS_1


Ia selalu menepis perasaannya kepada Rio, ia tak mau pertemanannya rusak jika menjalin hubungan.


__ADS_2