
Jerman
Afra dan Gilang baru saja tiba di hotel yang merupakan penginapan untuk beraktifitas disini. Mereka memutuskan untuk pulang lebih awal karena di luar semakin dingin dan angin bertiup semakin kencang. Saat hendak memasuki pintu hotel, langkah Afra terhenti karena penglihatannya terganggu oleh sesuatu yang masuk ke matanya.
"Kenapa, Fra?"
"Mata gue,, ada yang masuk--aaw--"
"Sini biar gue tiupin..."
......................
"The accommodation for the participants in the activity was finished yesterday. But some are still left..."
(Akomodasi peserta kegiatan sudah selesai kemarin. Namun sebagian masih tersisa)
"Are participants from Indonesia still living here?" tanya Aji pada resepsionis tersebut.
Dia mengeceknya terlebih dahulu pada layar komputer. Dan. "Yeah, they're still here."
Aji begitu lega mendengarnya tapi 'They? Siapa'. "I have contacted them but there was no reply. Can I meet them ... They're my friends."
"Sure, but the room owner left the key here. They're out..."
"Okay thank you..." ujar Aji lalu menghampiri yang lainnya.
"Guys... resepsionis itu bilang peserta dari Indonesia masih tinggal disini, kemungkinan itu Afra, kan?"
"Kayaknya sih..."
"Yaudah langsung ketemu aja," sahut Tyo.
"Katanya lagi pada keluar..." tawar Aji.
"Yaudah kita tunggu aja dulu," papar Hanna.
Mereka juga berjalan menuju ruang tunggu yang ada di sini. Semua orang hendak duduk, kecuali Aji, yang tanpa sengaja melihat ke luar untuk menemukan sosok yang dikenalnya.
"Afra?" kejut Aji. Dia pun bergegas pergi berlari.
"Aji...! Mau kemana?" Hanna bertanya dengan heran. Melirik Tyo lalu ke Katlyn yang tampak bingung. Hanna memutuskan mengikuti Aji pergi.
__ADS_1
Begitu juga dengan Katlyn dan Tyo yang ingin mengikuti mereka. Tapi tiba-tiba ada panggilan ke Katlyn.
"Fauzi?" Katlyn pun melirik pada Tyo. Tyo menyuruh mengangkatnya.
📞 "Hallo Zi ada apa?"
"Katlyn tolong bujuk ayah lo..."
Katlyn berhenti dengan kecemasan pada suara di balik telepon. Maupun Tyo yang melihat ekspresi kecemasan dari Katlyn ikut cemas juga.
......................
Aji yang berjalan dengan emosi melihat wanita yang dicintainya sedang bersama pria lain. Dan dia. Berciuman? Jelas sekali Aji sangat emosional dan terkejut karena pikirannya berubah karena posisi itu begitu terlihat dia berciuman.
Di luar sana tangan Gilang masih bersandar di wajah Afra yang masih berkedip di matanya yang perih.
"Masih?" tanyanya.
"Agak mendingan--"
Grep! Semua orang terkejut bahwa dia menarik Gilang terbalik dan langsung mendapat pukulan keras di wajahnya.
"Aji...!!" kejut Hanna disana segera berlari.
"Lo nggak papa?" tanya Afra khawatir. Gilang hanya mengangguk, masih heran dan terkejut dengan apa yang terjadi. Seseorang memukulnya tiba-tiba, dan Gilang tidak tahu siapa itu.
"Aji! Lo apa-apaan tiba-tiba mukul temen gue?!" bentak Afra. Ia tak percaya Aji masih sama seperti dulu, selalu memukul lebih dulu tanpa tahu alasannya.
Hanna pun telah tiba menatap kejut pada semua orang. "Aji..." Suara Hanna pelan untuk menenangkan Aji.
"Lo yang apa-apaan Afra! Bisa-bisanya lo ciuman sama orang ini! Di tempat umum?! Di hadapan gue!"
"Ciuman?" heran Afra terkejut begitu juga dengan Gilang. "Siapa yang ciuman?!"
"Yah elo lah. Tadi apaan yang gue liat? Huh?!" geram Aji.
Afra mengehela nafas kasar. Aji telah sangka. Padahal Gilang sedang membantunya karena kelilipan. "Dia bantuin gue, mata gue kelilipan," dengusnya.
Aji membeku mendengar kalimat terakhir itu.
"Ayo, Lang." Afra mengajaknya pergi. "Kita pergi dari sini." Gilang hanya mengangguk patuh pada Afra. Sebenarnya dia emosional mendapatkan pukulan darinya, rasanya dia ingin membalasnya.
__ADS_1
Aji masih tersentak terdiam. Ia pun membalik badan dam berteriak memanggilnya. "Afra...! Tunggu! Maafin gue!"
Afra mengabaikannya dia fokus berjalan untuk masuk kedalam penginapannya. Tyo dan Katlyn pun berjalan keluar dengan cemas berpapasan dengan datangnya Afra bersama temannya itu.
Mereka berhenti sejenak. Afra tentu saja terkejut. Tidak tahu teman-temannya ada di sini dan bisa bertemu mereka.
"Oy, Fra..." sapa Tyo yang awalnya sedang cemas sedikit menjadi rileks.
Afra tidak menjawab.
Katlyn pun menatap pria itu tidak asing. "Gilang?"
Gilang meliriknya menemukan sosok wanita yang tak asing lagi. "Katlyn Si Duta Shampo?"
Katlyn mendengus kesal dengan nama gelarnya itu. "Gilang Si Berandalan..." Dia pun tidak mau kalah.
"Woah nggak nyangka ketemu sama lo disini," sahut Gilang.
Berbeda dengan Afra dan Tyo yang tampak kebingungan. Tapi tentu mereka berpikir bahwa Gilang dan Katlyn saling mengenal.
Tyo tersadar. "Katlyn... Fauzan, Fauzan..." Tyo mengingatkannya.
Katlyn mengangguk sadar. "Lang, aku tinggal dulu." Gilang mengangguk.
"Fra, gue pergi dulu bentar..." tutur Tyo juga kepada Afra. Afra pun hanya mengangguk.
Tyo dan Katlyn pun pergi untuk memberitahukan pada Aji tentang pembicaraan mereka dengan Fauzi tentang keadaan Fauzan.
Afra masih terdiam memikirkan dengan apa yang dia dengar barusan. Fauzan? Dalam hatinya bertanya-tanya. Kenapa mereka begitu cemas. Apa ada sesuatu yang terjadi? Pikirnya itu.
......................
Aji masih putus asa dengan sikapnya. Dia merasa menyesal karena telah berprasangka buruk padanya. Hanna tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu bahwa Aji kali ini salah. Selalu berbuat seperti itu tanpa mendengar penjelasan yang sebenarnya.
"Aji Aji...." teriak Tyo.
"Hem?" jawab Aji malas.
Bisikan Tyo pada Aji membuat Hanna bertanya-tanya apa yang dibisikkannya. Mengapa harus bersembunyi? Apa itu rahasia sampai orang lain tidak boleh mendengarnya.
Aji menatap kejut setelah mendengarnya. Fauzan. Fauzan gagal untuk dipindah rumah sakit ke Indonesia karena kondisinya tidak memungkinkan. Dan sesuatu yang membuatnya panik adalah dokter disana menyarankan pada keluarga pasien bahwa mesin alat bantu pernapasan yang terhubung pada Fauzan, dimatikan. Karena mereka menyerah tidak ada cara untuk membantunya lagi, sudah cukup lama sejak pasien tidak sadarkan diri selama hampir tiga tahun. Harapan untuk kembali tersadar hanya beberapa persen. Lebih baik tidak menyiksa pasien itu karena menderita dan memutuskan mematikan alat bantunya itu.
__ADS_1
...🦄🥀...