Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 5 'Me2Yu' Emosional


__ADS_3

Netherlands


"Today's lecture is over, thank you for your attention ... Good afternoon."


(Kuliah hari ini berakhir, terima kasih atas perhatiannya ... Selamat sore)


Kuliah siang hari ini telah berakhir di kelas Aji.


Semester ini Aji tengah disibukan dengan tugas akhir kuliah atau sedang mengerjakan skripsinya. Kurang dari empat tahun saja dia bersekolah disini, dan itu tidak terasa olehnya.


Aji terlihat keluar dari kelas. Yollanda pun berlari menyusuli Aji. "Mas Aji."


Aji sudah tidak asing lagi dengan suara dan panggilan itu terhadapnya. Bule Jawa. "Mas Aji aku mau...."


"Mau apa?" kilah Aji.


"Ngerjain skripsi bareng yuk. Kita kan nggak terlalu jauh tema-nya masih bisa saling bantu, bisa kerjasama juga."


"Ogah," tolak Aji dia berlanjut melangkah pergi.


Yollanda menyusulinya kembali. "Kamu mau pergi ke dosen pembimbing, kan?"


"Hem."


"Bareng..."


Aji berhenti tiba-tiba. "Lo mau ngapain ikut gue?"


Yollanda tersenyum. "Kita kan dosen pembimbingnya sama, kamu lupa? Aku juga mau ketemu."


Aji tak bisa berkata ia melanjutkan kembali langkahnya lebih awal.


"Mas Aji kita mungkin jodoh loh.... Kita samaan terus," ungkap Yollanda.


"Lo kepedean banget. Udah gue bilang gue udah punya pacar," jelas Aji.


"Itu kan pacar belum tentu jodoh di masa depan."


"Berarti lo juga belum tentu jodoh gue dan jangan lo nganggep kita ini jodoh," lirih Aji.


Yollanda menyenggol Aji. "Ihhh.. Mas Aji nggak usah gitu kali ngomongnya."


"What ever," balas Aji.


...****************...


Indonesia, 4.15 PM


Afra bersama teman-teman sekampusnya tengah berjalan menuju keluar gedung.


"Wah .. Fra, nanti ajarin gue ya tentang mata kuliah tadi."


Afra mengangguk mengiyakan.


"Yahh lohh.. lo kok bisa banget sih ngerjainnya, gue salut."


"Gue kan belajar, makanya lo lo pada juga belajar," kekeh Afra.

__ADS_1


"Udah mulai sombong nihh ..." candanya.


Afra tersenyum tertawa kecil.


"Fra, si Gilang gimana?" tanyanya.


"Gilang? Emang kenapa?" heran Afra.


Teman-temannya itu menyenggol Afra, tersenyum. "Ah lo mah. Lo juga pasti tahu apa yang kita maksud."


"Iyah loh Fra, lo yakin nolak si Gilang?" tanya teman yang lain.


"Walaupun si Gilang udah ditolak berkali-kali, dia tetep usaha deketin lo, Fra..." sambungnya.


"Apa perjuangannya itu masih kurang? Dia juga udah bantuin lo bisa kerja di kafe abangnya."


Lagi-lagi Afra selalu ditanyakan hal itu dan dirinya pun sudah bosan dengan obrolan semacam itu. "Kalian pada tuh udah disogok apaan sama Gilang?"


Mereka langsung terdiam.


Sebenarnya Gilang menyukai Afra dan sudah berapa kali dia menembak Afra namun tetap saja ditolak. Dan juga Gilang telah membantu Afra untuk mencari kerja part time, dan itu adalah di kafe kakaknya Gilang yang bernama Bang Ilham.


"Kalian nggak usah bahas-bahas Gilang lagi. Bosen. Gue nggak bisa nganggep dia lebih. Inget nih, cuman temen," keluh Afra. "Gue duluan."


"Yahh Afra .. nggak seru."


...****************...


Hanna tengah berjalan bersama Mia dan Zeki setelah selesainya dari kuliah. Saat di persimpangan Hanna berpisah dengan mereka. Melangkah terus menerus menuju keluar gedung. Namun, tiba-tiba saja.


"Aduh .."


"Koala?!"


"Koala?" tanyanya terheran-heran dengan muka seperti koala nya.


Aduh.. gue keceplosan. Dalam hati Hanna.


"Woi.. boneka."


Mendengar sebutan tersebut. Hanna langsung membulatkan matanya terkejut. "Kakak bilang apa barusan?!"


"Boneka," ucapnya santai.


Suara Hanna mengundang orang-orang menjadi memperhatikan mereka.


"Wah .. lihat tuh mereka berantem deh."


"Boneka Tuan Arnold kayanya lagi marah."


"Tuannya dimarahin sama Bonekanya."


Suara-suara mereka terdengar oleh Hanna dan Arnold. Bisa-bisanya mereka menambah kemarahan untuk Hanna. Hanna menatap tajam pada Arnold dan langsung beranjak pergi dari sini dengan perasaan kesal. Sampainya terus berjalan keluar tanpa memperhatikan apapun selain kekesalannya terhadap Arnold.


"Hanna."


"Hanna....."

__ADS_1


"Hanna!!?"


Sedari tadi ternyata Arnold memanggil Hanna dan menyusulinya, ia pun akhirnya dapat menahannya untuk tidak melangkah kembali.


"Apaan sih, Kak?" Dengan raut wajah Hanna yang kesal.


Arnold terkejut dan terheran-heran. "Lo kenapa, sih? Marah?"


"Menurut kakak apa? Seneng?"


"Lo marah sama siapa?" tanya Arnold tidak tahu apa penyebabnya Hanna bisa marah.


Dia itu gimana sih. Pura-pura nggak tahu apa emang nggak peka. Batin Hanna.


"Lupain aja."


Hanna berusaha menahan kekesalannya.


"Kak Arnold ngapain nyusulin Hanna? Ada perlu apa?"


Hanna tidak menyangka dia benar-benar mengobrol dengan Arnold. Biasanya mereka saling tidak mengenali dan berpura-pura.


"Gue minta nomer lo," pinta Arnold.


"Buat apa? Hanna nggak mau."


"Lo lupa? Kita masih tim kan buat lomba?" tanya Arnold.


Aduhh gue lupa. Ish.


Hanna pun mengambil handphone dan memberikan nomernya.


"Gue bakalan buat grup dan gue juga bakalan ngirim beberapa referensi buat kalian," tutur Arnold.


"Emangnya kita lagi ngerjain tugas kuliah? Kak Arnold mau ngajar hah?" sindir Hanna karena Arnold bersikap seperti di kelas saat dia mengajar kami sebagai adik kelasnya.


Arnold sendiri selalu keluar masuk di kelasnya Hanna karena dia asisten dosen. Hanna pun berpikir saat orang-orang yang sudah mengenal Arnold mengatakan bahwa dia selalu tertidur baik itu saat pelajaran berlangsung maupun tidak. Dan Hanna pun mempercayainya karena jika bertemu dengan Arnold pasti tengah tertidur di suatu tempat. Entah apa yang membuatnya selalu tertidur. Hanna pun beranggapan bahwa Arnold seperti koala yang selalu beristirahat dan tertidur juga wajahnya pun persis tak jauh dari koala. Menurutnya.


"Kalau nggak mau juga nggak papa," sahutnya. "Kita batalin aja kerjasamanya."


Sontak Hanna langsung buru-buru. "Jangan! Jangan..."


Pada saat obrolan tentang pendapat gagasan Arnold itu. Hanna sangat kagum dan ingin bekerjasama dalam perlombaan. Walaupun sebenarnya terpaksa. Arnold terlihat puas atas kemenangannya.


"Rencana besok gue mau daftarin tim kita, nanti gue bahas lagi di grup yang kak Arnold buat," tutur Hanna.


Arnold hanya mengangguk dan mengembalikan handphone milik Hanna. Tanpa basa-basi lagi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tanpa senyuman yang ditinggalkan. Arnold langsung saja beranjak pergi.


Melihat itu Hanna rasanya ingin meneriaki, memukul dan memarahinya. Namun ia tidak mampu hanya bisa mengekspresikan kekesalannya sekarang.


"Ihhhss ... Koala!! Kalau aja sikapnya nggak gitu gue bakalan...."


Tiba-tiba saja Hanna terhenti dengan perkataannya.


"Gue bakalan apa ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Hanna pun langsung beranjak pergi. Melupakan hal itu. Arnold sedari tadi tengah bingung dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Anak itu kaya yang nggak suka kalau lihat gue. Emang gue salah apa? Padahal gue lihat, dia ke yang lain ramah .. tapi kenapa cuman ke gue?"


...🐻🌹🐨...


__ADS_2