
Usai kejadian yang terjadi di pemakaman, meski orang-orang itu kabur namun polisi dapat menemukannya, mereka sudah ditangkap. Sedangkan Fauzan, ia harus merelakan bahwa dia tidak bisa melihat. Dia mengalami kebutan. Awalnya dia mengamuk tidak terima dengan kenyataan bahwa dia menjadi buta, namun kemarahan itu tidak lebih besar dibanding dengan fakta bahwa Fauzi mati karenanya. Dia terpukul.
Semua orang menatapnya dengan belas kasihan, sangat sedih melihat dia tidak bisa melihat. Di sisi lain, para orang tua memikirkan sesuatu agar anaknya kembali seperti dulu, bisa melihat.
"Yah, kenapa ujian ini belum berakhir juga? Apa salahnya? Apa salah kita? Hiks... Mamah nggak kuat liat anak kita kesakitan."
"Mah, ayah juga nggak bisa liat Fauzan kayak ginih. Ayah udah bicarain ini sama Ben. Ayah putusin buat kirim Uza ke Perancis ikut dengannya."
Anita nanap. "Kenapa nggak bicarain dulu sama mamah? Ben..."
"Tempat ini udah nggak aman buat Fauzan, Kak. Dia bakalan terus inget kejadian yang menyakitkan, masalahnya, itu bakalan susah buat dilupain kalau dia masih disini," terang Ben. "Kakak nggak usah khawatir, aku bakalan rawat Fauzan kayak anakku sendiri seperti Katlyn. Aku juga akan berusaha buat Fauzan bisa melihat lagi. Lagi pula, tugas ku di rumah sakit ini udah selesai, aku diminta oleh teman ku ke Perancis untuk membantu rumah sakitnya di sana."
Anita tampak ragu-ragu untuk melepaskan putranya. Dia tidak ingin jauh dari putranya. Cukup Fauzi saja, dia harus kehilangan anaknya selamanya. Namun, ia memikirkan kembali apa yang dikatakan adiknya, bahwa jika Fauzan terus di sini akan sulit untuk melupakan masalahnya.
Tidak ada hanya orang tua. Di sini Katlyn dan Tyo senantiasa selalu menemani Fauzan. Mereka juga mendengar percakapan para orang tua. Sementara itu, Fauzan duduk diam melihat ke luar jendela meski tidak bisa melihat apapun.
"Fauzan mau dibawa ke Perancis?" tanyanya Tyo. Katlyn mengangguk membenarkan, dia sebenarnya sudah tahu hal itu. "Apa dia udah tahu?"
"Soal itu, Fauzan belum tahu."
"Kalau dia nggak mau ikut gimana?"
"Aku yakin Fauzan bakalan mau. Karna... waktu itu, dia bilang dia pengen lupain semuanya."
"Termasuk Hanna?"
Katlyn mengiyakan. Tapi setelah nama Hanna disebutkan, itu mengingatkannya pada sesuatu. "Soal Hanna, Kamu udah coba tanyain ke Aji? Gimana katanya?"
"Aji nggak mau ngebahas ini, Kat. Dia cuman bilang kalau Hanna nggak bakalan ketemu lagi sama Fauzan, dia... mau lupain semuanya, persis kayak Fauzan."
"Apa kamu ngasih tahu mereka keadaan Fauzan sekarang?"
"No. He forbade me to tell them (Fauzan ngelarang gue buat ngasih tahu mereka)," terangnya.
Katlyn tidak bisa berbuat apa-apa jika mereka sama-sama ingin saling melupakan. Tapi, ia tidak yakin jika mereka bisa melupakan semuanya, terutama perasaan mereka yang saling mencintai.
...•...
...•...
Jadwal penerbangan hari ini untuk Fauzan, dia akan pergi ke Prancis. Dia berpamitan kepada orang tuanya dan juga adik perempuannya, meski dia tidak bisa melihat orang-orang yang akan ditinggalkan, perasaannya sangat sedih. Berpelukan satu sama lain untuk menyimpan kerinduan mereka disaat ditinggalkan.
Fauzan berjalan dengan alat bantu jalan untuk melihatnya menuju mobil, dipandu juga oleh pamannya, Ben. Orangtuanya tidak bisa mengantarkan Fauzan ke bandara karena jika mereka ikut akan sulit untuk melepaskan anaknya. Katlyn dan Tyo ikut untuk mengantarkan mereka ke bandara, tapi tidak untuk ikut pergi ke Perancis.
"Fauzan, kamu nggak papa kan naik mobil?" tanya Ben.
"Nggak papa, Om. Fauzan nggak bisa liat ini," balasnya.
Tapi kalimat terakhir itu membuat semua orang menatap sendu. Katlyn masih memikirkan hubungan Fauzan dengan Hanna. Kali ini dia tak mau diam saja.
...****************...
Hari ini adalah hari pengumuman Kompetisi Film Pendek. Hanna dan timnya datang untuk mendengar pengumuman itu secara langsung. Semua peserta sudah ada disini, sebelum diumumkan hasil kemenangan mereka, mereka terlebih dahulu menyaksikan karya dari film pendeknya.
...****************...
Sebuah mobil berhenti di dekat Aroma Cafe, pengemudinya membuka jendela mobil lalu melihat keluar untuk melihat seorang gadis yang berada di dalam kafe. Terus memandangnya dari kejauhan ingin menemuinya tapi ragu. Namun di saat keberanian itu muncul pada dirinya, sosok pria lain datang menemui Afra yang tengah merapihkan meja. Mereka saling tersenyum membuat hati Aji sangat sakit.
"Dasar bego! Bego! Kenapa gue harus marah sama Afra waktu itu. Ahk..! Kenapa juga gue emosian."
Menyesal atas sikapnya di saat itu. Ting. Suara notif pesan membangunkannya. Dia mengambil ponsel, mengeceknya. "Katlyn?" Saat membaca pesan tersebut, dia tampak terkejut dan bingung harus berbuat apa. Nomor Hanna telah diubah jadi dia bisa melupakan semua rasa sakit itu. Karena itulah Katlyn mengirimkan informasi tersebut melalui Aji.
"Gue kasih tahu Hanna nggak yah?"
Dia dilema. Apa dia harus menyampaikan informasi ini padanya. Atau diam saja. Ting. Notif pesan muncul kembali. Namun pesan kali ini benar-benar membuatnya terkejut.
Fauzan yang mengalami buta total dan kecelakaan yang menimpa mereka adalah ulah seseorang. Dan pelakunya sudah di tangkap oleh polisi.
"Kenapa Katlyn baru ngasih tahu gue." Ada sedikit kekesalan karena masalah yang sangat penting ini baru diberitahu. "Karena ini, gue jadi salah paham sama Fauzan. Gue harus bantuin dia, Hanna... lo harus temuin dia kali ini."
__ADS_1
Aji bergegas pergi.
Di dalam kafe, ternyata ada yang memperhatikan, tapi mobil itu sudah pergi. Dia tahu bahwa Aji telah datang ke sini, Afra menunggunya datang, jika ia datang ia akan memaafkannya tetapi ternyata Aji tidak melakukannya.
...****************...
Layar penuh itu menampilkan sebuah film pendek berjudul Rainbow ole The Rainbow. Itu adalah nama tim mereka, Hanna, Arnold, Mia dan Zeki. Semua orang menyaksikannya penuh khidmat, tertawa di saat tertawa, bersedih di saat mereka sedih melihatnya. Namun berakhir dengan kebahagiaan adanya sebuah harapan dalam film pendek tersebut.
Pembawa acara naik ke atas panggung. "Hadirin semuanya. Karena semua film pendek hasil kalian ini telah ditayangkan, selanjutnya kami akan mengumumkan pemenang Kompetisi Film Pendek di akhir tahun ini."
Mereka duduk
"Aku deg deg deg gan nih," gugup Mia.
"Gue juga," sambung Zeki.
Arnold tersenyum, dan Hanna juga tersenyum. Mereka sama-sama gugup untuk mendengarkan hasil pengumumannya. Di dalam tas, ponselnya Hanna terus bergetar, memunculkan kontak nama sahabat kecilnya.
...****************...
"Hanna angkat dong!"
Dan Aji gelisah di dalam mobil, dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
...****************...
"Pemenang Kompetisi Film Pendek kali ini adalah.... The Rainbow...."
Semua orang langsung bertepuk tangan setelah mendengar pemenangnya. Prok Prok Prok Prok Prok....
Hanna, Arnold, Mia dan Zeki pun tak kalah terkejutnya, ada rasa kaget dan senangnya mereka memenangkan kompetisi ini. Mereka berdiri, berjalan ke arah panggung dengan gembira untuk menerima penghargaan atas film pendek yang mereka buat.
...****************...
Mereka baru saja tiba di bandara.
"Dad jangan dulu masuk," kata Katlyn mencoba menahan mereka.
"Masih 30 menit, kan? Kita duduk-duduk dulu aja, Katlyn masih pengen sama dady heheh."
Ben tersenyum melihat putrinya itu. "Yaudah ayok, kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar disini. Fauzan ayok."
Dia hanya diam mengikuti apa yang ia dengar. Katlyn mencoba berharap bahwa dengan dirinya menyampaikan ini pada Aji, Hanna bisa datang untuk menemui Fauzan terakhir kalinya sebelum ia pergi.
...****************...
Mobil itu diparkir dengan cepat di tempat Hanna berada. Bergegas untuk menemuinya, mengikuti lorong yang membawanya ke sebuah ruangan. Dia membuka pintu ruangan itu. Suara riuh tepuk tangan langsung masuk ke gendang telinganya, ia melihat Hanna dan temannya di atas panggung menerima penghargaan. Terukir dengan senyuman dari Aji yang berpikir bahwa mereka memenangkan kompetisi. Namun tak lama kemudian, dia mendekat ke arah panggung.
"Aji?" Hanna melihat kedatangan sahabat kecilnya itu berjalan ke arahnya terlihat gelisah, dia terheran-heran segera ia menghampirinya. Begitu juga dengan teman-temannya disini bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Han."
"Aji lo ngapain disini?"
Aji menatapnya penuh kegelisahan sambil memberitahunya. Hanna nanap. Segera mereka pergi tanpa berpamitan dengan yang lain.
Arnold menyadari ada yang salah dengan mereka. Dia menyusul mereka. Meninggalkan Mia dan Zeki, yang harus menyambut kemenangan berdua.
"Han..." panggil Arnold.
Hanna tidak jadi masuk.
"Lo mau kemana?"
"Kak, Hanna harus ketemu sama Fauzan, dia mau pergi ke Perancis."
"Han ayok!" sahut Aji.
Hendak untuk masuk, Arnold mencegahnya. Dia dan Hanna saling menatap. "Gue anter. Naek motor lebih cepet." Ada keraguan dari Hanna untuk ikut bersamanya. Tapi, dia mencoba melawan rasa takutnya. Dia pun mengangguk untuk ikut.
__ADS_1
"Hanna lo serius mau naek motor?" Cemas Aji.
Hanna mengangguk untuk menyakinkan dirinya maupun Aji.
"Han. Lo percaya sama gue," ucap Arnold untuk memastikan bahwa dia akan baik-baik saja.
Arnold mengendarai motor cross sangat cepat namun dengan hati-hati. Dia tidak ingin Hanna terlambat untuk melihat terakhir kalinya Fauzan yang akan pergi jauh. Hanna juga berpegang erat memeluknya agar tidak terjatuh. Masih ada rasa takut karena bayang-bayang dirinya yang terjatuh bersama Fauzi dari motor. Kembali mengeratkan pelukannya itu pada seniornya.
...****************...
Fauzan terlihat keren dengan gayanya, dia memakai kacamata yang stylish. Namun dibalik itu ia berusaha menutupi kebutaannya meskipun orang akan tahu karena ia menggunakan alat bantu jalan. Dia tidak tertarik untuk bergabung dengan mereka dalam percakapan, mereka cukup berisik hingga terdengar menyenangkan, meskipun dia memakai earphone untuk menyalakan lagu.
Perhatian, para penumpang pesawat ****** Indonesia dengan nomor penerbangan GA324 tujuan France dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A10.
Pengumuman keberangkatan telah terdengar.
"Fauzan." Ben menepuknya memberi tanda. Fauzan melepaskan earphone nya itu. "Kita berangkat sekarang."
Mereka berdiri bersiap untuk check-in. Namun Katlyn gelisah, karena orang yang ia tunggu tidak kunjung datang padahal ia sudah berusaha mencegah.
"Zan, hati-hati," pesan Tyo pada sahabatnya itu.
Fauzan tersenyum.
Katlyn memeluk ayahnya. "Hati-hati, Dad."
"Dady tunggu di sana," balas Ben. "Tyo, jaga putri ku yah."
Tyo berdiri tegap memberi hormat seperti seorang prajurit. "Siap uncle." Membuat Katlyn dan Ben terkekeh dengan tingkahnya itu.
Katlyn beralih pada Fauzan, ia memeluknya. Merasakan hadirnya Fauzi ketika memeluk saudara kembarnya ini. Ketika dia melihat lurus ke depan, dia terkejut sekaligus senang. "Han." Tapi ia mengurungkan niat untuk memanggilnya dengan keras. Fauzan pun mendengar suara Katlyn samar-samar memanggil nama itu. Tapi Fauzan mencoba tidak memikirkan nama itu, dia mau mengingatnya.
Hanna semakin mendekat, sama sekali tidak teralihkan pandangannya pada Fauzan.
"Han--aaah!" Tyo yang hendak memanggil nama itu langsung mendapat tinjuan dari Ben. Orang tua lebih peka darinya yang masih muda.
"Om Ben? Katanya mau berangkat," sahut Fauzan.
"A-ah iyah..." jawab Ben gugup.
Hanna masih menatapnya diam-diam, dari atas menatap matanya seolah-olah mereka saling menatap tetapi dia tidak bisa kembali untuk melihatnya, lalu dia memegangi alata bantu jalan, rasa bersalah merasa kasihan dan sedih untuknya. Ingin memeluknya.
Aliran dari tubuh mereka seketika inging memberitahu padanya. Hanna memeluknya dengan erat menahan tangisnya.
"Katlyn? Lo ngapain meluk gue lagi?"
Dia tidak tahu siapa yang memeluknya.
Aji baru saja tiba dan langsung melihat adegan seperti ini.
Tapi ia merasakan keanehan. Pelukan ini begitu berbeda, merasa tidak asing. Fauzan mencengkeram bahunya mencoba melepaskan pelukannya secepatnya. Dia mulai curiga.
Hanna menyadari bahwa segera dia melangkah pergi dan mengganti posisinya dengan Katlyn sebelum Fauzan memeriksa wajahnya. Benar saja, Fauzan menyentuh wajah. Tapi pada Katlyn yang sudah menggantikan posisinya itu.
"Zan! Kamu kenapa?" Katlyn berpura-pura.
Suara itu menyadarkannya pada seseorang. "Katlyn?"
"Iyah ini aku Katlyn, emang siapa lagi?" tanya Katlyn mencoba memancingnya.
"Bukan," tawar Fauzan.
Ben mendekat pada Fauzan untuk mengajaknya segera pergi karena waktu keberangkatan semakin dekat.
Hanna kembali memandangi dalam kepergiannya. Bukan. Tapi saat itu, dialah yang meninggalkannya.
Aku begitu mencintaimu, hingga aku melepaskan mu, berusaha untuk melupakan. Meski aku tidak akan mampu melupakan mu.
Dengan ikhlas, aku bahagia seperti yang kamu mau. Terima kasih dan maaf.
__ADS_1
...🥀...