Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 28 'Me2Yu' Taman Fantasi (2/2)


__ADS_3

Berlanjut ...


.


.


.


Komedi putar. Wahana terakhir yang akan naiki dan setelah itu kami akan pulang. Lampu-lampu komedi putar yang menyinari malam ini begitu indah.


Semuanya sudah naik tentunya kami memilih untuk menaiki kuda-kudaan.


"Ollaf, naik yang ini," kata Husein membuat Oni terdiam sejenak.


Husein menyarankan kuda-kudaan yang posisinya lebih rendah agar Oni bisa menungganginya dengan lebih mudah.


"Kamu ... nyindir aku yah?" Oni menatapnya sambil cemberut.


Oni menjadi terbiasa dengan Husein memanggilnya Ollaf. Bahkan jika orang atau sahabat lain memanggilnya Ollaf, dia selalu marah. Ollaf adalah pobianya.


Bucin.


"Heheh nggak, kok. Kalau naik itu nanti takut jatuh. Tekuran yah."


"Perhatian banget sih," kata Oni sendiri padanya.


"Kan ngawasin anak kecil," balasnya.


Oni mengerucutkan bibirnya sedikit kesal. Dia masih menganggapnya seperti anak kecil.


Hanna yang sedari tadi melihat pemandangan seperti taman bunga milik mereka berdua. Terheran-heran juga. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Gina, lo jodohin Oni sama temen lo itu?" tanya Hanna.


"Nggak, kok. Gue nggak ngenalin mereka," balas Gina yang berada di kuda-kudaan dekat Hanna.


Afra pun tak jauh dari tempat mereka. Dia mendengar obrolan mereka.


"Gue juga heran kenapa Si Oni bisa akrab banget sama Husein. Padahal nih, awal ketemu kayak Aziz Gagap tapi dalemnya hura-hura kayak lagu Ruben Onsu," lanjut Gina menceritakan.


"Liat yang bening mana bisa ditolak," sahut Afra terkekeh menyindir Oni.


Gina dan Hanna tertawa kecil.


"Terlalu lama merindu yang tidak pasti," sindir Gina untuk Oni juga.


"Semoga aja kedatangan temen lo itu bisa buat Oni yakin lagi tentang kesetiaan. Terlepas dari perceraian kedua orangtuanya," tutur Hanna.


"Hem gue harap juga begitu," jawab Gina.


Di balas anggukan oleh Afra dan Nasrul yang ikut mendengar. Gilang pun hanya menyimak.


Oni pun sudah naik di kuda-kudaan. "Makasih Husein."


Husein tersenyum angguk.


"Onion?"


Panggilan akrab masuk ke indra pendengaran Oni. Dia melihat ke belakang. Sudah terkejut. Prasangka itu benar. Seorang pria yang merupakan mantan pacarnya ketika dia duduk di bangku kelas satu SMA.


"Woah udah gue duga itu lo, Onion. Apa kabar? Lo ... nggak berubah sama sekali. Hehehe mungil lucu kayak Onion."


Bukanya suka mendapatkan pujian. Tapi Oni merasa jijik karena laki-laki itu mengungkit masa-masa mereka pacaran. Menyebalkan.


"Beb."


Segera kami bertiga menoleh pada suara perempuan itu.


"Beb kenapa lama? Aku nunggu kamu loh, aku nggak mau sendirian."

__ADS_1


Iuwww beb. Batin Oni merasa geli.


Tapi mengingat kembali bahwa ia juga dulu memanggil mantan pacarnya beb. Habislah harga dirinya. Itu sangat lebay dan menggelikan. Hih.


"Eh iyah maaf sayang. Aku ketemu temen SMA ku dulu."


"Oh." Dia sudah memandang Oni. "Mantan pacar kamu, maksud kamu?" sindirnya.


"Hehe iyah."


Mantan pacar? Batin Husein.


Krekr!


"Eh?!"


"Beb?!"


"Ollaf kamu nggak papa?" tanya Husein memagangi tubuh mungil Oni yang hampir saja jatuh karena komedi putar ini sudah bergerak.


"Nggak papa. Makasih." Oni tersenyum.


"Beb ayok ..." rengekan perempuan itu.


"Iyah sayang bentar." Lalu menatap pada Oni dan laki-laki bersamanya. "Pacar baru lo?" tanyanya pada Oni.


Oni melirik Husein lalu kembali lagi menatap tak suka kepada mantan pacarnya. "Iyah. Kenapa?"


Pacar? Batin Husein.


Dengan percaya dirinya ia mengatakan bahwa Husein adalah pacarnya.


Mantan pacarnya itu menyeringai. "Bagus deh. Daripada lo sama bule nggak jelas itu. Yaudah bro ... semoga lo betah sama dia."


Husein hanya mengangguk mengikuti permainan ini.


Orang dua itu pun sudah pergi.


Terus-terusan mantan pacar Oni mengatakan bule. Siapa bule itu? Pikir Husein.


Di sini Oni masih terlihat menahan amarah.


"Olla,, aku nggak tahu apa-apa soal kalian. Tapi ucapannya jangan diambil hati ya," tutur Husein yang begitu lembut membuat amarah Oni mereda.


"Maaf udah bilang kamu itu pacar aku."


"Nggak papa." Husein tersenyum.


...****************...


Zaanse Schans, Belanda


Kami berada di rumah Nyonya Diana. Suasana berubah lebih tenang. Diana. Raut wajahnya tak lepas dari ketenangan sekarang. Mungkin selama ini dia dibayang-bayangi rasa takut dan cemas akibat ulah suaminya.


Dan ini berkat apa yang Tyo lakukan. Seperti yang dia katakan saat itu. Dia akan membantu mengatasi masalah ini. Semua hutang telah dilunasi olehnya dan Nyonya Diana sudah terlepas dari statusnya sebagai seorang istri. Diana dan suaminya resmi bercerai. Seterusnya. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi, hanya Tyo yang tahu.


Bu Diana tengah membuat kue, Katyln dan Fauzi membantunya di dapur. Sementara itu, Tyo sedang duduk bermain dengan ponselnya. Ya. Dia terlihat seperti bos sekarang.


Katlyn tidak terima ia pun bergegas menghampirinya. "Tyo."


Tidak ada balasan.


"Tyo."


"Hem?"


Hanya deheman.


"Sven Euginius."

__ADS_1


Seperti kilat orang yang dipanggil itu langsung menoleh mengerutkan keningnya tak suka. "Awas aja lo sebut nama itu lagi." Ancamnya.


"Makanya kalau dipanggil tuh nyaut. Orang yang dipanggil di sini. Bukan di sana." Menekankan pada objek ponsel yang terus-menerus ditatap oleh bule ini.


Terpampang jelas di layar ponsel bule ini. Sebuah foto selfie seorang wanita berponi tentunya terlihat imut bersama pria yang bisa dibilang ganteng.


"Kenapa panas sekali yaaa??" sindir Katlyn untuknya.


"Diem. Nggak usah ngomong," sinis Tyo.


Namun Katyln semakin berani. Kepalanya menurun mendekat pada ponsel yang dipegang oleh Tyo. Jika diperhitungkan kepala keduanya sangat dekat hanya beberapa cm.


"Cowoknya ganteng. Pantes aja ...."


"Pantes apa?" sahut Tyo ngegas.


Ketlyn menoleh ke kanan namun tidak merubah posisi postur tubuhnya. Yang membuat saat ini mereka saling memandang wajah cukup dekat. "Pantes aja milih cowok ganteng itu daripada kamu yang SOK GANTENG."


Katlyn menyeringai senang dapat menjahili bule ini.


"SOK GANTENG maksud lo?!"


Katlyn menganguk. Tyo tidak terima.


Grep! Brugh!


Apa yang dilakukan Tyo membuat Katlyn sangat terkejut. Meraih bahunya dan kemudian menarik ke arahnya membuat posisi Katlyn berubah dari berdiri menjadi duduk dengan tubuh bagian atasnya menyeder yang tidak bisa dia jelaskan. Dan jarak pada wajah di antara kami seperti tadi. Cukup dekat.


Namun ada yang membedakan. Jantung Katlyn tidak bisa terkendalikan sekarang.


"Lo liat wajah gue dengan teliti, ganteng, kan?" Tyo memaksa.


Katlyn tidak bisa menjawab. Tentu saja Tyo adalah bule. Semuanya nampak seperti orang Eropa sesungguhnya. Bisa dikatakan di atas rata-rata. Katlyn tidak mau mengakui.


"Ganteng, kan?! Jawab dong Katlyn."


"Iii .... iy--"


"Kalian berdua ngapain?"


Tyo dan Katyln segera menoleh pada sumber suara itu. Orang itu berdiri menatap kami dengan tangannya menbawa sebuah nampan berisi kue. Kemungkinan kue yang dibuat Bu Diana sudah jadi.


Segera Katlyn mendorong tubuh Tyo dari hadapannya. Karena posisi ini bisa dikatakan sangat dekat. Terlalu dekat. Dia tidak mau kerabatnya itu berpikir macam-macam tentangnya.


"Jangan macem-macem di rumah orang."


"... Yo. Kalau lo mau sembat saudara gue kayak gitu. Gue nggak izinin. Halalin dulu." Orang itu adalah Fauzi sambil meletakkan nampan kuenya di meja.


Ketlyn dibuat malu oleh perkataan saudaranya itu.


"Eyy siapa yang mau sama saudara lo ini," kata Tyo memberikan rautan wajah tak suka. Tapi. Tidak kemungkinan juga bahwa saudara Fauzi itu memang cantik. Terlihat dewasa. Berbanding terbalik dengan sosok Oni.


"Eyy emangnya siapa juga yang mau sama kamu. Bule sok kegantengan."


"Ganteng!"


"Jelek."


"Handsome!"


"No."


"Knap!"


"Duidelijk niet."


Dan Tyo mendengus kesal dibuatnya. Sudah kesal dengan foto Oni dengan laki-laki yang bernama Husein. Postingannya di-tag olehnya membuat Tyo tahu nama dari laki-laki itu. Mahasiswa kedokteran hewan.


...🐻🌹🐨...

__ADS_1


__ADS_2