Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 50 'Me2Yu' : Seolah Tidak Terjadi Apa-apa


__ADS_3

Arnold dan Aji mencari arah yang berbeda tetapi di lantai ini tidak dapat menemukan Hanna. Mereka juga memutuskan untuk turun karena lantai saat ini adalah ruangan terakhir untuk bangsal pasien. Berjalan masuk ke dalam lift.


"Gue Aji." Aji memutuskan untuk membuka percakapan tadi. Karena sepertinya pria di sampingnya ini begitu pendiam.


"Arnold."


"Thanks udah mau bantuin gue cari Hanna," kata Aji. Arnold membalas dengan senyuman tapi hanya sekejap. "Emm lo peduli banget sama Hanna. Lo suka ya?"


Tidak makan. Tidak minum. Tidak ingin batuk. Tapi mendengar itu secara tiba-tiba Arnold terkejut sampai tersedak. "Ehk!"


Aji terkekeh kecurigaan. Ting. Lift terbuka. Aji pertama keluar diikuti dari belakang oleh Arnold yang masih menahan kegugupannya.


"Sebenarnya Hanna sakit apa?" tanya Arnold sedikit penasaran. Mengingat tadi dia memperingati kami semua sebelumnya.


Mereka berbicara sambil berjalan dan mencari keberadaan Hanna.


Aji masih mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan soal Hanna. "Mm dulu. Dulu banget. Hanna punya masalah keluarga, karena masalah itu Hanna nggak bisa ngatasin, fisik dan mentalnya kena. Delirum. Itu faktor pertama. Terus gangguan mental yang... yaaa rentan dialami remaja pada masanya."


"Pernah sembuh?"


"Pernah. Tapi sekarang kondisinya memburuk lagi. Sedikit amnesia. Jadi jangan heran kalau Hanna nggak tahu apa-apa. Lupa."


Arnold mendengarkan. Tak disangka Hanna yang selalu ceria, usil, dan juga menyebalkan. Seolah tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali. Terutama secara mental.


"Bukan gila ya..." Aji memperingati sinyal merah.


"Nggak-nggak gue nggak mikir gitu." Segera Arnold meluruskan pembicaraan itu.


"Bagus. Jadi, lo harus hati-hati kalau mau ngobrol sama Hanna. Terutama masalah keluarganya."


Arnold angguk.


"Aish, ni anak kemana? Dasar nyusahin," gerutu Aji tapi tetap saja dia cemas.


"Lo pacarnya?" tanya Arnold. Awalnya ragu untuk menanyakan hal tersebut. Tapi malah mendapat jawaban senyuman saja darinya.


Mereka berjalan mencari Hanna ke setiap sudut rumah sakit. Tapi nampaknya Aji telah menemukan keberadaan gadis pikun itu. "Han."


Arnold mengikuti arah yang dilihat oleh Aji. Berada di tangga. Tapi keduanya merasa aneh kenapa Hanna diam saja di tangga sana sambil menghadap.... Seseorang?

__ADS_1


"Fauzi?" gumam Aji.


Mereka tersentak kejut. Di saat Hanna memeluknya.


Jadi siapa yang pacarnya Hanna? Batin Arnold.


......................


"Fauzan," ucapnya dalam pelukan.


Dia meneteskan air mata. Rindu yang dia rasakan, hanya kerinduan di dalam benaknya tanpa merasa ada yang tersakiti. Juga kekosongan. Tubuh keduanya enggan untuk melepaskan pelukan. Ada sebuah rindu tapi sulit untuk mengungkapkan.


Bukan hanya mendengar nama itu yang membuatnya tersentak kejut. Tapi sikapnya sekarang membuat Fauzi terheran-heran. Apa dia sudah melupakan masa lalu itu? Apa dia benar-benar sudah memaafkan Fauzan? Sebuah pertanyaan yang terus menghampirinya.


Pelukan terlepas namun rasanya Fauzi ingin berlama-lama merasakan pelukan dari gadis yang selama ini ia cintai. Kami saling menatap. "Fauzan."


Dia senang melihat senyum itu kembali sedekat ini. Tapi rasanya kali ini senyum itu menyakitinya. Senyuman yang bukan untuknya. Tapi untuk saudara kembarnya.


"Fauzan."


Hanna kembali memanggil dengan nama itu. Sedikit tergores hati Fauzi. Apa Hanna hanya mengingat Fauzan saja. Dia tidak merasakan perbedaan atau curiga sama sekali. Sebegitu yakinnya dia, bahwa di depan matanya ini adalah Fauzan.


"Apa kabar?"


"Ba.. baik."


Ini aneh.


"Mana yang lainnya?"


Fauzi bingung.


"Kamu sama yang lainnya, kesini mau jenguk aku."


Aneh. Benar-benar aneh. Fauzi langsung melihat penampilan Hanna. Jenguk? Benar saja Hanna memakai pakaian pasien. Sebenarnya ada apa ini?


"Hanna," teriak seseorang di bawah sana.


Hanna dan Fauzi segera menoleh ke arah tersebut. Aji bersama seseorang pergi sepertinya menuju ke arah kami.

__ADS_1


"Hanna."


Sampainya di tangga. Hanna tersenyum begitu polos. Aji begitu gugup dan gelisah bahwasanya Hanna dan Fauzi saling bertemu.


"Lo nggak papa?" tanya Aji kepada Hanna.


Hanna angguk senyum. "Aku lupa ruangannya. Jadi aku cari kemana-mana. Terus nggak sengaja ketemu sama Fauzan."


"Fauzan?" Aji melirik pada orang yang disebut sebagai Fauzan itu. Dia memberi isyarat untuk mengikuti apa yang dikatakan Hanna.


Aji seketika berubah ekspresi raut wajahnya terangkat ke atas. "Eh bro apa kabar?"


"Baik." Fauzi kembali berpura-pura.


"Bagus deh. Ah iyah, Han. Yang lain udah pada nunggu lo. Ayok."


Hanna mengangguk senyum tapi ia sedikit kebingungan dengan seseorang yang datang bersama Aji. "Ini... siapa? Temen kamu, Ji?"


Arnold tertegun mendengar hal itu. "Gue Arnold. Senior lo."


"Arnold?" Hanna sedang berpikir untuk mengingatnya.


Apa Hanna akan mengingatnya?


"Ihh ngapain Kak Arnold ke sini?" ketus Hanna tiba-tiba.


Ada perasaan lega untuk Arnold, Hanna bisa mengingatnya. Meski ada sesuatu yang berbeda. Arnold pun mencoba bersikap seperti biasanya. Meladeni junior kesayangan. Eh. Ralat. Junior nyebelinnya.


"Oh jadi gue nggak boleh kesini?"


"Nggak."


Arnold menatapnya kesal begitu juga dengan Hanna. Sebelum pertengkaran terjadi, Aji segera menyadarkan mereka. Walaupun Aji tidak tahu hubungan mereka itu seperti apa.


Aji segera mendarong Hanna perlahan untuk pergi. "Ayok ayok ayok. Mereka udah nungguin kita."


Tapi masih ada tatapan seperti silet bagi keduanya.


Di balik sana ada seseorang yang dipenuhi rasa cemburu melihat interaksi mereka. Haruskah dia cemburu di situasi sekarang?

__ADS_1


...🦄🥀🐨...


__ADS_2