Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 56 'Me2Yu' : Pulang


__ADS_3

Zeki dari kemarin mencoba menghubungi seniornya. Tapi selalu tidak ada jawaban darinya. Kini setelah Zeki dan Mia berpakaian keren sambil membawa tas, mereka menunggu seseorang berdiri di depan Aroma Cafe. Suara bring bel berbunyi. Afra keluar dari kafe tersebut menghampiri Zeki dan Mia.


"Belum bisa dihubungi?" tanya Afra yang baru saja tiba.


"Belum. Pesan gue juga belum diread," jawab Zeki


Sebuah mobil yang kami ketahui akhirnya tiba. Ketiganya orang yang berada di dalam mobil tersebut keluar.


"Berangkat sekarang?" tanya Nasrul.


"Kak Arnold nya dimana? Nggak ikut?" sambung Gina karena tidak melihatnya di sini.


"Kak Arnold susah dihubungi," jawab Mia.


"Ah gituh..."


"Nanti juga dia telepon balik, nanti kalau mau ikut nyusul ajah," terang Nasrul.


Diangguki oleh Mia dan Zeki.


"Sekarang gimana? Siapa yang mau ikut mobil gue?" tanya Afra.


"Fra.." panggilnya. Afra menoleh. "Sekarang gue mau sama lo dulu ya. Euh Mia sama Zeki bisa bareng naik mobil Nasrul, sama Gina juga."


Dan Afra memberikan ekspresi wajah memble tapi keren.


"Kalau gitu kita berangkat sekarang."


Usai pertemuan kemarin, Zeki dan Mia diajak oleh teman-temannya Hanna untuk ikut bersama mereka ke Bogor. Meskipun bukan untuk liburan yang wow, mereka mengundangnya untuk ikut bersenang-senang di sana. Mereka juga mengajak Arnold untuk ikut, tapi seperti sekarang ini, dia tidak bisa dihubungi. Karena libur semester, Afra pun diperbolehkan untuk libur beberapa minggu untuk kerja part time-nya di Aroma Cafe.


...****************...

__ADS_1


Di rumah sakit. Hanna sudah terlihat berbeda, ia sudah tidak lagi memakai baju pasien dan sekarang dia terlihat cantik dengan baju yang dikenakannya. Ayah dan ibu Hanna juga menemaninya sekarang terlihat bersama. Tapi kebersamaan itu hanya pura-pura di depan putrinya, Hanna. Aji tentu setiap hari selalu menjaga Hanna di rumah sakit.


Sekarang mereka bersiap untuk pulang dan meninggalkan rumah sakit. Hanna memang tidak terlihat seperti orang sakit, tapi di dalamnya ia tampak sakit.


Di depan rumah sakit mobil sudah siap menjemputnya. Di belakangnya, Hanna sepertinya sedang menunggu seseorang dan orang yang ditunggunya akhirnya terlihat, dia baru saja tiba dengan motornya. Melepaskan helm sambil tersenyum ke arah Hanna.


"Halo om tante..." sapanya.


Mereka menyapanya balik dan setelahnya mengajak putrinya untuk masuk ke dalam mobil. "Ayok."


"Ayah, mamah. Hanna ikut sama Fauzan ya..."


Aji dan Fauzi tertegun.


"Kamu baru aja keluar dari rumah sakit. Kita mau pulang ke Bogor, dan Nak Fauzi." Seketika semua orang terkejut dengan bu Diana yang salah menyebutkan nama. "Nak Fauzan pake motor, kamu nanti masuk angin."


"Mahhh ayah... yah? Izinin..." harap Hanna.


Orangtuanya saling memandang, bu Diana mengangguk. Mungkin hal seperti ini akan membuat situasi Hanna menjadi lebih baik. "Yaudah kamu boleh ikut sama Fauzan."


"Makasih ayah... Mah, makasih."


Wisnu, ayah dari Hanna melihat kepada Fauzi. "Kamu jagain Hanna."


"Baik om."


"Nak Fauzan, tante titip Hanna ya. Bawa motornya pelan-pelan aja."


"Baik tante."


Orangtua Hanna pun berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Mobil telah meninggalkan rumah sakit ini.

__ADS_1


Aji disini masih gelisah untuk Hanna yang pergi dengan Fauzi. "Han lo seriusan mau pulang sama Fauz-Fauzan."


"Iyah Hanna ikut sama Fauzan ya." Tidak bisa melarangnya karena Hanna begitu gembira.


Aji angguk. "Hem yaudah. Zan, anterin Hanna. Jangan sampai kenapa-kenapa."


"Beres," jawab Fauzi.


Hanna sudah berjalan kea arah motor terparkir sedangkan Fauzi yang hendak menyusulinya tertahan oleh Aji. "Zi, gue harap lo bahagiain Hanna sekarang. Masa lalu jangan terulang. Meski, sekarang lo yang nanggung demi Fauzan."


"Fauzan ayok," panggil Hanna.


Fauzi angguk. "Gue cabut dulu, Ji."


"Yah hati-hati."


Fauzi membantu pacarnya memasangkan helm. Rasanya aneh untuk Fauzi mengatakan pacar kepada Hanna. Karena Fauzi hanya sebagai pengganti pacar yang sebenarnya bagi Hanna.


"Motor kamu ganti?"


Fauzi terjaga. "Iyah." Fauzi lupa bahwa sepeda motor yang selalu dikendarai Fauzan adalah sepeda motor besar berwarna merah (Moge). "Em kamu nggak suka naik motor ini?"


"Malahan suka," jawab Hanna riang. "Jadi nggak susah buat naiknya." Hanna berseri. Dengan pernyataannya itu dapat membuat Fauzi senang. "Kamu jadi mirip Fauzi."


Deg. Fauzi meliriknya dengan gugup. Dia hanya tersenyum.


Perjalanan yang mungkin memakan waktu cukup lama untuk sampai ke Bogor. Namun mengendarai sepeda motor akan lebih cepat dan menghemat waktu dibandingkan mengendarai mobil. Muda mudi yang tengah dimabuk asmara selalu ingin berada di samping kekasih pujaan waktu yang berarti kepada Hanna sekarang. Entah kenapa, Hanna merasa sangat jauh darinya sehingga dia ingin selalu bersamanya. Kehampaan yang merupakan kegelisahan yang ia rasakan tidak lagi dirasakannya, pikirannya hanya dipenuhi oleh lelaki di hadapannya yang sedang mengendarai sepeda motor, Fauzan. Dia pikir.


Fauzi menarik tangan Hanna ke depan untuk memeluknya, Fauzi tersenyum. Sementara itu, Hanna yang duduk di belakang terbangun, detak jantungnya tidak bisa dikendalikan sekarang. Meski begitu, Hanna senang dan nyaman, ia tersenyum. Merasa seperti wanita paling bahagia di bonceng olehnya.


...🦄🥀...

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2