
Selama ini Hanna merasa bosan hanya dengan berbaring di kasur yang tidak nyaman. Suasana rumah sakit yang begitu membosankan membuatnya ingin menghirup udara untuk melihat suasana di luar. Hanna selalu diurus oleh ibunya bersama dengan bunda Naila disini, dan yang lainnya juga selalu berkunjung namun kembali ke rumah lagi karena sebuah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Apalagi untuk ayahnya. Dan Aji, tentu dia selalu bersama di sisinya.
"Aji."
"Kenapa, Han? Mau ke toilet?" tanyanya segera meletakkan ponselnya. "Gue bangunin dulu--"
"Nggak. Jangan-jangan. Jangan bangunin mamah, kasian mamah kecapean ngurusin Hanna. Aku bosen, Ji. Pengen keluar."
"Ohh lo bosen?" Hanna segera mengangguk memelas. "Yaudah kita jalan-jalan sebentar ke luar."
"Yes!" jawabnya begitu bersemangat.
"Tapi." Kesenangan itu kembali menurun karena kata 'Tapi' Aji. "Lo harus sambil makan ini."
"Nggak mau. Makanannya nggak enak."
"Makan, Hanna. Lo baru makan dikit."
"Nggak mau." Hanna cemberut.
"Yaudah gue nggak bakalan nemenin lo."
"Ah Aji. Iyah deh, Hanna makan lagi. Tapi dikit ya."
Dengan terpaksa Hanna pun mengiyakan persyaratan tersebut. Aji menghampiri untuk membantu Hanna berjalan. Tapi nyatanya fisik Hanna sudah membaik dan dia juga tidak mendapat infus.
Mereka berjalan berdampingan, Hanna yang mengenakan pakaian pasien merasa ingin melepasnya. Mereka berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit.
"Aji, kapan aku keluar dari sini? Padahal aku nggak sakit. Nggak, kan?"
"Iyah lo emang nggak sakit. Tapi butuh perawatan dulu," jawab Aji mengusap rambut Hanna sambil tersenyum. "Sabar ya."
Hanna mengerucutkan bibirnya. "Emang sebenarnya aku sakit apa, sih. Aku nanya ke mamah tapi mamah nggak jawab, jawabannya juga persis kayak kamu."
"Tante Diana bener. Lo emang nggak sakit, Hanna. Cuman butuh perawatan, waktu itu lo kan pingsan, tapi itu cuman kecapean." Bohong Aji.
"Kita duduk disini dan sekarang lo makan. Ayok."
__ADS_1
Aji memberikan makanan itu kepada Hanna, dia melahapnya karena terpaksa. Suara burung-burung menghentikan suasana keheningan disini.
"Katanya yang lain mau ke sini. Tapi belum ada juga tuh."
Aji hanya tersenyum melayani Hanna sembari sibuk membalas obrolan dari seseorang. "Tunggu aja nanti juga lo ketemu mereka."
"Hemm."
Ni anak kenapa nggak bales chat gue. Yang kemarin juga belum di read. Dalam hati Aji.
Dia melihat obrolan bersama Fauzi yang tidak mengabarinya setelah dia pulang dari Eropa.
Fauzan udah dipindahin ke Indonesia belum ya? Ucapnya dalam hati.
Aji pun memutuskan kembali pada obrolan bersama Hanna. "Emang lo nungguin siapa? Pengen ketemu siapa, hum?"
"Ketemu sahabat-sahabat ku, lah. Siapa lagi," timpalnya.
"Emang lo inget apa tentang mereka?" Aji sedikit memancing ingatan Hanna, dia ingin tahu seberapa besar Hanna mengingat kenangan di masa lalu.
"Kosong?"
"Hu'um."
"Jelas, lah. Lo kan orangnya pikunan," sindir Aji langsung mendapatkan pukulan darinya. Aji tertawa mencoba mencairkan suasana kekhawatirannya.
Tenene tenene... tenenenene....
Lagu yang familiar dari penjual es krim. "Aji Aji, Hanna mau itu."
Hanna terlihat seperti anak kecil, Aji terkadang sedikit terhibur dan merasa geli sendiri dengan perbedaan Hanna sekarang. Tapi bukan saatnya ini menjadi lelucon. Ini masalah serius.
"Beliin yaaa..." Hanna menaikkan alisnya sambil tersenyum manis.
"Gue beliin, lo tunggu disini."
__ADS_1
"Oke siap bos!"
......................
Seseorang masuk ke rumah sakit ke ruang ICU tempat saudara kembarnya dirawat khusus untuk perawatannya. Kantung matanya yang seperti panda menunjukkan kurang tidur. Dia baru saja pulang dari rumah untuk mengambil pakaian ganti. Membawa tas, melangkah masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas. Ting. Pintu lift terbuka, dia keluar.
Sekarang dia bersama ayahnya. Saat sang ibu berada di rumah untuk beristirahat, ia telah terjaga sekian lama merawat putranya. Dan sekarang gilirannya untuk menjaga saudara kembarnya.
"Ayah pulang aja. Biar Uzi yang jagain Fauzan sekarang."
"Ayah pergi dulu. Nanti ayah ke sini lagi."
Fauzi mengangguk senyum. Ruangan ini tidak sembarang orang yang bisa masuk. Penjaga juga harus di luar. Tidak bisa berlama-lama di kamar dengan Fauzan di dalamnya. Melihat alat medis terpasang pada Fauzan pun, Fauzi merasa tidak kuat untuk melihatnya.
"Zan, gue udah nemuin ibunya Hanna. Lo pasti bangga kan sama gue? Ahaha kembaran lo ini emang baik hati, jangan lupa lo harus berterima kasih sama gue."
Di memandanginya dari balik jendela. Dia berbicara seolah sedang mengobrol dengan suadara kembarnya.
"Kapan bangunnya sih, Zan? Lo emang nggak bosen lama-lama disitu. Nggak capek gituh? Buruan bangun. Lo juga belum ketemu sama adik perempuan kita, dia gemesin. Pipinya itu gembul kayak ikan... badut. Eh salah yah? Hehehehe. Ah iyah Zan, gue udah liat Hanna lagi. Lo tahu, dia nggak berubah. Tetep cantik." Fauzi berseri-seri membayangkannya.
"... Mmm gue mau jujur, Zan. Selama ini gue bohong kalau gue nggak punya perasaan sama dia. Sebenarnya gue suka sama dia, tapi,, yah gue harus kubur perasaan itu." Fauzi tersenyum sendu melihat lekat Fauzan di dalam sana meski tidak bisa membalas ucapannya.
"Gue juga penasaran sama lo. Lo nggak mau jujur sama gue? Apa lo juga suka sama Hanna? Sampai segininya lo ngelakuin ini buat Hanna. Lo bener-bener sayang banget sama Hanna yah? Apa gue harus mundur?"
Fauzi lalu tertawa kecil. "Kayaknya seru yah, Zan. Kita sama-sama suka cewek yang sama. Hah..." Di akhir dengan desahan lega.
Saat hendak ingin mengecek ponselnya. Meraba-raba saku jaket dan celannya mencari ponselnya. Namun tidak ada.
"HP gue dimana yah? Perasaan tadi udah di bawa deh." Sambil mengingat-ingat. "Apa ketinggalan di motor? Gue cek dulu, deh."
"Zan gue cari HP dulu ya," katanya. "Jangan sedih gitu, dong. Cuman sebentar."
Fauzi pun tekekeh sendiri dengan ucapannya sendiri, dia pun pergi kembali ke parkiran.
...🦄🥀...
...Bersambung ......
__ADS_1