Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 52 'Me2Yu' : Untuk Kebaikan


__ADS_3

Teman-teman SMA Hanna pamit pulang karena sudah terlalu lama disini begitu juga dengan teman kuliah Hanna. Jam berkunjung pun sudah habis. Hanna diminta istirahat.


"Kalian nggak bakalan nunggu Aji dulu?"


"Alah nggak usah, Han. Ribet," canda Oni.


"Haha iyah yah. Mm kalau Fauzan, dia dimana?"


Oni, Gina dan Nasrul dilanda gugup. "Mungkin sama Aji, Han. Tadi sih keluar sama Aji."


"Oh sama Aji?"


"Iyah, Han," jawab Gina. "Yaudah Han. Kita pulang dulu ya, tante... kita pamit pulang."


"Makasih udah jenguk Hanna."


"Iyah tante."


"Hanna dadah..." sapa Mia dan Zeki.


"Han cepet sembuh," kata Nasrul.


"Kita tungguin lo maen bareng di Bogor," lanjut Oni.


Hanna tersenyum angguk.


Semua orang pamit pada ibunya Hanna, dan akhirnya Arnold yang masih disini.


"Cepet sembuh."

__ADS_1


"Makasih, Kak. Udah mau repot-repot kesini."


"Gue pengen liat lo."


"Ha?" Bingung Hanna.


"Yaudah, Han. Gue pamit.. tante..."


"Iyah makasih yah."


"Iyah, Tante. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumssalam."


Arnold telah meninggalkan ruangan dan sekarang dia bersama Mia dan Zeki. Tapi mereka sangat penasaran dengan teman SMA Hanna. Mereka tidak terlalu jauh seolah-olah ada sesuatu yang terjadi dengan mereka. Lalu orang yang paling dekat dengan Hanna yang bernama Aji menghampiri mereka dengan membawa gadis lain yang memakai topi namun tak lama mereka segera pergi.


Arnold dan Mia pun tidak tahu apa yang terjadi pada mereka.


"Zek," panggil Mia yang memandang sendu. Zeki menoleh. "Kayaknya cuman kita doang yang nggak tahu apa-apa soal Hanna. Padahal kita temen deketnya. Tapi kenyataan, kita sama Hanna jauh."


Mia dan Zeki merasa menjadi teman yang buruk bagi Hanna.


"Kalian nggak perlu ngerasa bersalah. Mungkin, Hanna nggak cerita sama kalian karena nggak mau kalian tahu kelemahannya, nggak mau dianggap lemah sama kalian," tutur Arnold. "Sekarang. Kalian doain aja Hanna. Dan menjadi teman yang selalu ada buat Hanna."


Mia dan Zeki menganguk atas nasehat yang diberikan oleh seniornya. "Aku pikir Kak Arnold cuman bisa ngomong pedes, pelit kata. Tapi nyatanya enggak," kekeh Mia.


Arnold menatap malas. "Makanya jangan menilai dari pandangan pertama aja."


"Eii salah siapa waktu ospek jadi senior nyebelin. Jadi kan kita males kalau berurusan sama Kak Arnold." Ceplos Mia yang tidak disengaja dan langsung mendapatkan hantaman dari Zeki. "Ihh Zeki!"

__ADS_1


"Hehe maaf, Bang. Mia emang mulutnya ember, nggak pernah disaring dulu," kekeh Zeki.


Arnold menghela nafas dan tidak mempedulikan juga.


......................


Apa yang terjadi pada mereka. Ternyata mereka ada di kamar Fauzan. Iya. Pada akhirnya mereka menemukan apa yang mereka pertanyakan dalam situasi ini. Mereka semua begitu terkejut. Tidak bisa berkata-kata lagi. Mampu menahan tangis dan penyesalan pada temannya yang terbaring. Berharap dia segera terbangun dari komanya.


Gadis bertopi itu menarik Aji dari kerumunan. "Aji.."


"Kenapa, Fra?"


"Lo serius buat Fauzi sandiwara di depan Hanna?" Aji mengangguk dan Afra menghembus gusar. "Ji, lo nggak kasian apa sama Fauzi? Dia dari awal udah bela-belain buat Hanna sama Fauzan. Kenapa harus dibebanin lagi sama masalah ini?"


"Afra. Ini buat kebaikan Hanna. Lo mau Hanna makin jadi-jadi huh?" bisik Aji. "Lo kenapa jadi ginih? Padahal buat kebaikan sahabat lo juga."


"Gue paham," sesalnya. "Tapi Fauzi.... gue kasian sama dia. Dan lagi, masalah ditutupi terus sama kebohongan nggak bakalan ada kelarnya. Cepat atau lambat Hanna juga pasti tahu."


Aji menatap kecewa padanya. "Lo jadi berubah ya." Dan Afra tertegun. "Gue tahu apa yang terbaik buat Hanna. Dan ini jalan terbaiknya."


Afra terdiam tak percaya pada perubahan sikap Aji. Setelah mengatakan itu, Aji pergi. Afra masih berdiri mengawasinya pergi. Sungguh tak disangka, padahal yang banyak berubah adalah dirinya, Aji sendiri. Dia hanya memikirkan bagaimana menutupi masalah dan tidak memikirkan konsekuensinya. Bukannya Afra tidak peduli dengan Hanna. Itu kesalahan besar. Pikiran Afra sebelumnya adalah untuk kebaikan Hanna dan semua orang, tentu saja, untuk Hanna dan Fauzi.


"Ada masalah?" tanya Gina telah tiba di dekatnya.


"Gue berantem sama Aji," kelit Afra. Posisinya masih seperti semula. Kemudian melihat sendu pada Gina. "Padahal gue ngasih tahu itu buat kebaikan Hanna sama Fauzi. Tapi, dia pikir gue udah berubah nggak peduli sama Hanna lagi."


Gina mengusap punggung Afra untuk menguatkannya.


...🦄🥀...

__ADS_1


__ADS_2