
Keesokan harinya. Afra baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sudah terlihat rapih dan wangi selesai dari mandinya. Sedangkan Hanna. "Ni anak masih aja belum bangun. Han, bangun. Hanna."
Hanna masih saja tertidur. Dengan jahilnya. Afra pun naik ke atas kasur dan seolah-olah kasur ini seperti trampolin. Loncat-loncat agar Hanna terganggu dan segara bangun. "KEBOO.....!!! BANGUN!!"
"AFRA!!" kesal Hanna yang akhirnya terbangun. "Gue pernah ngalamin ini," gumam Hanna. Merasa kejadian ini terulang kembali seperti De Javu.
"Ngalamin apa?" tanya Afra.
"Nggak."
"Ayo buruan bangun terus mandi. Nanti keburu siang nyampe Bogor," ujar Afra.
"Iyah.. iyah."
Masih begitu lemas terbangun dari tidurnya sembari melangkah menuju kamar mandi.
Tik Tok Tik Tok ...
"Ayah, ibu..." Hanna beranjak turun dan memanggil orangtuanya yang berada di bawah.
"Ayah."
"Kenapa Hanna?"
"Ayah ibu, Hanna izin keluar ya sama Afra pulang ke Bogor.",
"Ke Bogor?"
Hanna mengangguk. "Udah lama Hanna belum kesana lagi. Mau ketemu temen-temen SMA sama sekalian jenguk papah sama bunda."
Tak lama Kak Fatur dan Kak Bella tiba sembari menggendong anaknya yang bernama Rara.
"Kalian mau pergi juga?"
"Iyah, Yah. Mumpung lagi libur mau bareng-bareng," tutur Bella.
"Cie... yang mau pacaran," canda Hanna.
Afra yang berada di antara keluarga Hanna hanya tersenyum melihat mereka.
"Beda dong sekarang kan pacaran sesudah sah ditambah si kecil ini nih," tutur Fatur.
__ADS_1
"Bisa aja Kak Fatur ini," timpal Hanna.
"Kalian mau kemana emang?" tanya Bella.
"Ke Bogor."
"Mau pacaran juga ya.... disana," godanya.
"Sok tahu. Hem," protes Hanna.
Bella masih ingin menggoda adiknya ini. "Benar kan sama... siapa? Teman kamu yang pernah ke sini itu."
Hanna kebingungan. "Siapa? Seinget Hanna, Hanna nggak pernah ngajak temen kesini kecuali Afra." Hanna lalu melirik Afra di sampingnya.
"Temen cowok yang pertama kali kamu kenalin ke kakak," terang Bella.
Hanna masing memikirkan siapa teman cowoknya itu. "Kalau Aji sih itu nggak mungkin. Siapa sih, Kak?"
Tiba-tiba saja Kak Bella terkejut sendiri dengan perkataannya. "Lupain, kakak cuman bercanda. Hehe."
Hanna masih menatap kakaknya itu. Gelagatnya sangat aneh.
"Kita pamit dulu, ayah ibu." Bella buru-buru untuk pergi dari sini takut akan Hanna bertanya kembali padanya.
"Om tante saya juga mau pamit, maaf suka ngerepotin," ucap Afra.
"Engga kok nggak ngerepotin, sering-sering aja kesini. Hanna jadi ada temen."
Afra hanya tersenyum. "Makasih."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
Afra dan Hanna menuju keluar rumah. Dan disana Fatur dan Bella masih berada disini bersiap-siap memasuki mobilnya.
"Kak. Kak Bella."
"Iyah Hanna?"
"Teman aku yang pernah kesini siapa?" tanya Hanna masih penasaran dengan obrolan tadi.
__ADS_1
Bella kebingungan dan sedikit gelisah. Dirinya benar-benar lupa akan hal itu. Dia berusaha keras untuk menutupi kebenarannya karena sudah berjanji pada orang tersebut. "Kakak cuman bercanda."
"Sayang ... ayo," ucap Fatur di dalam mobil.
"Kakak pergi dulu yah, dadah."
Hanna hanya tersenyum. Melihat kepergian mobil di depannya itu. "Siapa?" Hanna memikirkan Fauzan karena tidak mungkin jika itu Aji, dia dikecualikan. Satu-satunya teman laki-laki yang diperkenalkan kepada Kak Bella dan sudah cukup lama yaitu hanya Fauzan saja. "Masa iyah dia?"
"Han ayok," panggil Afra di dalam mobil.
"Iyah... bentar." Hanna pun memasuki mobil Afra.
...****************...
Di dalam mobil. Keberadaan Bella.
"Sayang, aku hampir keceplosan. Hampir aja aku ngebongkar semuanya."
Fatur mendengarkan ucapan Bella tersebut sembari fokus menyetir. "Yang kamu maksud itu teman Hanna yang kembar itu?"
Bella mengangguk. "Aku bener-bener lupa, aku udah janji nggak bakalan ngasih tahu Hanna."
"Kenapa bisa gitu? Justru kalau Hanna tahu tentang kebenarannya, Hanna nggak akan salah sangka lagi."
"Aku tahu. Tapi dia sendiri yang mau kaya ginih dan meminta aku untuk berjanji."
"Namanya siapa?"
"Fauzan, iyah Fauzan aku ingat."
"Laki-laki yang pemberani dan bertanggungjawab. Mas yakin kalau Hanna tahu dia akan memaafkannya."
...****************...
Singapore
Di rumah sakit.
Kedua orangtua dari pemuda yang tengah sakit terbaring sepanjang hari, bertahun-tahun melawan masa krisisnya. Dia Fauzan. Mereka tengah kebingungan dengan perekonomian keluarga karena biaya pengobatan anaknya ini tidaklah murah. Membuat mereka harus memutuskan membawa kembali Fauzan ke rumah sakit di negara asalnya Indonesia.
Fauzan dapat dirawat disini karena rujukan dari rumah sakit awal yaitu di Indonesia. Karena disini terjamin dengan pengobatannya. Namun ternyata, tetap saja Fauzan masih saja tidak ada perkembangan membuat mereka bersedih melihat keadaannya ini. Mereka semuanya akan segera kembali ke Indonesia setelah membereskan semua urusannya disini.
__ADS_1
...🦄🥀...