
Zaanse Schans, Belanda.
Sebuah mobil berwarna hitam milik Tyo telah terlihat di sebuah pedesaan yang terletak di Zaanse Schans. Cukup lama sampai desa ini dari Kota Wegeningen. Menyelusuri setiap rumah-rumah kecil namun memiliki keindahan. Tyo merasa sedang berlibur untuk menenangkan pikiran di sini.
"Di sana, Yo."
"Oke."
Mobil berhenti di sebuah rumah milik Bu Diana. Nampak Diana ini tengah duduk rehat di kursi halamannya. Kami keluar dari mobil sudah mendapatkan tatapan yang dingin. Henda Diana itu akan masuk ke rumahnya. Segera Fauzi berlari untuk memberhentikannya.
"Bu. Bu Diana...." Fauzi berhasil menahan pintu rumah ini.
"Mau apa kalian ke mari lagi? Huh? Sejak kamu datang menemui ibu, orang-orang itu mencari keberadaan saya di sini!"
Beruntungnya saat itu Dia mengganti nama sehingga orang-orang tidak mengenali nama Diana yang sebenarnya. Melainkan dia di sini dikenal dengan nama Mery.
"Maafin saya bu. Saya nggak bermaksud--"
"Lepas! Kalian pergi dari sini!"
Tyo mendekat pada mereka berdua. "Mevrouw..."
Diana menoleh menatapnya.
"Kami akan bantu ibu dalam masalah ini," ungkap Tyo.
Ucapannya membuat Diana terdiam begitu juga dengan Fauzi dan Katlyn. Apa yang akan dilakukan oleh Tyo ini? Dia benar-benar membuat kami terheran. Kami sudah berada di dalam rumah duduk menunggu kedatangan Bu Diana yang tengah mengambil air minum untuk kami.
"Yo, maksud lo apa bilang kayak gitu?" bisik Fauzi.
Tyo hanya tersenyum dan mengangguk-angguk agar mereka tetap tenang. Bu Diana pun telah datang meletakkan minuman pada kami.
"Mevrouw, mungkin tante belum mengenal saya." Tyo berdiri memperkenalkan dirinya dengan formal. "Saya Sven Euginius," lanjutnya tersenyum mengulurkan tangannya.
Sedikit ragu akhirnya Diana dan Tyo berjabat tangan. Tyo pun kembali duduk diikuti oleh Diana.
Fauzi heran dan Katlyn tercengang.
...****************...
Di sebuah apartemen milik Aji. Dia baru saja tiba langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Tak lama ia pun bangkit lagi merubah posisi menjadi duduk. Mengecek ponsel miliknya pada sebuah kontak bertuliskan Pookie.
Pookie
^^^Afra Afra^^^
^^^Afra^^^
__ADS_1
^^^Bales Afra^^^
^^^Kemarin itu gue sama Mbak Yol cuman ngerjain skripsi bareng. Itu pun disuruh sama dosen kalau ga sih gue males^^^
^^^Woi Afra!^^^
Pesan yang belum dibales oleh Afra sejak kemarin.
Aji membuang nafas. "Dia sengaja nggak bales atau nggak punya pulsa? Apa gue telepon aja? Eh tapi jadwal hari ini Afra ada kuliah malam. Huff... Gue nggak bisa ngehubungin dia."
Aji sedikit merengek di atas kasur. "Aaaaa...!!" Dengan cepat dia kembali duduk. "Gue telepon Hanna aja ah."
Segera Aji menekan kontak Hanna Kebo.
...****************...
Indonesia ~
Setelah diantarkan pulang oleh Seniornya beberapa jam yang lalu. Dengan pikiran yang masih kesal ia langsung mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Setelah itu ia berehat sejenak lalu kembali pada meja belajar untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia sangat serius di depan layar laptopnya.
DERT DERT
Dia melirik pada ponsel yang menampakkan kontak terpanjang yang ada di ponselnya itu. Batu Akik Ajinomotif Superhero
"Aji?"
Hanna menerima videocall dari Aji namun ponsel itu masih diletakkan pada meja dengan tangan dan mata yang fokus pada laptop.
"Ada apa lo videocall gue? Sibuk nih."
"Ih. Lo kerjain ajah tugasnya, sambil dengerin gue."
"Hemm." Hanna berdehem. Kembali dengan laptopnya.
"Han, Si Afra kenapa?"
"Kenapa apanya?" tanya Hanna tanpa melihat lawan bicaranya.
"Nggak bales pesan gue."
"Syukurin. Hahaha." Hanna malah puas mendengar hal itu membuat mood nya terhibur.
Dan di balik layar ini Aji benar-benar ingin menerkam Kebo yang ada dihadapannya itu. "Bantuin gue bukannya malah ketawa-ketiwi."
"Hahaha iyah yah. Apa? Um?" Hanna menghentikan kegiatannya dan menatap layar ponselnya itu untuk mendengarkan curhatan sahabat superhero-nya ini.
"Dia marah sama gue nggak? Setelah lo videocall gue waktu gue sama Mbakyu."
__ADS_1
"Mmm nggak tahu sih. Tapi kayaknya iyah tapi juga nggak."
"Lo kalau ngasih info tuh yang bener dong!"
"Ih kenapa ngegas?! Gue matiin nih."
"Ehh eh jangan...!!"
Hanna tidak jadi untuk mematikan telepon ini. "Lo kan tahu Afra itu cuek nggak bisa ditebak. Tapi waktu itu sih gue ngerasa dia sedikit cemburu."
"Serius?"
"Heem."
Mungkin. Dalam hati Hanna melanjutkan ucapannya itu.
Terlihat raut wajah yang senang di sana.
"Ji, jangan kesenangan dulu. Gue lihat temen cowoknya Afra yang namanya Gilang itu makin deket sama Afra."
Kesenangan Aji hancur seketika. "Gilang?"
Hanna mengangguk.
"Gue salut sama dia. Belum menyerah setelah ditolak beberapa kali. Hahahah." Hanna malah terkekeh.
"Ohh jadi lo salut sama dia karena ditolak beberapa kali sama Afra?" sungut Aji. Hanna masih terdiam heran. "Biar lo salut sama gue juga berarti gue harus nembak terus Afra."
"Eh eh eh jangan!"
"Why? Kan lo salut sama cowok kayak gitu."
"Masih nggak berubah. Lo terpengaruh sama omongan orang lain," sindirnya. "Lakuin aja sesuai diri lo Aji. Jangan ngikutin orang lain."
"Iyah yah."
"Yaudah gue mau ngerjain tugas dulu. Ada yang mau diceritain lagi nggak?"
"Mm nggak."
"Gue tutup ya."
"Yah Han. Makasih."
"Iyah." Hanna tersenyum.
Videocall pun terputus.
__ADS_1
Aji langsung mentidurkan tubuhnya. Dengan pikiran yang seolah-olah seperti dia berjalan tak tahu ke arah mana.
...🦄🥀...