
Suasananya tampak sangat menyenangkan seperti dulu. Tapi sebenarnya itu semua tipuan yang patut disyukuri untuk sementara waktu. Hanna sangat ceria sehingga dia bisa bergaul dengan teman-temannya. Teman SMA dan teman di kampus. Kecuali Afra, dia masih belum datang ke sini karena harus kerja paruh waktu dan belum selesai di kafe.
Bahkan, Fauzi sempat bertemu dengan Bu Diana di sini. Bu Diana juga memiliki kekhawatiran dalam pikirannya. Mereka saling tersenyum untuk memperkuat satu sama lain.
Sekarang. Aji dan Fauzi. Mereka meninggalkan bangsal Hanna menuju kamar yang merawat Fauzan, ICU. Aji berada di dalam untuk melihat Fauzan lebih dekat, dia mengenakan pakaian serba hijau, penutup kepala, dan masker untuk bisa masuk. Sedangkan Fauzi menunggu di luar. Tak lama kemudian Aji sudah keluar dan melepas pakaian rumah sakit tersebut.
Fauzi yang duduk disusul Aji yang duduk di sampingnya sambil merenung sedih.
"Zi, gue minta maaf."
"Bukan salah lo."
"Gue nggak nyangka. Gue masih... gue nggak ngebayangin ini bisa terjadi sama Fauzan. Gue,, gue bener-bener nyesel."
"Udah kejadian. Kita nggak bisa memutarnya tapi bisa memperbaikinya." Aji mengangguk. "Gimana sama Hanna?" Kali ini Fauzi bertanya.
"Dia kayak ginih karena shock ngeliat tante Diana. Gue kira Hanna nggak bakalan separah ginih efeknya tapi nyatanya..." Aji menghembus nafasnya. "Lo bisa liat, kan."
"Hem. Tapi Ji, soal gue yang dikira Fauzan..."
"Lo pura-pura lagi."
"Hah?"
"Ginih, dulu emang lo kepepet karena kita kira lo emang Fauzan dan jadi keterusan. Tapi kali ini gue tolong lo pura-pura jadi Fauzan. Kalau misalkan dia tahu Fauzan yang sebenarnya lagi koma, bisa-bisa,, gue nggak mau terjadi hal buruk lagi sama Hanna, sekarang juga dia udah kayak ginih." Fauzi nampaknya tidak suka. "Zi, gue mohon."
__ADS_1
Untuk kebaikan Hanna, akhirnya Fauzi menyetujui. Dia harus mengalah untuk kebaikan semua orang. Kembali pada kehidupan saudara kembarnya. Bukan menjadi dirinya sendiri.
......................
Hanna sedang mengobrol dengan teman kuliahnya. Dan Gina, Oni, dan Nasrul berbincang sedikit tentang apa yang terjadi sekarang. Situasi saat ini. Melihat ibu kandung Hanna dan juga kedatangan Fauzi yang mereka duga juga Fauzan, datang tiba-tiba. Membuat mereka semakin terkejut dan penasaran. Mereka juga semakin curiga dengan tingkah laku Fauzi dan Aji. Mereka tidak berada disini.
"Sebenarnya ini ada apa, sih? Gue kayaknya nggak tahu apa-apa," lontar Oni.
"Gue juga nggak tahu. Tapi, kayaknya Aji tahu semuanya. Kita tunggu penjelasan dari Aji," sahut Gina.
"Kayaknya si Afra tahu soal ini, deh. Dia kapan kesini?"
"Mmm dia bilang beres part time-nya jam 5," jawab Gina.
"Oke, kita tunggu dia."
"Bener juga loh," imbuh Oni.
"Tapi menurut gue mereka nggak barengan sama Fauzan. Diliat difoto yang mereka upload nggak ada tuh Fauzan," lanjut Gina.
"Bener-bener bener," kata Oni antusias.
"Dengan anehnya, kemunculan ibu kandung Hanna sama Fauzan bersamaan. Hanna dibawa ke rumah sakit setelah mereka baru sampai ke Indonesia."
"Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa, On?"
"Gue ngerasa yang tadi tuh kayak bukan Fauzan."
"Lah terus siapa kalau bukan Fauzan?" tanya Nasrul.
"Fauzi," jawabnya.
"Fauzi?"
Oni menganguk. Pasalnya dari sekian ribu murid SMA Bakti Nusa, Oni salah satu penggemar Fauzan. Dan tentu bisa membedakan mana Fauzan dan yang mana Fauzi. Orang yang mereka bilang itu adalah Fauzan, hanya dia yang merasa ganjal. Bahwa hatinya berkata sosok itu bukan Fauzan.
Berdiskusi di tempat yang salah. Tampaknya Hanna menyadari ada keanehan dari teman-teman SMA-nya. "Kalian lagi ngobrolin apa?"
"Ha? Enggak, nggak ngobrolin apa-apa," balas Gina dengan cepat. Gina tersenyum.
"Iyah. Kita cuman bahas kalau lo udah keluar dari rumah sakit. Lebih enaknya kita maen kemana gitu..." kata Oni. Alih-alih untuk menutupi kegugupannya. "Lo mau pulang ke Bogor?"
Hanna terkekeh mendengar hal itu. Mungkin yang dikatakan Oni ada benarnya juga dia harus mengisi liburannya di Bogor. Bersama mereka dan bersama ibu dan ayahnya. Seperti dulu. Hanna tidak sabar ingin bertemu dengan kak Anissa. Tapi mereka bilang, kak Annisa sudah meninggal, kenapa mereka membuat lelucon seperti itu? Hanna tidak mempercayainya. Karena Hanna masih mengingat terakhir kali dia berbicara dengan kakak kandungnya yaitu Annisa, dia bilang dia akan dikirim oleh ayah ke luar negeri untuk melanjutkan studinya di sana.
Pikiran Hanna hanya tertuju pada kata-kata yang diucapkan terakhir kali oleh kak Annisa. Dan menganggapnya seperti itu sekarang.
Hanna juga tidak sabar untuk bercerita dengan Fauzan tentang kehidupan kampusnya. Karena dialah yang membuatnya seperti sekarang. Mendapatkan apa yang ia sukai karena dia.
...🦄🥀...
__ADS_1
...Bersambung ......