
Hari kelima adalah hari terakhir pengambilan gambar. Kami tidak terlalu banyak untuk syuting dan juga tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, kali ini syuting berakhir di menara Eiffel.
Sebuah adegan yang berakhir bahagia pasangan itu dipertemukan kembali di sini. Terlihat klise, tapi perjuangan mereka patut diacungkan jempol. Naskahnya.
"CUT!"
Sutradara segera bangkit bertepuk tangan diikuti yang lain, bersorak, bertepuk tangan, saling memberi selamat. Syuting berjalan dengan lancar, berharap sampai penayangan nanti. Hanna memeluk semua orang mulai dari aktris, aktor, kru, lalu berakhir di produser yang membuatnya berpikir tadi malam.
"Selamat."
"Selamat juga, Pak. Semoga proyek film ini bisa sukses sampai penayangan."
"Aamiin."
Mereka saling tersenyum, menatap begitu dekat.
"Arnold," panggilnya dengan manis.
"Yah?" Perasaan Arnold tiba-tiba berubah karena suatu alasan, jantungnya berdetak tak terkendali. Tidak biasanya Hanna memanggilnya dengan namanya saja.
"Liat menara Eiffel," ajaknya.
Arnold senang. "Ayok."
Berjalan lurus ke depan mendekat pada menara Eiffel yang mengagumkan. Namun Arnold terkejut saat tiba-tiba tangannya digenggam oleh Hanna. Tentu saja hal itu membuat Arnold merasa menjadi satu-satunya pria yang bahagia dan beruntung di sini.
"Wow," ucap Arnold kagum karena dia baru bisa melihatnya secara dekat.
Hanna tersenyum melihatnya. Dia memanggilnya kembali dengan nama. "Arnold." Segera nama yang dipanggil itu menengok padanya. Tangan mereka masih saling menggenggam, tatapan mereka begitu melekat. Arnold semakin gugup dibuatnya. "You are still waiting for me?"
Senyum itu memudar, Arnold meraih tangan satunya untuk digenggam olehnya. "Hanna. I always wait for you. Aku menunggu kamu untuk jatuh cinta dan menerimaku. Sampai saat ini."
"Je vous aime."
"Hah?"
Arnold bingung.
"Dialog terakhir," lanjut Hanna tersenyum.
Arnold masih bingung dia masih mencerna di otaknya. Tapi saat ingatan itu menjadi lebih jelas, wajah Arnold terangkat dengan seringai lebar. "Kamu cinta sama aku, Hanna?"
Hanna mengangguk senyum.
"Serius?"
"Iyah. Apa aku harus ngulangin lagi?" tanyanya. "I Love you."
"--Aaah Arnold!"
"YEEEEEEEEEEY."
Diangkatnya tubuh Hanna membuatnya terkejut. Arnold begitu bahagianya setelah perasaannya itu terbalaskan apalagi di tempat seperti ini. Tidak disangka-sangka. Hanna ikut bahagia karenanya. Dia meletakkannya, tapi tangannya masih melingkari pinggang Hanna. Saling menatap lekat satu sama lain.
"I Love you."
"I Love you too."
"Wiii... ada yang jadian nih?"
Teriakan itu membuat keduanya menengok untuk melihat. Tentu pemilik suara itu adalah suara Zeki yang tengah mengabadikan momen mereka dengan kameranya.
Mereka tersenyum lebar, Arnold kembali memeluknya. Perasaan yang amat bahagia setelah sekian lamanya, setelah ia menemukan saudara perempuan kandungnya.
Berjalannya kembali menuju tempat syuting mereka untuk membantu kru lain membereskan peralatan.
"Jangan lupa malam ini."
"Iyah aku nggak akan lupa."
"Aku... ke sana," kata Arnold terdengar malu-malu karena akhirnya Hanna sudah resmi menjadi pacarnya.
Hanna tersenyum angguk.
Arnold, yang telah pergi saat itu, dia kembali menemukan pria beanie itu. Dia mengikuti sudut pandang pria itu, berakhir di Hanna. Sebenarnya siapa dia?
"Saya pergi dulu sebentar."
"Baik, Pak."
Arnold pergi mencari tahu siapa pria beanie itu, bergerak senormal mungkin agar tidak ketahuan mendekatinya, memutar balik tujuannya adalah tepat di belakangnya. Seperti sekarang.
Arnold cukup gugup, perlahan tangannya memegangi pundak pria beanie itu dengan cepat dan bertenaga membalikkannya. "Qui es-tu? (Siapa kamu?)"
Seakan waktu telah berhenti mencoba melihatnya dengan jelas, pria beanie itu membuka kaca matanya.
...****************...
Pintu terbuka, suara langkah kaki itu terdengar, seseorang masuk dengan berpakaian seperti seorang model. Timberland boots yang dilihatkan dari bawah, memakai baju polos putih yang terselip di celana jeans-nya, dibalut dengan jaket kulit hitam dan yang terakhir adalah beanie hitam yang membuatnya disebut pria beanie.
Berjalan menuju jendela kamarnya, melepas kacamatanya dan melemparkannya ke kasur.
"Fauzan," panggil seseorang di pintu kamar.
__ADS_1
Dia menengok membalik tubuhnya. Sosok Fauzan telah kembali.
"Kamu darimana sih? Aku cariin dari tadi," decitnya.
"Dari luar, jalan-jalan sebentar."
Katlyn mendengus. "Akhir-akhir kamu sering ngilang, keluar nggak ngasih kabar lagi."
"Iyah sorry."
"Malam ini kita ada acara keluarga, kamu jangan pergi-pergi lagi."
"Iyan Katlyn," balas Fauzan tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ih berantakan tahu!" Kesal Katlyn.
Fauzan berseri-seri. Namun yang Katlyn tangkap, Fauzan menjadi aneh.
"Kamu sehat? Zan?" Menempelkan tangannya di dahi Fauzan untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Kenapa?" heran Fauzan.
"Tingkah kamu jadi manis ginih. Kamu nggak kesambet, kan?"
"Nggak gue baik-baik aja."
Tanpa memperpanjang Katlyn menjatuhkan tubuhnya di atas kasur milik Fauzan.
"Hei turun nggak," perintah Fauzan.
"Nggak mau."
"Turun."
"Nggak mau Fauzan ih! Lepasin!"
Pow!
Katlyn terkejut sendiri karena dia melempar bantal ke wajah Fauzan. Oh aset pekerjaannya. Jangan sampai lecet sedikitpun.
"Katlyn...."
"I-iiyah?"
Fauzan melompat ke tempat tidur dan menerkam Katlyn, menggelitik tubuhnya sampai Katlyn tidak bisa menahannya, dia terus tertawa.
"Hahahaha hahahaha FAUZAN! Ahah..."
"Udah ih berhenti hahaha capek..."
Mereka berdua mengubah posisi, bersender sambil memainkan ponsel masing-masing.
"Fauzan."
"Hem?"
"Tyo ngirim undangan juga buat kamu," terangnya. Fauzan menoleh. "Kamu mau dateng, kan?"
"Enggak." Fauzan kembali melihat ponselnya.
"Kenapa? Kan kamu udah di undang, nggak boleh gitu loh nggak sopan."
Fauzan diam.
Katlyn menghela nafas. "Kamu juga kan mau pulang ke Indonesia, nah sekalian deh kamu dateng ke acara pernikahannya."
"Gue pikir-pikir dulu."
"Padahal sahabat kamu juga, dateng ke acara pernikahannya nggak mau," sindirnya.
"Gue bilang pikir-pikir dulu."
"Iyah yah, deh."
Katlyn melirik Fauzan, Fauzan terlihat serius menatap ponselnya. Katlyn penasaran, perlahan mendekat dan mengintip isi ponselnya.
"Ciee... nunggu chat dari siapa tu?"
Fauzan terperanjat. Dia tidak menyadari Katlyn sudah ada di dekatnya.
"Kasih tahu dong siapa..."
"Nggak."
Katlyn mengerucutkan bibirnya gemas. "Aku liat chatan kamu pake bahasa Indonesia. Jadi, yang kamu taksir dia? Siapa? Dia benar-benar orang Indonesia?"
"Bawel."
"Orang nanya dibilang bawel," gerutu Katlyn.
"Kalau gue kasih tahu, terus lo mau apa?"
"Yah dikasih tahu ke dady, sama Robert lah."
__ADS_1
"Jangan kasih tahu Père sama Mère!"
"Ooh aku kasih nggak ya???"
"Jangan."
"Jangan?"
Fauzan angguk.
"No. Aku kasih tahu hahahaha...." Berteriak sambil berlari keluar kamar.
Fauzan melemparkan bantal ke arahnya namun tidak mengenainya.
...🏙️...
Keluarga Kaltyn dan keluarga angkat Fauzan sedang makan malam di sebuah restoran mewah di Prancis. Selama satu tahun di Prancis, akhirnya Fauzan mendapatkan donor mata dan ia bisa melihat lagi berkat Dr. Robert yang selalu merawatnya. Robert adalah teman sekaligus rekan kerjanya Ben, ayahnya Katlyn.
Selama Fauzan di Prancis di saat ia masih belum bisa melihat, Robert dan istrinya selalu menjaga Fauzan seperti anaknya sendiri. Mereka tidak bisa memiliki anak, yang akhirnya Fauzan diangkat menjadi anak mereka. Tentu nama belakang Fauzan bertambah menjadi Fauzan Maevino Robert. Fauzan juga selama ini dibiayai oleh mereka, sampai dia menjadi seorang model di Prancis. Dia juga berkarir sebagai Street Photography.
"Puis-je s'il vous plaît aller aux toilettes? (Bisakah saya izin ke kamar mandi?)"
"S'il te plaît (Silahkan)"
Fauzan tersenyum lalu pergi menuju arah toilet.
......................
Pasangan yang baru saja jadian, mereka merayakannya dengan makan malam romantis. Kapan lagi mereka bisa berada di Perancis, negara yang dikenal romantisme ini. Arnold memanfaatkannya dengan baik. Dia menarik kursi mempersilahkan kekasihnya itu untuk duduk. Hanna tersenyum bahagia.
Kemudian Arnold duduk di posisinya, dia dan Hanna saling berhadapan. Tetapi ketika dia secara tidak sengaja menemukan pria beanie yang sudah ia ketahui, itu adalah Fauzan. Mereka saling memandang dari kejauhan. Ada kekesalan dibenak Arnold. Fauzan tidak mendengarkan peringatan darinya.
"Hanna, aku ke toilet dulu."
Arnold mendapat anggukan darinya. Lalu pergi.
Berjalan normal seolah tidak terjadi apa-apa. Ia masuk untuk menemukan sosok Fauzan yang baru saja selesai mencuci tangan di wastafel. Arnold mencekramnya dengan menahan amarahnya itu. Memojokkan Fauzan pada tembok. Fauzan menerimanya dengan bersikap tenang.
"Lo nggak denger apa yang gue bilang waktu itu? Stop ngikutin Hanna! Jauhin dia!"
Fauzan melepaskan cengkraman Arnold dari kerahnya. Sedikit merapihkan kembali pakaian yang dikenakannya itu. "Gue nggak ngikutin kalian."
"Hah.." Arnold membuang nafas kasar ke sampingnya lalu menatap kembali Fauzan.
"Nggak usah pedulian gue. Gue nggak akan ganggu kencan kalian."
Fauzan menepuk pundaknya lalu pergi. Arnold masih terdiam dengan kekesalannya.
"Qui es-tu? (Siapa kamu?)"
Mencoba melihatnya dengan jelas, pria beanie itu membuka kaca matanya.
"Fauzan?" kejutnya.
"Lo kenal sama gue?" tanya Fauzan. Karena Fauzan belum pernah sekalipun melihatnya, kecuali saat di Place De La Concorde, dia tidak sengaja menabraknya lalu melihatnya bersama Hanna. Dan itu membuatnya mengikuti mereka.
"Gue tahu lo, kembaran lo, tentang kalian sama Hanna. Gue tahu semuanya."
Fauzan diam.
"Lo... lo udah bisa liat?"
Fauzan hanya angguk. Arnold masih tidak percaya dia bisa bertemu dengannya. "Sorry gue udah ngikutin kalian."
"Lo kenapa bisa tahu Hanna ada disini?"
"Place De La Concorde," jawab Fauzan.
Arnold mengingatnya, tempat pertama kalinya dia bertemu dengan pria beanie.
"Kalian pacaran?" tanya Fauzan.
Arnold mengangguk ragu. Tapi ia juga menjawabnya. "Barusan."
Fauzan tersenyum tipis. "Tolong jaga Hanna buat gue."
Arnold diam setelah itu. Tak lama kemudian, dia merasa hubungannya dengan Hanna terancam dengan kembalinya Fauzan.
"Dan gue minta tolong lo jauhin Hanna," jelasnya. Fauzan tersentak diam.
Arnold telah kembali ke meja makannya. "Hanna, kita pindah restauran."
Hanna dibuat heran. "Kenapa pindah? Aku suka kok disini."
"Aku yang nggak suka. Ayok," ajaknya Arnold sedikit memaksa.
Maaf Hanna. Aku nggak mau kamu sampai ngeliat Fauzan ada disini. Aku nggak mau kehilangan kamu. Dalam hati Arnold.
Mereka pun pergi dengan Hanna yang kebingungan dengan sikap Arnold yang berubah.
......................
Fauzan yang duduk kembali bersama keluarganya. Melihat kembalinya Hanna, berada di Prancis membuatnya ragu untuk mengubur perasaan untuknya. Meski begitu harapan untuk bersamanya tidak akan pernah ada. Selain takdir yang kembali untuk mereka.
__ADS_1
...🥀...