Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 25 'Me2Yu' Explorer


__ADS_3

Di parkiran kampus.


"Na, kita duluan yah ..." Mia pamitan sambil masuk ke mobil jadul milik Zeki.


"Iyah dadah ..." Hanna melambai tangan. "Hati-hati."


Bim. Suara klakson bunyi. "Bang duluan."


Arnold hanya menaikkan tangannya saja dengan senyuman. Motor cross Arnold berjalan ketika Hanna ada di sana, motor Arnold menyesuaikan dengan langkah jalan Hanna. Hanna menatap heran sambil melanjutkan jalan kakinya.


"Sibuk nggak?" tanyanya di atas motor.


"Kenapa?" tanya Hanna langsung keintinya.


"Ikut gue ke panti."


"Ke panti?"


Arnold mengangguk.


Hanna masih berdiri diam.


"Ayo. Kelinci Rara udah nungguin," lanjut Arnold semangat.


"Hem iyah deh." Akhirnya Hanna memutuskan untuk ikut. Karena sudah lama tidak bertemu dengan anak-anak panti. Arnold memberikan helm.


Mereka pun telah pergi.


Di sisi lain.


Afra melihat Hanna pergi bersama seniornya itu.


"Itu temen lo, kan? Hanna?" tanya Gilang. Afra mengangguk iya. "Dia pacarnya?" tanyanya lagi.


"Lo kalau mau nyari informasi Hanna jangan ke gue. Gue nggak bakalan jawab," dengus Afra sambil membuka pintu mobilnya.


Terlintas sudut bibir Gilang terangkat. "Lo cemburu yaa?" Godanya.


Afra tercengang kejut. "Ish ngaca dulu." Afra pun masuk ke dalam mobil.


Gilang tersenyum kekeh.


Dan diikuti oleh Gilang masuk ke dalam mobil tersebut. Seperti biasanya Afra akan pergi ke cafe untuk kerja part time nya dan Gilang hanya ikut-ikutan. Awalnya selalu risih tapi lama-lama terbiasa, dan Afra membiarkannya. Lagi pula dia teman satu jurusannya. Dan salah satu teman yang selalu membantunya juga. Seperti perkejaan yang ia dapati darinya.


...****************...


Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat.


Gadis mungil, ceria dan hiperaktif masih belum berubah sejak dulu. Tinggi badannya pun tidak bertambah, berjalan menyelusuri lorong fakultas orang lain.


Sama sekali tidak tahu malu.


Dia berhenti melihat ketika menemukan seseorang yang ia cari dari tadi.

__ADS_1


"Gin." Dia melambai-lambai tangan dengan senyuman lebar.


"Oni?" Saat masih di dalam ruangan. Ia pun keluar untuk menemuinya. Keluar dengan jas putih yang membanggakannya.


"Eh Dokter Gina makin-makin ..."


"Makin-makin apa?" nadanya melotot.


"Makin cantik," pujinya.


Senyuman terukir dari Gina.


"Tapi bohong hahahaha."


"Ishh nyebelin banget. Ngapain ke sini? Gue masih ada uji praktek."


Tawa Oni telah hilang. "Gin, ini kan hari-hari menuju libur semester yang pannnnnnjanggggg--"


Huph. "Nggak usah mangap gitu kali." Gina menutupi mulut Oni itu.


"Hish." Oni menyingkirkan tangan milik Gina dari mulutnya. "Denger, gue punya ide buat liburan kali ini sebelum Hanna berangkat ke Belanda ke acara kelulusan Si Aji."


"Ohh apaan?"


"Ayok pergi ke Dufan," usul Oni bersemangat sekali.


Prok Prok Prok


"Oh jadi gue nggak pinter belajar?" geramnya.


"Haha emang," jawabnya luknat.


Oni memutar bola mata malas. "Yaudah, gue mau bilang itu doang. Ah lo juga ajak bebep kesayangan lo itu, Dokter Cinta."


"Iyah gue nanti kasih tahu dia. Oh apa gue harus ajak Bulyo kesayangan lo juga jangan?" Gina menaik turunkan alis untuk menggodanya.


"Siapa yah? Kok gue ngerasa nggak asing sama tuh nama," pekiknya. "Ck. Nggak usah disebut-sebut nama itu, udah gue buang jauh-jauh kelaut. Ah~ mending lo jodohin gue sama temen lo itu yang meresahkan seisi kampus."


"Siapa? Husein?" tanya Gina pura-pura tak tahu.


Oni mengangguk semangat. "Kenalin gue sama dia. Oke nggak? Kalau disandingkan sama dia uhhhhg serasi banget." Mengangkat jempol kuat-kuat begitu percaya diri.


"Pthhh.." Gina menahan tawa. "Hahahah... serasi dari Gua Hiro. Serasi dari mananya malah jadi Beauty and The Beast. AHAHAHAH."


"Yaaa!! Jahat bener sama sahabat lo yang paling cantik ini. Paling cantik ke-1176 di kampus kesayangan gue ini."


"Hahahaha ngelawak." Gina tidak bisa berhenti tertawa dengan tingkah sahabatnya ini yang tidak pernah berubah. Tawa Gina begitu keras terdengar sampai ke dalam ruangan.


"Asik bener kalian ngobrol yah."


Suara yang tiba-tiba terdengar dari arah depan kami.


"Eh Husein, dosennya udah ada?"

__ADS_1


"Udah. Bentar lagi beliau ke sini."


"Mmm okey."


Pandangannya menuju sosok perempuan mungil yang terdiam membeku di samping Gina.


"Temen lo, kan?" tanyanya bertanya pada Gina. Gina hanya mengangguk. "Hai. Gue Husein temennya Gina," candanya memberi uluran tangan.


Gina terkekeh menahan tawa melihat ekspresi sahabatnya itu terdiam seperti patung.


"H-hai. Aku Olla." Akhirnya Oni pun memberanikan diri menerima jabat tangan itu.


Oh My God! Gue salaman dong ... Hatinya berteriak-teriak keras.


"Olla The Exprorer," ucap Husein itu tiba-tiba nadanya terdengar menggemaskan.


Ahhh dia lucu. Ya Tuhan ... cowok idaman gue. Teriak Oni dalam hati.


"Itu Dora kali..." sindir Gina.


"Hahaha bercanda, bercanda."


"Kalau lo mau candain namanya sama tokoh Ollaf tuh," lanjut Gina mendapatkan tatapan membunuh dari Oni.


Masih ingatkah pobia Oni dengan badut berkostum Ollaf? Cek.


"Ah Ollaf gue suka. Dia boneka salju yang lucu," jawab Husein menoleh pada Oni.


Oni menyembunyikan kekesalan pada Gina dan berakhir dengan senyum-senyum malu. Kalau dia yang nyebut gue Ollaf gue terima deh. Dia bilang lucu.


Mikir yang aneh-aneh ni anak. Batin Gina pada Oni.


"Kalau boleh tahu lo dari fakultas mana?"


"FEM. Fakultas Ekonomi dan Manajemen," seru Oni.


Dia pun senyum. "Ehm kalau gitu gue masuk duluan. Olla ..."


"Um?"


"Sampai nanti." Dia memberikan senyuman manis dan pergi masuk ke ruangan.


Sudah tak nampak. Tubuh Oni benar-benar tidak bisa diam seperti cacing kepanasan. "Waaaaa Gin! Tangan gue nyentuh tangannya. OMG!"


"Oni lo jangan malu-maluin di sini. Sanaa ah pergi buruan." Gina mengusirnya.


Namun Oni masih memandang tangannya itu yang berharga setelah bersentuhan dengan tangannya Husein, calon dokter hewan yang tampan rupawan.


"Bye." Gina langsung saja masuk meninggalkan Oni di sana.


Oni hanya tersenyum-senyum seperti orang gila lalu ia pun pergi.


...🌹...

__ADS_1


__ADS_2