
Para pekerja tim film masih berada di Prancis, ini hari terakhir mereka dan kini saatnya mereka beristirahat dan berlibur. Besok mereka akan kembali ke Indonesia.
Hanna yang sedang terbaring di kamar hotelnya sedang bermain-main dengan ponselnya. Dia juga masih bingung dengan sikap Arnold tadi malam, setelah kejadian itu kami tidak merayakan hari jadian kami untuk makan malam bersama, Hanna memutuskan untuk pulang karena keadaan Arnold seperti itu. Jika dilanjutkan, dinner tidak akan berjalan mulus.
"Sebenarnya kak Arnold kenapa yah? Kenapa sikapnya jadi aneh gitu, ditanyain juga malah... Apa kak Arnold punya masalah yang nggak mau diceritain sama aku?"
Dert dert dert
"Gina?"
........ Gina Calling ........
"Hallo Gina?"
"Hanna apa kabar? Gimana Prancis?"
"Iyah gitu, deh. Gue bisa liat menara Eiffel."
"Akhirnya kesampaian, lo bisa liat menara Eiffel juga."
Hanna berseri. "Iyah."
"Ah iyah Han, sebenarnya gue mau tanya soal ini. Lo pacaran sama A Arnold?"
"Iyah kemarin. Baru."
"Serius? Lo cinta sama A Arnold? Maaf yah Han. Bukannya gue mau ikut campur. Tapi, gue tahu perasaan lo gimana. Gue nggak mau kalian berdua sakit hati karna hubungan kalian sekarang yang udah pacaran."
"Gina. Kak Arnold udah baik banget sama gue, gue mau kasih kesempatan buat dia."
"Tapi Han.."
"Gue bakalan berusaha jatuh cinta sama dia."
Ada keheningan setelahnya.
"Han. Gue nggak ada dipihak lo ataupun A Arnold. Tapi gue cuman mau ngingetin kalian berdua terutama perasaan lo, Han. Gue nggak mau lo nyesel nantinya, ini belum terlambat, Han."
"Iyah, Gin. Makasih udah ngingetin. Tapi gue yakin gue bisa jatuh cinta sama kak Arnold."
"Gue doain yang terbaik buat kalian. Yaudah Han maaf udah ganggu waktu lo yah."
"Nggak kok, gue juga lagi santai tiduran di kamar."
"Lo nggak keluar gitu, kencan sama A Arnold?"
"Mm nggak tahu." Hanna ragu. "Gin, sebenarnya tadi malam tuh gue sama kak Arnold mau dinner, tapi gagal."
"Lah kenapa?"
"Kita tuh udah sampe di restauran tapi tiba-tiba aja, setelah dari toilet kak Arnold ngajak pindah restauran. Sikapnya jadi aneh, gue tanya kenapa malah jawabnya gitu nggak papa. Yaudah gue putusin pulang ke hotel aja, dinner nya nggak usah jadi," jelas Hanna. "Gina, lo tahu kak Arnold kenapa?"
"Mmm A Arnold nggak cerita sama gue. Kenapa yah? Atau mungkin ada masalah kerjaan?"
"Kerjaan? Kayaknya enggak deh. Soalnya kerjaan lancar-lancar ajah, baik-baik aja."
"Nanti gue tanyain deh."
"Makasih yah Gina."
"Iyah. Yaudah Han gue tutup dulu ya, gue masih ada urusan, nanti gue kabari lagi."
"Iyah Gin makasih udah dengerin curhatan gue."
"Hahaha iyah yah."
"Semoga lancar acaranya, Gin."
"Aamiin. Gue tunggu di Indonesia, jangan lama-lama."
"Haha oke."
"Bye Han."
Panggilan berakhir.
Hanna tidak tahu harus berbuat apa, dia sudah mencoba mengirimkan pesan tapi tidak ada balasan dari Arnold. Tapi kebingungan itu teralihkan dengan pesan yang ia lihat sekarang, nomor kontak seseorang yang ia tidak kenal. Dia tidak mengirimkan pesan lagi setelah dia memberitahukan bahwa hari itu hujan. Hanna juga tidak membalas pesan tersebut karena lupa.
Hanna dilema. Balas atau tidak pesan yang sudah lama itu. Rasa penasaran juga terhadap nomor yang tidak dikenal itu. Hanna memutuskan untuk mengirimkan pesan balasan kepadanya.
| Malam ini Hujan
20.13
...Today...
^^^Bukankah malam itu begitu sunyi meski diguyuri hujan?^^^
^^^10.37^^^
Hanna terkekeh sendiri kenapa dia harus membalas pesan seperti itu. Lagipula dia tidak kenal.
| Malam memang kian sunyi, tapi yang bermalam di kepalamu kian bising
__ADS_1
10.38
...Read...
Hanna terkejut, orang itu membalasnya dengan cepat. Karena terlanjur sudah dibaca, dan balasan unik dari dia juga membuat Hanna semakin penasaran. Hanna tersenyum.
^^^Aku sudah berada di dalam keramaian. Tapi perasaan itu semakin muncul^^^
^^^10.39^^^
Kamu sedang merindu?
10.39
^^^Sepertinya^^^
^^^10.40^^^
"Tunggu. Kenapa aku balas kayak gitu? Emang aku lagi ngerinduin siapa?" Tanpa sadar Hanna membalas pesannya seperti itu. Hanna kebingungan sendiri.
| Jangan rindu berat! Kamu gak akan kuat, biar aku saja
...Read...
Hanna terdiam sejenak setelah membaca kata-kata yang tidak asing untuknya. Namun setelahnya dia tertawa, suaranya memenuhi ruangan. Kata-kata Dilan untuk Milea yang orang itu pakai untuk membalas pesannya.
"Hahaha..."
Tawa pertama Hanna di hari ini, orang itu bisa melakukannya. Hanna jadi ingin tahu siapa dia.
^^^Kamu ini siapa?^^^
^^^Apa aku kenal sama kamu?^^^
^^^10.45^^^
Ding dong ....
Suara bel kamar berbunyi. Hanna beranjak dari kasur untuk mengecek siapa yang datang. Klek.
Setelah membuka pintu, Hanna terdiam memandangi orang tersebut, Arnold datang.
"Boleh aku masuk?" tanyanya.
Hanna mengangguk diam. Mengizinkannya masuk ke dalam. Hanna duduk di tepi kasur diikuti oleh Arnold. Masih ada keheningan di antara keduanya.
"Hanna, maafin aku gara-gara aku dinner kita jadi gagal."
Akhirnya Arnold memulainya.
Arnold diam.
"Tuh kak Arnold nggak mau jawab lagi, kan." Hanna mengubah posisi membalikkan badannya.
"Hanna...." Arnold berusaha untuk berbaikan, dia tidak mau merusaknya lagi.
"Kalau kak Arnold kayak kayak ginih, aku nggak bakalan ngerti."
"Iyah Hanna aku minta maaf. Aku salah," ucap Arnold. "Maafin aku yah."
"Jelasin dulu kenapa?"
"Aku... nggak mau kehilangan kamu."
"Kak... aku udah jadi pacar kakak sekarang. Kak Arnold nggak usah khawatirin itu." Hanna berusaha menyakinkan hal itu. Meski masih curiga, apa yang membuatnya tiba-tiba mengkhawatirkan hal tersebut.
Hanna memeluknya. "Aku pacar kak Arnold."
Mereka saling menatap lekat.
"Hanna."
"Hum?"
"Maafin aku."
Hanna tersenyum angguk.
"Boleh aku minta sesuatu sama kamu?"
"Apa?"
"Kamu jangan panggil aku kakak, aku ngerasa jadi kayak kakak kamu," pinta Arnold.
Hanna berseri. "Iyah Koala."
"Koala?"
Hanna angguk.
Arnold tersenyum. "Berarti kamu boneka aku."
Hanna tertawa kecil.
__ADS_1
Sebutan nama masing-masing di masa lalu. Dulu selalu kesal, sekarang mungkin berbeda.
"Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, besok kan kita mau pulang. Kamu mau?"
"Kamu harus ganti dinner yang gagal kemarin."
"Iyah... makanya aku mau ngajak kamu lagi. Kamu nggak akan nyesel deh."
Hanna senang. "Aku ganti baju dulu."
"Iyah."
...****************...
Busana yang sangat keren untuk musim semi ini. Dia bersiap-siap untuk mengambil foto di Sungai Siene untuk mengisi majalah fashion Paris.
"Katlyn."
Nama yang terpanggil terperanjat.
"Eh Fauzan," gugupnya.
Fauzan menemukan yang aneh.
"Lo habis ngapain sama HP gue?" Segera direnggut dari tangan Katlyn. Katlyn semakin gugup.
Fauzan memeriksanya, mata itu terkejut. Katlyn saling mengirim pesan dengan kontak yang ia namai Night, dan itu adalah nomor kontak Hanna yang ia dapat dari Tyo setelah ia tahu bahwa Hanna berada disini. Namun ia belum memberitahukan Katlyn tentang ini.
"Kenapa lo bales?" lirih Fauzan. Tapi ada sedikit kelegaan, Katlyn tidak memberitahu indentitas asli.
"Yah sorry," keluhnya. "Soalnya aku gemes sih sama kalian."
Fauzan masih menatapnya kesal tidak tahu harus berbuat apa dengannya di tengah-tengah ia harus bekerja. Dia harus mengontrol mood nya.
"Pantesan kamu naksir dia. Kalian sama-sama suka puitis gituh. Hahaha aku juga nggak nyangka dibalik sisi kamu yang dingin, bisa puitis juga."
Awalnya Katlyn tidak menyadarinya, namun saat waktunya tidak terduga, Fauzan selalu membuat kalimat puitis. Di saat mereka mengobrol, ataupun saat Fauzan sedang melakukan wawancara. Dan ia ingat Fauzi pernah memberitahunya soal Fauzan yang pernah menjadi penyiar radio, Hujan.
"Kamu nggak usah khawatir, aku balasnya sesuai apa yang kamu mau. Dengan kata-kata yang menyentuh dan berirama," kekehnya. "Tapi Zan. Dia nggak tahu siapa kamu? Jadi kamu yang jadi pengagum rahasianya?"
"Nggak usah kepo."
"Ih kasih tahu siapa Night itu? Aku yakin dia orang Indonesia, dia lagi ada disini yah? Kapan kalian ketemuan? Aku ikut yah."
"Bruyant (Berisik)" cibir Fauzan yang langsung pergi.
Katlyn mendengus menatap kepergiannya. "Hei! Aku emang nggak tahu kamu ngomong apa. Tapi aku tahu kamu ngejekin aku. Dasar Kutub," gerutunya. "Susah-susah aku cari kata puitis di internet, malah diginiin. Nggak tahu terima kasih."
......................
Pasangan ini telah tiba sambil bergandengan tangan. Apa yang diharapkan, kencan kali ini harus berhasil. Mereka menyewa kapal, untuk makan siang mereka mengganti dinner kemarin yang gagal. Kota Paris menjadi pemandangan mengesankan ketika menyantap hidangan dari dalam kapal pesiar, itu akan membuat Hanna terkesan.
......................
Di permukaan, seseorang melihat pasangan itu naik ke kapal. Masih tidak percaya, tapi dia terus mengikuti pelayaran kapal. Dalam arti tertentu, apa yang dilihatnya nyata, dan itulah mereka. Dia ingin memanggilnya, dan berteriak.
"Hanna!"
Sentuhan pada tangannya, terasa. Mencegah dan melarangnya mengisyaratkan dari pria ini.
"Fauzan, tadi aku liat--"
"Gue tahu."
Katlyn tersentak diam menatapnya bertanya-tanya.
"Kamu udah tahu Hanna ada disini?"
Fauzan hanya angguk.
"Kenapa nggak ngasih tahu aku?"
"Gue kasih tahu pun emang mau apa? Lo mau temuin dia? Atau gue yang nemuin dia? Itu nggak mungkin. Lebih baik lo jangan nyapa dia, berusaha mungkin lo nggak boleh keliatan sama Hanna."
Dengan melihatnya ada disini, Katlyn pun jadi berasumsi dengan pesan tadi. "Apa jangan-jangan Night itu Hanna?"
Fauzan kembali mengangguk.
"Oh My God! Fauzan, kamu masih cinta sama Hanna kan? Sejak kapan kamu tahu Hanna ada disini? Kamu juga tahu nomornya."
"Waktu kita mampir ke Place De La Concorde. Gue ngeliat Hanna, dan, gue sedikit penasaran--"
"Penasaran sama kabar Hanna, penasaran kehidupan Hanna sekarang, penasaran siapa cowok yang sama Hanna?"
Fauzan diam. Lalu. "Arnold pacarnya Hanna. Gue udah ketemu sama dia."
"Fauzan... kenapa nggak cerita sama aku, sih?" cicitnya sambil menghela nafas.
"Terus kalau gue cerita, lo mau samperin mereka suruh mereka putus gitu?" kilatnya. Katlyn diam. "Jujur, gue masih sayang sama Hanna, Kat. Tapi, itu udah masa lalu. Gue nggak bisa berharap apalagi buat sekarang."
"Fauzan, allez (Fauzan, ayok)" Seseorang memanggilnya.
Fauzan pergi dan mengakhiri percakapan. Namun Katlyn diam tanpa kutipan, ia merasa kejadian ini adalah peristiwa yang telah diatur oleh Tuhan. Karena ikatan dari masa lalu belum berakhir.
__ADS_1
...🥀...